1. Awal Kisah Sang Pangeran
Awal Kisah Pangeran
Langit pada hari ini tidak cerah. Awan-awan putih menutupi langit biru. Matahari yang bersinar cerah pun tertutup. Namun, langit belum memberikan tanda akan menurunkan hujan.
Sebuah kereta kuda bergerak cepat melewati jalan kecil yang sangat sepi. Sang kusir terus mempercepat langkah kudanya. Langit yang berawan tak dihiraukannya. Ia terus mengendarai kereta kudanya.
Di dalam kereta kuda itu terdapat dua orang prajurit dan sebuah karung yang berisi sesuatu yang besar, hampir seukuran dengan prajurit itu. Karung itu terus bergerak-gerak seperti cacing. Dua prajurit itu kesal melihatnya bergerak-gerak.
“Diam kau, pangeran!” teriak salah seorang prajurit yang ada di dalam sana. Karung itu terus bergerak-gerak.
“BUGH!” prajurit itu memukul karung itu. Lama-kelamaan, karung itu diam.
Kereta kuda itu masuk ke dalam sebuah hutan yang sangat rimbun. Saking rimbunnya, cahaya matahari pun tak bisa menembusnya. Apalagi, hari ini langit sedang berawan. Awan itu semakin menambah gelapnya hutan yang sangat rimbun itu.
Kereta kuda itu pun berhenti di pinggir hutan. “BRAK!” kedua prajurit itu membuka pintu kereta kuda. Mereka langsung melepaskan tali yang mengikat karung itu. Isi karung itu langsung dikeluarkan. Ternyata, isi karung itu adalah seorang pangeran muda.
“Wooi! Mau apa kalian!?” tanya pangeran itu.
Kedua prajurit itu tidak menjawab pertanyaannya. Mereka lantas menggotongnya keluar dari kereta kuda itu. Mereka pun berjalan hingga jauh ke dalam hutan.
“BRUK!” mereka menjatuhkan pangeran itu begitu saja di bawah pohon besar. Tali yang mengikat kaki dan tangannya dibuka. Setelah itu, mereka langsung berlari meninggalkannya.
“Woi! Tunggu dulu kalian!” teriak pangeran itu. Ia berusaha mengejar mereka berdua. Sayang, mereka sudah berlari jauh meninggalkannya. Pangeran yang terus mengejar mereka langsung berhenti. Ia berpikir usahanya sudah tidak ada gunanya lagi.
Sekarang, ia berada di dalam hutan belantara yang begitu gelap. Ia kebingungan di dalam sana. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah dialaminya.
Pangeran itu adalah seorang pangeran tunggal Kerajaan Mirror, Pangeran Erzawan Wijaya. Dari kecil hingga kemarin, hidupnya penuh dengan kemudahan, kemegahan, dan kemewahan. Jika ingin makan, ia tinggal duduk di meja makan dan menunggu pelayan menghidangkan makanan. Jika ingin pergi keluar, pengawalnya langsung menyiapkan kereta kuda di depan gerbang dan ia hanya tinggal menaikinya. Intinya, segala sesuatu yang ia ingin dengan mudahnya dikabulkan. Persis seperti yang diidam-idamkan oleh seluruh orang.
Namun, hari ini semua kemewahan itu lenyap begitu saja. Ayahnya, Raja Edric sudah wafat. Pamannya, Pangeran Ehud berhasil melakukan kudeta bersama para pengikut setianya dan pasukannya. Ia pun merebut alih kekuasaan yang seharusnya diduduki oleh Pangeran Erza. Para pegawai istana yang setia kepada raja yang lama, termasuk seorang algojo dijadikan tahanan istana. Mereka semua dikurung di dalam penjara istana bawah tanah. Para jenderal termasuk para prajurit kerajaan tunduk pada perintah raja yang baru. Perintah sang ratu, Ratu Alvia tidak didengar sama sekali. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa raja baru itu akan memaksanya untuk dipersunting olehnya. Namun, ia tidak sudi untuk menikahinya. Ia terus memberontak kepada raja itu. Ia tak peduli bahwa yang ditentangnya adalah raja, yang gelarnya setingkat di atasnya.
Erza yang sekarang dibuang oleh pamannya sendiri hanya bisa duduk termenung di bawah pohon besar. Ia meratapi nasibnya yang kini tidak jelas. Ia pun mulai bertanya-tanya. “Apa yang sudah terjadi? Apa yang terjadi padaku sekarang ini? Tuhan, tolong sadarkanlah aku! Apakah semua ini mimpi?”
Hati Erza mulai tidak karuan. Amarah, kebingungan, dan kesedihan bercampur menjadi satu. Ia belum percaya semua itu menimpa dirinya. Ia terus menyangkal bahwa itu semua tidak benar-benar terjadi. Ia terus membohongi dirinya sendiri. Semua itu terjadi karena ia belum pernah tertimpa musibah.
Lama-kelamaan, ia sadar semua itu bukan mimpi. Semakin sadar, ia semakin kacau hati dan pikirannnya. Ia terus duduk di bawah pohon besar. Emosinya semakin teraduk tidak karuan. Wajahnya mulai memerah. Tangannya mengepal kuat. Ia berusaha untuk mengendalikan emosinya. Namun, ia tidak bisa melakukannya.
Di depannya terdapat sebuah batu yang cukup kecil. Tanpa pikir panjang, ia mengambil batu itu dan menggenggamnya.
“Mengapa? Mengapa ini harus terjadi padaku? MENGAPA!?” teriak Erza sambil melempar batu.
“JEBUR!” batu itu tercebur ke dalam sungai. Rusa yang sedang minum di sungai itu langsung terkejut dan kabur sejauh-jauhnya. Erza masih terus duduk meratapi nasibnya sekarang.
“Apakah aku akan terus ada di sini dan menjadi pangeran hutan?” tanya Erza dalam hati.
Tiba-tiba, ia teringat pada sebuah pesan dari kakeknya.
“Erza, jadi orang itu harus kuat. Kuat seperti pohon besar. Kau tahu pohon? Pohon yang besar bisa tahan dari tiupan angin. Kita juga harus seperti itu. Hidup itu penuh dengan tantangan. Tidak ada seorang pun yang selama hidupnya tidak pernah mengalami kesusahan. Ketika kesusahan itu datang, kita harus menghadapinya dengan kuat. Kakek bangga kalau kamu bisa seperti itu. Kalau kamu bisa seperti itu, baru itu namanya cucu kakek!” kata kakeknya.
Erza langsung terdiam setelah mengingat pesan itu. Kepalanya menghadap ke depan. Matanya melotot seperti telah dikejutkan oleh sesuatu. Ia diam tak bergerak sama sekali. Seekor tupai naik ke bahunya. Namun, ia tidak terpengaruh sama sekali.
“TUK!” kepala Erza terkena sebuah kenari yang jatuh dari atas. Ia pun sadar kembali.
“SREK!” ia langsung bangkit dari duduknya. Tupai yang berada di bahunya langsung turun ke tanah.
Sekarang, Erza sadar. Ia harus bisa menghadapi musibah yang menimpanya. Ia tak ingin mengecewakan kakeknya yang sangat disayanginya. Ia pun berjalan menyusuri jalan setapak. Entah ke manakah ia akan pergi. Namun, semangat telah muncul di dalam hatinya.
Langit pada hari ini tidak cerah. Awan-awan putih menutupi langit biru. Matahari yang bersinar cerah pun tertutup. Namun, langit belum memberikan tanda akan menurunkan hujan.
Sebuah kereta kuda bergerak cepat melewati jalan kecil yang sangat sepi. Sang kusir terus mempercepat langkah kudanya. Langit yang berawan tak dihiraukannya. Ia terus mengendarai kereta kudanya.
Di dalam kereta kuda itu terdapat dua orang prajurit dan sebuah karung yang berisi sesuatu yang besar, hampir seukuran dengan prajurit itu. Karung itu terus bergerak-gerak seperti cacing. Dua prajurit itu kesal melihatnya bergerak-gerak.
“Diam kau, pangeran!” teriak salah seorang prajurit yang ada di dalam sana. Karung itu terus bergerak-gerak.
“BUGH!” prajurit itu memukul karung itu. Lama-kelamaan, karung itu diam.
Kereta kuda itu masuk ke dalam sebuah hutan yang sangat rimbun. Saking rimbunnya, cahaya matahari pun tak bisa menembusnya. Apalagi, hari ini langit sedang berawan. Awan itu semakin menambah gelapnya hutan yang sangat rimbun itu.
Kereta kuda itu pun berhenti di pinggir hutan. “BRAK!” kedua prajurit itu membuka pintu kereta kuda. Mereka langsung melepaskan tali yang mengikat karung itu. Isi karung itu langsung dikeluarkan. Ternyata, isi karung itu adalah seorang pangeran muda.
“Wooi! Mau apa kalian!?” tanya pangeran itu.
Kedua prajurit itu tidak menjawab pertanyaannya. Mereka lantas menggotongnya keluar dari kereta kuda itu. Mereka pun berjalan hingga jauh ke dalam hutan.
“BRUK!” mereka menjatuhkan pangeran itu begitu saja di bawah pohon besar. Tali yang mengikat kaki dan tangannya dibuka. Setelah itu, mereka langsung berlari meninggalkannya.
“Woi! Tunggu dulu kalian!” teriak pangeran itu. Ia berusaha mengejar mereka berdua. Sayang, mereka sudah berlari jauh meninggalkannya. Pangeran yang terus mengejar mereka langsung berhenti. Ia berpikir usahanya sudah tidak ada gunanya lagi.
Sekarang, ia berada di dalam hutan belantara yang begitu gelap. Ia kebingungan di dalam sana. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang telah dialaminya.
Pangeran itu adalah seorang pangeran tunggal Kerajaan Mirror, Pangeran Erzawan Wijaya. Dari kecil hingga kemarin, hidupnya penuh dengan kemudahan, kemegahan, dan kemewahan. Jika ingin makan, ia tinggal duduk di meja makan dan menunggu pelayan menghidangkan makanan. Jika ingin pergi keluar, pengawalnya langsung menyiapkan kereta kuda di depan gerbang dan ia hanya tinggal menaikinya. Intinya, segala sesuatu yang ia ingin dengan mudahnya dikabulkan. Persis seperti yang diidam-idamkan oleh seluruh orang.
Namun, hari ini semua kemewahan itu lenyap begitu saja. Ayahnya, Raja Edric sudah wafat. Pamannya, Pangeran Ehud berhasil melakukan kudeta bersama para pengikut setianya dan pasukannya. Ia pun merebut alih kekuasaan yang seharusnya diduduki oleh Pangeran Erza. Para pegawai istana yang setia kepada raja yang lama, termasuk seorang algojo dijadikan tahanan istana. Mereka semua dikurung di dalam penjara istana bawah tanah. Para jenderal termasuk para prajurit kerajaan tunduk pada perintah raja yang baru. Perintah sang ratu, Ratu Alvia tidak didengar sama sekali. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa raja baru itu akan memaksanya untuk dipersunting olehnya. Namun, ia tidak sudi untuk menikahinya. Ia terus memberontak kepada raja itu. Ia tak peduli bahwa yang ditentangnya adalah raja, yang gelarnya setingkat di atasnya.
Erza yang sekarang dibuang oleh pamannya sendiri hanya bisa duduk termenung di bawah pohon besar. Ia meratapi nasibnya yang kini tidak jelas. Ia pun mulai bertanya-tanya. “Apa yang sudah terjadi? Apa yang terjadi padaku sekarang ini? Tuhan, tolong sadarkanlah aku! Apakah semua ini mimpi?”
Hati Erza mulai tidak karuan. Amarah, kebingungan, dan kesedihan bercampur menjadi satu. Ia belum percaya semua itu menimpa dirinya. Ia terus menyangkal bahwa itu semua tidak benar-benar terjadi. Ia terus membohongi dirinya sendiri. Semua itu terjadi karena ia belum pernah tertimpa musibah.
Lama-kelamaan, ia sadar semua itu bukan mimpi. Semakin sadar, ia semakin kacau hati dan pikirannnya. Ia terus duduk di bawah pohon besar. Emosinya semakin teraduk tidak karuan. Wajahnya mulai memerah. Tangannya mengepal kuat. Ia berusaha untuk mengendalikan emosinya. Namun, ia tidak bisa melakukannya.
Di depannya terdapat sebuah batu yang cukup kecil. Tanpa pikir panjang, ia mengambil batu itu dan menggenggamnya.
“Mengapa? Mengapa ini harus terjadi padaku? MENGAPA!?” teriak Erza sambil melempar batu.
“JEBUR!” batu itu tercebur ke dalam sungai. Rusa yang sedang minum di sungai itu langsung terkejut dan kabur sejauh-jauhnya. Erza masih terus duduk meratapi nasibnya sekarang.
“Apakah aku akan terus ada di sini dan menjadi pangeran hutan?” tanya Erza dalam hati.
Tiba-tiba, ia teringat pada sebuah pesan dari kakeknya.
“Erza, jadi orang itu harus kuat. Kuat seperti pohon besar. Kau tahu pohon? Pohon yang besar bisa tahan dari tiupan angin. Kita juga harus seperti itu. Hidup itu penuh dengan tantangan. Tidak ada seorang pun yang selama hidupnya tidak pernah mengalami kesusahan. Ketika kesusahan itu datang, kita harus menghadapinya dengan kuat. Kakek bangga kalau kamu bisa seperti itu. Kalau kamu bisa seperti itu, baru itu namanya cucu kakek!” kata kakeknya.
Erza langsung terdiam setelah mengingat pesan itu. Kepalanya menghadap ke depan. Matanya melotot seperti telah dikejutkan oleh sesuatu. Ia diam tak bergerak sama sekali. Seekor tupai naik ke bahunya. Namun, ia tidak terpengaruh sama sekali.
“TUK!” kepala Erza terkena sebuah kenari yang jatuh dari atas. Ia pun sadar kembali.
“SREK!” ia langsung bangkit dari duduknya. Tupai yang berada di bahunya langsung turun ke tanah.
Sekarang, Erza sadar. Ia harus bisa menghadapi musibah yang menimpanya. Ia tak ingin mengecewakan kakeknya yang sangat disayanginya. Ia pun berjalan menyusuri jalan setapak. Entah ke manakah ia akan pergi. Namun, semangat telah muncul di dalam hatinya.
Komentar
Posting Komentar