Review dan Analisis Novel “Confessions” Minato Kanae
Pada masa kapan ya, pernah disebut bahwa anak-anak adalah sosok yang lugu?
Seperti kutipan di atas, anak-anak dianggap sebagai sosok yang polos dan belum tahu banyak hal. Jika mereka berbuat buruk, perbuatan mereka pun bukan sesuatu yang besar. Susah rasanya untuk membayangkan anak-anak melakukan kejahatan serius seperti pembunuhan. Namun, kenyataannya, tetap saja ada anak-anak di dunia ini yang melakukan perbuatan jahat yang mengerikan ini. Inilah yang diangkat dalam novel thriller psikologi misteri karya Minato Kanae yang berjudul “Confessions”.
Identitas Buku
Judul: ConfessionsPenulis: Minato Kanae
Penerjemah: Clara Canceriana, Andry Setiawan
Penyunting: Prisca Primasari
Penyelaras Aksara: Titish A. K.
Penerbit: Penerbit Haru
Cetakan Pertama: Agustus 2019
Tebal: 304 hlm
Tentang Novel “Confessions”
“Confessions” merupakan novel debut Minato Kanae, penulis novel thriller asal Jepang, dalam dunia kepenulisan. Novel ini telah memenangkan banyak penghargaan, seperti Top 10 Weekly Bunshun Best Mystery Novels 2008, Japanese Bookseller Award 2009, dan Top 10 Wall Street Journal Best Mystery Novels 2014. Novel ini juga telah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2010. Sama seperti novel, film ini juga mendapatkan berbagai penghargaan. Salah satunya adalah shortlist Academy Awards ke-83 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.
Premis dan Sinopsis
Novel “Confessions” mengangkat premis tentang seorang guru yang berusaha membalas kematian putrinya dengan caranya sendiri kepada para pelaku yang masih di bawah umur. Sang tokoh utama, Yuko Moriguchi, adalah seorang ibu tunggal dan guru kimia di SMP yang terletak di sebuah kota kecil di Jepang. Sebagai seorang ibu, ia terkadang membawa putri satu-satunya ke sekolah. Malangnya, putrinya justru tewas tenggelam di kolam renang di SMP tempat ia mengajar. Meski polisi menyebut itu adalah kecelakaan, Moriguchi yakin bahwa kematian putrinya adalah pembunuhan yang dilakukan kedua muridnya. Mengetahui bahwa hukum tidak akan memberikan hukuman berat kepada keduanya, ia memutuskan untuk menghukum kedua muridnya dengan cara yang tak terduga.
Latar Tempat dan Waktu
“Confessions” berlatar tempat di SMP yang terletak di sebuah kota kecil di Jepang dan berlatar waktu tahun 2000an.
Sudut Pandang
“Confessions” menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, tokoh aku dalam novel ini berbeda-beda pada tiap bab. Terdiri dari enam bab, ada enam tokoh yang bercerita dari sudut pandang masing-masing: ibu korban, ketua kelas, keluarga para pelaku, dan pelaku itu sendiri. Melalui penuturan mereka, para pembaca dapat mengetahui karakter dan pandangan mereka terhadap kasus pembunuhan yang telah terjadi.
Tokoh
Yuko Moriguchi
Tokoh utama dalam “Confessions” adalah Yuko Moriguchi, seorang ibu tunggal sekaligus guru kimia di SMP di sebuah kota kecil di Jepang. Sebagai guru, ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan memahami murid-muridnya. Setiap homeroom, ia selalu memberikan apresiasi atas prestasi dan pencapaian mereka. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang realistis. Terlahir dari keluarga miskin dan menerima pinjaman pendidikan, motivasinya menjadi guru adalah agar terbebas dari kewajiban melunasi pinjaman pendidikan.
Sebagai ibu tunggal, ia juga digambarkan sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya. Hal itu juga yang membuatnya menjadi pendendam ketika anaknya meninggal. Didorong oleh rasa dendam kepada para pelaku dan skeptis terhadap sistem hukum Jepang, ia menghukum para pelaku yang masih di bawah umur dengan caranya sendiri. Melalui proses penghukuman ini, kita diperlihatkan sifat cerdas, kejam, dan manipulatif Moriguchi.
Naoki Shimomura
Selain Moriguchi, ada Naoki Shimomura yang merupakan anak didiknya sekaligus salah satu pelaku pembunuhan Manami. Sebagai anak bungsu dari keluarga yang biasa-biasa saja, ia hidup dimanja dan dipuji-puji oleh ibunya. Namun, sebagai remaja, ia juga haus perhatian dan pengakuan. Ia ingin terlihat keren di mata teman-temannya dan menganggap ibunya selalu berbohong soal kelebihannya. Inilah yang membuat Naoki berusaha menjadi teman yang berguna bagi Shuya.
Shuya Watanabe
Tokoh lainnya adalah Shuya Watanabe yang juga merupakan anak didik Moriguchi sekaligus pelaku pembunuhan Manami. Shuya digambarkan sebagai tokoh yang cerdas dan penyendiri. Sifat ini adalah hasil didikan ibu kandungnya yang merupakan doktor bidang elektronika lulusan universitas luar negeri. Sejak kecil, Shuya sudah diajarkan ilmu elektronika oleh ibu kandungnya dan diberi bacaan-bacaan berat ketika SD. Namun, Shuya juga sering disiksa oleh ibu kandungnya yang frustrasi karena tidak bisa melanjutkan impiannya. Pengasuhan ini menghasilkan Shuya yang cerdas dalam soal pengetahuan tapi miskin moral dan empati. Ia benar-benar tidak suka kepada orang-orang bodoh bahkan merendahkan mereka, termasuk ayah kandung dan ibu tirinya.
Meski sering mendapat tindak kekerasan oleh ibu kandungnya, Shuya selalu menyayanginya. Bahkan, Shuya masih merindukan dan memikirkan ibu kandungnya saat ibu kandungnya bercerai dengan ayah kandungnya dan pergi meninggalkannya. Rasa rindu ituah yang mendorong Shuya untuk melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian agar ibu kandungnya bisa kembali kepadanya, bahkan jika harus terkena penyakit berat atau melakukan pembunuhan.
Mizuki Kitahara
Mizuki adalah ketua kelas tempat Moriguchi ditugaskan menjadi wali kelas. Sebagai ketua kelas, ia memiliki sifat kritis dan teguh pendirian. Tidak seperti teman-teman sekelasnya yang merundung Shuya, ia menolak melakukannya karena ia menentang perbuatan yang menurutnya merupakan aksi main hakim sendiri. Ia juga meragukan cerita Moriguchi yang mencampurkan darah yang mengandung HIV ke dalam susu yang diminum Shuya dan Naoki. Alhasil, ia mencoba untuk membuktikan sendiri dengan melakukan tes kandungan darah dalam sisa susu yang diminum Shuya dan Naoki.
Ibu Naoki
Ibu Naoki merupakan seorang ibu yang idealis, overprotective, dan perfeksionis. Sebagai seorang ibu yang idealis, ia berusaha untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia dan membesarkan anak-anaknya supaya menjadi orang yang berkelakuan baik. Dalam mendidik Naoki, ia berpegang teguh pada ajaran ibunya, yaitu mengawasinya dengan kasih sayang dan memberikan pujian pada hal-hal kecil sekalipun. Namun, cara ia mendidik Naoki malah membuat Naoki menjadi anak yang manja dan tidak mampu berusaha.
Sebagai seorang ibu yang overprotective, Ibu Naoki selalu menyangkal bahwa anaknya telah terlibat dalam pembunuhan. Ia selalu meyakinkan diri sendiri bahwa anaknya telah diperalat untuk ikut ke dalam rencana pembunuhan. Ia pun enggan melaporkan kasus pembunuhan itu ke polisi karena takut Naoki dianggap bekerja sama dengan Shuya.
Sebagai seorang yang perfeksionis, ia selalu memerhatikan pandangan orang lain kepada dirinya dan keluarganya. Ia selalu berusaha menjaga citra keluarganya agar tampak baik di mata orang lain. Oleh karena itu, ia tak ingin kabar anaknya yang menolak pergi ke sekolah dan memilih untuk mengurung diri di kamar tersebar ke banyak orang.
Ibu Shuya
Ibu Shuya diceritakan sebagai wanita yang cerdas. Ia merupakan lulusan program doktor bidang elektronika dari universitas ternama di luar negeri. Akan tetapi, kepulangannya ke Jepang malah membuatnya stres karena ia merasa terjebak di sebuah kota kecil bersama dengan suami dan anaknya. Ia merasa ilmunya menjadi sia-sia. Akibat stres, ia pun menjadi sering berbuat kasar kepada Shuya.
Ibu Shuya juga digambarkan sebagai sosok yang egois. Sifat ini disimpulkan oleh Moriguchi setelah membaca tulisan yang diunggah Shuya di situs web milik Shuya. Ia berpendapat bahwa ibu Shuya yang menyiksa anaknya lantaran keinginannya untuk berkiprah di dunia riset tak terwujud dan pergi begitu saja setelah keinginannya terwujud menunjukkan bahwa ibu Shuya adalah orang yang suka semaunya sendiri.
Manami
Manami adalah putri satu-satunya Moriguchi. Ia masih berumur empat tahun ketika meninggal. Sebagai anak kecil, ia memiliki sifat yang ceria dan manja. Ia juga senang bermain dengan murid-murid Moriguchi dan memberi makan Muku, anjing yang tinggal di rumah di belakang kolam renang SMP.
Sakuranomiya Masayoshi
Sakuranomiya Masayoshi adalah seorang guru sekaligus pacar Moriguchi dan ayah Manami. Saat remaja, ia memiliki sifat berandal dan bermasalah dengan ibu tirinya. Namun, sifatnya berubah menjadi bijak setelah mendapatkan pencerahan kala melakukan perjalanan keliling dunia saat dewasa. Pencerahan ini mendorongnya untuk mengabdikan diri sebagai guru yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada para murid. Sebagai guru, ia menunjukkan sifat yang optimis dan memancarkan aura positif. Di balik itu, ia memiliki sifat pesimis akibat penyakit AIDS yang dideritanya. Karena penyakit tersebut, ia menjadi ragu untuk membangun keluarga bersama Moriguchi.
Terada Yoshiki / Werther
Terada Yoshiki adalah guru baru yang menggantikan Moriguchi. Sebagai guru baru, ia minim pengalaman dan kesulitan untuk berdiskusi dengan guru-guru lain. Alhasil, ia terus bergantung pada nasihat Moriguchi yang merupakan pacar Sakuranomiya, guru idolanya. Namun, sifat lugu dan penurutnya membuat ia tidak sadar bahwa ia sedang diperalat Moriguchi untuk menjadi bagian dari aksi balas dendamnya.
Selain tokoh-tokoh di atas, masih ada lagi tokoh-tokoh lainnya. Ada Takenaka, wanita tua yang tinggal di rumah di belakang kolam renang SMP, yang menjaga Manami di rumahnya ketika Moriguchi sedang bekerja. Kemudian, ada Yusuke, wakil ketua kelas dan anggota klub baseball, yang memulai perundungan terhadap Shuya. Ada juga Ayaka, murid yang memimpin perundungan terhadap Shuya. Selain itu, ada Kiyomi yang merupakan kakak kedua Naoki, bapak Naoki yang lebih fokus pada pekerjaan daripada keluarga, dan bapak kandung serta ibu tiri Shuya yang selalu disebut-sebut Shuya sebagai orang-orang bodoh hanya karena mereka tidak sepintar ibu kandungnya yang memiliki gelar doktor di bidang elektronika.
Alur Cerita dan Ritme
“Confessions” ditulis menggunakan ritme yang lambat, alur campuran dengan banyak kilas balik, dan pengungkapan isi pikiran tokoh. Setiap bab dalam novel ini akan membawa para pembaca bolak-balik ke masa lalu dan masa sekarang melalui cerita dari para tokoh. Novel ini seringkali mengulang kembali cerita yang sama tapi dari sudut pandang tokoh yang berbeda. Namun, melalui alur maju mundur ini, Minato Kanae selaku penulis mengajak para pembacanya untuk bersabar membaca penuturan para tokoh yang terlibat agar bisa menyusun kepingan-kepingan puzzle demi mendapatkan kronologi kejadian yang utuh dan kebenaran yang tersembunyi di baliknya.
Isu yang Diangkat
Hukum dan moralitas menjadi isu utama yang diangkat dalam “Confessions”. Ketika novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2008, Jepang sempat digemparkan oleh kasus pembunuhan berantai oleh anak laki-laki berusia empat belas tahun pada tahun 1997. Kasus itu mendorong adanya revisi batas umur seorang anak di bawah umur dapat dijatuhi hukuman yang baru dijalankan pada tahun 2001. Melalui novel ini, penulis hendak membuat para pembaca bertanya mengenai hubungan antara umur dan tanggung jawab. Apakah anak-anak yang baru remaja tidak bisa dihukum atas perbuatan kriminal yang mereka lakukan?
Selain itu, “Confessions” juga menunjukkan bagaimana seandainya masyarakat bertindak tanpa adanya hukum. Sepanjang cerita, para pembaca akan mengetahui betapa mengerikannya dampak dari hukuman Moriguchi kepada kedua pelaku. Lalu, melalui penuturan Mizuki, para pembaca akan melihat aksi main hakim sendiri yang dilakukan oleh seluruh murid dalam satu kelas terhadap salah satu murid yang menjadi pelaku pembunuhan.
“Confessions” juga mengangkat isu moralitas. Sepanjang cerita, penulis sering menyinggung soal moralitas melalui cerita Moriguchi, Mizuki, dan Shuya. Selain itu, penulis juga memendorong para pembaca untuk mempertanyakan moralitas Moriguchi sebagai tokoh utama sebagaimana Mizuki mempertanyakan perbuatan mantan gurunya itu. Apakah tindakan balas dendam Moriguchi dapat dibenarkan? Selain itu, para pembaca juga diajak untuk menilai para pelaku. Di antara keduanya, siapakah yang sebenarnya bersalah? Atau keduanya memang bersalah?
Di samping itu, keluarga juga termasuk isu yang sering dibahas dalam “Confessions”. Dalam novel ini, penulis menunjukkan bagaimana keluarga dapat memberikan nilai-nilai moral kepada seseorang dan membentuk karakternya. Naoki yang besar di keluarga yang utuh dan bahagia sering dimanjakan dan dipuji-puji oleh ibunya. Alhasil, Naoki menjadi pribadi yang manja dan mudah putus asa tapi haus perhatian dan pengakuan dari teman-temannya. Sementara itu, Shuya dibesarkan dengan kekerasan, kasih sayang, dan pelajaran elektronika dari ibu kandungnya. Pengasuhan ini membuat Shuya menjadi pribadi yang cerdas tapi miskin moral. Karakter kedua tokoh ini nantinya akan berkaitan dengan motif mereka melakukan pembunuhan.
Penutup
Akhir kata, “Confessions” merupakan buku yang amat menarik untuk dibaca. Novel ini mengangkat premis yang tidak umum, yaitu balas dendam seorang guru SMP kepada kedua muridnya yang telah membunuh anaknya. Diceritakan dengan ritme lambat, alur campuran, dan dari sudut pandang tokoh yang berbeda-beda, para pembaca dituntut untuk bersabar untuk mengetahui kronologi kejadian secara utuh dan fakta-fakta mengejutkan di baliknya. Setelah selesai membaca, para pembaca mungkin akan dibuat bertanya-tanya mengenai moralitas para tokoh. Sebagai novel yang masuk ke dalam Top 10 Wall Street Journal Best Mystery Novels 2014, “Confessions” bisa menjadi novel yang direkomendasikan untuk dibaca para penyuka novel thriller dan misteri.

Komentar
Posting Komentar