Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 5
Sosok tanpa kepala itu mendekat ke arah Kian dan Kalya, melewati Liana yang masih diam terkejut melihatnya. Dengan santainya, sosok itu menyapa mereka berdua.
“Malam, Kian, Kalya. Gimana kabarnya?”
“Ya, gini-gini aja, Mang. Namanya juga hantu,” jawab Kian.
Kian, Kalya, dan tukang sate tanpa kepala itu menoleh ke arah Liana. Mereka melihat Liana tampak diam gemetaran. Ia menggenggam tangan kirinya yang sedikit terkepal dengan tangan kanannya dan ia angkat ke depan dadanya. Dengan posisi tangan seperti itu, ia menunjuk tukang sate itu.
“I … itu … kepalanya nggak ada …” kata Liana gemetaran.
“Ooh …” kata Kian dan Kalya. Kemudian, mereka berdua tertawa tergelak-gelak.
“Oh, ya, mang,” kata Kian masih sambil tertawa. “Kenalin, Liana. Hantu baru di sini.”
“Mang Ade,” kata tukang sate tanpa kepala itu sambil sedikit membungkuk ke arah Liana yang masih gemetaran.
“Kepala … kepala …” sebut Liana sambil menunjuk-nunjuk tukang sate tanpa kepala itu.
“Mang, kayaknya Liana nanya di mana kepala Mang,” kata Kalya. “Tolong tunjukkin.”
“Ooh, oke,” Mang Ade bergeser sedikit dari gerobak satenya. Tampak sebuah kepala di rak gerobak sate. Mang Ade memutar kepala itu sehingga mukanya menghadap ke arah Liana. Kepala itu tersenyum ke Liana.
“Waa!” Liana semakin dibuat terkejut. Saking terkejutnya, ia hampir saja melompat dan terjatuh.
Lagi-lagi, Kian, Kalya, dan Mang Ade tertawa melihat kelakuan Liana.
“Mang Ade, Liana ini masih baru jadi hantu. Dia meninggal sekitar tiga hari yang lalu,” jelas Kian kepada Mang Ade.
“Oh, gitu,” kata Mang Ade. “Maaf, ya, kalau Mang ngagetin Neng.”
“Ayo, Mang, kita duduk dulu,” ajak Kian.
Mang Ade menepikan gerobak satenya di pinggir trotoar. Setelah itu, ia bergabung dengan Kian dan Kalya yang sudah duduk di trotoar bersama hantu-hantu lainnya. Liana yang sudah mulai berkurang tegangnya gara-gara melihat sosok Mang Ade yang badan dan kepalanya terpisah ikut duduk bersama mereka.
“Jadi, Mang Ade, bisa cerita lagi kapan Mang Ade meninggal? Soalnya, kita kedatangan hantu baru di sini,” kata Kian.
“Gini,” Mang Ade membetulkan duduknya sebelum mulai bercerita. “Mang udah meninggal kira-kira lima belas tahun lalu. Waktu Mang lagi jualan di malam hari kayak biasa, Mang lewat jalan gede yang sepi. Waktu itu, tiba-tiba dari belakang Mang ada dua orang naik motor ngebut banget sambil boncengan. Leher Mang disabet sama yang dibonceng. Habis disabet, Mang sempat hilang kesadaran. Tahu-tahunya, pas sadar, Mang lihat kepala Mang udah kepisah dari badan. Dari situ, Mang sadar kalau Mang udah meninggal.”
Liana mendegarkan cerita Mang Ade sambil menggumam dan mengangguk-angguk kecil.
“Sewaktu meninggal, Mang Ade ini meninggalkan istri sama dua anaknya yang masih kecil. Jadi, Mang Ade ini punya keinginan buat membahagiakan keluarganya, tapi nggak kesampaian,” Kian melanjutkan cerita Mang Ade.
“Selain itu, Mang Ade juga nggak pernah tahu apa pelaku yang membunuhnya udah ketangkap.”
Mendengar cerita Mang Ade, Liana tertegun.
“Kalau Neng Liana sendiri gimana?” tanya Mang Ade.
“Aku … tertabrak angkot waktu mau nyebrang jalan …” jawab Liana.
“Aah …” lirih Mang Ade. “Mang turut berduka cita …”
“Oh, ya, Mang Ade, Liana juga korban bullying,” imbuh Kian.
Mang Ade terkejut. “Oh, iya? Kasihan pisan …”
“Kok di sekolah kalian banyak kasus bullying?” Mang Ade heran.
“Aku juga nggak tahu, Mang,” jawab Kian. “Suka kali mereka nyiksa orang.”
“Ngomong-ngomong bullying, Liana tadi mau ngajak kita buat ngehantuin para pem-bully,” ungkap Kian kepada Mang Ade.
Mendengar Kian bercerita begitu, Liana langsung bertanya kepada Mang Ade.
“Mang Ade, apa Mang Ade punya ide buat nakut-nakutin mereka? Atau Mang Ade punya kenalan hantu-hantu yang kuat?”
Mang Ade menantap Liana. Sama seperti Kian dan Kalya, raut wajahnya tampak menunjukkan keraguan. Alih-alih bertanya balik ke Liana, ia bertanya ke Kian sambil berbisik.
“Dia mau minta kalian buat bikin kekacauan lagi di sekolah?”
“Itu dia, Mang,” kata Kian. “Dia ngotot buat ngelakuin itu.”
Kian dan Mang Ade melirik ke arah Liana
“Liana, kenapa kamu mau nakut-nakutin mereka?”
“Lah, kenapa?” tanya Liana keheranan. “Jelas buat balas dendam dong!”
“Liana,” kata Mang Ade. “Ada bedanya antara nakut-nakutin mereka biar mereka ketakutan sampai mati dan nakut-nakutin mereka biar mereka mengakui perbuatan mereka.”
“Kalau pingin mereka mati, kamu lakukan aja sendiri. Atau Mang bisa minta hantu lain buat ngajarin kamu caranya,” jelas Mang Ade. “Kalau pingin mereka mengakui perbuatan mereka, itu mah, susah.”
Perkataan Mang Ade malah membuat Liana bimbang.
“Kalau kamu gimana, Kalya?” tanya Liana.
“Tadinya, aku sempat kepikiran buat bunuh mereka,” kata Kalya. “Tapi, teman indigoku ngelarangku. Katanya, dia nggak mau aku jadi pembunuh meski aku udah mati …”
“Kian …”
“Aku juga sempat mau bunuh para pem-bully. Tapi … entah kenapa … aku selalu nggak bisa ngelakuinnya.”
Suasana menjadi hening setelah Kian dan Kalya bercerita. Kemudian, Kalya bersuara, memecah keheningan.
“Liana, meski kami hantu, kami masih punya hati. Meskipun aku punya dendam kesumat dengan para pem-bully, teman indigoku sering memohon-mohon kepadaku untuk tidak membunuh.”
“Selain kasus bullying belum tentu terungkap setelah para pelakunya mati, dia juga bilang nggak mau aku jadi hantu jahat.”
“Katanya,” timpal Kian. “Jika hantu membunuh orang hidup untuk pertama kalinya, dia cenderung akan membunuh lagi. Lama-kelamaan, hati nuraninya mulai lenyap dan dia berubah menjadi hantu jahat.”
Liana terdiam untuk sesaat.
“Tapi, aku pingin ngasih pelajaran ke mereka …” kata Liana. “Mereka nggak bisa dibiarkan begitu aja …”
Mang Ade menggumam mendengar Liana yang begitu ngotot ingin balas dendam. Ia pun berpikir. Wajahnya yang ia letakkan di depan badannya tampak mengerut. Matanya terpejam. Ia sepertinya sedang berpikir keras memikirkan perkataan Liana.
Selang beberapa lama, Mang Ade membuka mata. Sambil membawa kepalanya, ia bangkit dari duduk dan mengajak Kian dan Kalya untuk sedikit menjauh dari kelompok.
“Ada apa?” tanya Kian.
“Lakukan aja itu,” jawab Mang Ade. “Ya, meskipun kita tahu Mbah itu pasti bakal datang lagi.”
“Lagipula,” kata Mang Ade sambil melirik ke arah sekolah. “Kayaknya, energi pelindungnya sudah melemah.”
“Ya, intinya, kita lakuin ini biar dia senang aja.”
“Ayo, kita balik lagi,” ajak Mang Ade.
Mang Ade bersama Kian dan Kalya kembali ke dalam kelompok. Kali ini, tatapan mereka tampak serius.
“Ayo, kita bahas cara buat nakutin para pem-bully,” kata Kian.
Sejak malam itu hingga beberapa malam berikutnya, kelompok hantu itu membahas strategi untuk menakut-nakuti para pelaku bullying.
[Bersambung]
Komentar
Posting Komentar