46. Akhir Kisah Sang Pangeran

Akhir Kisah Sang Pangeran

Miracle Special Space

Erza dan Raja Ehud saling berhadapan lagi. Mereka memasang kuda-kuda untuk berjaga-jaga jika mereka diserang.

“Oh, ya, satu lagi yang ingin aku katakan. Di sini bayangan kita jumlahnya berkali-kali lipat dari biasanya. Bayangan kita akan membantu kita untuk saling bertarung.” kata Raja Ehud.

Tiba-tiba, muncul sesosok bayangan di belakang Erza yang akan menyerangnya.

“Karena itu, berhati-hatilah.” kata bayangan itu.

“TRANG!” bayangan itu langsung diserang oleh bayangan Erza. Namun, bayangan itu langsung menangkisnya.


“Tenang, Erza! Kami, para bayangan akan membantumu!” kata bayangannya.

“Terima kasih!” kata Erza. Ia langsung menghadap ke arah Raja Ehud.

“Mari kita bertarung.” Erza memutar-mutar pedangnya. Ia langsung maju menyerang Raja Ehud sambil memutar-mutar pedangnya.

“TRANG!” pedang Erza dan Raja Ehud saling beradu. Keduanya saling mendorong satu sama lain.

“TRANG!” kedua pedang itu terangkat ke atas. Raja Ehud langsung menyabet perut Erza. Namun, Erza sudah lebih dulu mundur menghindar. Erza langsung membalas menyerang. Ia berjalan membentuk lingkaran sambil berputar.

“TRANG!” lagi-lagi kedua pedang mereka beradu. Erza langsung menendang wajah Raja Ehud. “DAK!” tendangannya berhasil ditangkis oleh Raja Ehud. Raja Ehud langsung balik menyerang. Ia menendang pinggang Erza. Dengan cepat, Erza langsung memotong kaki Raja Ehud. Namun, “TRANG!” pedangnya ditahan oleh pedang bayangan Raja Ehud.

“Tak secepat itu, bocah!” kata bayangan itu.

“ZLEB!” tiba-tiba, bayangan itu ditusuk dari belakang.

“Masih ada kami, Ehud!” kata bayangan Erza. Bayangan Raja Ehud langsung lenyap bagaikan debu.

“Soal bayangan, serahkan saja pada kami.” kata bayangan Erza.
“Baik, terima kasih.” kata Erza. Ia kembali menghadap ke arah Raja Ehud.

“Sekarang, aku tahu sesuatu.” kata Erza. Ia melompat dan “BLUB!” ia masuk ke dalam cermin. Di dalam sana, ia langsung berbaur dengan bayangannya.

“Aku tahu mana Raja Ehud. Raja dengan tubuh dan pakaian yang lebih cerah itulah Raja Ehud.” kata Erza.

Tiba-tiba, terjadi sebuah keributan di dalam kerumunan bayangannya. Erza segera berlari ke arah sana. Rupanya, Raja Ehud sudah membantai seperenam dari seluruh bayangannya. Sementara itu, seluruh bayangan Raja Ehud baru hilang seperenambelasnya. Ini membuat jumlah bayangan keduanya tidak lagi seimbang. Erza yang tidak terima bayangannya dikalahkan begitu saja langsung menyerang Raja Ehud.

“Takkan kubiarkan kau menghabisi seluruh bayanganku!” teriak Erza. Ia berlari maju menyerang Raja Ehud.

“TRANG!” keduanya saling beradu pedang. Mereka berdua terus mengerahkan tenaga untuk menjatuhkan lawannya.

“GUBRAK!” Erza berhasil menjatuhkan Raja Ehud ke lantai. Erza langsung mengancamnya dengan pedangnya.

“Matilah kau, Raja Ehud!” Erza langsung menghunuskan pedangnya ke jantung Raja Ehud.

“Hmm…” Raja Ehud langsung masuk ke dalam cermin lainnya. “ZLEB!” pedang Erza tidak berhasil menusuk Raja Ehud, tetapi menusuk cermin.

“ZLEB!” Erza ikut masuk ke dalam cermin itu. Ketika ia masuk, Raja Ehud sudah masuk ke cermin lainnya. Erza pun mengikutinya. Mereka pun saling kejar-mengejar. Raja Ehud terus mempermainkan Erza dengan terus berlari. Erza terus mengejar Raja Ehud tanpa lelah. Mereka seperti bermain-main. Padahal, mereka sedang bertarung.

Sementara itu, para bayangan mereka sedang bertempur sekuat tenaga. Mereka saling mendesak satu sama lain. Para bayangan Erza terus bertempur tanpa lelah. Semangat juang mereka sangat tinggi. Walaupun jumlah mereka kalah dengan jumlah bayangan Raja Ehud, mereka terus bertempur tanpa rasa takut. Begitu juga dengan para bayangan Raja Ehud. Mereka terus bertempur sampai titik penghabisan.

“Ganyang habis mereka!” teriak para bayangan Erza. “Gayang terus sampai habis!”

“Bunuh mereka! Babat mereka! Jangan sisakan satu pun!” teriak para bayangan Raja Ehud.

Ruangan itu bagaikan sebuah medang pertempuran. Suara berisik para bayangan yang sedang bertarung terdengar begitu membahana. Suara pedang yang beradu pun terdengar sangat keras. Para bayangan mereka bertarung sekuat tenaga bagaikan para prajurit yang akan mengalahkan musuhnya. Sementara itu, raja mereka sedang bertarung sendirian menghadapi lawannya. Pertempuran itu benar-benar seperti pertempuran besar antara dua kerajaan.

Sementara itu, Erza dan Raja Ehud terus berlari. Raja Ehud terus menghindari kejaran Erza sedangkan Erza terus mengejar Raja Ehud.

“Kau takkan bisa menyerangku, Erza!” teriak Raja Ehud yang sudah lebih dulu kegirangan.

“Benarkah?” tanya Erza yang terus mengejar Raja Ehud.

“Buktinya, kau tidak bisa mendekatiku walau satu jengkal saja!” jawab Raja Ehud.

Erza semakin kesal dipermainkan oleh Raja Ehud. Dari tadi ia terus mengejar Raja Ehud. Namun, ia tidak berhasil mendekatinya.

“Ini harus memakai taktik. Tapi, taktik apa, ya?” gumam Erza.

Tiba-tiba, Erza melihat ke bawah kakinya. Saat itu juga, ia langsung mendapatkan ide.

“Oh, iya, kenapa tidak lewat bawah saja?” kata Erza. “Tapi, ini juga harus mencari kesempatan.” pikirnya.

Ia terus mengejar Raja Ehud. Namun, kali ini ia memperlambat kecepatan larinya. Hingga akhirnya, ia sangat jauh dari Raja Ehud. Raja Ehud yang tidak menyadari itu terus berlari.

“Apa kau sudah menyerah, bocah?” tanya Raja Ehud. Ia menunggu jawaban Erza hingga beberapa lama. Namun, Erza tidak menjawab.

“Aku anggap itu…”

Tiba-tiba, Erza sudah berada di bawahnya. Ia berhasil mengejar Raja Ehud dari bawah. Raja Ehud sampai terkejut. Ia menyangkal bahwa yang ada di bawahnya bukanlah Erza, tetapi bayangannya.

“Mana mungkin! Itu pasti bukan Erza. Itu pasti bayangannya.” kata Raja Ehud.

“ZLEB!” pedang Erza muncul dari bawah Raja Ehud. Spontan Raja Ehud langsung melompat. Dari tempat munculnya pedang Erza itulah Erza naik ke atas.

“Halo, Baginda Raja. Apa anda terkejut?” tanya Erza sambil tersenyum.
“Ya, aku terkejut. Aku mengakui kau sedikit hebat.” puji Raja Ehud. Ia mengarahkan pedangnya ke bawah, tepat di atas Erza.

“Namun, kau akan mati di sini!” teriak Raja Ehud sambil jatuh ke bawah dengan pedang yang diarahkan ke bawah, tepat di atas Erza.

Erza langsung memasang kuda-kuda. Ia bersiap-siap untuk menangkis serangan Raja Ehud.

“ZRAT!” kedua pedang mereka berhasil melukai tubuh mereka. Pedang Erza berhasil melukai perut Raja Ehud sedangkan pedang Raja Ehud berhasil melukai lengan kanan Erza. Raja Ehud langsung memutar tubuhnya dan mendarat ke lantai.

“Sepertinya, sekarang kita seimbang. Kau mendapatkan luka, aku juga mendapatkannya.” kata Raja Ehud.

“Begitu, ya?” kata Erza. Ia tertunduk sebentar. Lalu, ia langsung maju menyerang Raja Ehud. Bagaikan singa yang mengamuk, ia menyerang Raja Ehud dengan membabi-buta. Raja Ehud pun menyerang Erza dengan membabi-buta. Pertarungan pun menjadi semakin buas! Erza terus mendesak Raja Ehud. Kemudian, Raja Ehud berhasil membalikkan keadaan. Erza semakin terdesak. Namun, Erza berhasil berbalik menyerang Raja Ehud. Kali ini, giliran Raja Ehud yang terdesak.

Saat mereka bertarung, mereka tidak memerhatikan para bayangan mereka yang sedang bertempur. Dalam pertempuran itu, bayangan yang masih tersisa berjumlah enam bayangan. Empat bayangan Raja Ehud dan dua bayangan Erza. Karena bayangan Erza hanya tersisa dua bayangan, bayangan Raja Ehud langsung membantu Raja Ehud melawan Erza. Bayangan Erza yang mengetahui hal itu langsung ikut membantu Erza melawan Raja Ehud.

“Kau akan mati sekarang juga, Raja Ehud!” teriak Erza yang akan mengayunkan pedangnya.

“ZLEB!” tiba-tiba, empat bilah pedang mengarah ke Erza. Untungnya, ia tak tertusuk oleh keempat pedang itu. Namun, ia terkejut. Rupanya, dua bayangannya melindungi dirinya dari tusukan pedang-pedang itu.

“Para bayangan…”

“Tak apa-apa Erza. Kami berusaha melindungi kamu supaya kamu tidak terbunuh.” kata kedua bayangannya. Mereka berdua perlahan-lahan lenyap bagaikan debu. Erza hanya bisa melongo menyaksikan kejadian itu.

“Berjuanglah sampai titik penghabisan. Kami yakin kamu bisa mengalahkan Raja Ehud. Selamat tinggal.” kata kedua bayangannya.

“SSSSH…” kedua bayangan itu langsung lenyap tak berbekas. Kali ini, Erza harus menghadapi Raja Ehud dengan keempat bayangannya itu sendirian.

“Bersiaplah menuju kematianmu, Erza.” kata Raja Ehud. Keempat bayangannya langsung maju menyerang Erza.

“TRANG! TRANG! TRANG!” Erza terus menangkis semua serangan bayangan Raja Ehud. Ia tidak bisa lagi untuk membalas serangan keempat bayangan itu. Ia terus terdesak oleh keempat bayangan itu. Erza memutar-mutar pedangnya. Namun, ketika ia memutar-mutar pedangnya, keempat bayangan itu hilang tanpa jejak.

“Ke mana keempat bayangan itu?” tanya Erza sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.

Tiba-tiba, ia langsung disergap oleh keempat bayangan itu. Tanpa basa-basi, ia langsung diserang dari berbagai arah. Mulai dari atas, bawah, kiri, dan kanan. Ia ditendang, dipukul, bahkan ditusuk. Beberapa serangan berhasil ditangkisnya. Namun, ada juga serangan yang tidak berhasil ditangkisnya.

“BRUK!” Erza jatuh tersungkur di lantai. Mukanya lebam-lebam akibat pukulan dan tendangan. Perutnya terkena luka tusuk. Lengannya penuh dengan luka sabetan. Begitu pun dengan perutnya. Ia pun tidak bisa bergerak lagi.

“Tamatlah riwayatmu, Erza!” salah satu bayangannya akan menusuk jantungnya.

“Tunggu dulu! Biarkan dia hidup.” cegah Raja Ehud. Rupanya, ia berubah pikiran.

“Mengapa kau biarkan dia hidup?” tanya salah satu bayangannya.

“Dia harus melihat ini dulu.” kata Raja Ehud.

Raja Ehud mendekati sebuah tongkat yang berisi kekuatan rahasia Kerajaan Mirror. Kristal yang ada di atas tongkat itu diberi sebuah kunci kombinasi manual. Untuk membukanya, ia harus menggeser-geser batangan yang menguncinya. Dengan cekatan, Raja Ehud menggeser semua batangan itu.

“KRIEEET…” kristal itu terbuka. Cahaya biru yang terdapat dalam kristal itu langsung bersinar dari dalamnya. Berlian biru yang ada di dalamnya langsung ia ambil. Ia akan menggantinya dengan berlian merah.

Sementara itu, Erza hanya bisa melihat Raja Ehud yang akan segera mengganti berlian biru dengan berlian merah. Sebenarnya, ia tak mengerti apa yang akan terjadi jika berlian itu diganti. Namun, satu yang ia ketahui. Jika kekuatan rahasia Kerajaan Mirror diganti, akan terjadi malapetaka.

Tiba-tiba, ia merasa ada seseorang yang mendekatinya.

“Erza! Bapak kecewa denganmu. Mana hasil latihanmu selama ini!? Mengapa kau kalah begitu saja dari Raja Ehud!?” tanya orang itu.

“Pak Acep?” kata Erza lemas.

“Tunjukkan hasil latihanmu selama ini! Tunjukkan apa yang sudah kau dapatkan selama ini!” teriak Pak Acep.

Tiba-tiba, Pak Acep lenyap begitu saja. Kemudian, ia merasa ada seseorang yang mendekatinya lagi.

“Erza! Kau telah mengecewakan seluruh rakyat Mirror! Sampai-sampai ibu kecewa denganmu! Bagaimana dengan semua jerih payahmu selama ini!? Mana!? Mana!?” tanya orang itu.

“Maafkan aku, Bu Nia.” kata Erza.

Bu Nia tidak berkata apa-apa lagi. Ia lenyap begitu saja dari pandangan Erza. Kemudian, ia kembali merasakan kehadiran seseorang. Namun, kali ini, ia merasa ada tiga orang yang mendekatinya.

“Erza! Bangkit, Erza! Bangkit! Jangan kecewakan rakyat Mirror! Bangkitlah! Bangkit!” kata Guru Edi.

“Ya, Erza! Bangunlah sekarang juga.” kata Guru Ratna.

“Ayo, Erza. Kamu pasti bisa.” kata Guru Husein.

“Aku tidak bisa lagi, Guru Husein, Guru Ratna, Guru Edi.” kata Erza.

Seperti sebelumnya, ketiga gurunya langsung lenyap begitu saja. Kemudian, ia merasa didekati oleh dua orang.

“Erza! Apa ini yang dilakukan oleh seorang pangeran!? Apa pangeran tergeletak begitu saja!? Jika bukan, bangkitlah!” kata Paman Ade.

“Erza, kamu harus bisa bangkit lagi. Kamu ini seorang pangeran. Bangkitlah! Bangkit!” kata Master Evie.

Kali ini, Erza tidak berkata apa-apa lagi. Ia sudah kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan keduanya. Kedua orang itu langsung lenyap. Kemudian, ia merasa seseorang yang benar-benar disayanginya mendekatinya.

“Erza, bangkitlah. Kalahkan musuhmu. Ayo! Kamu pasti bisa!” kata ibunya, Ratu Alvia.

Erza hanya bisa tersenyum saja mendengar perkataan ibunya. Namun, itu hanya halusinasi. Ibunya langsung lenyap begitu saja seperti orang-orang sebelumnya.

Terakhir, ia merasa seseorang mendekatinya. Langkahnya terdengar begitu keras dan sangat cepat. Jantung Erza berdegup kencang. Kali ini, siapa yang mendekatinya.

“SRET!” orang itu menarik baju Erza. Erza pun ikut tertarik ke atas. Ketika diangkat, ia langsung terkejut. Ternyata, orang yang menarik bajunya adalah dirinya sendiri!

“Apa-apaan ini?” tanya Erza.

“PLAK!” orang itu menampar Erza dengan sangat keras.

“Bangkitlah, Erza! Jangan hanya diam tak berdaya! Kamu bukan semut yang mudah mati hanya dengan sekali injakan! Kamu adalah seorang pangeran! Pangeran! Jika kamu seorang pangeran, bangkitlah! Jangan biarkan raja lalim itu mengganti berlian kekuatan Kerajaan Mirror! Cegahlah sebelum itu terjadi! Kalahkan raja itu dengan kekuatanmu! Jika kamu merasa tidak kuat, bayangkan dirimu adalah seekor singa! Koyak lawanmu itu! Rebutlah segala sesuatu yang harusnya untukmu! Bangkitlah! Bangkit!” teriak orang itu.

Mata Erza langsung terbuka melotot. Ia melihat Raja Ehud sedang memasukkan berlian merah ke dalam kristal itu. Spontan ia langsung bangkit dan berlari ke arah kristal itu. Ia berusaha untuk mencegah perbuatan Raja Ehud. Namun…

“KRIEEET…” kristal itu sudah tertutup. Berlian biru sudah berada di dalam genggaman Raja Ehud. Dengan senyumnya yang licik, ia berkata, “Segalanya sudah berakhir. Kau tidak bisa mengalahkanku sekarang.”

“SRING!” kristal itu langsung bercahaya. Cahayanya yang merah menyala membuat silau mata. “SYUT!” cahaya itu merambat lurus ke atas. Namun, dengan nekat Erza memotong cahaya itu dengan cara menghalangi cahaya itu dengan pedangnya.

“SRIING! SRING!!” pedang itu langsung menyerap banyak cahaya. Saking banyaknya, Erza kesusahan mengendalikan pedangnya. Tangannya bergetar hebat.

Raja Ehud juga langsung ikut mengumpulkan cahaya yang memancar dari tongkat itu ke dalam pedangnya.

“SRIIIIING!” pedangnya juga langsung menyerap banyak cahaya. Kira-kira, setara dengan cahaya yang dikumpulkan oleh Erza. Erza berusaha mencegah usaha Raja Ehud untuk mengumpulkan banyak cahaya ke dalam pedangnya. Dengan nekat, ia mendorong pedang Raja Ehud dengan kaki kanannya.

“Ugh!” Erza berteriak kesakitan. Kakinya mulai melepuh dan terluka. Darah mulai mengucur dari kaki kanannya.
“Kau… kau akan mati sekarang juga!!!” teriak Erza. Ia langsung mengayunkan pedangnya ke arah Raja Ehud.

“Kau yang akan mati!!!” Raja Ehud pun mengayunkan pedangnya ke arah Erza. Namun, ia telat. Erza sudah lebih dulu mengayunkan pedangnya.

“ZLEB!” pedang Erza sudah berhasil mengenai kepala Raja Ehud. “ZREET…” ia membelah tubuh Raja Ehud.

Tiba-tiba, “BLAAAAAAAAR!” terjadi sebuah ledakan cahaya. Pedang Erza langsung mengeluarkan seluruh cahaya yang tersimpan di dalamnya. Mungkin pedang itu tidak sanggup menyimpan cahaya yang sangat banyak itu. Jadinya, pedang itu langsung mengeluarkan seluruh cahaya yang tersimpan di dalamnya.

Erza mencoba bertahan dari ledakan itu sambil memegangi pedangnya. Namun, “WUUNG!” ia tehempas jauh hingga masuk ke dalam lorong. “JDUG!” kepalanya membentur dinding lorong. “GUBRAK!” ia pun jatuh tersungkur kembali dan pingsan di tempat itu.

“SSSSH…” tubuh Raja Ehud sudah terbelah dua. Selain itu, tubuhnya hangus terbakar. Ia pun tewas mengenaskan. Cahaya di dalam pedangnya merambat ke atas. Cahaya di dalam kristal itu pun ikut merambat ke atas.

“SRIIIIING!” cahaya itu keluar menembus atap istana. Cahaya itu terus merambat hingga menembus awan. Cahaya itu semakin melebar dan membentuk setengah bola. Seluruh pemberontak dan rakyat Mirror dibuat terheran-heran.

“Cahaya apa itu?” tanya mereka semua.

Sementara itu, Pak Acep yang sedang duduk beristirahat di bukit langsung terkejut melihat cahaya yang berwarna merah menyala itu. Ia langsung bangkit dari duduknya dan mengamati cahaya itu.

“Apakah Erza sudah telat untuk melawannya? Ataukah dia sudah kalah?” tanya Pak Acep.

Cahaya itu terus melebar dan membesar. Sampai akhirnya seluruh kerajaan Mirror tertutupi oleh cahaya itu. Perlahan-lahan, cahaya itu lenyap. Namun, semua orang dibuat lebih terkejut lagi.

Langit di seluruh Kerajaan Mirror sangat gelap. Awan hitam menutupi langit yang cerah. “TAAAR! CTAAAR!” kilat terus menyambar. Udara menjadi sangat dingin. Sampai-sampai semua pemberontak menggigil kedinginan.



Seluruh tanah Kerajaan Mirror berguncang hebat. Para pemberontak sampai terjatuh ke tanah. “KRAK! KRAK!” tanah di sekitar istana kerajaan terbelah. Dari dalamnya, terlihat lahar yang sangat panas. Retakan tanah itu terus menyebar hingga mengelilingi istana kerajaan.

“Apa-apaan ini!?” tanya salah satu pemberontak.

Pohon-pohon dan tumbuhan di sekitar istana kerajaan mulai layu. Beberapa pohon dan tumbuhan aneh mulai tumbuh dengan pesat. Semua pemberontak semakin bingung.

Tiba-tiba, sebuah cahaya muncul lagi dari dalam istana kerajaan. Cahaya itu perlahan-lahan membesar. Seluruh tempat yang dilewati cahaya itu langsung kembali seperti semula. Istana yang sudah hancur setengahnya kembali utuh seperti sedia kala. Lahan-lahan pertanian yang kering kerontang pun langsung menghijau kembali. Para petani yang melihat kejadian itu langsung berlari ke tengah lahan sambil berteriak kegirangan.

“Woi! Lahan kita sudah kembali seperti semula. Tanamannya menjadi segar kembali!” teriak salah seorang petani.

“Terima kasih, Tuhan. Kau sudah mengembalikan lahan kami seperti sedia kala.” ucap petani lainnya.

Seluruh bangunan, tempat, dan semuanya yang sudah hancur kembali seperti semula karena cahaya itu, termasuk kapal layang yang jatuh di Pulau Leer Boden. Pak Anshor yang melihat kapalnya dari kejauhan langsung berteriak kepada teman-temannya.

“Woi, Lihat! Kapal layang kita jadi utuh lagi!” teriak Pak Anshor.

“Benarkah!? Mana!?” tanya teman-temannya. Pak Anshor menunjuk sebuah kapal yang ada di atas Pulau Leer Boden.

“Ajaib! Kapal layang kita jadi utuh lagi!” kata teman-temannya.

“Ayo kita bawa pulang!” teriak Pak Anshor.

“Ayo!” jawab teman-temannya serempak.

Sementara itu, keadaan di sekitar istana kerajaan sudah kembali seperti semula. Retakan tanah tertutup kembali. Pohon-pohon dan tumbuhan aneh mulai layu dan digantikan oleh pohon-pohon dan tumbuhan yang seperti dulu. Rerumputan tumbuh di atas tanah. Bunga-bunga yang indah pun ikut tumbuh. Udara yang awalnya dingin berangsur-angsur menjadi hangat kembali. Awan hitam yang menutupi langit telah hilang digantikan langit biru yang sangat cerah. Burung-burung kembali berkicau. Semua pemberontak takjub melihatnya. Mereka semua memasukkan kembali senjata mereka secara serempak.

“Wah, indahnya…” kata salah satu pemberontak.
“Ternyata, pemandangan di istana kerajaan indah, ya?” kata pemberontak lainnya.

Mereka terus memuji keindahan alam di sekitar istana kerajaan. Mereka pun berhenti melakukan pemberontakan dan pulang ke kota. Seluruh prajurit kerajaan telah tewas. Begitu pun dengan kawanan The Secret Five, orang-orang kepercayaan Raja Ehud dan kelima jenderal Kerajaan Mirror. Raja yang mereka hormati, Raja Ehud sudah tewas terbunuh oleh Erza di Miracle Special Space. Para algojo dan pembantu setia kerajaan membereskan mayat-mayat para prajurit dan pemberontak yang tewas dalam pemberontakan. Mereka menguburkan mayat-mayat itu di sebuah lapangan luas yang berada di bawah istana kerajaan. Selain itu, mereka juga mengobati teman-teman Erza dan para pemberontak yang terluka.


Erza membuka matanya perlahan-lahan. Ia merasa seseorang menggendong dirinya. Ketika ia sadar, ia melihat dinding-dinding istana sudah utuh kembali. Semua perabotannya pun kembali seperti semula. Erza benar-benar dibuat bingung.

“Erza? Kamu sudah bangun?” tanya seseorang yang menggendongnya.

“Ibu?” tanya Erza.

“Kamu sudah bangun, ya? Syukurlah.” kata ibunya.

Erza melihat-lihat ke sekelilingnya.

“Apa yang terjadi, bu? Bukannya istana sudah hancur di beberapa bagian?” tanya Erza.

“Ketika ibu mengganti kembali berliannya dengan berlian biru, apapun yang sudah rusak kembali seperti semula.” kata ibunya.

Erza tersenyum kecil.

“Kamu masih capek? Kalau masih, istirahatlah. Tidurlah lagi.” kata ibunya.

“Iya, bu.” jawab Erza. Ia kembali memejamkan matanya.

Erza sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini. Sejak ia diasingkan oleh Raja Ehud, hidupnya terasa berat. Tak ada kehangatan yang ia rasakan sejak itu. Namun, hari ini, ia kembali merasakan kehangatan yang ia rindukan.

Erza dan ibunya berjalan di pinggir ruangan istana. Cahaya matahari menembus jendela yang terdapat di pinggir dinding istana. Cahayanya menyelimuti Erza dan ibunya yang sudah kelelahan setelah bertarung dengan sengit. Sebuah senyuman tersungging di wajah Erza yang sedang tertidur lelap. Sebuah senyuman yang sangat bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya