START! - Part 4
Selang beberapa hari kemudian, aku di-chat melalui WA oleh Ari untuk ketemuan pada malam Sabtu di kafe tempat kami terakhir kali bertemu. Kali ini, ia juga mengajak dua teman kami yang lain: Brian dan Dito. Mereka berdua adalah teman kami di komunitas jejepangan di kampus. Mereka berdua berasal dari jurusan yang berbeda dengan kami. Brian dari Teknik Informatika dan Dito dari Ilmu Komunikasi. Karena saat ini aku sedang lowong, aku pun mengiakan ajakan Ari.
Hari ketemuan pun tiba. Aku sudah duduk di kafe bersama Ari, Brian, dan Dito. Pada ketemuan hari ini, aku membawa tas ransel yang berisi laptop dan drawing tablet. Meski aku masih galau untuk ikut kontes, aku tetap membawa dua benda ini. Brian dan Dito adalah orang yang mendalami anime, manga, dan kultur Jepang lebih dari Ari. Bisa dibilang, kegemaran mereka berdua terhadap anime dan manga sudah sampai level otaku. Bertemu dengan kedua orang itu mungkin bisa memberiku ilham untuk membuat komik. Itu sebabnya aku membawa peralatan menggambar komikku pada ketemuan ini.
“Jadi, kenapa lu mau ketemuan hari ini?” tanyaku sebagai pembuka obrolan.
“Nggak boleh, ya, emang, ketemuan sama kalian semua?” Ari bertanya balik.
“Kita, ya, cuma mau nongkrong bareng aja, Ka,” Brian nimbrung dalam obrolan. “Kan gua sama Dito udah kerja. Kerja itu capek, bosen. Mana nggak ada anak-anak di kantor yang suka jejepangan juga.”
“Hoo …” kataku sambil mengangguk-angguk.
“Btw,” kata Dito. “Kata Ari lu lagi bikin komik buat ikut kontes webtoon? Gimana tuh progress-nya?”
“Yah … masih cari-cari ide,” jawabku.
“Ini anak malah galau pas kemarin ketemu gua. Katanya dia bingung apa mau lanjut ikut kontes atau nggak,” cerita Ari kepada Brian dan Dito. Sambil bercerita, ia mengangkat telunjuknya ke arahku sambil tertawa.
“Njir! Lagian lu pake nanya-nanya apa gua mau tetap jadi komikus webtoon atau nggak,” sanggahku.
“Wakakaka!” Ari tertawa. “Cuy, si Raka baperan!”
Brian dan Dito pun ikut tertawa bareng Ari. Mereka bertiga tertawa cukup lama hingga membuatku agak kesal.
“Eh, serius,” kata Dito setelah tawanya berhenti. “Lu, kok, galau mau ikutan kontes aja?”
“Nggak tau, gua,” kataku. “Ibu gua udah sering ngasih lowongan kerja. Tapi, gua nggak mau ngelamar. Soalnya, semua lowongan kerjanya jadi pegawai di bank atau perusahaan dan gua nggak mau itu …”
“Kalau orang tua gua tau gua lebih fokus bikin komik daripada cari kerja …”
Ari, Brian, dan Dito terdiam mendengar ceritaku.
“Bener juga,” kata Ari. “Lu pernah cerita kan kalau ortu lu marah pas liat kamu bikin komik. Sampai-sampai kertas yang lagi lu gambar ditarik gitu aja sama bapak lu.”
“Serius? Sampai segitunya?” tanya Brian dengan raut muka terkejut.
“Serius,” jawabku. “Bapak sama ibu gua orangnya kolot. Keras kepala pula. Sukses di bayangan mereka itu kalau anaknya bisa kerja di bank, pemerintahan, atau swasta.”
“Oalah …” kata Brian.
“Beberapa hari kemarin, aku sempat mimpi dimarahin ortu gara-gara nggak lolos kontes webtoon. Di mimpi itu, mereka ngehina-hina kerjaanku bikin komik …” ceritaku sambil tertawa kecil.
Ketika aku menceritakan mimpiku, teman-temanku menjadi terdiam. Dari raut wajah, mereka seperti tampak menaruh iba kepadaku.
“Raka, apa lu setakut itu ketauan gambar komik sama ortu lu?” tanya Brian.
“Mmm …” Aku hanya bergumam. Tak menjawab pertanyaan Brian.
“Apa jangan-jangan itu yang bikin lu ragu buat ikut kontes?” Ari ikut bertanya.
Kali ini, aku terdiam. Aku tak menggumam. Apalagi menjawab pertanyaan mereka berdua.
“Btw,” kata Dito. “Daripada lu ragu, mending minggu depan main ke Comic Fest di BSD!”
“Comic Fest?” tanyaku seperti orang yang baru sadar dari lamunannya.
“Ya, Comic Fest!” jawab Dito bersemangat. “Event-nya para kreator indie kumpul dan jualan hasil karya mereka!”
“Oh, iya,” timpal Brian. “Tadi, tuh, kita mau bahas Comic Fest. Cuma topik obrolan kita jadi belok gara-gara lu galau pas ditanya soal kontes webtoon.”
“Emang di Comic Fest ada apa?” tanyaku.
“Iiih …” kata Dito dengan sedikit kesal. “Kayak yang udah aku bilang tadi. Itu ajang kumpul para kreator indie! Sekalian refreshing, kali-kali aja lu dapat motivasi atau ilham.”
“Kabarnya komikus webtoon Arka juga bakal buka booth di Comic Fest, Ka,” celetuk Ari.
Arka? Aku yang mendengar nama itu disebut langsung bertanya balik dengan spontan.
“Arka, mz_arka itu?”
“Iya.”
Arka atau yang dikenal dengan nama mz_arka itu komikus webtoon favoritku! Ia sudah membuat banyak karya yang berhasil masuk komik official webtoon. Sebagian besar komik karyanya bertemakan aksi, petualangan, dan fantasi. Aku suka sekali dengan karya-karyanya. Tak ada satu pun karyanya yang tak kubaca. Namun, satu karyanya yang suka kubaca adalah Khilaf Komik, komik tentang para penggemar jejepangan yang selalu boros dalam keuangan mereka gara-gara tak bisa mengontrol nafsu mereka untuk membeli pernak-pernik jejepangan yang mahal harganya. Selain karena masih ongoing, komik ini pun lucu dan relate dengan kehidupanku sehari-hari yang dikelilingi oleh teman-teman pencinta budaya Jepang, termasuk anime dan manga.
Selain karena karya-karyanya, aku juga mengidolakan mz_arka karena ia berhasil sukses dalam dunia perkomikan meski bukan dari jurusan seni rupa dan desain. Ia adalah lulusan Teknik Informatika yang awalnya senang menggambar. Kemudian, ia memutuskan untuk lebih serius menggambar dan membuatnya menjadi ladang cuan baginya. Karena konsistensinya untuk mengembangkan keahlian menggambarnya, ia pun menjadi sukses seperti sekarang.
Kalau aku bertemu mz_arka, mungkin aku bisa banyak bertanya kepadanya. Mungkin juga aku bisa ketularan sukses darinya!
“Kapan Comic Fest-nya dibuka!?” tanyaku spontan. “Kita harus pergi ke sana!”
“O … oke … Chill, bro,” kata Dito sambil menggerakan kedua tangannya ke depan, memberi isyarat bagiku yang tiba-tiba terlalu bersemangat untuk tenang.
“Acaranya weekend depan, Ka,” kata Brian.
“Kalau semua pada sepakat mau pergi, ayo kita bahas soal tiket masuk sama transportasi ke sana,” kata Ari.
Pada ketemuan hari itu, kami pun membahas soal rencana kami pergi ke Comic Fest.
[Bersambung]
Komentar
Posting Komentar