32. Lawan Jadi Kawan

Lawan Jadi Kawan

Desa Blacksteel benar-benar sepi. Tidak ada yang bangun pada malam itu. Namun, ada seseorang yang terbangun pada malam itu. Ia berdiri dan membangunkan Erza yang tengah tertidur lelap.

"Erza, Erza, bangun." kata orang itu. Erza terbangun dari tidurnya.

"Paman Erwin?" kata Erza.

"Ssst... jangan berisik! Ikut paman." kata Paman Erwin.

Paman Erwin dan Erza keluar dari rumahnya. Mereka berdua berjalan pelan-pelan. Lama-lama mereka meninggalkan desa itu. Sekarang, mereka sedang berjalan di tengah hutan yang sangat gelap. Pandangan Erza terbatas saking gelapnya hutan itu. Ia berpegangan dengan Paman Erwin supaya tidak tersesat.

Akhirnya, mereka berdua sampai di sebuah danau yang cukup kecil. Paman Erwin langsung duduk di batu besar yang terletak di tengah danau. Erza hanya berdiri di pinggir danau sambil mengamati apa yang sedang dilakukan Paman Erwin. Paman Erwin menyalakan sebuah lilin dan ditaruh di depannya. Lalu, ia mencabut sebuah pedang yang tertancap di dalam danau. Erza terkaget-kaget. Ternyata, pedang yang dicabut Paman Erwin bercahaya. Cahaya sangat terang. Terangnya hingga dapat menyinari danau itu. Namun, cahaya itu padam kembali. Paman Erwin menyuruhnya untuk mendekatinya. Erza segera mendekati Paman Erwin.

"Erza, sebelum kamu mendapatkan pedangmu yang asli, paman berikan pedang terbaik yang pernah paman buat." kata Paman Erwin sambil menyerahkan pedang itu.

"Memangnya aku punya pedang asli?" tanya Erza.

"Nanti juga kamu tau." jawab Paman Erwin.

"Oh, ya, berapa orang yang udah kamu kumpulin?" tanya Paman Erwin.

"55." jawab Erza.

"Kalau berlian?" tanya Paman Erwin.

"Sembilan." jawab Erza.

"Kalau gitu, cepat kumpulkan semua orang itu dan berlian biru itu. Jangan sampai terlalu lama. Semakin lama kamu kumpulin semakin buruk negeri ini." kata Paman Erwin.

"Baik." kata Erza.

Suasana menjadi hening. Mereka bedua tak berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba, sebuah panah menancap di sebuah pohon. Mereka berdua terkejut.

"Siapa itu!?" tanya Paman Erwin sambil mencabut pedangnya. Sebuah panah kembali menancap di sebuah pohon. Erza sudah bersiap-siap dengan pedangnya. Tiba-tiba, seseorang menyerang Erza.

"Rayhan?" kata Erza. Ternyata, orang yang menyerangnya adalah Rayhan, temannya sendiri.

"Erza, akan kubawa kau ke Raja Ehud." kata Rayhan dengan tatapan kosong, seperti dikendalikan oleh seseorang.

"Yang benar aja!" kata Erza. Rayhan langsung menikam Erza. Namun, tikamannya dapat ditangkis oleh Erza. Paman Erwin ikut membantu Erza. Ia menyerang Rayhan secara bertubi-tubi. Akhirnya, pedang Rayhan terlepas dari tangannya. Tiba-tiba, semua teman Erza mendekatinya.

"Woi! Kalian mau ngapain!?" tanya Erza. Tanpa berkata apapun, mereka semua menyerang Erza dan pamannya.

"Punctie duizend tulpen!" belasan anak panah akan menusuk mereka berdua. Namun, mereka berdua dapat menangkisnya.

"Sate api!" sebuah anak panah akan menusuk mereka kembali. Lagi-lagi, mereka dapat menangkisnya.

"Kujang Wengi!" Uqi menyerang Erza. Namun, Paman Erwin memukul mundur Uqi.

"Ponction Thousand Swords!" giliran Paman Erwin yang diserang. Erza langsung menarik orang yang menyerang pamannya. Lalu, ia membantingnya ke tanah.

Mereka semua susah dikalahkan. Erza dan pamannya mulai kelelahan. Mereka berdua hampir terjatuh. Namun, mereka tetap bertahan. Dengan sisa tenaga yang mereka punya, mereka berusaha menghindari semua serangan. Akan tetapi, mereka semakin terdesak. Di tengah keadaan yang sulit seperti itu, Paman Erwin menyadari sesuatu.

"Erza! Kita jangan menyerang mereka lagi!" kata Paman Erwin.

"Emangnya kenapa?" tanya Erza.

"Paman baru sadar, mereka itu dihipnotis dengan gas sihir!" jawab Paman Erwin.

"Kalau gitu, siapa yang menyihir mereka?" tanya Erza.

"Menurut perkiraan paman, yang menyihir mereka ada di dekat sini." kata Paman Erwin.

"Tapi, gimana cara taunya?" tanya Erza.

"Sebentar, paman akan menunjukkan cara paman." kata Paman Erwin. Paman Erwin terdiam sejenak. Ia sedang berkonsentrasi. Setelah cukup, ia mengeluarkan jurus andalannya.

"Woi! Nenek sihir tua! Di mana kamu!? Dasar bau tanah! Tua bangka! Udah tua masih aja main sihir!" teriak Paman Erwin.

Erza melongo ketika mendengar pamannya berteriak seperti itu.

"Emangnya ampuh pakai jurus itu?" kata Erza dalam hati.

Tiba-tiba, seseorang berteriak dari atas pohon.

"Woi! Dasar bapak-bapak jelek! Bau bangkai! Kumisan lagi!" teriak orang itu. Paman Erwin langsung memotong pohon tempat orang itu berada. Orang itu dan temannya segera melompat dari pohon itu. Tiba-tiba, Erza langsung menghadang mereka berdua.

"Jatuhkan mereka!" teriak Paman Erwin. Erza langsung menyerang mereka berdua.

"Oh, tidak bisa!" kata orang itu. Tiba-tiba, Paman Erwin berada di belakang mereka. Ia segera membanting mereka ke tanah.

"Sekarang, bisa!" kata Paman Erwin. Ia langsung mencari penawar dari gas sihir itu dari tas orang itu. Ia pun menemukan penawarnya. Ia segera menyebarkan gas itu kepada teman-teman Erza. Sementara itu, Erza menahan kedua orang itu.

Akhirnya, teman-teman Erza sadar kembali. Mereka langsung bertanya-tanya apa yang terjadi dengan mereka. Paman Erwin dan Erza tidak menjawabnya. Mereka berdua langsung mendekati kedua orang yang menyihir teman-teman Erza.

"Ampun, paman! Jangan bunuh kami! Kami masih pingin hidup! Masih banyak orang yang harus kami tolong!" kedua orang itu berteriak.

"Tenang, paman tidak akan membunuh kalian. Lagipula, kalian memakai syal biru pemberian dari penasehat kerajaan 'kan?" tanya Paman Erwin. Mereka berdua mengangguk pelan.

"Sebenarnya, apa alasan kalian menyihir mereka semua?" tanya Paman Erwin.

"Kami butuh uang untuk para tunawisma dan orang miskin. Kami juga butuh uang untuk keperluan pribadi kami. Sementara di kota kami mendapatkan uang semakin susah. Kami meminta uang ke raja. Raja akan memberi uang kepada kami dengan syarat kami harus menangkap Erza dan teman-temannya." kata mereka berdua.

"Jadi, kalian butuh uang?" tanya Paman Erwin. Mereka berdua mengangguk pelan. Paman Erwin mengambil sesuatu dari tasnya. Kemudian, ia menyerahkannya kepada mereka berdua.

"Ini, paman kasih tiga batang emas. Semoga cukup untuk kalian dan para orang miskin itu." kata Paman Erwin.

"Wah, Paman Erwin baik sekali." kata Adi.

"Bagi emas, dong!" kata Uqi.

"Enak aja! Kalau memang butuh baru paman kasih!" kata Paman Erwin.

"Ah, Paman Erwin jahat!" kata Adi.

"Pilih kasih!" kata Uqi.

Paman Erwin tidak berkata apapun.

"Ah, Paman Erwin nggak rame!" kata Uqi.

"Ya udah! Terus kenapa?" tanya Paman Erwin.

"Nggak apa-apa." jawab Uqi. Mereka semua tertawa.

Erza bertanya kepada dua orang yang menyihir teman-temannya.

"Nama kalian siapa?" tanya Erza.

"Aku Dhea." jawab salah seorang di antara mereka.

"Aku Anya." jawab temannya.

"Kalian bilang 'Kami butuh uang untuk para tunawisma dan orang miskin.' Kalian itu para penampung para tunawisma dan orang miskin?" tanya Erza.

"Ya, kami mendirikan rumah penampungan bagi mereka. Biaya hidup mereka kami tanggung. Awalnya, kami terus mendapat uang. Tapi, lama-lama uang yang kami dapat sedikit. Sekarang, kami tidak mendapat uang sepeserpun. Makanya, kami menangkap kamu buat dapat uang." kata Dhea.

Erza terdiam sejenak.

"Begini, kalian tau 'kan aku ini pangeran. Nah, aku butuh bantuan buat merebut kembali tahta aku. Kalian mau 'kan bantu aku? Kalau aku jadi raja, aku akan memakmurkan negeri ini. Orang-orang miskin tidak akan ada lagi." kata Erza.

"Janji?" tanya Dhea.

"Janji." jawab Erza.

"Baiklah, kami ikut membantumu." kata Dhea.

"Terima kasih." kata Erza.

"Sama-sama." kata Dhea.

"Ayo, kita balik ke rumah. Pagi tinggal sebentar lagi." kata Paman Erwin.

"Sampai di sana kita ngapain?" tanya Deiki.

"Kita tidur, yuk!" kata Rayhan sambil menguap.

"Yuk!" kata Erza.

"Oh, tidak bisa!" kata Paman Erwin.

"Oh, bisa!" kata Rayhan. Mereka semua tertawa.

Mereka semua kembali ke rumah Paman Erwin dengan teman baru mereka, Dhea dan Anya. Tinggal 12 orang lagi yang belum ia temukan. Berlian yang telah ia kumpulkan sudah berjumlah sembilan buah. Hanya tinggal empat lagi yang belum terkumpul.

Sementara itu, tukang sihir kepercayaan Raja Ehud memata-matai mereka melalui kolam ramalannya. Ia terkejut ketika dua utusan kerajaan itu bergabung dengan Erza dan teman-temannya. Ia segera menemui Raja Ehud.

"Tuan! Dua utusan anda telah bergabung dengan Pangeran Erza!" lapor tukang sihir itu.

"Tenang, Rachen. Saya punya yang lebih hebat lagi." kata Raja Ehud. Ia memanggil lima orang kepercayaannya.

"Aldric! Randi! Van Porter! Fredderson! Tauma!" panggil Raja Ehud. Mereka langsung menemui Raja Ehud.

Ia memberikan selembar peta yang menunjukkan letak Erza dan kawan-kawannya.

"Bunuh Pangeran Erza dan kawan-kawannya. Kalian bisa lihat posisinya dengan membuka peta ini. Laksanakan sekarang juga!" kata Raja Ehud.

"Baik, tuan!" kata mereka serempak. Mereka langsung pergi dari tempat itu.

"Apa anda yakin mereka akan berhasil?" tanya Rachen.

"Jangan remehkan kemampuan mereka. Mereka itu bukan manusia biasa. Tidak bisa dikalahkan begitu saja oleh makhluk-makhluk seperti itu." kata Raja Ehud.

Raja Ehud dan Rachen berjalan menuju balkon istana. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh Kota Miracle.

"Rachen, dengan kekuasaanku sekarang ini, akan kuubah negeri ini menjadi negeri pemusnah! Akan kumusnahkan seluruh negeri yang ada di dunia ini! Akan kuciptakan dunia baru dengan aku sebagai raja tertinggi! Akulah sang raja!" teriak Raja Ehud.

Itulah rencana lain Raja Ehud. Ia berambisi menguasai seluruh dunia. Sekarang, tidak hanya Kerajaan Mirror saja yang dalam bahaya. Negeri lain juga dalam bahaya. Satu-satunya harapan hanyalah Erza yang akan merebut kembali tahtanya.

"Cepat rebut kembali tahtamu, Erza! Singgasana kerajaan harus kamu duduki. Jadilah raja yang bijaksana." kata Bu Nia dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya