47. Hidup Raja Baru!

Hidup Raja Baru!

Beberapa hari kemudian…

Pagi ini benar-benar pagi yang sangat cerah. Langit berwarna biru bersih dari awan. Matahari bersinar dengan cerahnya tanpa terhalang oleh awan. Sinarnya yang hangat menyelimuti dunia.

Akan tetapi, Kota Miracle benar-benar sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran di luar. Pasar yang biasanya ramai kini sepi. Alun-alun yang biasanya penuh dengan para penduduk pun sunyi senyap. Jalanan pun sangat sepi. Tidak ada satu pun orang yang berjalan di sana. Kota Miracle benar-benar seperti kota mati.


Namun, keadaan di istana kerajaan sangat berbeda dengan keadaan di Kota Miracle. Istana kerajaan dipenuhi oleh orang-orang yang berkumpul untuk menyaksikan sesuatu. Ternyata, mereka semua adalah penduduk Kota Miracle. Mereka terus bersorak-sorai menyambut ratu mereka dan pangerannya.

“Hidup pangeran penyalamat! Hidup pangeran penyalamat! Hidup pangeran penyalamat!” teriak mereka semua. Mereka tak henti-hentinya berteriak seperti itu.

Para prajurit yang diambil dari petugas keamanan di luar Kota Miracle pun sudah berjaga-jaga di balkon istana tempat ratu dan pangeran akan berdiri menyambut para penduduk. Pintu masuk istana pun dijaga ketat oleh para prajurit. Sebagian teman Erza berdiri di balkon tempat ratu dan pangeran akan melangsungkan acaranya. Sebagiannya lagi berdiri di dua balkon yang berada di samping balkon itu.

Sementara itu, Erza dan ibunya sedang berada di dalam istana. Mereka sedang bersiap-siap untuk melangsungkan sebuah acara. Acara yang sangat berarti bagi kerajaan dan khususnya Erza sendiri.

“Erza, kamu sudah siap?” tanya ibunya.

“Ya, aku siap.” jawab Erza.

Ibunya mendekati Erza.

“Erza, ingat kata-kata ibu. Menjadi raja bukan hal yang mudah, tapi kamu sudah ditakdirkan untuk memegangnya. Jadilah raja yang baik dan bijaksana. Buat semua rakyat mencintaimu, bukan membencimu. Buat mereka tersenyum. Jangan biarkan mereka merana. Walaupu kamu masih muda, tapi kamu pasti bisa. Karena, kamu sudah mendapatkan banyak pelajaran selama kamu berkelana. Ibu yakin kamu pasti bisa.” ibunya memberikan motivasi kepada Erza.

“Baik, bu.” Erza mengangguk pelan.

Sorak-sorai para penduduk terdengar hingga ke dalam istana. Sorak-sorai yang penuh semangat membuat ibunya tersenyum.

“Mereka benar-benar menyambut baik pelantikan ini.” katanya dalam hati.

Ketika mereka sedang bersiap-siap, seorang algojo yang setia kepadanya mendatangi mereka.

“Baginda Ratu, acara akan segera dimulai. Mohon untuk segera menuju ke balkon istana.” kata algojo itu.

“Baik, kamu tunggu saja di balkon. Kami akan segera ke sana.” kata Ratu Alvia. Algojo itu segera pergi menuju balkon. Setelah itu, Ratu Alvia segera bangkit dari duduknya.

“Ayo, Erza. Kita pergi ke balkon istana.” ajak ibunya.

“Ayo.” kata Erza sambil bangkit dari duduknya. Mereka pun pergi menuju balkon istana. Belum juga sampai di balkon, suara sorak-sorai penduduk terdengar sangat keras. Mereka pun terus berjalan hingga sampai di balkon. Sesampainya di balkon, mereka langsung disambut oleh teriakan para penduduk yang penuh kegembiraan.

“Ratu dan pangeran kita sudah hadir!” teriak salah seorang penduduk. “Ayo kita sambut lebih meriah lagi!”

Semua penduduk yang hadir di sana langsung bersorak-sorai lebih meriah lagi. Ratu Alvia dan Erza tersenyum melihatnya. Mereka senang disambut seperti itu.

Kemudian, seorang algojo yang tadi memberitahu Ratu Alvia segera maju ke depan balkon. Kali ini, penampilannya tidak seperti algojo pada umumnya. Ia mengenakan pakaian prajurit kerajaan. Pakaiannya bersih dan rapi. Tak seorang penduduk pun yang tahu bahwa ia adalah seorang algojo.

Algojo itu langsung membuka gulungan kertas yang ia genggam di tangan kanannya. Ia pun membacakannya dengan keras dan lantang. Para penduduk langsung diam dan memerhatikan algojo itu.

“Para rakyat Mirror sekalian! Hari ini, kita akan menyaksikan sebuah sejarah baru dalam kerajaan ini! Sebuah sejarah yang belum pernah terukir sebelumnya. Setelah kita dibuat menderita oleh Raja Ehud yang lalim, hari ini kita akan mengakhirinya. Saksikanlah pelantikan Pangeran Erza menjadi raja baru, raja penerus tahta Kerajaan Mirror!” ucapnya dengan lantang.

Para penduduk yang berada di bawah langsung bertepuk tangan. Algojo itu langsung kembali ke tempatnya. Ratu Alvia dan Erza segera maju ke depan balkon. Mereka pun saling berhadapan. Para penduduk sudah tidak sabar melihat pelantikan Erza menjadi seorang raja.
“Erza, sebelum kamu berhasil kembali ke istana ini, kamu sudah mengalami berbagai tantangan dan rintangan. Kamu juga sudah mendapatkan pelajaran berharga selama itu. Bersama teman-temanmu, kamu berhasil menurunkan Raja Ehud dari tahtanya. Bahkan, kamu sudah berhasil membunuh Raja Ehud yang lalim. Seluruh rakyat mengelu-elukanmu sebagai pangeran yang telah menyelamatkan mereka. Hari ini, kau akan melepaskan gelarmu sebagai pangeran dan menyandang gelar baru sebagai raja. Karena itu, pakailah mahkota ini dan terimalah pedang ini sebagai simbol pergantian kekuasaan dari raja yang lama ke raja yang baru.” kata Ratu Alvia. Ia pun segera memakaikan mahkota kerajaan dan menyerahkan pedang Erza kepada putranya, Erza.

“Terima kasih, ibunda. Ibunda sudah menyerahkan mahkota ini kepadaku. Jasa ibunda takkan pernah dapat kubalas seumur hidup.” kata Erza.

Erza segera berdiri dan menghadap ke arah para penduduk. Ibunya pun segara menghadap ke arah para penduduk. Erza mencabut pedangnya dan mengangkatnya ke atas. Ia pun mengucapkan janjinya dengan lantang.

“Para rakyat Mirror sekalian! Dengarlah sumpahku ini! Saya, Erzawan Wijaya, sebagai raja baru di kerajaan ini, saya bersumpah akan memakmurkan negeri ini, menyejahterakan rakyat miskin, menjaga negeri ini dari perpecahan, memajukan negeri ini, dan yang paling utama, saya akan membawa para rakyat sekalian menuju hari esok yang lebih baik. Para rakyat sekalian, mari kita buang jauh-jauh penderitaan kita yang kita rasakan kemarin. Buang rasa sedih, amarah, putus asa, dan semua yang membuat kita semakin terpuruk! Jangan tengok hari kemarin! Tataplah hari esok dengan penuh keyakinan. Mari, kita semua saling bahu-membahu untuk membangun negeri ini! Bersama, kita akan makmur! Bersama, kita akan sejahtera! Bersama, kita bangun negeri ini lebih baik!” ucapnya dengan lantang.

“Hidup raja baru kita!” teriak salah seorang penduduk.

“Hidup raja baru! Hidup raja baru!” seluruh penduduk bersorak-sorai. Erza pun segera memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarungnya. Algojo langsung maju ke depan balkon dan kembali menenangkan para penduduk.

“Para penduduk sekalian, harap tenang! Mari kita nyanyikan lagu kebangsaan kita!” kata algojo itu dengan lantang.

Meriam-meriam pun berdentuman. Bunga-bunga berjatuhan dari atas istana. Alat musik pun berbunyi dengan keras. Seluruh penduduk yang ada di sana langsung menyanyikan lagu kebangsaan mereka, Our Miracle Land.






Our Miracle Land

Our Miracle Land
Deep within each hearts
Beneath the Mirror waving flag
There lights a magic spark
The spark that brings power

We stand there with pride
Looking up into the sky
Since the dawn of men
We will always protect our land

Our miracle land, it's where we were born
Our miracle land, it's where we will die
It's where we'll stay for the rest of our life
It's the land that belongs to all of us
It's our miracle land

As we stand there, under the warm sun
The warmness fires up the power
The power to keep our land free from colonizations and dictators

Ditengah-tengah nyanyian yang begitu membahana, Pak Acep yang ikut hadir di acara itu berkata dalam hatinya.

“Erza, kamu sudah membuat bapak bangga. Kamu berhasil menjalankan tugas yang bapak berikan dengan baik. Kau telah merebut kembali tahta kerajaanmu. Kini, kamu sudah berdiri dengan gagah di atas balkon. Namun, di depanmu masih banyak tantangan yang harus kamu hadapi. Namun, bapak yakin kamu bisa melakukannya. Selamat atas pelantikanmu, Erza. Semoga kamu menjadi raja yang lebih baik dari sebelumnya.” kata Pak Acep dalam hati.

Sementara itu, Erza berdiri dengan gagahnya di atas balkon. Pandangannya mengarah tajam ke pemandangan yang ada di depannya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hati paling dalamnya berkata, ini bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak tantangan yang akan ia hadapi. Terlebih lagi, ia adalah seorang raja. Pastinya tantangan yang akan ia hadapi akan lebih berat. Namun, ia yakin bahwa ia dapat melewatinya. Ia menghujamkan itu ke dalam hatinya.

“Ini bukan akhir dari segalanya, tapi ini awal dari segalanya.” kata Erza dalam hati.

Para penduduk terus menyanyikan lagu kebangsaan mereka dengan khidmat. Tanpa mereka sadari, lagu yang mereka nyanyikan pun sudah mencapai bait terakhir.

We promise to keep our land from falling into the wrong hand

It's the land, it's the land that belongs to all of us,
It's our miracle land...

TAMAT

Bandung, 25 April 2011
Muhammad Irfan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya