2. Lubang yang Tersembunyi

Lubang yang Tersembunyi

Tiga minggu sudah berlalu sejak Erza dibuang. Namun, ia tetap berada di hutan belantara itu. Pakaiannya yang mewah kini sudah lusuh dan kotor. Badannya yang dahulu bersih dan wangi berubah menjadi kotor dan bau. Sang pangeran pun berubah menjadi seperti gembel. Meskipun begitu, ia tidak peduli. Ia terus berjalan menyusuri hutan itu dengan tongkat kayu yang ia temukan.

Sebenarnya, kemampuan Erza untuk bertahan di sana sangat disangsikan. Memang benar ia seorang pangeran. Di mata rakyat, seorang pangeran memiliki kemampuan dan kekuatan yang hebat. Ia dikenal sebagai orang yang gagah, berani, kuat, tampan, dan cerdas. Karena semua itulah para gadis ingin bertemu dengannya.


Namun, semua itu tidak berlaku untuk Erza. Meskipun ia pangeran, ia tak ubahnya seperti orang biasa yang tidak ada apa-apanya. Ia lemah, penakut, tidak gagah, dan wajahnya pun biasa-biasa saja. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah kecerdasan. Ia bisa membuat semua orang berdecak kagum dengan teorinya, retorikanya, dan daya kritisnya. Akan tetapi, semuanya akan melongo jika melihatnya berpedang, berkuda, berenang, dan berlatih silat. Bukan karena kehebatannya yang membuat semua orang melongo, tetapi betapa buruknya kemampuan sang pangeran dalam hal fisik. Mungkin untuk orang yang benar-benar kecewa dengan kemampuan fisik Erza, ia langsung mencemooh Erza saat itu juga. Karena kemampuan fisiknya lemah, sekarang ia menjadi kesusahan sendiri.

Erza terus berjalan menyusuri hutan yang entah di mana jalan keluar dari sana. Sepanjang jalan, ia menemukan banyak hewan-hewan yang asing baginya. Ia terus mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan seekor laba-laba yang menggantung di depannya.

“Hwaaa!” teriak Erza.

Laba-laba itu menggantung tepat di depannya. Ia sama sekali tidak bergerak. Erza memerhatikan hewan itu dengan seksama.

“Oh, laba-laba.” kata Erza. Ia langsung memukul laba-laba itu dengan tongkatnya. Laba-laba itu langsung terpental jauh dari pandangannya.

“Untunglah, cuma laba-laba.” kata Erza.

Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang bergerak-gerak di balik rerumputan. Erza langsung memerhatikannya dengan waspada. Ia takut jika yang bergerak itu adalah ular.

Ternyata, dugaan Erza benar. Sesuatu yang bergerak itu adalah ular. Kepalanya terangkat dari tanah. Pandangannya menatap tajam ke arah Erza. Erza kaku melihatnya. Ia langsung gemetaran. Tanpa pikir panjang, ia langsung melakukan jurus seribu langkah.

“Tolong! Ada ular!” teriak Erza sambil lari terbirit-birit. Ular itu langsung mengejarnya.

Erza terus berlari tanpa berhenti. Sementara itu, ular itu terus mengejarnya. Ia menoleh ke belakang. Ternyata, ular yang mengejarnya bertambah dua. Ia terus berlari terbirit-birit. Ular-ular itu pun terus mengejarnya tanpa henti. Terjadilah kejar-mengejar yang cukup lama.

“Sudah cukup, jangan mengejar aku lagi! Tolong!” teriaknya sambil menangis. Ia terus berlari sambil berteriak. Apa yang di depannya tidak ia lihat. Ia terus saja berlari hingga akhirnya, “BYUUR!” ia tercebur ke dalam sungai.

Erza segera menuju tepi sungai dan naik dari sungai itu. Kini, badan dan pakaiannya basah kuyup. Ia pun menggigil kedinginan. Sudah lengkap penderitaannya sekarang. Perut keroncongan, lelah, ditambah kedinginan pula. Erza hanya bisa menerima keadaan yang ia terima sekarang.

Ia pun kembali berjalan. Kali ini, ia berjalan menyusuri sungai yang entah akan sampai di mana. Ia terus berjalan sambil sesekali memandangi jernihnya air sungai itu. Dari atas sungai, Erza bisa melihat ikan-ikan yang berenang. Dari sana juga, ia melihat pantulan sinar mentari yang menembus rimbunnya hutan itu.

Langkah Erza terhenti. Air sungai itu jatuh ke bawah mengikuti tebing itu. Rupanya, ia telah sampai di atas tebing. Ia pun melihat ke bawah. Ia melihat sebuah air terjun yang indah dan menakjubkan. Di bawah sana, terdapat sebuah genangan air yang berbentuk setengah lingkaran di bagian tebingnya. Genangan air itu sangat lebar. Erza melihat betapa dalamnya dasar genangan air itu. Erza berpikir betapa segarnya terjun ke dalam sana. Namun, ia tak berani. Ia tahu, ia tak bisa berenang. Lagipula, genangan air itu jauh di bawah sana. Ditambah dengan suara air terjun yang gaduh. Keberanian untuk melompat semakin berkurang. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melompat ke bawah sana. Ia memilih untuk menuruni tebing itu.

Erza mulai menuruni tebing itu dengan perlahan-lahan dan gemetaran. Keringat dingin mulai bercucuran. Badannya gemetaran. Ia tidak berani melihat ke bawah. Setelah beberapa lama kemudian, ia sampai di tengah tebing. Erza menoleh ke arah air terjun. Ia melihat sebuah lubang besar di balik air terjun itu. Ia pun penasaran. Akhirnya, ia masuk ke dalam lubang itu.

Akhirnya, dengan susah payah dan gemetaran, Erza berhasil masuk ke dalam sana. Keringat dingin masih mengucur deras. Nafasnya masih tersengal-sengal. Namun, ia senang karena sudah berhasil masuk ke sana.
Ternyata, lubang besar yang tersembunyi di balik air terjun itu memiliki ruangan yang luar biasa luasnya. Luasnya melebihi ruangan terbesar yang ada di istana kerajaan. Meskipun agak gelap dan dingin, Erza merasa nyaman di dalam sana. Ia pun beristirahat sebentar di dalam lubang yang disembunyikan air terjun dari dunia luar yang begitu keras.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya