5. Desa
Sekarang, Erza sudah ditolong oleh seorang penolong desa, yaitu Pak Acep. Sebelumnya, ia kira Pak Acep adalah orang yang berbahaya. Tetapi, pada kenyataannya Pak Acep adalah seorang yang baik, bijaksana, dan cerdas. Beliau juga pernah menjadi penasehat kerajaan. Sudah tentu seorang penasehat kerajaan harus bijaksana. Karena ialah yang membantu dan menasehati raja saat raja sedang kesulitan atau raja salah menerapkan kebijakan atau pemerintahannya sudah menyimpang jauh dari yang seharusnya.
Mereka pun turun dari mulut goa tersebut menuju desa. Tetapi, tak semudah itu mereka sampai di desa tersebut. Mereka harus melalui hutan yang lebat dan memiliki medan yang cukup berat untuk dilewati. Erza pun mulai ketakutan ketika akan memasuki hutan tersebut. Ingatannya tentang orang yang menyerangnya di hutan sebelumnya belum hilang, bahkan sudah tertanam dalam otaknya. Ia pun mulai berpikir bahwa di hutan tersebut masih ada orang yang seperti itu. Langkahnya menjadi berat, kakinya gemetaran, keringat dingin mulai membasahi mukanya.
"Takut?" tanya Pak Acep. Tampaknya beliau sudah bisa membaca bahasa tubuh Erza.
"Eng, enggak pak." jawab Erza gugup.
"Jujur aja. Kalau takut bilang aja." kata Pak Acep.
"Enggak, kok." jawab Erza dengan nada ragu - ragu.
"Udah, bapak juga tahu kalau kamu takut." kata Pak Acep.
"Nggak usah takut. 'Kan ada bapak. Kalau ada apa - apa, bapak bisa ngatasinnya." Pak Acep berusaha meyakinkan Erza.
"Sekarang, berani masuk ke hutan, nggak?" tanya Pak Acep.
"Berani." jawab Erza.
Mereka pun masuk ke hutan tersebut. Selama perjalanan di hutan tersebut, mereka tidak menemukan sesuatu yang berbahaya. Hanya medannya yang licin, berlumpur, dan cukup terjal. Hati Erza pun tenang. Ia tidak takut lagi. Tidak ada yang berbahaya selama perjalanan tersebut.
Akhirnya mereka pun keluar dari hutan tersebut dengan selamat. Sekarang, mereka berada di pinggir desa tersebut. Untuk menuju tengah desa tersebut, mereka harus berjalan cukup jauh. Mereka pun berjalan menuju tengah desa tersebut. Di pinggir jalan yang mereka lalui, terdapat sebuah sungai yang jernih. Airnya segar. Saking jernihnya, bisa langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Erza yang mulai kelelahan meminta istirahat terlebih dahulu kepada Pak Acep. Akhirnya ia beristirahat di pinggir sungai tersebut. Tanpa basa - basi, ia langsung meminum air sungai tersebut. Setelah ia meminumnya, ia mulai segar kembali. Setelah beberapa lama mereka beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan menuju tengah desa. Selama perjalanan, Erza melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya secara langsung. Ia melihat seorang pedagang menaiki gerobak yang ditarik sapi, kupu - kupu yang beterbangan, dan berbagai hal lain yang belum pernah ia lihat secara langsung.
Setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka pun sampai di tengah desa tersebut. Di tengah desa tersebut terdapat pasar yang dipenuhi oleh orang yang sedang belanja. Para pedagang melayani para pembeli dengan ramah. Tidak ada pertengkaran antara penduduk desa tersebut. Tidak ada pencurian dan kecurangan di pasar tersebut. Anak - anak kecil pun bermain dengan riang.
Sekarang, Pak Acep mengajak Erza menuju rumahnya. Mereka pun berjalan menuju rumah Pak Acep. Rumah Pak Acep cukup dekat dengan tengah desa. Rumahnya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Ukurannya sama seperti rumah lainnya. Tetapi, banyak orang yang pergi ke rumah Pak Acep untuk meminta saran atau masukan jika mereka dalam suatu masalah.
Mereka pun sampai di rumah Pak Acep. Di sana terdapat anak - anak Pak Acep yang sedang bermain di depan rumah. Ketika mereka melihat ayah mereka sudah pulang, mereka langsung menyambut ayah mereka.
"Ayah, ayah bawa oleh - oleh?" tanya kedua anak Pak Acep.
"Maaf, ayah nggak bawa oleh - oleh." jawab Pak Acep.
"Kalau gitu, main kukudaan, yah." mereka meminta dengan manja.
Pak Acep langsung menemani mereka bermain. Sedangkan Erza duduk di teras rumah Pak Acep. Ia menyaksikan betapa riangnya anak - anak itu bermain bersama bapaknya. Pikirannya langsung melayang pada saat ia masih kanak - kanak.
Masa kanak - kanaknya Erza tentu berbeda dengan masa kanak - kanaknya anak yang lain. Tentu saja berbeda karena ia adalah seorang pangeran. Saat ia masih balita, ia hanya bisa bermain di dalam istana bersama ibunya atau bersama pengasuh kerajaan. Ayahnya yang menjabat sebagai seorang raja hanya beberapa kali menemaninya bermain. Ia tak pernah bermain di luar istana sebelumnya.
Tidak terasa air matanya membasahi pipinya. Ia tak pernah merasakan masa - masa bahagia seperti itu. Ia hanya berpikir tentang nasibnya sekarang. Ayahnya sudah tiada. Ibunya tidak diketahui nasibnya. Dan ia sendiri diasingkan ke sebuah hutan. Sekarang, ia bersyukur karena ia sudah ditolong oleh seseorang yang baik dan sudah berada di lingkungan yang baik pula.
Malamnya, ia menginap di rumah Pak Acep. Di sana, ia diperlakukan seperti bagian dari keluarga tersebut. Ia pun merasa senang karena sudah diperlakukan seperti itu. Rasa sengsara yang sebelumnya menderanya, kini sudah berganti dengan rasa senang dan bahagia.
Ia dan Pak Acep mengobrol di teras rumah. Pak Acep menanyakan suatu hal kepada Erza.
"Kamu ini 'kan pangeran, anaknya raja. Kenapa bisa sampai diasingkan?" tanya Pak Acep.
"Sebenarnya, ayah saya sudah meninggal tidak lama sebelum saya diasingkan. Kemudian, adik ayah saya merebut tahta kerajaan yang seharusnya diberikan kepada saya. Saya pun diasingkan dan..." air mata Erza mengalir lagi. Ia tak bisa melanjutkan ceritanya lagi. Pak Acep pun memahami itu.
"Sudah, sudah, jangan menangis lagi. 'Kan sekarang kamu sudah tinggal bersama bapak dan keluarga bapak." hibur Pak Acep.
Erza pun menyeka air matanya yang membasahi pipinya.
"Kamu mau merebut kembali tahta kerajaan kamu lagi 'kan?" tanya Pak Acep.
"Tentu saja mau, pak." jawab Erza.
"Baik. Mulai besok, bapak akan melatih kamu agar bisa merebut kembali tahta kerajaan yang seharusnya diberikan untuk kamu." kata Pak Acep.
"Kamu siap?" tanya Pak Acep.
"Siap!" jawab Erza.
"Benar kamu siap?" tanya Pak Acep lagi.
"Siap!" jawab Erza lagi.
Dari malam tersebut, dimulailah perjuangan Erza untuk merebut tahta kerajaan yang sekarang sedang diduduki oleh seorang raja yang jahat dan kejam. Selama ia mempunyai semangat yang tinggi dan motivasi yang kuat, ia bisa melalui segala tantangan untuk merebut kembali tahta kerajaan yang seharusnya diberikan untuknya.
Komentar
Posting Komentar