Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hantu

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 6

Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba. Liana, Kian, Kalya, dan teman-teman hantu yang lain berjalan menuju gedung olahraga sekolah. Mang Ade pun ikut bersama mereka. Ia juga membawa hantu-hantu kenalannya sebagai bala bantuan. Matahari sudah berada di sebelah barat saat mereka menyusuri koridor sekolah untuk sampai di tempat tujuan mereka. Sepanjang jalan, Liana melihat beberapa murid mondar-mandir berkeliaran sambil mengenakan baju bebas. Ada pula yang tampak berkeringat dengan baju olahraga melekat di badan dan handuk menggantung di leher. Hari ini memang ada jadwal pertandingan liga basket sekolah yang selalu diadakan tiap tahunnya. Aksi mereka sudah direncanakan untuk dilakukan pada hari ini, seperti yang telah disampaikan dalam rapat strategi kelompok hantu. … “Berdasarkan informasi dari teman indigonya Kalya, bakal ada jadwal liga basket di sekolah saat weekend dalam waktu dekat ini. Katanya, di hari itu, ada banyak pertandingan yang dimulai dari pagi sampai menjelang magri...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 5

Sosok tanpa kepala itu mendekat ke arah Kian dan Kalya, melewati Liana yang masih diam terkejut melihatnya. Dengan santainya, sosok itu menyapa mereka berdua. “Malam, Kian, Kalya. Gimana kabarnya?” “Ya, gini-gini aja, Mang. Namanya juga hantu,” jawab Kian. Kian, Kalya, dan tukang sate tanpa kepala itu menoleh ke arah Liana. Mereka melihat Liana tampak diam gemetaran. Ia menggenggam tangan kirinya yang sedikit terkepal dengan tangan kanannya dan ia angkat ke depan dadanya. Dengan posisi tangan seperti itu, ia menunjuk tukang sate itu. “I … itu … kepalanya nggak ada …” kata Liana gemetaran. “Ooh …” kata Kian dan Kalya. Kemudian, mereka berdua tertawa tergelak-gelak. “Oh, ya, mang,” kata Kian masih sambil tertawa. “Kenalin, Liana. Hantu baru di sini.” “Mang Ade,” kata tukang sate tanpa kepala itu sambil sedikit membungkuk ke arah Liana yang masih gemetaran. “Kepala … kepala …” sebut Liana sambil menunjuk-nunjuk tukang sate tanpa kepala itu. “Mang, kayaknya Liana nanya di mana kep...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 4

Kian dan Kalya saling melirik satu sama lain. Raut murung tampak tergambar di muka mereka. Liana merasakan adanya aura kegelisahan di antara mereka berdua. Ia lalu bertanya. “Kenapa? Kalian ragu?” “Anu,” Kalya membuka suara. “Sebenarnya, kita udah pernah coba buat balas perbuatan mereka. Cuma …” “Ya, gitu. Kita selalu gagal,” lanjut Kian. Liana terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja kupingnya dengar. Gagal? “Lah, gimana bisa gagal? Kita ini kan hantu, arwah gentayangan. Kok bisa kalah sama orang yang masih hidup?” tanya Liana dengan nada agak meninggi. “Kamu pikir kamu bisa balas dendam dengan menjadi hantu?” Kalya bertanya balik. Ia menghela napas. “Ya, wajar sih kamu mikir kayak gitu. Aku juga dulu kayak kamu.” “Waktu aku meninggal dan jadi arwah gentayangan, aku pikir aku bisa menakut-nakuti para pelaku bullying sampai mereka ketakutan dan ngaku perbuatan mereka. Nyatanya, tidak. Setelah beberapa kali ditakuti, mereka semua dikasih jimat penangkal kekuatan gai...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 3

… “PLAK!” terdengar suara hantaman yang amat nyaring. Sesaat setelahnya, keadaan menjadi hening sebelum kemudian terdengar suara bentakan dari seorang perempuan. “Heh, kalian! Tau, nggak, kalo ini teritori kami!?” Perempuan yang berteriak itu adalah Via, pemimpin geng cewek yang paling terkenal di sekolah Liana. Ia berdiri sambil menyilangkan tangan di depan Liana dan temannya, Kirana, yang sedang berlutut. Penampilannya tipikal anak berandalan: dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, bagian bawah kemejanya tidak dimasukkan ke dalam rok, dan gincu merah terulas di bibirnya. Dengan buku teks matematika yang tebal di tangannya, ia barusan menghajar Kirana sampai pipinya memerah. “Ma … maaf, kak …” kata Kirana dengan suara yang lemah. Ia dan Liana memang tidak sengaja melewati tongkrongan geng Via ketika pulang sekolah. “Heh, ini anak dua-duanya gak punya sopan santun! Masa tadi pas di kantin mereka nyelonong lewat di depan kakak kelasnya!?” timpal salah seorang anggota geng Vi...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 2

Setelah terdiam sejenak, Liana meneruskan lagi perjalanannya ke sekolah menembus gelapnya malam. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, ia akhirnya sampai di sekolah. Di sana, suasananya benar-benar sepi dari riuh suara para siswa. "Wajar, masih malam," pikirnya. Ia memperhatikan hanya ada pak satpam yang berjaga di posnya saat ini. Ngomong-ngomong soal satpam, ia tiba-tiba merasa salut dengan satpam-satpam di sekolahnya yang rela dan berani terjaga semalaman untuk menjaga sekolahnya. Soalnya, banyak rumor soal hantu yang beredar di antara siswa-siswi di sekolahnya. Sebagian rumor itu bahkan berasal dari para satpam yang bekerja di sekolahnya. Berdasarkan rumor, ada banyak titik yang angker di sekolahnya. Menurutnya, mungkin itu wajar mengingat sekolahnya sudah berusia tua dan menempati bekas bangunan kolonial. Namun, di antara banyak titik angker di sekolahnya, ada satu titik yang disebut-sebut paling angker. Pepohonan di pagar sisi barat sekolah. Sekilas, tampak t...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 1

Liana terpaku sambil memandang jasad perempuan remaja di depannya. Tubuh perempuan itu tertelungkup di atas aspal yang panas terpanggang sinar matahari. Seragam putih abu melekat di tubuhnya. Darah segar mengucur dari balik rambutnya yang lurus panjang tergerai menutupi wajahnya. Tak lama kemudian, para warga di sekitar buru-buru menghampiri perempuan yang terbujur kaku itu, sementara sebagian warga lain berusaha menahan sopir angkot yang ugal-ugalan mengebut angkotnya sehingga mencelakai perempuan itu. Liana yang dilanda penasaran menembus kerumunan warga yang mengerumuni jasad perempuan itu. Ketika berhasil sampai di kerumunan paling depan, ia melihat beberapa warga mengangkat dan membalikkan jasad yang terkulai lemas itu. Ia tercengang. Saking tercengangnya, ia harus menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan kedua tangannya. Perempuan itu memiliki wajah serupa dengannya. Segala sesuatu pada perempuan itu persis seperti pada dirinya. Liana yakin, perempuan itu adalah dirinya. Ti...