Mencari Arti Cinta di Ganesha: Sebuah Wawancara


Ambis. Mungkin itu kata yang melekat pada mahasiswa ITB. Dihadapkan dengan banyaknya tugas dan praktikum serta ujian, tak heran mahasiswa ITB sering menghabiskan waktunya dengan membaca materi kuliah, mencari literatur, atau mengetik tugas dan laporan. Tidak hanya itu, urusan himpunan atau unit sudah menanti mereka yang aktif di dalamnya. Dengan segala urusan yang menjejali pikiran, apakah seorang mahasiswa ITB mengerti arti cinta, sesuatu yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari?

Lagi-lagi, di mata kuliah TKI, saya mendapatkan tugas yang tak biasa: menanyakan tentang cinta. Ada tujuh pertanyaan mengenai cinta yang harus ditanyakan kepada minimal sepuluh mahasiswa (bukan mahasiswi) ITB. Entah apakah ambisnya para mahasiswa ITB sudah sangat parah sampai-sampai pertanyaan ini harus diajukan (atau ini hanya upaya untuk menelanjangi hati para mahasiswa ITB?). Yang pasti, tugas wawancara ini harus dilakukan untuk mencari tahu arti cinta bagi mahasiswa ITB.


Bunga-bunga bersemi menghiasi segala sudut Ganesha. Apakah cinta ada di hati para mahasiswanya?

Pada tugas wawancara ini, saya berhasil menanyai sepuluh mahasiswa ITB. Hasilnya? Jawaban yang beragam dari kesepuluh mahasiswa ini. Satu-satunya kesamaan dari mereka adalah status mereka yang single alias masih sendiri. Menanyakan tentang cinta kepada mereka yang single ini tentu merupakan sesuatu yang menarik. Kita bisa tahu apa sebenarnya mereka tidak acuh terhadap cinta atau mereka benar-benar menanggapi cinta dengan serius. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai arti cinta menurut kesepuluh narasumber ini, saya akan jabarkan satu persatu berdasarkan pertanyaan yang diajukan.

Apa sih cinta itu?

Inilah pertanyaan pertama yang diajukan kepada narasumber. Mereka diminta untuk menjelaskan arti cinta menurut mereka sendiri. Dari pertanyaan ini, didapat jawaban yang bermacam-macam. Mulai dari jawaban sesederhana kasih sayang hingga yang berbau ilmiah. Jika semua jawaban ini dirangkum, mungkin ini arti cinta menurut mereka.


Perasaan suka terhadap seseorang yang dianggap istimewa sehingga mendorong seseorang untuk ingin bahagia bersamanya dan memberikan perhatian kepadanya tanpa pamrih.


Pernah jatuh cinta ngga? Gimana rasanya jatuh cinta itu?

Dari sepuluh narasumber yang ditanyai, delapan narasumber menjawab pernah. Ketika ditanya perasaan mereka saat jatuh cinta, narasumber rata-rata menjawab rasa bahagia yang aneh. Mungkin bisa dikatakan sebagai euforia. Soalnya, ada narasumber yang merasakan senang dan sedih tanpa alasan ketika jatuh cinta. Ada pula narasumber yang senang ketika melihat orang yang dicintainya. Bahkan ada juga narasumber yang menceritakan perasaannya ketika jatuh cinta mirip dengan gejala penyakit: jantung berdebar, perut tergelitik, dan pikiran kabur. Selain kedelapan narasumber ini, ada satu narasumber yang merasa tidak pernah jatuh cinta. Satu narasumber lagi menjawab tidak tahu apakah dia pernah jatuh cinta atau hanya sekedar naksir.

Kenapa menyatakan cinta kepada seseorang yang kita cintai itu sulit?

Pada pertanyaan ketiga ini, hampir semua narasumber memberikan jawaban yang berbeda. Ada narasumber yang menjawab bingung memikirkan kelanjutan setelah menyatakan cinta. Ada pula narasumber yang menjawab takut jika seseorang yang kita cintai sebenarnya bukan seseorang yang benar-benar kita cintai. Akan tetapi, kebanyakan narasumber menjawab takut ditolak sebagai alasan sulitnya menyatakan cinta. Mereka berpendapat hubungan mereka dengan seseorang yang kita cintai akan berubah jika cinta mereka ditolak, terutama jika yang mereka cintai itu adalah sahabat dekat mereka sendiri. Jika ditolak, takutnya sahabat mereka ini akan menjauh sehingga persahabatan mereka menjadi renggang.

Kenapa sih kalian belum pacaran?

Banyak alasan dikemukakan para narasumber ketika ditanya mengenai hal ini. Kondisi yang belum pas, pengalaman buruk saat pacaran dulu, belum menemukan orang yang pas, dan belum ada perasaan yang kuat menjadi beberapa alasan mengapa para narasumber ini belum pacaran. Namun, di antara alasan-alasan ini, syariat agama yang paling banyak dijawab sebagai alasan narasumber belum pacaran. Mereka yang memilih jawaban ini berpendapat tidak ada hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan yang intim, dekat, dan spesial kecuali pernikahan. Jadi, ketika seorang laki-laki jatuh cinta kepada seorang perempuan dan menginginkan suatu hubungan yang spesial, mereka sebaiknya langsung menikah daripada pacaran.

Nyari pacar itu sesusah apa sih?

Hampir semua narasumber memiliki jawaban berbeda untuk menjelaskan susahnya mencari pacar. Ada narasumber yang menganalogikan susahnya mencari pacar dengan susahnya memancing di sungai. Ada juga narasumber yang menyamakan susahnya mencari pacar dengan mengambil seluruh mata kuliah S1, S2, dan S3. Namun, jawaban terbanyak dari pertanyaan ini adalah tidak tahu susahnya mencari pacar. Hal ini dapat dimengerti karena kebanyakan narasumber ini belum pernah pacaran sama sekali.

Kapan waktu yang tepat buat pacaran?

Terkait pertanyaan ini, kebanyakan narasumber terbagi ke dalam dua pendapat. Sebagian narasumber berpendapat waktu yang tepat untuk pacaran adalah ketika seseorang sudah siap baik materi maupun mental. Sebagian lagi berpendapat pacaran tepat untuk dilakukan setelah menikah. Pendapat ini berkaitan dengan jawaban yang diberikan sebagian narasumber untuk pertanyaan sebelumnya. Karena tidak ada hubungan cinta spesial antara laki-laki dan perempuan selain pernikahan, pacaran ini tepat dilakukan setelah seseorang menikah.

Kalau kita mau pacaran, apa kita harus mapan?

Pada pertanyaan terakhir ini, para narasumber kembali terpecah ke dalam dua pendapat. Sebagian narasumber menjawab seseorang perlu mapan ketika memutuskan untuk pacaran. Sebaliknya, sebagian lagi menjawab tidak perlu mapan untuk pacaran. Berdasarkan jumlah, narasumber yang menjawab tidak perlu mapan untuk pacaran sedikit lebih banyak daripada narasumber yang menjawab perlu mapan untuk pacaran. Oleh karena itu, bisa dikatakan mayoritas narasumber berpendapat tidak perlu mapan untuk berpacaran dengan seseorang. Salah satu narasumber berpendapat pacaran itu dilakukan anak-anak muda dan hubungan dalam pacaran pun tidak seserius hubungan pernikahan. Jadi, mapan tidaknya seseorang tidak jadi masalah dalam pacaran.

Dari wawancara yang dilakukan kepada sepuluh narasumber ini, kita dapat mengetahui beberapa hal. Meskipun hidup mereka dipenuhi tugas, praktikum, ujian, dan urusan-urusan lainnya, bukan berarti para mahasiswa ITB yang single ini tidak tahu arti cinta. Mereka tahu. Mereka juga mengerti apa itu menjalin hubungan seperti pacaran. Hanya saja, mereka memiliki suatu prinsip: hubungan cinta itu bukan main-main. Dibutuhkan persiapan diri yang matang dan keyakinan bahwa kita jatuh cinta pada orang yang tepat. Soalnya, hubungan cinta ini adalah masalah hati. Dan, masalah hati adalah sesuatu yang harus diperhatikan dengan serius. Ketika kita melakukan suatu kesalahan dalam hubungan ini yang membuat hati seseorang terluka, bisa jadi masalah besar dan rumit akan muncul.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya