45. Raja Lawan Pangeran


Raja Lawan Pangeran

Ruangan Raja, Miracle of Mirror Palace

Erza dan Raja Ehud saling berhadapan. Erza sudah siap bertarung dengan adik ayahnya sendiri. Dengan baju zirah yang ia kenakan, tameng, dan pedang yang ia genggam, ia siap bertarung sampai titik penghabisan. Sementara itu, Raja Ehud juga sudah siap bertarung. Pedang yang ia genggam hampir mirip dengan pedang Erza.


“Kau punya pedang yang sama denganku, Erza.” kata Raja Ehud.

“Lalu?” tanya Erza.

“Kita bisa saling menukar pedang.” kata Raja Ehud.

“Benarkah?” tanya Erza.

Raja Ehud tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar hingga seisi ruangan.

“Apa aku ingin menukar pedangku dengan pedangmu? Tentu saja tidak! Mana mau aku menukarnya dengan pedang rendahan seperti itu? Lagipula, pedangmu menjiplak pedangku! Tiruan! Pedangmu itu tiruan! Kau tak akan bisa mengalahkanku dengan pedang itu!” ejek Raja Ehud.

Erza hanya terdiam saja. Ia tidak berusaha membalas ejekan Raja Ehud. Ia berusaha untuk bersabar.

“Kita lihat saja, siapa yang akan menang.” kata Erza.

Raja Ehud mengangguk-angguk tanda setuju.

“Oh, ya, bocah, nama pedangmu itu apa?” tanya Raja Ehud.

“Blue Diamond Sword of Miracles.” jawab Erza.

“Nama pedangmu saja masih kalah dari aku.” kata Raja Ehud dengan angkuh.

“Memang nama pedangmu apa?” tanya Erza.

“Red Diamond Destroyer Sword.” jawab Raja Ehud.

“Kita cukupkan saja obrolannya sampai sini.” kata Erza.

“Baik, kalau itu maumu.” kata Raja Ehud.

Selesai Raja Ehud itu bicara, ia langsung maju menyerang Raja Ehud. Sementara itu, Raja Ehud tidak sama sekali bergerak. Ia pun tidak memasang kuda-kuda sama sekali. Erza langsung mengayunkan pedangnya dan “TRANG!” ayunan pedangnya ditahan oleh pedang Raja Ehud.

“Jangan terburu-buru, bocah.” kata Raja Ehud. Ia langsung menendang perut Erza. Dengan cepat, Erza melompat mundur ke belakang. Erza kembali maju menyerang Raja Ehud. Kali ini, ia berlari zig-zag. Raja Ehud diam kembali. Ia menunggu sampai dirinya diserang.

“SAT!” Erza berlari di sampingnya. Ia bersiap-siap untuk menikam sang raja dari belakang. Namun, Raja Ehud sudah mengetahuinya. Ia mengayunkan pedangnya ke arah perut Erza. “TRANG!” serangannya berhasil ditahan oleh pedang Erza. Erza berusaha untuk menyikut Raja Ehud. Namun, sikutannya berhasil ditahan oleh Raja Ehud. Raja Ehud menggenggam tangan Erza dan meluruskannya. Lalu, ia memelintirnya sekuat tenaga.

“Akh!” Erza menjerit kesakitan. Ia berusaha untuk kembali menyerang Raja Ehud. Ia menendang kaki Raja Ehud. Raja Ehud langsung melompat sambil memegang tangan Erza. Erza pun terangkat ke atas.

“Kubanting kau, bocah!” kata Raja Ehud. “BUGH!” perut Erza dipukul keras oleh Raja Ehud. Ia pun terhempas ke atas. Raja Ehud segera menariknya kembali dan menendangnya ke bawah.

“GUBRAK!” Erza terbanting ke lantai ruangan raja. Ia berusaha untuk bangkit kembali. Namun, sebelum ia berhasil bangkit, Raja Ehud sudah bersiap-siap untuk menikamnya dari atas. Karena tidak sempat, ia berusaha untuk bertahan dengan tamengnya saja.

“TRANG!” pedang Raja Ehud mengenai tameng Erza.

“Licik kau, bocah! Dalam pertarungan seperti ini, tidak boleh memakai tameng! Lihat, aku saja tidak memakai tameng.! Hanya baju zirah saja!” kata Raja Ehud.

“Baiklah.” Erza langsung melemparkan tamengnya ke wajah Raja Ehud. “TRANG!” Raja Ehud langsung menahannya dengan pedangnya. Lalu, ia buang tameng itu jauh-jauh. Erza langsung menyerang Raja Ehud. Namun, serangannya berhasil dipatahkan oleh Raja Ehud.

“Kau mau mencoba menipuku, ya?” tanya Raja Ehud. “Kuberitahu, aku bukan manusia yang mudah tertipu.”

“Begitu, ya?” kata Erza. Ia melihat benda-benda yang ada di sekelilingnya untuk dijadikan senjata untuk menyerang Raja Ehud.

“Meja kecil!” kata Erza dalam hati. Ia melihat sebuah meja kecil berbentuk tiang yang ada di dekatnya. Dengan pedangnya, ia menarik meja itu pelan-pelan.

“Apa yang akan kau lakukan, bocah?” tanya Raja Ehud. Ia langsung menendang meja kecil itu ke arah Erza. “PRAK!” meja itu dipotong habis oleh pedang Erza. Erza langsung bangkit kembali.

“Pertarungan tidak hanya mengandalkan otot, tapi juga otak.” kata Erza. Ia mengambil sebuah bom asap yang digantung di sabuknya.

“SYUT!” sebuah anak panah melesat ke arah tangan Erza yang sedang mengambil bom asap. Spontan Erza melepaskan tangannya dari bom itu. Anak panah itu melepaskan bom asap dari gantungannya. Bom itu pun jatuh dan meledak.

“BLAAR!” asap menyelimuti Erza. Ia tak bisa melihat apa-apa. Pandangannya tertutup oleh asap yang sangat tebal. Tiba-tiba, ia ingat dengan kekuatan spesial yang telah ia pelajari. Ia langsung memutar-mutarkan pedangnya. Seketika itu pula, asap yang tebal itu menipis dan hilang.

Tiba-tiba, Raja Ehud sudah siap menikamnya dari belakang.

“Pergilah ke alam baka, bocah!”

Erza langsung menendang perut Raja Ehud. Raja Ehud langsung menangkis tendangannya. Setelah tendangannya gagal, ia langsung berlari ke sebuah dinding. Di sana, ia melihat seutas tali yang menggantung begitu saja. Raja Ehud berusaha untuk mengejarnya. Namun, Erza sudah berlari jauh darinya. Ia juga sudah berhasil meraih talinya dan memanjat dinding itu dengan tali yang menggantung itu.

“Jangan harap kau bisa kabur atau melakukan apapun, bocah!” kata Raja Ehud. Ia menarik tali itu sekuat tenaga. Sebuah tiang kecil tempat ujung tali itu diikat hampir terlepas dari dinding. Erza berusaha memanjat dinding itu dengan cepat.

“KRAK, KRAK.” tiang itu hampir terlepas dari dinding tempat menancapnya. Erza semakin cepat memanjat dinding.

“TRAK!” tiang itu terlepas dari dindingnya. Erza langsung melompat ke jendela yang ada di dekatnya.

“HUP!” ia berhasil meraih jendela itu. Sesampainya di jendela itu, ia langsung menghancurkan jendela yang ada di depannya. Lalu, ia mengacungkan pedangnya ke arah cahaya matahari.

“SRIIIIING…” cahaya matahari itu berkumpul di dalam pedangnya. Setelah itu, Erza berbalik menghadap ke Raja Ehud yang berada di bawah.

“Dengan ini, riwayatmu akan berakhir.” Erza mengacungkan pedangnya ke arah Raja Ehud.

“SYUT!” cahaya yang tersimpan di dalam pedangnya langsung ia lepaskan. Cahaya itu melesat ke arah Raja Ehud. Dengan tenang, Raja Ehud menahan cahaya itu dengan pedangnya.

“SYUT!” cahaya itu memantul ke arah Erza. Namun, cahayanya lebih besar dari yang ia lepaskan tadi. Dengan cepat, Erza melompat dari jendela ke jendela lain dan turun ke bawah.

“BLAAAAAAR!” seperempat dinding ruangan raja rusak akibat serangan cahaya itu.

“Kekuatan yang mengerikan…” kata Erza.

“Takjub? Itu belum seberapa.” kata Raja Ehud. Ia mengangkat pedangnya ke arah cahaya matahari.

“SRIIIIIIING…” cahaya matahari berkumpul di dalam pedang Raja Ehud. Setelah itu, ia mengayunkannya ke arah Erza dengan sekuat tenaga.

“BLAAAAAAR!” cahaya itu melesat membentuk sayatan pedang dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Erza langsung berlari menghindari serangan itu.

“SSSSSH…” lantai dan dinding ruangan berlubang akibat serangan tadi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya