44. Pertarungan Ratu Perkasa


Pertarungan Ratu Perkasa

Teman-teman Erza yang ada di lantai teratas sudah menghabisi seluruh prajurit. Hanya dua jenderal yang masih hidup, yaitu Kemp Mayer dan Curran Caspar.

Anak-anak, dua jenderal ini ibu yang urusi. Kalian bantu saja para pemberontak yang ada di bawah sana.” kata Ratu Alvia.

“Baginda Ratu sanggup melawan mereka berdua?” tanya Dede.


“Jangan pikir ibu seorang ratu yang lemah. Ibu pernah mengalahkan ksatria dari negeri lain.” kata Ratu Alvia.

Dede cukup ragu-ragu untuk pergi. Begitu juga dengan teman-temannya.

“Pergilah! Ibu bisa menghadapinya sendiri.” kata Ratu Alvia.

“Benarkah?” tanya Ayang. Ratu Alvia mengangguk.

“Baiklah, kami percaya dengan anda.” kata Ayang. Ia dan teman-temannya segera turun dari lantai teratas.

“Semoga berhasil!” teriak Ayang. Mereka pun berlari meninggalkan Ratu Alvia dan dua lawannya.

Ratu Alvia langsung menoleh ke arah Kemp Mayer dan Curran Caspar. Dari raut wajahnya, ia seperti menantang mereka untuk bertarung.

“Hanya seorang ratu? Gampang!” kata Kemp Mayer meremehkan.

“Jangan sombong dulu.” kata Ratu Alvia. Ia melemparkan pedangnya ke sebuah tiang yang ada di sampingnya.

“ZLEB!” pedang itu menancap di sebuah lingkaran yang terdapat di tiang tersebut. Ia segera mendekati tiang itu dan memutar pedangnya yang tertancap.

“KREET… BAM!” lantai yang berada di dekat tiang itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah pedang yang sangat mengkilap dengan gagang yang menyerupai mahkota bunga mawar. Ia pun segera mengambil pedang itu.

“Tunggu, pedang itu…” kata Kemp Mayer.

“Kamu tahu pedang ini?” tanya Ratu Alvia.

“Pedang itu… bukannya pedang itu yang pernah digunakan untuk membunuh ksatria terkuat dari negeri lain?” tanya Kemp Mayer.
“Betul sekali. Kamu tahu siapa yang menggunakannya?” tanya Ratu Alvia.

“Bukankah anda sendiri, Baginda Ratu?” kata Kemp Mayer.

“Betul sekali. Kamu memang jenderal senior dalam kerajaan ini.” puji Ratu Alvia. “BRAK!” ia menendang tiang yang ada di sampingnya. “KREK!” bagian dalam pedang itu terbuka. Di dalamnya terdapat pedang juga. Namun, pada gagangnya terdapat ukiran bunga melati. Ia pun mengambil pedang itu.

“Apa kamu tahu pedang ini juga?” tanya Ratu Alvia.

“Tidak, aku tidak tahu.” jawab Kemp Mayer.

“Kalau kamu?” tanya Ratu Alvia kepada Curran Caspar.

“Aku juga tidak tahu.” jawab Curran Caspar.

“Jenderal yang payah!” ledek Ratu Alvia.

Kedua jenderal itu tidak membalas ledekannya.

“Kalian takut?” tanya Ratu Alvia.

Mereka tidak menjawab.

“Kalau begitu, rasakanlah serangan maut dari dua pedang ini, Spina Rosa dan Perfumado Jasmim. Rasakan sensasi sakit yang tidak biasa dari sayatan pedang ini.” kata Ratu Alvia.

Ia langsung maju menyerang kedua jenderal yang masih terdiam. “TRANG!” keduanya langsung menangkis serangan Ratu Alvia secara spontan.

Velocità del Vento.” Ratu Alvia langsung mengangkat gagang kedua pedangnya ke atas dan menusuk perut kedua lawannya itu.

“DRAP!” keduanya langsung mundur menghindari tusukan itu. Ratu Alvia terus menyerang mereka.

“Soffiando Primavera.” Ratu Alvia menusuk mereka berdua. Namun, mereka berdua langsung melompat menghindari serangan itu.

“Doppia Taglierina!” Kemp Mayer dan Curran Caspar mengayunkan pedang mereka dari atas.

“TRANG!” serangan mereka berdua ditangkis oleh Ratu Alvia. Mereka pun mendarat kembali di lantai. Ketika mendarat, mereka langsung diserang oleh Ratu Alvia.
“Graffiature Spina de Rosa.” Ratu Alvia menyerang mereka berdua dengan kedua pedangnya. “TRANG!” mereka berdua menangkis serangan Ratu Alvia.

“Kalau begini caranya, aku harus menggunakan taktik yang cerdas.” kata Curran Caspar. Ia melemparkan bom asap. “DAAAR!” asap menutupi mereka semua. Ratu Alvia segera keluar dari asap itu. Ketika asap itu hilang, ia tidak melihat kedua lawannya.

“Oh, begitu, ya?” gumam Ratu Alvia. Ia memejamkan matanya sambil memasang kuda-kuda.

“Hiaaaah!” Kemp Mayer dan Curran Caspar langsung melompat dari atas ruangan. Mereka mengayunkan pedangnya ke arah Ratu Alvia.

“L'uragano Tornado.” Ratu Alvia langsung memutar-mutarkan badannya seperti tornado. Kedua lawannya langsung terhempas.

“Cross!” Kemp Mayer dan Curran Caspar menyerang Ratu Alvia dengan bersamaan. “TRANG!” serangan mereka ditangkis olehnya.

“Double!” Ratu Alvia mengayunkan kedua pedangnya ke arah mereka. Namun, serangannya berhasil ditangkis oleh mereka.

“Crash!” mereka menyerang Ratu Alvia dari dua arah yang berlawanan. Ratu Alvia memasang kuda-kuda dan...

“Sweep!” Ratu Alvia memutarkan kembali badannya. Mereka berdua langsung terhempas kembali. Ratu Alvia langsung mendekati Curran Caspar.

“Matilah!” Ratu Alvia bersiap-siap menusuknya. Ketika ia akan menusuknya, Kemp Mayer mendekatinya. Ia pun menyadarinya.

“Mati sekarang juga, Baginda Ratu!” teriak Kemp Mayer sambil mengayunkan pedangnya.

“Kau dulu yang akan mati!” Ratu Alvia langsung menyerang Kemp Mayer.

“CRASS!” tubuh Kemp Mayer terbelah dua. Badan dan kakinya terpisah. Darah keluar dari tubuhnya yang terbelah.

“GUBRAK!” badannya terjatuh di lantai. Begitu pun dengan kakinya. Ratu Alvia lega karena sudah berhasil mengalahkan salah satu lawannya.

Tiba-tiba, “Ah!” Ratu Alvia merasa perutnya ditusuk. Ia melihat ke bawah. Ternyata, perutnya memang ditusuk. Ia pun menoleh ke belakang.

“Bagaimana, Baginda Ratu?” tanya Curran Caspar. Ia mencabut pedangnya dari perut Ratu Alvia.

“Awas, kau...” ancam Ratu Alvia sambil memegangi perutnya yang terluka.

Ratu Alvia memasukkan pedang Perfumado Jasmim ke dalam sarungnya. Lalu, ia langsung memasang kuda-kuda. Begitu juga dengan Curran Caspar. Mereka terlihat sangat waspada.

“Ballando de Rosa.” Ratu Alvia mulai memutar tubuhnya seperti orang menari.

“Furioso Leone.” Curran Caspar langsung berlari sekencang-kencangnya ke arah Ratu Alvia.

“TRANG!” mereka saling beradu pedang.

“Halo.” sapa Ratu Alvia. “DUK!” ia menendang perut Curran Caspar. Ia langsung terdorong cukup jauh. Dengan cepat, Ratu Alvia mendekati lawannya.

“Puntura Spina Rosa.” Ratu Alvia menusuk perut Curran Caspar. Namun, serangannya dapat ditangkis olehnya. Curran Caspar bangkit kembali dan langsung menyerang Ratu Alvia.

“Slash!” Curran Caspar menyerang Ratu Alvia. “TRANG!” serangannya ditangkis lagi oleh lawannya.

“Cut!” Ratu Alvia menyerang balik Curran Caspar. “TRANG!” lagi-lagi serangannya ditangkis oleh Curran Caspar.

Begitu seterusnya yang terjadi. Mereka saling bertarung, menangkis serangan, dan menyerang balik. Ratu Alvia mulai menyadari bahwa lawannya bukan sembarang lawan. Walaupun ia adalah jenderal yang paling muda, kekuatannya patut ditakuti. Ia pernah melihatnya mengalahkan lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

“Ini lebih kuat daripada ksatria yang dulu.” gumam Ratu Alvia.

“Kenapa, Baginda Ratu? Anda baru mengetahui kekuatanku yang sebenarnya?” tanya Curran Caspar yang mulai menguasai pertarungan.

Ratu Alvia terdiam. Ia terus menangkis serangan lawannya itu.

“Tak menjawab, ya?” kata Curran Caspar.

“ZRET!” lengan Ratu Alvia tersayat pedangnya. Darah mengucur dari lengan sang ratu itu. Ia memegangi lengannya yang terluka itu.

“WAHAHAHA! Aku akan membunuhmu, Baginda Ratu!” teriak Curran Caspar. Ia terus menyerang Ratu Alvia secara bertubi-tubi. Ratu Alvia tidak bisa membalas serangannya. Ia semakin terdesak.

“Anda tidak bisa menyerang lagi, Baginda Ratu? Katanya, anda pernah mengalahkan seorang ksatria. Tapi, sekarang, anda sudah tersudut! Bagaimana ini, hah!? Bagaimana!? Wahahaha!” teriak Curran Caspar yang terus menyerang Ratu Alvia.

“Orang ini sudah gila rupanya.” gumam Ratu Alvia.

“DUK!” Ratu Alvia menabrak tembok dan terjatuh. Ia menjadi tersudut sekarang.

“Tidak ada harapan lagi untuk anda, Baginda Ratu!” kata Curran Caspar. Ratu Alvia hanya bisa terdiam.

“Hiaaaah!” Curran Caspar bersiap-siap mengayunkan pedangnya ke arah Ratu Alvia. Di saat akan diserang, Ratu Alvia teringat sesuatu. Ia masih menyimpan bom asap yang diambil di penjara bawah tanah. Dengan bom itu, ia mempunyai akal yang cerdas. Ia mengambil bom itu. Lalu, ia bangkit dan langsung meledakkan bom itu di wajah Curran Caspar.

“BUM!” bom asap itu meledak dan mengenai wajah Curran Caspar.

“Uhuk, uhuk!” Curran Caspar terbatuk-batuk. Matanya memerah akibat asap yang langsung mengenai matanya. Untuk beberapa saat, ia tidak bisa melihat.

“BUGH! GUBRAK!” ia ditendang oleh Ratu Alvia dan terjatuh di lantai. Ratu Alvia berdiri di depannya sambil memegang sebilah pedang.

“Curran Caspar, kau adalah jenderal muda yang sangat kuat. Sayangnya, kekuatanmu tidak kamu gunakan dengan baik. Harusnya, kamu tidak usah tunduk kepada Raja Ehud yang lalim itu. Karena perbuatanmu sendiri, sekarang kamu akan mati di tanganku sendiri.” kata Ratu Alvia.

“CRASS!” ia menusuk jantung Currang Caspar.

“AAAAAAAH!” teriak Curran Caspar. Matanya terbelalak. Mulutnya terbuka lebar. Seluruh uratnya menonjol.

Ratu Alvia mencabut pedangnya dari jantung lawannya. Akhirnya, Curran Caspar tewas dengan mata terbelalak dan mulut yang terbuka lebar. Darah masih terus mengucur dari dada kirinya.

“Ukh!” Ratu Alvia kesakitan. Ia ingat, luka di perutnya belum sembuh. Ia duduk bersandar di dinding sambil memegangi lukanya.

“Semoga pemberontakan ini segera berakhir.” kata Ratu Alvia. Ia pun terduduk lemas di depan Curran Caspar yang sudah tewas.

“Erza, ibu do’akan semoga kamu berhasil mengalahkan Raja Ehud.” kata Ratu Alvia. Beberapa saat kemudian, ia langsung tak sadarkan diri. Ia pun pingsan dalam keadaan duduk di dinding.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya