Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2023

START! - Part 6 (TAMAT)

“Bang Arka?” “Iya?” Arka membalasku sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana. “Eh, Abang mau bayar dulu?” tanyaku sedikit gugup. “Bayar dulu aja, bang.” “Oke,” jawabnya singkat. Dengan ponselnya, ia memindai QR Code yang dipajang di meja kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah menerima struk pembayaran, ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Oh,” kata Arka sambil melirikku. “Tadi kamu mau bilang apa?” Mendadak, bicaraku jadi gagap. Aku gelagapan. “A … anu … Aku fans -nya Abang … hehehe … Aku udah lama ngikutin komik-komik Abang …” jelasku sambil cengengesan. “Hiii!” jerit Arka. “Ada stalker , suka ngikutin aku!” “Bu, bukan gitu, Bang!” kataku sambil berusaha mencegat Arka yang hendak pergi menjauhiku dengan tatapan ngeri. Setelah aku berkata begitu, Arka kembali berbalik ke arahku. “Wakakaka!” tawa Arka. “Canda, canda! Jangan panik gitu mukanya …” “Btw, gua agak keberatan kalo ada yang bilang fans gua,” ujar Arka. “Berasa kayak idol , soalnya.” “O, oke, Bang. So...

START! - Part 5

Hari-H pun tiba. Kami berempat sudah tiba di Indonesia Convention Center (ICE) BSD, tempat acara Comic Fest digelar. Dari Bandung, kami berangkat menggunakan travel dengan jadwal paling pagi, yaitu pukul lima. Kami sengaja mengambil jadwal travel paling pagi agar bisa mengejar jam buka acara sehingga kami bisa punya waktu yang panjang untuk berkeliling dan menikmati acara. Tadinya, kami ingin berangkat pada Jumat malam untuk mengantisipasi panjangnya antrian untuk masuk ke acara. Tapi, berhubung Brian dan Dito baru saja pulang kerja pukul lima sore, rencana itu dibatalkan. Jam tanganku saat ini menunjukkan pukul setengah sepuluh. Namun, antrian pengunjung sudah sangat menumpuk dan memanjang hingga mencapai area parkiran. Untungnya, kami berhasil mendapatkan tiket pre-sale yang kami beli setelah “berperang” dengan para pembeli lainnya di internet. Jadi, kami mengantri di jalur antrian khusus pemilik tiket pre-sale yang tidak sepanjang dan sepadat jalur antrian tiket on the spot (O...

START! - Part 4

Selang beberapa hari kemudian, aku di- chat melalui WA oleh Ari untuk ketemuan pada malam Sabtu di kafe tempat kami terakhir kali bertemu. Kali ini, ia juga mengajak dua teman kami yang lain: Brian dan Dito. Mereka berdua adalah teman kami di komunitas jejepangan di kampus. Mereka berdua berasal dari jurusan yang berbeda dengan kami. Brian dari Teknik Informatika dan Dito dari Ilmu Komunikasi. Karena saat ini aku sedang lowong, aku pun mengiakan ajakan Ari. Hari ketemuan pun tiba. Aku sudah duduk di kafe bersama Ari, Brian, dan Dito. Pada ketemuan hari ini, aku membawa tas ransel yang berisi laptop dan drawing tablet . Meski aku masih galau untuk ikut kontes, aku tetap membawa dua benda ini. Brian dan Dito adalah orang yang mendalami anime, manga, dan kultur Jepang lebih dari Ari. Bisa dibilang, kegemaran mereka berdua terhadap anime dan manga sudah sampai level otaku . Bertemu dengan kedua orang itu mungkin bisa memberiku ilham untuk membuat komik. Itu sebabnya aku membawa peralata...

START! - Part 3

Dalam tidur, aku bermimpi. Aku sedang membuka ponselku, melihat pengumuman kontes webtoon di aplikasinya. Kucari karyaku di daftar pemenang pertama, pemenang kedua, pemenang ketiga … Tidak ada karyaku di ketiga-tiganya. Aku scroll dan refresh halaman pengumuman itu berkali-kali tetap saja tidak ada karyaku muncul di sana. Sambil masih menggenggam ponsel, aku diam mematung. Kemudian, kedua orang tuaku berdiri di hadapanku dengan wajah masam. “Sudah ibu bilang, kan? Ngapain kamu bikin-bikin komik kayak gitu? Mending cari kerja aja,” omel ibuku. “Dari dulu, udah bapak bilang kan? Berhenti bikin komik! Kerjaan nggak jelas kayak gitu. Emangnya kamu bisa sukses dari komik, hah!?” hardik bapakku. “Harusnya kamu itu belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai bagus dan dapat pekerjaan yang jelas. Bukan bikin ginian!” ujar bapakku sambil menunjuk ponselku yang sedang kupegang. Dari situ, dimulailah ceramah panjang kedua orang tuaku. Mereka mulai membanding-bandingkan diriku dengan ...

START! - Part 2

Akhirnya, setelah sekitar dua jam duduk di kafe, aku pun memutuskan untuk pulang. Kututup laptopku dan kumasukkan ke dalam tas. Lalu, aku melangkah keluar dari kafe menuju motorku yang berada di area parkiran sambil menggendong tas ransel dan menenteng helm. Kukenakan helmku sebelum kunaiki motor beat -ku dan menyalakannya. Setelahnya, kupacu motorku menuju rumahku di Antapani melewati jalanan Dago siang hari yang sedikit ramai oleh kendaraan. Sepanjang jalan, pertanyaan Ari terus menempel di kepalaku. “ Maneh serius pingin jadi komikus webtoon kan?” Duh, memikirkan pertanyaan itu malah bikin aku kesal! Rasanya, ingin kugaruk keras-keras kepalaku agar pertanyaan itu rontok dari kepalaku. Niat cari ide malah dapat beban pikiran baru. Tapi, saat ini, aku harus fokus. Pikiran itu tidak boleh mengganggu konsentrasiku di jalanan. Kalau tidak, mungkin tadi aku sudah menabrak mobil yang melintang di depanku. Setelah sekitar empat puluh menit berkendara, aku pun sampai di depan rumahku yang ...

START! - Part 1

Mengapa kita membuat cerita fiksi? Fiksi, menurut Yuval Noah Harari, adalah realitas yang diyakini banyak manusia meskipun tidak memiliki ciri fisik yang dapat diamati. Fiksi mencakup hal-hal seperti uang, negara, dan ideologi. Cerita rakyat seperti fabel, mitos, dan legenda pun termasuk di dalamnya. Kemampuan membuat fiksi ini hanya dimiliki oleh manusia. Karenanya, manusia dapat bersatu dan bekerja sama dalam jumlah yang amat besar sehingga dapat mempertahankan eksistensinya selama ratusan ribu tahun. Dalam banyak budaya, cerita fiksi memiliki tempat tersendiri. Di Arab, ada syair yang banyak digemari masyarakat setempat. Di bangsa Viking, ada profesi yang disebut dengan skald . Sementara itu, Indonesia sendiri kaya akan bentuk cerita fiksi. Salah satunya adalah cerita pewayangan. Semua cerita dalam kebudayaan itu memiliki kesamaan: mengandung nilai-nilai kehidupan suatu kebudayaan. Saat ini, cerita fiksi bukan lagi tentang nilai-nilai yang diturunkan. Bercerita sudah menjadi mata...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 6

Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba. Liana, Kian, Kalya, dan teman-teman hantu yang lain berjalan menuju gedung olahraga sekolah. Mang Ade pun ikut bersama mereka. Ia juga membawa hantu-hantu kenalannya sebagai bala bantuan. Matahari sudah berada di sebelah barat saat mereka menyusuri koridor sekolah untuk sampai di tempat tujuan mereka. Sepanjang jalan, Liana melihat beberapa murid mondar-mandir berkeliaran sambil mengenakan baju bebas. Ada pula yang tampak berkeringat dengan baju olahraga melekat di badan dan handuk menggantung di leher. Hari ini memang ada jadwal pertandingan liga basket sekolah yang selalu diadakan tiap tahunnya. Aksi mereka sudah direncanakan untuk dilakukan pada hari ini, seperti yang telah disampaikan dalam rapat strategi kelompok hantu. … “Berdasarkan informasi dari teman indigonya Kalya, bakal ada jadwal liga basket di sekolah saat weekend dalam waktu dekat ini. Katanya, di hari itu, ada banyak pertandingan yang dimulai dari pagi sampai menjelang magri...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 5

Sosok tanpa kepala itu mendekat ke arah Kian dan Kalya, melewati Liana yang masih diam terkejut melihatnya. Dengan santainya, sosok itu menyapa mereka berdua. “Malam, Kian, Kalya. Gimana kabarnya?” “Ya, gini-gini aja, Mang. Namanya juga hantu,” jawab Kian. Kian, Kalya, dan tukang sate tanpa kepala itu menoleh ke arah Liana. Mereka melihat Liana tampak diam gemetaran. Ia menggenggam tangan kirinya yang sedikit terkepal dengan tangan kanannya dan ia angkat ke depan dadanya. Dengan posisi tangan seperti itu, ia menunjuk tukang sate itu. “I … itu … kepalanya nggak ada …” kata Liana gemetaran. “Ooh …” kata Kian dan Kalya. Kemudian, mereka berdua tertawa tergelak-gelak. “Oh, ya, mang,” kata Kian masih sambil tertawa. “Kenalin, Liana. Hantu baru di sini.” “Mang Ade,” kata tukang sate tanpa kepala itu sambil sedikit membungkuk ke arah Liana yang masih gemetaran. “Kepala … kepala …” sebut Liana sambil menunjuk-nunjuk tukang sate tanpa kepala itu. “Mang, kayaknya Liana nanya di mana kep...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 4

Kian dan Kalya saling melirik satu sama lain. Raut murung tampak tergambar di muka mereka. Liana merasakan adanya aura kegelisahan di antara mereka berdua. Ia lalu bertanya. “Kenapa? Kalian ragu?” “Anu,” Kalya membuka suara. “Sebenarnya, kita udah pernah coba buat balas perbuatan mereka. Cuma …” “Ya, gitu. Kita selalu gagal,” lanjut Kian. Liana terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja kupingnya dengar. Gagal? “Lah, gimana bisa gagal? Kita ini kan hantu, arwah gentayangan. Kok bisa kalah sama orang yang masih hidup?” tanya Liana dengan nada agak meninggi. “Kamu pikir kamu bisa balas dendam dengan menjadi hantu?” Kalya bertanya balik. Ia menghela napas. “Ya, wajar sih kamu mikir kayak gitu. Aku juga dulu kayak kamu.” “Waktu aku meninggal dan jadi arwah gentayangan, aku pikir aku bisa menakut-nakuti para pelaku bullying sampai mereka ketakutan dan ngaku perbuatan mereka. Nyatanya, tidak. Setelah beberapa kali ditakuti, mereka semua dikasih jimat penangkal kekuatan gai...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 3

… “PLAK!” terdengar suara hantaman yang amat nyaring. Sesaat setelahnya, keadaan menjadi hening sebelum kemudian terdengar suara bentakan dari seorang perempuan. “Heh, kalian! Tau, nggak, kalo ini teritori kami!?” Perempuan yang berteriak itu adalah Via, pemimpin geng cewek yang paling terkenal di sekolah Liana. Ia berdiri sambil menyilangkan tangan di depan Liana dan temannya, Kirana, yang sedang berlutut. Penampilannya tipikal anak berandalan: dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, bagian bawah kemejanya tidak dimasukkan ke dalam rok, dan gincu merah terulas di bibirnya. Dengan buku teks matematika yang tebal di tangannya, ia barusan menghajar Kirana sampai pipinya memerah. “Ma … maaf, kak …” kata Kirana dengan suara yang lemah. Ia dan Liana memang tidak sengaja melewati tongkrongan geng Via ketika pulang sekolah. “Heh, ini anak dua-duanya gak punya sopan santun! Masa tadi pas di kantin mereka nyelonong lewat di depan kakak kelasnya!?” timpal salah seorang anggota geng Vi...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 2

Setelah terdiam sejenak, Liana meneruskan lagi perjalanannya ke sekolah menembus gelapnya malam. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, ia akhirnya sampai di sekolah. Di sana, suasananya benar-benar sepi dari riuh suara para siswa. "Wajar, masih malam," pikirnya. Ia memperhatikan hanya ada pak satpam yang berjaga di posnya saat ini. Ngomong-ngomong soal satpam, ia tiba-tiba merasa salut dengan satpam-satpam di sekolahnya yang rela dan berani terjaga semalaman untuk menjaga sekolahnya. Soalnya, banyak rumor soal hantu yang beredar di antara siswa-siswi di sekolahnya. Sebagian rumor itu bahkan berasal dari para satpam yang bekerja di sekolahnya. Berdasarkan rumor, ada banyak titik yang angker di sekolahnya. Menurutnya, mungkin itu wajar mengingat sekolahnya sudah berusia tua dan menempati bekas bangunan kolonial. Namun, di antara banyak titik angker di sekolahnya, ada satu titik yang disebut-sebut paling angker. Pepohonan di pagar sisi barat sekolah. Sekilas, tampak t...

Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 1

Liana terpaku sambil memandang jasad perempuan remaja di depannya. Tubuh perempuan itu tertelungkup di atas aspal yang panas terpanggang sinar matahari. Seragam putih abu melekat di tubuhnya. Darah segar mengucur dari balik rambutnya yang lurus panjang tergerai menutupi wajahnya. Tak lama kemudian, para warga di sekitar buru-buru menghampiri perempuan yang terbujur kaku itu, sementara sebagian warga lain berusaha menahan sopir angkot yang ugal-ugalan mengebut angkotnya sehingga mencelakai perempuan itu. Liana yang dilanda penasaran menembus kerumunan warga yang mengerumuni jasad perempuan itu. Ketika berhasil sampai di kerumunan paling depan, ia melihat beberapa warga mengangkat dan membalikkan jasad yang terkulai lemas itu. Ia tercengang. Saking tercengangnya, ia harus menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan kedua tangannya. Perempuan itu memiliki wajah serupa dengannya. Segala sesuatu pada perempuan itu persis seperti pada dirinya. Liana yakin, perempuan itu adalah dirinya. Ti...