Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 1

Liana terpaku sambil memandang jasad perempuan remaja di depannya. Tubuh perempuan itu tertelungkup di atas aspal yang panas terpanggang sinar matahari. Seragam putih abu melekat di tubuhnya. Darah segar mengucur dari balik rambutnya yang lurus panjang tergerai menutupi wajahnya.

Tak lama kemudian, para warga di sekitar buru-buru menghampiri perempuan yang terbujur kaku itu, sementara sebagian warga lain berusaha menahan sopir angkot yang ugal-ugalan mengebut angkotnya sehingga mencelakai perempuan itu. Liana yang dilanda penasaran menembus kerumunan warga yang mengerumuni jasad perempuan itu. Ketika berhasil sampai di kerumunan paling depan, ia melihat beberapa warga mengangkat dan membalikkan jasad yang terkulai lemas itu. Ia tercengang. Saking tercengangnya, ia harus menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan kedua tangannya. Perempuan itu memiliki wajah serupa dengannya. Segala sesuatu pada perempuan itu persis seperti pada dirinya.

Liana yakin, perempuan itu adalah dirinya. Tidak mungkin yang lain. Tapi … bagaimana bisa?

“Pak! Bu!” Liana memanggil orang-orang di sekitarnya sambil berusaha meraih bahu mereka. Namun, tiada seorang pun yang mengacuhkannya.

“PAK! BU!” Liana meninggikan suaranya. Ia kembali memanggil orang-orang di sekitarnya yang mulai membubarkan diri dari jalan tempat kecelakaan. Lagi-lagi, tak ada yang membalas panggilannya.

Liana pun berhenti berteriak. Tiba-tiba, ia merasa tubuhnya ringan. Tak lama, ia merasa linglung. Ia bingung dengan apa yang sudah terjadi. Para warga ramai-ramai menggotong tubuhnya dari jalan. Tapi, ia sendiri berdiri di belakang kerumunan para warga.

“Apa ini artinya … aku sudah mati?” batinnya sembari menatap badannya sendiri.

Hati Liana terguncang. Ia tak menyangka ajal menjemputnya di waktu yang tak ia duga dan di usia yang masih muda. Padahal, masih ada segudang impian yang ingin ia wujudkan: masuk universitas ternama, traveling bersama teman-teman, lanjut studi S2 di luar negeri, membahagiakan orang tua, dan masih banyak lagi impiannya untuk disebutkan. Bahkan, ia tidak bisa merayakan sweet seventeen-nya yang akan jatuh pada weekend depan. Ia juga tak dapat menyantap rawon buatan ibunya yang sangat ia suka.

Kalau tahu hari ini adalah hari kematiannya, ia pasti akan berpamitan dengan ayah dan ibunya. Namun, namanya juga kematian, tidak ada yang tahu kapan ia datang.

Tiba-tiba, Liana mendengar suara sirene ambulans dari kejauhan. Suara itu semakin lama semakin keras pertanda ambulans itu melaju mendekat ke arahnya. Ambulans itu kemudian parkir di tepi jalan. Dari dalamnya, para petugas medis bergegas keluar, mendekati kerumunan warga, lalu menggotong jasad Liana untuk dimasukkan ke dalam ambulans.

Liana menyaksikan itu semua sambil berdiri kaku. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir dari kedua mata Liana. Sementara itu, rasa sedih dan marah berkecamuk di pikirannya. Di tengah pikirannya yang kacau, ia buru-buru ikut menumpang ke dalam ambulans untuk mengikuti ke mana jasadnya akan dibawa pergi.

Jasad Liana pun dibawa ke rumah sakit terdekat untuk dilakukan otopsi. Setelah melalui serangkaian proses otopsi, jasad Liana disemayamkan untuk sementara di ruang jenazah. Arwah Liana dengan sabar mengikuti ke mana pun jasadnya dibawa lantaran ia tidak tahu harus ke mana lagi setelah meninggal. Berselang lama kemudian, kedua orang tuanya datang ke ruang jenazah, menghampiri jasad putrinya yang sudah kaku membeku. Seketika, tangis keduanya pecah. Sang ayah tampak menangis tersedu-sedu, sementara sang ibu meraung-raung sambil mengguncang-guncang jasad anak semata wayangnya.

Tak lama setelah itu, hari pemakaman pun tiba. Ayah, ibu, paman, bibi, dan sepupu Liana tampak hadir di acara itu. Selain itu, hadir pula para pelayat lain: teman-teman komplek, guru-guru dan teman-teman SMP, serta para guru dan teman SMA Liana. Di antara para pelayat, Liana berdiri menyaksikan pemakamannya sendiri. Ia menyaksikan saat-saat jasadnya akan dikebumikan. Ayah dan ibunya masih tampak menangis melihat putrinya akan dikuburkan di dalam tanah yang sempit dan dingin, sementara sahabat-sahabat dekatnya tampak mengusap air mata mereka yang terus meleleh dengan tisu. Para pelayat lainnya tampak memasang raut muka berduka.

Seusai acara pemakaman, para pelayat membubarkan diri. Dimulai dari para guru dan teman sekolah Liana lalu sahabat-sahabat dekatnya. Tersisalah keluarga besar Liana yang berusaha menguatkan hati ibunya agar menerima kepergian Liana dengan tabah. Kira-kira, ada setengah jam sang ibu meratapi kuburan Liana setelah sahabat-sahabat Liana pergi. Setelah ibunya tenang, keluarga besar Liana pun meninggalkan tempat pemakaman.

Kini, tinggalah arwah Liana sendiri menatap kuburannya sambil duduk memeluk lutut. Ia terus menatap batu nisannya sendiri dengan pikiran yang kosong. Tanpa ia sadari, langit biru telah berubah menjadi lembayung senja. Meski tak tahu apa yang akan ia lakukan, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar pemakaman.

Matahari baru saja benar-benar tenggelam di cakrawala ketika Liana sedang menyusuri jalan antara pemakaman dan rumahnya. Sepanjang jalan, ia melihat sorot lampu kendaraan yang melintas. Bukan pemandangan istimewa, tapi entah mengapa sorot lampu berwarna kuning itu membuatnya ingin menangis. Cahaya kuning itu mengingatkannya pada kehangatan rumah yang selalu ia bayangkan setiap kali pulang sore dengan menaiki ojek online setelah kegiatan ekskul di sekolah.

Tak terasa, ia telah sampai di depan rumah. Seperti biasa, rumahnya terang benderang oleh lampu di beranda. Melihat rumahnya yang tertutup rapat, ingin rasanya ia melompati pagar yang terkunci dan mengintip dari celah-celah jendela. Namun, ia tak kuasa jika harus melihat lagi ibunya yang bersedih.

Malam telah benar-benar gelap dan jalan telah sepi ketika Liana menyusuri jalan yang biasa ia lalui untuk berangkat ke sekolah. Pada saat ini, ia baru menyadari bahwa ia tak merasa lapar.

"Ya, namanya juga hantu. Mana mungkin lapar," pikirnya.

Langkahnya berhenti ketika ia sampai di jalan tempat ia mengalami kecelakaan yang memisahkan roh dan jasadnya. Sambil berdiri mematung sambil melamun memandangi jalanan yang kosong itu, ia membatin.

"Jadi begini rasanya jadi arwah gentayangan? Berjalan ke sana kemari tanpa tahu arah dan tujuan …"

[Bersambung]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya