Buruk Mana? Tugas Unik yang Kembali Datang
Kali ini, saya kembali mendapatkan tugas yang tidak kalah uniknya dari tugas sebelumnya. Setelah minggu lalu saya diminta untuk menulis makna lagu “Sepercik Air” yang dalam, sekarang saya diminta untuk membahas sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri. Sesuatu yang sensitif bagi masyarakat Indonesia.
Yap, saya diberi tugas oleh dosen TKI saya untuk menanyakan hal ini kepada sepuluh orang:
Lebih buruk mana, seks gratis atau seks berbayar?
Sebelum saya bahas lebih jauh soal pertanyaan ini, saya harus menjelaskan maksud dari seks gratis dan seks berbayar ini. Takut-takutnya para pembaca salah memahami maksud dari kedua kata ini.
Jadi, seks gratis ini adalah hubungan seksual yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan atas dasar keiniginannya sendiri atau suka sama suka. Bisa dikatakan, seks bebas itu adalah ketika seorang cowok making love (benar ‘kan istilahnya gitu?) dengan ceweknya karena keduanya pengen. Sementara itu, seks berbayar adalah ketika seseorang dibayar untuk melakukan hubungan seksual dengan orang lain yang membayarnya. Prostitusi mungkin istilahnya.
Seks, baik gratis maupun berbayar, dipandang berbeda oleh masyarakat di berbagai dunia. Di dunia barat yang liberal, mungkin sebagian besar masyarakatnya menganggap keduanya bukan perbuatan buruk secara moral dan etika. Namun, kedua perbuatan ini dianggap sama buruknya secara moral dan etika oleh masyarakat Indonesia. Buruknya seks gratis dan berbayar ini juga dapat berbeda jika dilihat dari sudut pandang lain semisal kesehatan. Nah, tugas yang saya dapatkan kali ini bertujuan untuk mengetahui pandangan orang-orang terhadap seks gratis dan berbayar ini.
Setelah wawancara dilakukan ke sepuluh orang, didapatlah hasil sebagai berikut: tiga responden beranggapan seks gratis lebih buruk daripada seks berbyar, empat responden beranggapan seks berbayar yang lebih buruk, lima responden beranggapan keduanya sama-sama buruk, dan dua responden menganggap keduanya tidak ada hubungan dengan baik buruk. Sebenarnya, terdapat empat responden yang memiliki jawaban ganda. Akan tetapi, jawaban ganda tersebut tetap saya masukkan karena responden memiliki argumen yang kuat untuk dua jawaban tersebut.
Dari hasil wawancara ini, saya mendapatkan banyak argumen yang menarik dari para responden. Kebanyakan responden yang memilih seks gratis lebih buruk memandang masalah ini dari sisi regulasi dan kesehatan. Mereka memandang seks gratis lebih buruk karena kurang atau tidak adanya kontrol dan regulasi di dalamnya. Berbeda halnya dengan seks berbayar yang memiliki kontrol dan regulasi serta orang-orang yang memiliki pengetahuan seks yang cukup.
Namun, ada satu responden yang memiliki argumen yang berbeda dengan responden lainnya. Responden ini memilih seks gratis lebih buruk karena dampak buruknya yang bisa menjalar ke mana-mana, mulai dari pendidikan hingga masa depan negara yang dipertaruhkan. Seks bebas, menurut responden ini, akan memunculkan seks berbayar. Dengan seks bebas dan berbayar ini, bisa dikatakan para generasi muda suatu negara akan lebih memilih hidup bersenang-senang dan berhura-hura daripada membangun negerinya sendiri.
Mereka yang memilih seks berbayar lebih buruk memiliki beberapa alasan atas pandangannya. Sebagian dari mereka memilih pandangan ini karena masalah kesehatan. Sebagian lagi memilih pandangan ini karena masalah mental. Ada juga responden yang memilih pandangan ini karena soal tanggung jawab. Responden ini berpendapat seks berbayar lebih buruk daripada seks gratis karena seseorang berhubungan seksual dengan orang lain yang tidak dikenalinya dan tidak peduli siapa yang dia ajak berhubungan seksual. Sementara itu, orang yang melakukan seks gratis masih mungkin memiliki rasa bersalah jika ia meninggalkan orang yang telah ia ajak berhubungan seksual dan dapat dibawa ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.
Di luar dua pandangan di atas, ada juga responden yang memilih netral, yaitu tidak memilih keduanya. Dalam pandangan mereka, seks adalah perilaku yang netral seperti halnya makan. Baik atau buruknya perbuatan ini bergantung pada tujuan dan situasinya. Selain itu, salah satu responden mengatakan seks itu adalah hak setiap orang terlepas dengan siapa ia melakukannya. Oleh karena itu, responden-responden ini berpandangan seks, baik gratis maupun berbayar, tidak bisa langsung ditentukan buruknya.
Terakhir, ada beberapa responden yang memilih seks gratis dan berbayar sama buruknya. Pandangan ini adalah pandangan yang paling banyak dipiih responden di antara pandangan-pandangan lainnya. Di antara responden-responden yang memilih pandangan ini, ada beberapa responden yang memiliki jawaban ganda. Meskipun mereka memilih salah satu dari dua perbuatan seks tersebut yang dianggap lebih buruk, sebenarnya mereka lebih condong pada pandangan kedua perbuatan seks tersebut sama buruknya. Alasan mereka memilih pandangan ini pun cukup beragam, mulai dari soal kesehatan, prinsip, adat, agama, hingga masalah kecenderungan antara cinta dan harta serta kehormatan dan harga diri.
Setelah saya menjabarkan hasil wawancara ini, terlihat banyak responden yang berpandangan seks gratis dan berbayar sama-sama buruk. Kalaupun mereka harus memilih, para responden ini lebih banyak yang berpandangan seks berbayar lebih buruk dengan alasan yang hampir sama, yaitu masalah kesehatan. Meskipun jumlah respondennya sedikit, hasil wawancara ini juga dapat mengingatkan kita bahwa masyarakat tidak selalu satu suara dalam menanggapi suatu masalah. Pertanyaan masalah seks ini contohnya. Meskipun ada responden yang berpandangan sama, argumen mereka belum tentu sama karena sudut pandang yang mereka gunakan dalam melihat masalah tersebut.
Komentar
Posting Komentar