42. Dendam Lama dan Pertarungan Sang Ahli Mekanik
Dendam Lama dan Pertarungan Sang Ahli Mekanik
Fahri, Alidza, Ammar, Galih, dan Fabian harus berhadapan dengan seorang jenderal yang tak kalah kuatnya dengan Karl Armstrong, Duke Richmond dan seorang kawanan The Secret Five yang lebih kuat dari Aldric, Randi.
“Kita bertemu lagi di sini.” kata Randi.
“Kebetulan sekali, ya?” kata Fahri.
“Ya, kebetulan sekali. Aku juga akan membalas dendam atas perbuatanmu yang dulu. Ketika kamu menggagalkan usahaku untuk menggapai ambisiku yang hampir kugapai.” kata Randi sambil menggulung lengan baju kanannya. Terlihatlah sebuah crossbow yang ia ikat di lengan kanannya.
“Mari kita bertarung.” kata Randi.
“SYUT!” sebuah panah melesat ke arah Fahri. Ia langsung menghindari anak panah itu sambil mencabut pedangnya. Pada saat bersamaan, ia langsung melompat ke arah Randi.
“Desert Attack!” Fahri menyerang Randi dengan pedangnya. “TRANG!” Randi menangkis serangan Fahri dengan baja yang ia kenakan di lengan kirinya. Fahri langsung menendang kepala Randi. Randi pun menendang perut Fahri. Fahri langsung mundur beberapa langkah. Lalu, ia langsung maju menyerang Randi dengan pedangnya.
“Desert Storm!” Fahri memutar-mutar tubuhnya. Pada saat melakukan putaran terakhir, ia menyerang Randi dengan pedangnya. Lagi-lagi, Randi menangkis serangan Fahri dengan lengan kirinya.
“Knife Fist.” Randi menusuk Fahri dengan pedang yang tersembunyi di lengan kirinya. Namun, serangannya digagalkan oleh Alidza.
“Mari kita bertarung.” kata Alidza. “Ahli mekanik harus bertarung dengan ahli mekanik juga.”
“Tak bisa, aku punya dendam dengannya.” kata Randi.
Alidza langsung mengeluarkan ketapel raksasanya. “JLEB!” ia menusuk perut Randi dengan ujung ketapelnya. Namun, perut Randi tak terluka. Rupanya, ia memakai baju zirah di balik bajunya.
“Alidza, aku saja yang tangani orang ini.” kata Fahri.
“Aku saja.” kata Alidza.
“Aku saja.” kata Fahri.
“Aku saja.” kata Alidza.
“SYUT! BLAAR!” Randi melepaskan anak panah yang diikat dengan bom. Fahri dan Alidza langsung menghindarinya.
“Kita berdua yang akan melawannya.” kata Alidza.
“Aku setuju.” kata Fahri.
Alidza dan Fahri langsung menyerang Randi dari dua arah yang berbeda. Fahri dari depan dan Alidza dari belakang.
“Spinning Sword!” Randi memutar tubuhnya. Pedang yang ia keluarkan dari kedua lengannya mengenai Alidza dan Fahri. Untungnya mereka berdua menangkis serangan itu dengan pedang mereka.
“Fahri, aku mau menyerangnya dari jauh.” kata Alidza. “Kau diam saja dulu. Saat dia akan menyerangku, kau bantu aku.”
“Baiklah.” Fahri menuruti perintah Alidza.
Fahri langsung menjauh dari Randi. Sementara itu, Alidza mengeluarkan beberapa butir bom untuk diketapel ke arah Randi.
“Rasakan ini!” Alidza membidik Randi dengan ketapelnya.
“Little Birds Cannon!” beberapa butir peluru langsung melesat ke arah Randi. Dengan cepat, Randi menghancurkan semua peluru itu dengan bola meriam yang diikat dengan rantai.
“Serangan tak bermutu!” kata Randi.
“Sekarang giliranku, Alidza.” kata Fahri.
“Ok!” kata Alidza. Fahri langsung berlari mengikuti Randi. Ia terus mendekati Randi dari belakang. Setelah dirasa cukup dekat, ia langsung melompat ke atas.
“Vertical Storm!” Fahri mengayunkan pedangnya ke bawah. Dari ayunan pedangnya terciptalah angin besar. Angin itu membelah lantai istana. Batuan dari lantai istana langsung terangkat. Randi langsung menghindari serangan itu.
“Flying Knife!” Randi langsung melepaskan sebuah pisau dari busur panah.
“Desert Tornado!” Fahri memutar-mutar pedangnya hingga membentuk pusaran angin yang cukup besar. Angin itu langsung merusak seluruh benda yang ada di ruangan itu, termasuk dinding. Randi melindungi dirinya dengan jubah bajanya.
“Fingerbow!” Alidza melepaskan beberapa jarum dari busur panah yang diikat pada jari-jari kirinya. Randi langsung menjatuhkan jarum-jarum itu dengan bola meriamnya.
“Fireflute!” Randi menyemburkan api dari suling apinya. Api langsung menyembur ke arah Alidza. Alidza langsung menghindari api itu sambil memutar-mutar martilnya.
“Hammer Spin!” Alidza menyerang Randi dengan martilnya. Randi langsung memukul martil itu hingga hancur dengan sarung tangan bajanya.
Sementara itu, Fabian, Galih, dan Ammar sedang bertarung dengan Duke Richmond, seorang jenderal yang memiliki keahlian pedang yang mengerikan.
“Three Side Attack!” Fabian, Galih, dan Ammar menyerang Duke secara bersamaan dari arah yang berbeda. Dengan keahlian tingkat tingginya, ia berhasil menangkis serangan mereka bertiga.
“Cleaning!” Duke merentangkan tangannya. Lalu, ia berputar bagaikan tornado. Fabian, Galih, dan Ammar langsung terhempas.
“Einschnitt Wintersturm!” Ammar langsung menyerang Duke dengan memakai dua pedangnya sekaligus.
“Storm Cutter!” Duke langsung menangkis serangan Ammar. Ammar berusaha sekuat tenaga untuk mematahkan serangan Duke. Begitu juga dengan Duke. Mereka beradu pedang dengan sengit.
“Wind Attack!” Fabian langsung menyerang Duke dari belakang.
“Cleaning!” Duke menghempaskan Ammar dan Fabian dengan pedangnya. Mereka berdua terhempas ke dinding. Namun, mereka berdua bangkit kembali dan langsung menyerang.
“TRANG!” Ammar dan Fabian beradu pedang dengan Duke. Pada saat itu, Galih langsung menikam Duke dari belakang. Sayangnya, serangannya diketahui oleh Duke. Dengan kekuatannya, ia langsung menghempaskan Ammar dan Fabian ke arah Galih.
“Awas, Galih!” teriak mereka berdua. Galih langsung memasukkan pedangnya dan bersiap-siap untuk menangkap temannya.
“HUP!” Galih menangkap mereka berdua. Tubuhnya terdorong ke belakang. Ia berusaha untuk berhenti.
“SREEET…” Galih berhenti bergerak.
“Huff… akhirnya…” kata Galih. Ammar dan Fabian langsung diturunkan dari pangkuannya.
“Terima kasih, Galih.” kata Ammar.
“Sama-sama.” kata Galih.
Randi menyuruh Duke untuk bergabung dengannya.
“Duck! Ayo kita bergabung!” teriak Randi.
“Sudah kubilang, jangan memanggilku Duck!” teriak Duke.
“Terserah, pokoknya…”
“KREK!” leher Randi serasa tidak enak. Rupanya, lehernya sudah dikunci dengan ujung tongkat Alidza yang berbentuk lingkaran.
“Apa-apaan ini!?” teriak Randi. Tiba-tiba, Fahri sudah ada di depannya.
“Sepertinya aku yang akan menang lagi darimu.” kata Fahri.
“Tunggu, mau apa kamu!?” tanya Randi. Fahri menyalakan api dan membakar ujung tongkat yang melingkari leher Randi.
“Sialan!” Randi langsung mengeluarkan cakar-cakar dari jari-jari kanannya. Randi memutar jari-jari kanannya dan menyerang Fahri dengan itu.
“Ugh!” Fahri langsung mundur beberapa langkah. Tiba-tiba, lehernya langsung dicekik oleh Duke.
“Matilah kau, makhluk ingusan!” kata Duke sambil mengancam Fahri dengan pedangnya.
“Ukh!” Fahri kesakitan. Lehernya semakin dicekik. Alidza semakin khawatir dan ketakutan.
“Hiiah!” Randi memutar lehernya. Tongkat yang dipegang Alidza dan Alidza sendiri langsung ikut berputar. Alidza langusng menyalakan api di ujung tongkat yang ia pegang. Lalu, ia menuangkan minyak dan memasukkan bola besi ke dalam ujung tongkat yang berlubang itu.
“BLAAAR!” bola itu terbakar dan keluar di ujung tongkat yang melingkari leher Randi. Bola itu langsung mengenai leher Randi. Randi langsung berlari-lari kesakitan.
“Panas! Panas! Panas!” teriak Randi. Dengan menggunakan air dan obat yang ia punya, ia langsung memadamkan api yang ada di lehernya dan mengobati lukanya.
“Huff!” kata Randi. “BREK!” Ia langsung merobek lengan baju kirinya. Rupanya, lengan kirinya mempunyai jahitan sepanjang lengannya. Pada pergelangan tangan kirinya terdapat jahitan melingkar juga.
“SRET! BREK!” Randi melepas jahitan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Lalu, ia melepas kulit dan daging tangan kirinya. Setelah itu, ia lepaskan juga tulang tangan kirinya. Alidza langsung terkejut melihatnya.
“SRET! BREK!” jahitan yang ada di sepanjang lengan kirinya dilepas juga olehnya. Ia melepaskan kulit dan daging yang menempel pada tulang lengan kirinya. Ternyata, di dalam lengannya terdapat banyak pedang kecil yang menyatu menjadi pedang besar.
“GWAHAHA! Inilah senjata mahakaryaku! Tak ada seorang pun yang pernah membuat ini sebelumnya! Dengan memanfaatkan tubuh sendiri, aku menciptakan senjata gila yang tersembunyi dalam tubuh. Inilah senjata efisien pertama di dunia! Hidden Armsword!” teriak Randi.
“Gila juga dia…” kata Alidza. Ia langsung menarik tongkatnya. “SRET!” Randi langsung tertarik. “CTAK!” Randi memotong tongkat itu. “KLONTANG!” Alidza langsung melepas tongkat itu. Ia mengeluarkan ketapel raksasa. Kemudian, ia mengambil beberapa butir peluru ketapel.
“Akan kuserang kau dari jauh.” Alidza membidik Randi. “CTAK!” sebutir peluru melesat ke arah Randi. Randi langsung maju menyongsong peluru itu. “BUM!” Randi menghancurkan peluru itu dengan pedangnya yang besar dan mengerikan. Alidza terus mengetapel Randi. Namun, semua peluru yang ia ketapel langsung dihancurkan oleh Randi. Akhirnya, Randi hampir mendekati Alidza.
“Matilah kau, anak ketapel!” teriak Randi. Ia berlari mendekati Alidza.
“Kau tidak bisa membunuhku begitu saja!” kata Alidza. Randi semakin mendekati Alidza.
“HUP!” Alidza melompati Randi yang akan menyerangnya. Pada saat di atas, ia mengeluarkan tongkatnya yang salah satu ujungnya menyerupai bentuk cakar-cakar burung.
“KLANG!” Alidza menahan pedang Randi dengan tongkatnya.
“Kau tak bisa apa-apa lagi!” kata Alidza. “BUGH!” Randi menjatuhkan Alidza dengan pedangnya. Alidza yang sedang berada di atas sambil menahan pedang Randi langsung terbanting. Randi mencabut tongkat Alidza yang menahan pedangnya.
“Inilah akhir riwayatmu!” Randi langsung menusukkan pedangnya ke tubuh Alidza.
“ALIDZA!” teriak Fahri. Ia langsung mengeluarkan pisau kecil beracunnya dan menusukkannya ke perut Duke.
“AAAH!” Duke langsung melepaskan tangannya dari Fahri. Ia menjerit kesakitan. Sementara itu, Fahri langsung berlari ke arah Randi yang akan menusuk Alidza.
“DAK!” Fahri menendang Randi hingga terhempas ke dinding.
“Ugh!” Randi langsung bangkit lagi. Ia mengambil senapan yang disematkan di pinggangnya.
“KREK!” Fahri langsung menginjak lengan Randi. “Kau tak kuizinkan menyentuh senapan milikmu.” kata Fahri. Ia langsung menahan Randi dengan tubuhnya. Untuk sementara, Randi tak bisa bergerak.
Sementara itu, Galih langsung berlari ke arah Duke. Dengan cepat, ia langsung menusukkan pedangnya ke Duke. Namun, ketika ia akan menusuk Duke, “DAR!” sebuah peluru melukai lengannya.
“Terima kasih, Carlos.” kata Duke. Penembak itu tidak membalas perkataannya. Ia memasukkan peluru ke dalam senapannya lagi. Lalu, ia membidiknya ke arah Galih yang sedang memegangi lukanya. Lalu…
“GLUTUK, GLUTUK.” sebuah bom langsung jatuh tepat di atas kepala Carlos. Perhatiannya langsung tertuju ke arah bom yang jatuh itu. Ia langsung memegang bom itu. Niatnya, ia ingin melempar bom itu ke Fabian dan Ammar. Namun, “DAR!” bom itu langsung meledak sebelum ia lemparkan.
“Dasar bodoh…” kata Duke. Tiba-tiba, perutnya ditusuk lagi oleh Galih.
“Kamu lebih bodoh lagi.” kata Galih. Duke langsung marah. Ia segera mencabut pedang dan pisau yang menancap di tubuhnya. Setelah itu, ia mengangkat kerah baju Galih setinggi-tingginya. Galih pun ikut terangkat.
“Katakan sekali lagi, siapa yang bodoh itu!?” teriak Duke. Tiba-tiba, “ZLEB!” sebuah pedang menancap di perutnya.
“Ugh!” Duke mencabut pedang yang menancap di perutnya. Belum saja dicabut, perutnya kembali tertancap pedang. “Pedang sialan! Selanjutnya apa lagi!?” tanya Duke sambil mencabut pedang-pedang itu.
“DAR!” sebutir peluru meledak dan mengenai tubuh Duke. Kemudian, beberapa butir peluru meledak dan mengenai tubuh Duke lagi.
“Bagus, Alidza!” kata Fahri.
“Ini belum apa-apa. Masih ada lagi yang lebih heboh!” kata Alidza. Ia langsung menyalakan sumbu petasan yang cukup besar.
“Lihat ini, Fahri!” kata Alidza. “SYUT!” petasan itu langsung meluncur ke arah Duke. Duke langsung melempar Galih dan berlari menghindari petasan itu. Namun, terlambat baginya untuk menghindar. Karena, petasan itu langsung meledak dan mengenai Galih dan Duke yang berada dekat dengan ledakan itu. Kaki Galih terbakar sedangkan seluruh tubuh Duke terbakar.
“Galih!” Alidza langsung mendekatinya. Ia langsung mencari baju, jubah, atau benda yang terbuat dari kain untuk memadamkan api yang membakar kaki Galih. Namun, itu membutuhkan waktu lama. Tanpa basa-basi, ia langsung mengambil bajunya yang ada di tasnya untuk memadamkan api yang membakar kaki Galih. Dalam waktu yang cukup sebentar, api itu padam.
“Galih, kamu tidak apa-apa? Aku punya obat untuk kakimu.” Alidza langsung mengeluarkan kain untuk membalut luka dan cairan obat untuk menyembuhkan luka bakar. Dengan cekatan, ia mengoles cairan obat itu ke kaki Galih dan langsung menutupnya dengan kain.
“Kalau kamu tidak kuat, kamu istirahat di sini saja dulu. Biar Fabian dan Ammar yang menemanimu.” kata Alidza.
“Ammar, Fabian, tolong jaga dia.” perintah Alidza. Mereka berdua langsung mendekati Galih yang terluka.
Sementara itu, Fahri masih terus menahan Randi yang semakin memberontak.
“Jangan bergerak, Randi!” kata Fahri.
“Terserah aku!” balas Randi. Ia semakin memberontak. Fahri semakin kesusahan untuk menahannya.
“Jangan bergerak!” Fahri mengancam Randi dengan pedang yang ia pegang di depan leher Randi.
“Sudah kubilang, TERSERAH AKU!” Randi langsung memutarkan badannya. Fahri langsung ikut berputar. Kini, giliran Fahri yang ditahan oleh Randi. Randi langsung mengancamnya dengan pedangnya.
“Kini, kamu yang akan kalah olehku.” kata Randi.
“Benarkah?” tanya Alidza yang sudah ada di sampingnya.
“Kau yang akan mati!” Alidza langsung mengayunkan pedangnya ke Randi. “TRANG!” pedang Alidza langsung terhempas jauh oleh pedang Randi.
“Menyingkirlah kau, manusia sampah!” Randi langsung memukul perut Alidza. “Ugh!” Alidza langsung terhempas. Randi langsung bangkit dari duduknya. Lalu, ia kembali memukul Alidza. “Bugh!” Alidza semakin terhempas. “Dak!” Randi menendang Alidza hingga terhempas ke atas. Merasa belum puas, ia langsung membanting Alidza ke lantai. Setelah itu, ia langsung memukul dan menginjak perut Alidza.
“Ugh! Uhuk!” Alidza langsung mengeluarkan darah dari mulutnya.
Melihat temannya disiksa seperti itu, Fahri langsung marah besar. Tangannya langsung menggenggam gagang pedang dengan sangat erat. Ia langsung bangkit dan berjalan menuju Randi yang sedang menyiksa Alidza yang sudah tak berdaya.
“Woi! Setan mekanik! Apa kamu belum puas menyiksa teman seperjuanganku yang sudah tak berdaya itu!? Apa kamu senang menyiksa orang yang sudah tak berdaya!? Itu namanya PENGECUT! Mengerti!? PENGECUT! Kalau mau, lawan AKU yang masih BERDAYA!” teriak Fahri.
Mendengar teriakan Fahri yang begitu menggelegar, Randi langsung berbalik ke arah Fahri.
“Bagiku, yang pengecut itu yang hanya berani berteriak saja. Seorang pengecut hanya bisa berteriak sekeras-kerasnya. Namun, ia tak berani untuk menghadapi musuhnya.” kata Randi.
“Aku tidak peduli dengan omong kosongmu itu.” kata Fahri. Ia langsung berlari ke arah Randi.
“Pergilah ke neraka, Randi!” Fahri mengayunkan pedangnya. Dengan santainya, Randi langsung menyerang perut Fahri dengan pedangnya yang mematikan. “Ugh!” Fahri memegangi sebentar luka di perutnya. Kemudian, ia kembali menyerang Randi. “TRANG!” serangannya langsung ditangkis oleh Randi. Fahri kembali menyerang Randi. “TRANG!” serangannya ditangkis lagi oleh Randi. Fahri langsung menendang perut Randi. “GREP!” kakinya langsung dipegang oleh Randi.
“Menjeritlah!” teriak Randi.
“KREK! KREK! KREK!” kaki Fahri dipelintir oleh Randi. Pelintirannya begitu kuat.
“AAAAAH!” teriak Fahri. Kakinya terus dipelintir. Fahri terus menjerit kesakitan. Kakinya serasa mau lepas. Fahri langsung menggunakan kaki sebelahnya untuk menendang Randi. “DAK!” perut Randi ditendang oleh Fahri. Ia langsung terhempas cukup jauh. Pegangannya terlepas dari kaki Fahri. Fahri langsung terjatuh ke lantai.
“Uuugh…” Fahri memegangi kakinya yang dipelintir oleh Randi. Ia berusaha berdiri dan berjalan menuju Randi untuk menyerangnya kembali. Namun, ia tak kuat untuk berjalan dengan kedua kakinya. Akhirnya, ia berjalan tertatih-tatih dengan bantuan pedangnya.
Sementara itu, Randi sudah bangkit kembali. Tanpa berlama-lama, ia langsung berlari menuju Fahri yang sedang berjalan tertatih-tatih.
“TRANG!” Randi langsung menyerang Fahri dengan pedangnya. Dengan tangkas dan cekatan, Fahri langsung menangkis serangan Randi.
“Ingatkah kau dengan kejadian waktu itu!?” tanya Randi. Ia terus mendesak Fahri dengan pedangnya.
“Tentu saja.” jawab Fahri. Ia terus menahan serangan Randi yang semakin kuat.
“Sampai hari ini, aku masih terus mengingatnya. Aku terus bertekad untuk membunuhmu! Sekarang, saatnya untuk memenuhi tekadku!” Randi langsung memukul Fahri dengan tangan kanannya. “TEP!” Fahri langsung menangkap pukulan Randi. “KREK!” Fahri memelintir tangan kanan Randi. Randi langsung membalas pelintiran Fahri dengan menyerangnya dengan pedang. “TRANG!” serangan Randi ditangkis oleh Fahri.
“Jangan remehkan keahlianku.” kata Fahri. Ia langsung melepaskan pegangannya dari tangan kanan Randi dan langsung menendang Randi. “BUK!” tendangannya mengenai pinggangnya. Setelah itu, Fahri langsung memukul kepala Randi dari bawah. “SYUUT…” Randi terhempas ke atas. Tak sampai di situ, Fahri kembali menarik dan membanting Randi ke lantai. “BRUK!” Randi terbanting. Fahri langsung memotong lengan kiri Randi. Namun, “TRANG!” serangannya ditangkis oleh Randi.
“Hh, hh, kau kira aku akan mati dengan mudah? Itu namanya mimpi. Kamu tahu? Mimpi! Hahahaha! Mimpi kamu!” Randi tertawa bagaikan orang yang sedang kerasukan. Dalam keadaan berbaring, ia langsung merobek badannya sendiri. Kulit punggungnya pun ikut dirobek. Fahri langsung terbelalak. Rupanya, di dalam badannya terdapat sebuah senjata yang mirip dengan panah. Namun, senjata itu lebih rumit. Di belakang punggungnya terdapat tali untuk menggunakan senjata itu.
“Terkejut!? Inilah mahakaryaku setelah Hidden Armsword! Senjata ini menyerupai panah. Namun, ini senjata dengan puluhan jarum kecil yang dapat dilepaskan dan melesat bagaikan panah! Inilah senjata mahakaryaku! Thousand Littlesword!” kata Randi.
“Apapun senjata yang kamu pakai…” kata Fahri.
“Apa? Apa lanjutannya?” tanya Randi.
“Minumnya teh dari Desa Harapan.” jawab Fahri.
“Kenapa nggak minum kopi dari Mount Whitecooper?” tanya Randi.
“Terserah. Masa bodoh.” Fahri langsung menyerang Randi dengan pedangnya. “SYUUT…” puluhan jarum kecil melesat ke arah Fahri. Dengan cepat dan refleks ia menghindari semua jarum itu. Ia terus berlari ke arah Randi. “SYUUT…” Randi kembali melepaskan jarum-jarum kecil ke arah Fahri. Fahri berhasil menghindarinya lagi. Kini, ia sudah semakin mendekati Randi. Ketika sudah dekat, ia langsung menyerang Randi dengan teknik tingginya.
Sambil berlari, ia melompat ke atas Randi. Ketika di atasnya, ia langsung mengambil posisi untuk menjatuhkan Randi. Setelah itu, ia langsung jatuh tepat di atas Randi.
“SLAM!” Fahri menyerang Randi dengan menggunakan pedangnya dari atas. “TRANG!” Randi berhasil menangkis serangan Fahri. Fahri kembali melompat dengan menggunakan pedangnya untuk mendorongnya melompat. “BUK!” Fahri menginjak kepala Randi. Namun, Randi berhasil menangkisnya. Karena serangannya gagal, ia langsung melompat dan menusuk kepala Randi. Namun, Randi langsung menghindari tusukan Fahri. Serangan Fahri kembali gagal. Pedangnya menusuk lantai istana.
Pada saat itu, Randi langsung membalas menyerang Fahri. Ia langsung mengayunkan pedangnya ke Fahri yang baru saja mendarat ke tanah. Dengan cepat, Fahri langsung mengelak serangan Randi. Ia langsung berlari ke arah belakang Randi. Ia langsung mengikat seluruh tali yang ada di punggungnya. Randi tidak bisa menjangkau Fahri yang ada di belakangnya. Fahri terus mengelak dari tangan Randi yang berusaha menyerangnya. Ia terus mengikat tali yang ada di belakang punggung Randi.
Randi tidak habis akal. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke lantai dengan sekuat-kuatnya. Fahri yang baru selesai mengikat langsung berlari menjauh dari Randi. Namun, ia tak sempat berlari. Tubuhnya langsung tertindih oleh badan Randi yang besar dan kuat. Ia merasa sesak nafas.
Setelah tertindih, Randi langsung bangkit dan memutar badannya. Lalu, dengan cepat ia langsung menendang badan Fahri hingga terhempas ke dinding. Randi langsung mengejar Fahri yang terhempas. Seakan belum puas, ia langsung menghabisi Fahri yang terkapar di lantai.
“Hahaha! Inilah akhir untukmu, Fahri!” teriak Randi. Ia terus menyiksa Fahri yang sudah terkapar dan tak berdaya. Seperti tak puas juga, ia langsung mengayunkan pedangnya ke Fahri. Tamatlah nasib Fahri sekarang. Ia akan dibunuh dengan ayunan pedang Randi yang mematikan.
“Matilah kau, Fahri! Ini adalah pembalasan atas kejadian yang dulu!” teriak Randi sambil mengayunkan pedangnya ke Fahri.
“ZLEB!” tubuh Randi tak bisa bergerak secara tiba-tiba. Matanya melotot seakan-akan terkejut karena sesuatu. Tubuhnya gemetaran. Darah segar mengalir dari kepalanya. Ia langsung terjatuh. Namun, ia langsung ditangkap oleh Galih yang ternyata menusuknya dari belakang. Galih langsung membanting tubuh Randi yang sudah kaku ke lantai istana. Lalu, ia tebas lengan kiri Randi. Ia mengambil pedang milik Randi yang tersembunyi di dalam lengan kirinya. Pedang milik Randi langsung ia bawa ke tempat Fabian dan Ammar berada.
“Fabian, ayo bantu aku gotong si Fahri.” kata Galih. Fabian mengangguk. Mereka langsung menggotong tubuh Fahri yang sudah terkapar tak berdaya. Lalu, mereka meletakkannya di sebelah Ammar yang sedang duduk.
“Oh, ya, aku mau gotong Alidza dulu.” Kata Ammar sambil bangkit dari duduknya.
“Tunggu, kalau mau gotong, harus berdua. Aku saja yang bantu. Fabian, kamu di sini saja.” kata Galih. Fabian menuruti perintah temannya itu. Ia menjaga Fahri sambil berusaha mengobati tubuh Fahri yang terluka.
Sementara itu, Galih dan Ammar menggotong tubuh Alidza yang sudah tak berdaya itu. Mereka langsung meletakkannya di sebelah Fahri. Mereka bertiga mencoba untuk mengobati teman seperjuangannya dengan obat-obatan seadanya.
“Benar-benar pertarungan hebat.” kata Galih.
“Iya. Benar-benar sengit dan hebat. Syukurlah kamu langsung bangkit dan langsung membunuh Randi dari belakang secara diam-diam.” kata Ammar.
“Ah, bukan apa-apa.” kata Galih merendah.
Dalam pertarungan sengit itu, mereka telah berhasil mengalahkan musuh mereka yang kuat, seorang jenderal bernama Duke Richmond dan seorang kawanan The Secret Five yang bernama Randi. Darah dan keringat yang menetes dari tubuh mereka menandakan bahwa semangat dan perjuangan mereka untuk menggulingkan tahta Raja Ehud sangatlah besar. Perjuangan mereka dan yang lainnya tak akan terlupakan. Sejarah akan mencatat perjuangan mereka di istana yang kokoh itu.
Komentar
Posting Komentar