24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya


Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya

Pada tahun lalu, di sebuah pulau nun jauh di sana, terdapat sebuah proyek di sebuah gudang besar. Orang-orang di sana sedang sibuk membuat sesuatu. Sesuatu yang belum pernah ada di seluruh dunia itu. Sesuatu yang akan merubah dunia itu.

"Fathur, gimana perhitungannya?" tanya seseorang.

"Oke, udah selesai." kata orang tersebut.

"Berarti, tinggal digambar aja, ya?" tanya temannya.

"Ya." jawab Fathur.

"Nah, sekarang... Iqbal! Ke sini kamu!" teriak temannya.

Sementara itu, orang yang dipanggilnya masih sibuk menggambar.

"Iqbal! Kamu lagi gambar apa, sih?" tanya temannya.

"Lagi gambar macam-macam." jawab Iqbal.

"Udah! Ke sini kamu! Ada pekerjaan baru buat kamu!" kata temannya.

"Ya, ya." kata Iqbal sambil berjalan menuju temannya.

"Nah, dengan semua perhitungan dan sketsa ini, kamu buat keseluruhannya." kata temannya.

"Ya." kata Iqbal.

Iqbal langsung membuat sketsa keseluruhan proyek itu. Ia membuatnya secara detil. Mulai dari skala, bentuk, sampai panjang dan lebarnya. Setelah beberapa lama, ia berhasil membuat sketsa tersebut.

"Nah, makasih, Bal! Sebagai bagian dari kelompok kita, kamu bisa ikut penjelajahan nanti." kata temannya.

Iqbal hanya mengganguk. Setelah itu, ia langsung pergi.

"Eh, Ulwan, apa dia nggak pernah ngobrol lebih lama?" tanya Fathur.

"Nggak, aku pernah ngobrol sama dia soal permainan." jawab Ulwan, temannya.

"Oh, tapi kok keliatan jarang ngobrol?" tanya Fathur.

"Ya, kali dia lagi nggak mau ngobrol. Atau kamu nggak pernah ngajak dia ngobrol." jawab Ulwan.

Akhirnya, malam pun tiba. Semua orang yang bekerja di sana langsung pulang ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat. Pintu gudang pun dikunci. Petugas keamanan berjaga-jaga di sekitar gudang itu. Gudang itu dikelilingi oleh dinding yang sangat tinggi dan sangat tebal. Di atas dindingnya pun terdapat kawat. Intinya, keamanan gudang itu sangat ketat karena di dalamnya terdapat proyek rahasia.

Walaupun sudah dijaga ketat, ternyata ada sekelompok orang yang sedang bersembunyi di balik tumpukan barang-barang untuk proyek. Ternyata, mereka sudah berhasil masuk ke dalam gudang itu sejak siang tadi. Mereka berhasil masuk dengan cara bersembunyi di dalam gerobak yang mengangkut barang-barang untuk proyek itu. Sekarang, mereka langsung menyelinap ke dalam gudang tersebut. Dengan cepat, mereka membobol pintu gudang yang terkunci itu. Akhirnya, pintu gudang itu berhasil dibuka. Mereka langsung masuk ke dalam gudang itu lalu mencari sketsa keseluruhan proyek itu. Beberapa dari mereka berjaga-jaga di pintu-pintu gudang itu. Mereka waspada dengan petugas keamanan yang sedang berjaga-jaga di sekitar gudang itu. Mereka mencari sketsa itu dengan hati-hati. Akhirnya, setelah beberapa lama mereka mencari sketsa itu, mereka berhasil menemukan sketsa itu.

"Ah, akhirnya! Sketsanya ketemu!" kata salah seorang di antara mereka. Ia langsung menyerahkan sketsa itu kepada temannya.

"Nih, cepet salin!" kata orang tersebut. Temannya langsung menyalin sketsa itu dengan cepat. Akhirnya, dalam waktu yang cukup singkat ia sudah menyalin sketsa itu. Persis seperti aslinya.

"Ah, bagus kamu! Nanti kita pesta lagi di markas!" kata temannya.

Mereka langsung pergi meninggalkan gudang itu. Sketsa yang disalin tadi langsung ditaruh di tempat semula. Sementara itu, mereka memasang kunci baru di pintu gudang yang kuncinya dirusak mereka. Mereka juga mengambil kunci pintu yang dirusak mereka. Mereka langsung bersembunyi di tumpukan barang-barang proyek. Ketika para petugas keamanan sedang lengah, mereka langsung memanjat dinding pelindung gudang itu. Mereka memanjat menggunakan tali yang sudah disiapkan oleh teman-temannya yang ada di luar. Dengan cepat, mereka memanjat tali itu. Akhirnya, mereka berhasil keluar dari gudang itu dengan sukses.

"Wahaha! Kita penjahat yang paling cepat dan licin! Secepat cheetah dan selicin belut!" teriak temannya.

"Woi! Jangan ribut! Nanti ketahuan! Ayo kita pergi!" kata temannya. Mereka semua langsung pergi ke markas mereka.

Pagi harinya, di Pulau Pasir Berlian, Erza dan teman-temannya sudah bangun dari tidurnya. Lalu, mereka langsung mandi dan sarapan pagi.

"Deiki, kamu yang masak, ya?" kata Erza.

"Aku aja!" kata Naufal.

"Emang kamu bisa?" tanya Erza.

"Bisa. Gini-gini aku itu koki hebat!" jawab Naufal.

"Ya udah, kamu yang masak." kata Erza.

"Tapi, masak apa?" tanya Naufal.

"Tuh, pake bahan-bahan yang ada di sana." kata Erza sambil menunjuk tumpukan bahan-bahan masakan.

"Oke!" kata Naufal.

Naufal langsung membawa bahan-bahan yang akan ia masak. Lalu, ia mengeluarkan pisau-pisau andalannya. Kebetulan, di sana ada dapur. Jadi, ia hanya menyiapkan pisau-pisau andalannya saja. Setelah itu, ia mulai memasak. Pertama-tama, ia menanak nasi. Sambil menunggu nasi matang, ia memasak masakan. Dengan cepat, ia memotong-motong bahan-bahan dengan dua pisau sekaligus. Setelah terpotong-potong, ia langsung memasukkan semua bahan itu ke dalam panci yang berisi air mendidih. Lalu, ia memasukkan bumbu-bumbu ke dalam panci itu dan mengaduknya. Akhirnya, nasi dan masakan itu pun matang.

"Nah, sudah selesai!" kata Naufal. Naufal langsung memanggil teman-temannya untuk sarapan pagi.

"Woi! Nih, makanannya udah jadi!" panggil Naufal. Tiba-tiba, Rendy S berlari menuju dapur dengan muka yang penuh nafsu. Ia pun sampai di dapur.

"Hah, hah, mana makanan, MANA!!!" teriak Rendy S.

"Tuh, ambil dulu mangkuk ama piringnya." kata Naufal.

Rendy S mengambil makanan yang ada di dapur. Lalu, teman-temannya ikut mengambil makanan. Mereka semua sarapan di tempat yang mereka sukai. Ada yang di depan teras. Ada yang di dapur. Ada juga yang makan di ruang tengah. Setelah itu, Erza memanggil semua temannya untuk berkumpul terlebih dahulu.

"Woi! Semuanya! Kumpul dulu!" panggil Erza. Mereka semua langsung berkumpul.

"Gini, kita mau ngelanjutin perjalanan lagi. Nah, kira-kira, kita mau ke mana?" tanya Erza.

"Ah, ke Pulau Harmoni!" usul Nabil.

"Ada apa di sana?" tanya Erza.

"Di sana banyak suara musik dari alam. Selain itu, di sana juga ada banyak musisi, pemain band, sama penyanyi legendaris." jawab Nabil.

"Kalau aku sih ke Tanah Emas. Di sana banyak hewan sama tumbuhan yang legendaris di kalangan koki." usul Naufal.

"Kalau aku ke Tanah Impian. Di sana tempatnya indah. Banyak binatang sama tumbuhan langka." usul Diyyah.

"Kalau aku ke Pulau Kabut. Di sana banyak misteri, mayat, dan..." usul Rendy S.

"Dan apa?" tanya Moza.

"Mau tau?" Rendy S bertanya balik.

"Ya." jawab Moza.

"Beneran?" tanya Rendy S.

"Ih, beneran!" jawab Moza.

"Di sana ada... di sana ada... di sana ada... HANTU!" teriak Rendy S.

"Kyaaaaaaaaaaaaa!" teriak Moza. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

"Rendy!" teriak Moza.

"Eh, Rendy yang mana?" tanya Rendy S.

"Kamu!" jawab Moza.

"Kamu yang mana?" tanya Rendy S.

"Emangnya siapa lagi?" tanya Moza.

"Bisa aja yang ada di sebelah kamu. Itu juga 'kan Rendy." jawab Rendy S.

"Bukan Rendy itu. Tapi kamu!" teriak Moza sambil menunjuk Rendy S.

"Udah, udah, jangan ribut!" kata Erza.

"Ya deh!" kata Moza sambil kesal.

"Nah, ada usul lagi?" tanya Erza.

"Ah, kita ke Tanah Langit aja! Di sana bakal ada penjelajahan naik kapal layang." usul Fahri.

"Kamu dapet undangannya? Sama dong kayak kita!" kata Ira.

"Siapa aja yang dapet undangannya?" tanya Fahri.

"Ya, kita berdelapan dong!" jawab Ira.

"Wah, kita berempat juga dapet!" kata Galih, Fabian, Ammar, dan Alidza.

"Kalau gitu, kita ke Tanah Langit aja. Gimana? Setuju?" tanya Erza.

"Ya udah, setuju!" kata semuanya.

"Ya, kita akan pergi ke Tanah Langit! Tapi, jauh amat..." kata Erza.

"Emang, lewat laut aja butuh lima hari. Apalagi lewat daratnya!" kata Andri.

"Emang kalau lewat darat berapa lama?" tanya Erza.

"Seminggu lebih!" jawab Andri.

"Tapi, kita 'kan lewat udara?" kata Diyyah.

"Bener juga, ya?" kata Andri.

"Ya udah, kita langsung pergi aja. Tapi, kita pamitan dulu sama Bu Nia." kata Erza.

Mereka semua langsung bubar. Lalu, mereka semua pergi ke rumah Bu Nia untuk berpamitan. Sesampainya di depan rumah Bu Nia, Erza mengetuk pintu rumah Bu Nia. Bu Nia langsung membuka pintu.

"Ada apa?" tanya Bu Nia.

"Kami mau pamit." jawab Erza.

"Kalian mau pergi lagi?" tanya Bu Nia.

"Iya, bu." jawab Erza.

"Sebentar." kata Bu Nia. Bu Nia langsung mengambil sesuatu dari dalam mejanya. Setelah itu, beliau langsung pergi ke depan rumah.

"Sebelum kalian pergi, ibu mau ngasih sesuatu buat kalian." kata Bu Nia.

"Apaan, bu?" tanya Erza. Bu Nia menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus kain.

"Coba kalian buka." kata Bu Nia. Erza membuka kotak itu. Ternyata, kotak itu berisi perbekalan dan senjata.

"Nah, itu buat bekal kalian untuk perjalanan nanti. Perjalanan yang akan kalian hadapi akan lebih berat. Makanya, ibu berikan kotak itu untuk membantu perjalanan kalian." kata Bu Nia.

"Terima kasih, bu." kata Erza.

"Sama-sama." kata Bu Nia. Mereka semua bersalaman dengan Bu Nia. Setelah itu, mereka langsung pergi menuju pinggir pantai tempat mereka pertama kali sampai.

"Selamat jalan!" kata Bu Nia sambil melambaikan tangannya. Mereka semua membalas lambaian tangan Bu Nia.

Mereka berjalan menuju pinggir pantai untuk melanjutkan perjalanan mereka. Sambil berjalan, mereka menikmati semilir angin pantai itu. Mereka pun melihat pemandangan di sekeliling mereka. Di sepanjang jalan yang mereka lewati, terdapat banyak toko dan bangunan yang indah. Kadang, mereka juga melewati taman yang sangat terawat. Mereka sangat menyukai tempat itu. Tetapi, mereka harus melanjutkan perjalanan mereka lagi. Mereka tidak bisa berlama-lama di sana. Tahta kerajaan harus segera direbut. Jika terlambat, Raja Ehud yang sekarang sedang memerintah akan membuat kekacauan di negeri itu.

Ketika mereka sedang berjalan menuju pinggir pantai, mereka bertemu dengan Pak Hero dan Asha, dua penyanyi yang sangat terkenal.

"Hei, kalian semua, duduk di sini dulu sebentar." kata Pak Hero.

"Duduk?" tanya Rayhan.

"Iya, duduk dulu. Kita ngobrol dulu bentar." kata Pak Hero. Mereka semua duduk di dekat Pak Hero.

"Apa kalian yang kemarin mengalahkan kelompok teroris yang kemarin malam meledakkan kapal yang isinya roket petasan itu?" tanya Pak Hero.

"Iya." jawab Erza.

"Begini, saya punya cerita tentang pengalaman saya. Tolong kalian ambil hikmah dari cerita saya ini." kata Pak Hero. Pak Hero mulai mengawali ceritanya.

"Dulu, sebelum saya tinggal di sini, saya pernah menjadi seorang penjelajah bersama teman-teman saya yang lain. Kami menjelajahi berbagai pulau di negeri ini. Bahkan sampai keluar dari negeri ini. Kami sudah pernah bertemu dengan berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Baik yang langka maupun tidak. Baik yang buas maupun jinak. Kami pun sudah pernah melewati berbagai macam rintangan. Seperti hutan, danau, rawa, bahkan gunung. Dalam setiap penjelajahan, kami selalu menghadapi berbagai rintangan dengan bersama-sama. Kami pun saling tolong menolong dan saling menghargai. Terbukti, segala macam rintangan yang kami hadapi berhasil kami lewati. Nah, dari cerita itu saya ingin mengingatkan kalian semua supaya kalian tetap bersatu dalam segala kondisi saat perjalanan. Kalian juga harus saling tolong menolong dan saling menghargai. Dengan prinsip persahabatan yang teguh, kalian akan bisa melewati segala tantangan yang ada di depan kalian." kata Pak Hero.Mereka semua mengangguk-ngangguk mendengar cerita Pak Hero.

"Nah, sebelum kalian pergi, saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk kalian." kata Pak Hero. Pak Hero memanggil teman-teman sesama pemain musik.

"Teman-teman, ayo kita mulai." kata Pak Hero.

Pak Hero, Asha, dan teman-temannya mulai memainkan sebuah lagu.


Gigi-Sang Pemimpi

sambut hari baru di depanmu
sang pemimpi siap untuk melangkah
beri tanganku jika kau ragu
bila terjatuh ku kan menjaga

kita telah berjanji bersama
taklukkan dunia ini
menghadapi segala tantangan bersama
mengejar mimpi-mimpi

berteriaklah hai sang pemimpi
kita takkan berhenti di sini

kita telah berjanji bersama
taklukkan dunia ini
menghadapi segala tantangan bersama

bersyukurlah pada yang maha kuasa
hargailah orang-orang yang menyayangimu
yang selalu ada setia di sisimu

siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu
dan semua yang kau impikan
tegarlah sang pemimpi

berteriaklah hai sang pemimpi
kita takkan berhenti di sini

kita telah berjanji bersama
taklukkan dunia ini
menghadapi segala tantangan bersama

bersyukurlah pada yang maha kuasa
hargailah orang-orang yang menyayangimu
yang selalu ada setia di sisimu

siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu
dan semua yang kau impikan
tegarlah sang pemimpi

bersyukurlah pada yang maha kuasa
hargailah orang-orang yang menyayangimu
yang selalu ada setia di sisimu

siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu
dan semua yang kau impikan
tegarlah sang pemimpi

"Nah, silakan kalian melanjutkan perjalanan kalian. Ingat pesan saya. Ingat juga lagu ini. Jangan lupa untuk kembali ke sini." kata Pak Hero.

"Iya." kata Erza.

Erza dan teman-temannya bangkit dari duduknya. Mereka pun berpamitan dengan Pak Hero, Asha, dan teman-temannya. Setelah itu, mereka pergi melanjutkan perjalanan mereka. Sementara itu, Asha bertanya kepada Pak Hero.

"Lho, bapak pernah jadi penjelajah?" tanya Asha.

"Iya." jawab Pak Hero.

"Kenapa bapak nggak pernah cerita?" tanya Asha.

"Ya, suka-suka saya. Ini 'kan ceritanya saya. Saya mau cerita atau nggak ya suka-suka saya." kata Pak Hero.

"Ah, Pak Hero licik!" kata Asha.

"Ah, Asha ngga rame!" kata Pak Hero. Mereka berdua terus bercanda.

Sementara itu, Erza dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang sangat jauh, yaitu Tanah Langit. Dengan semua ajaran yang diajarkan oleh Bu Nia dan pesan yang disampaikan oleh Pak Hero, Erza berjalan dengan optimis. Ia yakin, dengan berbekal ajaran dan nasehat yang sudah didapatkannya, ia bisa merebut kembali tahta kerajaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan