43. Kekuatan Dukun dan Penasihat
Kekuatan Dukun dan Penasihat
Rayhan, M. Irfan, Rendy, Rendy S, dan Ulwan sedang berhadapan dengan Tauma, Van Porter, Fredderson, dan Igor Dante. Lima teman terpilih Erza harus berhadapan dengan lawan yang berbeda keahlian, walaupun ada juga yang mempunyai keahlian yang sama. Rayhan yang mempunyai ilmu putih harus berhadapan dengan Tauma, dukun yang mempunyai ilmu hitam, termasuk di dalamnya ilmu santet dan memanggil makhluk halus. M. Irfan yang lebih memakai ledakan dalam setiap pertarungan dan Ulwan yang lebih memakai senjata jarak jauh dan dekat harus berhadapan dengan Van Porter yang dapat menggunakan semua senjata. Sementara itu, Rendy yang ahli menggunakan martil dan pedang dan Rendy S yang ahli menggunakan pedang harus berhadapan dengan Fredderson, seorang pandai besi sekaligus pembunuh yang sadis dan Igor Dante, seorang jenderal yang pandai menggunakan senjata jarak jauh.
“Kekuatan putih tidak akan kalah dari kekuatan hitam. Kau akan kalah olehku.” kata Rayhan.
“Benarkah? Kita buktikan saja.” kata Tauma.
Rayhan dan Tauma terdiam sejenak. Mereka sedang memikirkan siasat untuk bertarung. Sementara itu, yang lainnya sudah mulai bertarung.
“Woi, kita mau jadi pajangan saja?” tanya Rayhan.
“Tentu tidak.” Tauma mengambil tongkatnya. Lalu, ia acungkan tongkatnya ke atas. “Ki Langit! Turunkan petir!”
“GLUDUK! GLUDUK!” bunyi petir terdengar. “Jatuhkan ke Rayhan!” teriak Tauma.
“CTAR!” kilat menyambar tubuh Rayhan. Namun, dengan ilmu putihnya, ia belokkan petir itu ke Van Porter.
“Woi! Sialan! Serang lawan yang ada di depan kamu! Bukan aku!” teriak Van Porter.
“Gak peduli!” teriak Rayhan. Ia mencabut pedangnya dan berdo’a. Beberapa saat kemudian, pedangnya mengeluarkan cahaya putih. Lalu, ia tembakkan cahaya itu ke arah Tauma. Tauma langsung menghindari serangan itu. Ia tahu, tongkatnya tak bisa menangkis cahaya yang sangat kuat itu.
Kini, giliran Tauma yang membalas. Ia menancapkan tongkatnya ke tanah seraya berkata, “Ki Cai, keluarkan air bah dari dalam tanah!”
Seketika itu pula, air keluar dari lantai istana dengan deras. Dalam waktu yang singkat, air sudah setinggi lutut. Rayhan kembali berdo’a. Lalu, ia tancapkan pedangnya ke lantai istana. Seketika itu pula, air berhenti keluar. Perlahan-lahan, air di dalam ruangan itu surut. Tauma kembali menancapkan tongkatnya ke tanah dan berkata, “Ki Bumi, buat gempa di ruangan ini!”
Ruangan itu pun bergetar kencang. Rayhan dan teman-temannya sampai kesusahan untuk berdiri. Dalam keadaan begitu, Rayhan kembali berdo’a dan menancapkan pedangnya ke lantai istana. Seketika itu pula, gempa berhenti. Tauma tampaknya mulai geram. Semua serangannya berhasil digagalkan oleh Rayhan dengan mudah. Ia langsung meletakkan kemenyan dan wadah-wadah yang berisi bunga, daging, dan lain-lain di depannya. Lalu, ia duduk bersila dan menaruh tongkatnya di depannya. Ia pun berdiam diri sambil berkata sesuatu.
“Ki Ageng Mahaputra, abdi serahkan diri abdi sendiri kepada Ki Ageng dengan beberapa sesembahan yang sudah abdi siapkan. Tolong pinjamkan kekuatan Ki Ageng kepada abdi. Sebagai gantinya, abdi serahkan diri abdi.” kata Tauma.
Tiba-tiba, asap hitam menyelimuti tubuh Tauma. Tidak hanya segitu saja. Asap itu menyelimuti lantai istana. Rayhan menunggu apa yang selanjutnya terjadi. Asap itu perlahan-lahan hilang. Tampaklah bahwa Tauma sudah lebih mengerikan dari sebelumnya. Mukanya lebih sangar dan terlihat hitam. Tangannya menggenggam tongkat miliknya. Tangan sebelahnya mengepal keras. Matanya merah dan berair. Selain itu, ia menggeram layaknya harimau. Tanpa pikir panjang, Rayhan berdo’a. Pedangnya pun kembali bercahaya. Ia langsung menembakkan cahaya itu ke arah Tauma. Namun, cahaya itu langsung berbelok sebelum mengenai Tauma. Rayhan tidak mengerti. Kekuatan apa yang dipakai Tauma.
Tanpa pikir panjang, Tauma langsung menggerakkan tangannya. Tiba-tiba, Rayhan langsung tertarik ke arah yang sama dengan gerakan tangan Tauma. Tauma mengangkat tangannya. Rayhan langsung terangkat ke atas. Lalu, Tauma menurunkan tangannya. Rayhan pun terbanting. Pada saat itu, ia mencoba untuk melawan kekuatan telekinesis Tauma. Namun, ia gagal. Kekuatan telekinesisnya terlalu kuat. Rayhan terus dibanting ke sana kemari. Tauma membantingnya dengan sadis.
Sementara itu, M. Irfan dan Ulwan sedang kesusahan menghadapi Van Porter yang dari tadi menggunakan senapan dan pedang.
“DAR!” sebutir peluru melesat ke arah Ulwan.
“TRANG!” Ulwan menangkis peluru itu dengan pedangnya. Pedangnya mulai retak-retak akibat menangkis semua peluru dari Van Porter.
“BLAAR!” M. Irfan terus menyerang Van Porter dengan petasannya. Namun, semua petasannya langsung ditembak olehnya.
“Gila! Orang ini terlalu susah untuk dihancurkan!” kata Ulwan. Tiba-tiba, tubuhnya terangkat ke atas. Begitu juga dengan M. Irfan.
“Woi! Apa-apaan ini!? Kenapa kita bisa melayang!?” tanya Ulwan. Tiba-tiba, tubuhnya bergerak dan membentur kepala M. Irfan.
“Woi, Wan! Kenapa ini!?” tanya Ulwan. Tiba-tiba, Rayhan menabraknya. Kemudian, mereka bertiga jatuh ke lantai. Mereka kembali terangkat ke atas dan jatuh lagi ke bawah. Begitu seterusnya.
Rayhan pun berdo’a untuk mematahkan telekinesis itu. Setelah itu, ia mencabut pedangnya. Namun, pedangnya langsung terlepas dari tangannya dan ikut melayang.
Melihat kesempatan itu, Van Porter langsung mengisi peluru dan mengokang senjatanya. Kemudian, ia mengarahkan senapannya ke arah Ulwan. Ia bersiap-siap menekan pelatuknya. Namun, ketika pelatuk ditekan…
“GUBRAK!” ia terhempas ke dinding. Ia sangat terkejut. Ia menduga ini perbuatan Tauma.
“Woi! Tauma! Kenapa kamu serang juga aku!?” teriaknya. Tiba-tiba, tubuhnya terangkat ke atas.
“Wahai manusia lemah, mereka bertiga adalah mangsaku. Kamu tidak boleh ikut campur dengan mangsaku ini.” kata Tauma.
“Kenapa!?” tanya Van Porter. “Aku ini temanmu!”
Tauma tidak memedulikan perkatannya. Ia langsung membanting temannya sendiri ke lantai.
“Tauma! Apa-apaan ini!? Kenapa kamu melukai temanmu sendiri!? Jawab!” teriak Van Porter.
Tauma yang sudah kehilangan kesadarannya tidak menjawab pertanyaan temannya. Ia mendorong Van Porter hingga terhempas ke dinding. Sementara itu, Rayhan dan ketiga temannya yang terangkat langsung dilemparkan begitu saja. Ia pun langsung melayang mendekati Van Porter.
“Aku sama sekali tidak mengenalmu, sama sekali.” kata Tauma. Mata Van Porter terbelalak mendengarnya. Padahal, ia dan Tauma sudah berteman akrab sejak pertama kali bertemu di pelabuhan Jambalroti. Sejak saat itu, mereka saling tolong menolong dan membantu satu sama lain. Mereka juga saling berbagi pengalaman. Banyak suka duka yang sudah ia alami bersamanya. Namun, pada hari ini ia benar-benar dibuat terkejut. Sahabat sejatinya tidak mengakui bahwa ia adalah temannya.
“Tauma! Apa kamu sungguh-sungguh berkata itu?” tanya Van Porter.
“Iya.” jawabnya dengan ekspresi yang dingin.
Van Porter tidak percaya dengan perkataan temannya sendiri. Tiba-tiba, ia percaya bahwa temannya sedang kerasukan arwah orang sakti. Ia yakin karena ia pernah melihatnya sedang kerasukan.
“Tauma! Sadarlah! Kamu menyerang temanmu sendiri!” kata Van Porter sambil mencoba menggoyangkan tubuh temannya. Namun, sebelum ia menyentuh temannya, ia langsung terdorong ke belakang.
“Ugh…” Van Porter mengeluh kesakitan. Tubuhnya terhempas ke dinding. Namun, hempasannya sangat kuat. Ia pun tak bisa bergerak.
Fredderson yang sedang bertarung melawan Rendy dan Rendy S langsung diam ketika melihat kedua temannya bertarung. Sebagai seorang teman yang baik, hati nuraninya muncul. Ia berlari ke arah mereka berdua.
“Hei! Fred! Kita masih harus menghabisi mereka!” teriak Igor.
“Tapi kedua temanku saling bertarung! Aku harus melerainya!” teriak Fredderson.
“Woi! Sudahlah…” teriak Igor. Fredderson sudah berlari mendekati kedua temannya. Ketika lengah itulah, ia langsung dibekap oleh Rendy.
“Ah! Kamu lengah! Kami akan langsung menghabisimu!” teriak Rendy.
“Mmm… Mmm!!!” Igor berusaha untuk berteriak. Namun, suaranya tidak terdengar. Mulutnya sudah ditutup oleh kain.
“Nah…” kata Rendy. “BUGH!” ia memukul kepala Igor dengan martilnya. Lalu, ia memanggil Rendy S.
“Ren! Ayo siksa dulu jenderal ini!” panggil Rendy.
“Oke, om!” sahut Rendy S. Ia langsung mendekati temannya yang sedang membekap lawannya.
“Nah, enaknya diapakan, ya?” tanya Rendy S. Igor terus memberontak. Ia berusaha menendang Rendy S. Namun, kakinya langsung dipegang oleh Rendy S. Dengan kekuatannya, ia memelintir kaki Igor sekuat-kuatnya. Igor berteriak kesakitan. Namun, teriakannya tak bisa didengar. Setelah itu, Rendy S langsung menusuk jantung Igor dengan pedang beracunnya. Perlahan-lahan, mulutnya mengeluarkan busa. Matanya mulai memutih. Yang paling jelas, darah mengucur deras dari jantungnya. Tubuhnya pun mulai lemas. Rendy langsung melepaskan bekapannya. Igor langsung ambruk ke lantai. Ia pun mati keracunan.
Sementara itu, Fredderson sedang berusaha melerai kedua temannya yang sedang bertarung, Tauma dan Van Porter. Ia tidak habis pikir mengapa kedua temannya saling bertarung, bukannya bertarung melawan Rayhan dan teman-temannya.
“Hei! Kalian! Jangan bertarung seperti ini! Kalian harus menghabisi lawan kalian! Bukan teman kalian sendiri!” kata Fredderson.
“SYUUT! GUBRAK!” Fredderson ikut terhempas ke dinding.
“Dasar manusia-manusia berisik!” kata Tauma. Van Porter berusaha mendekatinya lagi. Namun, ia kembali terhempas.
“Dasar manusia-manusia lemah! Mereka pikir aku manusia biasa, hah!? Rasakan kemampuan maha dahsyatku!” teriaknya.
Ia menghempaskan seluruh orang yang berada di dekatnya. Lalu, ia bersemedi sejenak.
“aaconcodola codola tarukurutaruum... aatarukumukuma taruum... tarum! komoko do uruquri karokoroko... karo! karo!” ia membaca mantra yang sangat tidak dimengerti oleh siapapun yang ada di sana.
Tiba-tiba, ruangan di sana menjadi gelap. Mereka semua tidak bisa melihat apa-apa. Tanpa mereka sadari, semua senjata mereka terlepas dari mereka dan berkumpul di dekat Tauma. Kemudian, sebuah cahaya keemasan muncul. Di dekat cahaya itu mulai bermunculan beberapa titik cahaya kecil yang mengelilingi cahaya keemasan itu. Cahaya itu perlahan-lahan membesar dan menerangi tubuh Tauma.
Mereka semua dibuat terkejut! Rupanya fisik Tauma sudah berubah drastis. Tubuhnya menjadi kekar dan sangat besar. Ia juga mempunyai tongkat yang sangat besar. Selain itu, ia mengenakan kain untuk menutupi bagian bawahnya. Ia juga berselempangkan kain emas yang sangat berkilauan. Cahaya emas bersinar dari tubuhnya. Cahayanya sangat menyilaukan mata.
“agnakalari!” ucap Tauma. Tiba-tiba, ruangan itu bergetar hebat. Seluruh orang yang ada di sana sampai terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. “BLAAAR!” lahar keluar dari bawah kaki mereka. Mereka semua langsung menghindarinya dengan susah payah. Belum saja mereka berhasil menghindarinya, mereka langsung disambut dengan kubangan lahar yang sudah ada di depan mereka. Mereka pun kembali menghindarinya. Namun, lahar itu langsung keluar dari kubangannya dan berkumpul menjadi monster yang besar.
“GRAAA…” monster itu mengeluarkan bola api dari mulutnya. Mereka pun berlari tunggang-langgang.
“Apa-apaan ini? Seperti di dunia dongeng saja!” kata Rayhan. “Ini juga sama sekali tidak lucu! Masa’ kita harus dikejar-kejar monster jelek ini?”
Tiba-tiba, Rayhan mendapatkan ide. Ia masih mempunyai air di dalam kantungnya. Ia pun langsung mengeluarkan kantung itu dan berdo’a. “GYUK!” air itu langsung melayang di udara. Rayhan langsung melemparkan air itu ke arah monster lahar itu. “PSSSH…” monster itu langsung padam. Ia pun kembali melemparkan air itu ke arah monster-monster yang lainnya. Beberapa lama kemudian, monster itu berhasil dikalahkan.
“Hah, monster itu terlalu mudah untuk dikalahkan.” kata Rayhan. Tiba-tiba, air yang tadi ia gunakan berubah bentuk menjadi semacam tombak tanpa kehendaknya. Lalu, air itu membeku dan melesat ke arahnya.
“CRASS!” tombak es itu tidak berhasil melukai Rayhan. Es itu pecah berkeping-keping. Dengan kekuatannya, Tauma kembali menyatukan pecahan-pecahan es itu dan menggandakannya menjadi ratusan. Rayhan yang pernah mengalahkannya sudah tahu jurus seperti itu.
“Bukan sesuatu yang istimewa.” katanya. Rayhan memasang kuda-kuda untuk menyerang Tauma. Sebenarnya, ia tidak begitu yakin dapat menyerang Tauma dengan silat. Namun, tak ada salahnya mencoba.
“TAP!” kaki Rayhan langsung menapaki tanah dan meloncat setinggi-tingginya. Lalu, “BRUK!” ia menjatuhkan Tauma ke lantai. Namun, Tauma langsung melemparnya ke atas.
“DAK!” Rayhan dipukuli Tauma dengan menggunakan tongkat besarnya. Ia langsung terhempas ke lantai.
“Ukh…” Rayhan bangkit kembali. Tiba-tiba, ia ingat sesuatu. Ia masih menyimpan pedang rahasianya. Tanpa lama-lama, ia langsung mencabut pedangnya. Ketika ia mencabutnya, ia teringat sesuatu.
...
“Rayhan, hari ini aku serahkan pedang ini kepadamu. Pedang ini memiliki kekuatan misterius yang tak ada duanya. Kau harus bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik.” kata gurunya.
“Baik, guru.” kata Rayhan.
“Satu lagi yang harus kamu ketahui, Rayhan. Ketika kamu akan melawan musuhmu, yakinlah kepada Tuhan bahwa kamu bisa mengalahkan musuhmu. Dengan begitu, sejelek-jelek apapun pedang yang kamu pakai, kamu akan bisa mengalahkan musuhmu sendiri. Pedang ini juga bergantung kepada keyakinanmu. Jika kamu yakin bisa mengalahkan musuhmu, kekuatan pedang ini akan bertambah berkali-kali lipat. Jika kamu tidak yakin, pedang ini tak ubahnya seperti pedang biasa. Di situlah kekuatannya. Pedang ini menggunakan kekuatan keyakinan dan keberanian. Serang lawanmu dengan dua kekuatan itu. Musuhmu akan kalah karena dua kekuatan itu.” kata gurunya.
…
Rayhan pun berdo’a dalam hati. Ia memohon keberanian dan kekuatan dari Yang Mahakuasa.
Beberapa saat kemudian, sebuah cahaya putih menyelimutinya. Cahayanya begitu menyilaukan mata. Sampai-sampai Tauma harus memejamkan matanya.
“ZSSSSH!” sekumpulan asap putih bergerak sangat cepat dan berkumpul di sekitar Rayhan. Ia pun mulai melayang. Asap putih tadi membentuk sayap. Pakaiannya berubah menjadi putih. Ia juga mengenakan sorban putih di kepalanya. Tangannya menggenggam sebuah pedang putih yang menyilaukan mata.
“Matilah kau, Tauma.” Rayhan mengarahkan pedangnya ke arah Tauma.
“SIIIIIIIING…” cahaya putih berkumpul di sekitar pedangnya. “KHIIIING…” pedang itu akan segera melepaskan cahaya yang ada di sekitarnya.
“SYUT!” cahaya itu melesat lurus ke arah Tauma. Dengan perisai cahaya yang ia buat, Tauma menangkis cahaya itu. Rupanya, cahaya itu sangat kuat. Tauma harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menangkisnya.
“Ukh…” Tauma berusaha menahannya sekuat tenaga. Namun, ia tidak kuat. Akhirnya, “GUBRAK!” ia terhempas hingga keluar istana. Akibat serangan tadi, dinding istana menjadi berlubang.
Rayhan segera keluar dari istana untuk mengejar Tauma. Ketika sampai di dekatnya, Rayhan langsung menyerang Tauma dengan pedangnya. “TRANG!” serangannya ditangkis oleh Tauma. Rayhan kembali menyerangnya dari berbagai arah. Namun, serangannya masih dapat ditangkis Tauma dengan baik. Karena serangannya ditangkis terus-menerus oleh Tauma, Rayhan menggunakan serangan pamungkas.
Ia mengumpulkan cahaya di pedangnya. Setelah dirasa cukup, ia langsung mengayunkan pedangnya ke arah Tauma. Dengan cepat, Tauma menghindarinya. Namun, ia tak menduga bahwa serangan itu dapat menyebar.
“BLAAAR!” sebuah ombak putih terbentuk di langit. Ombak itu berhasil mengenai Tauma.
“SSSH…” sebagian tubuhnya langsung terbakar. Tanpa berlama-lama, ia langsung menyerang balik Rayhan dengan tongkatnya. Dengan cepat, Rayhan menangkis serangan Tauma.
“KAAATS!” sebuah bola cahaya yang besar terbentuk akibat benturan dua benda itu. Seluruh orang yang berada di bawah sana langsung terhempas cukup jauh. Istana pun mengalami kerusakan.
Mereka terus mengadu senjata mereka. Tanpa mereka sadari, adu senjata itu telah menghancurkan sebagian benteng istana dan sebagian istana. Para pemberontak pun menjadi lebih mudah untuk masuk ke dalam istana. Mereka terus mendesak para prajurit yang mulai kehilangan kekuatannya.
Sementara itu, Rachen yang sedang mengamati keadaan di sekitar istana mulai khawatir. Ia pun langsung mengeluarkan mantra Mariechen, sebuah mantra mematikan yang dapat membunuh banyak orang.
“
Komentar
Posting Komentar