START! - Part 2
Akhirnya, setelah sekitar dua jam duduk di kafe, aku pun memutuskan untuk pulang. Kututup laptopku dan kumasukkan ke dalam tas. Lalu, aku melangkah keluar dari kafe menuju motorku yang berada di area parkiran sambil menggendong tas ransel dan menenteng helm. Kukenakan helmku sebelum kunaiki motor beat-ku dan menyalakannya. Setelahnya, kupacu motorku menuju rumahku di Antapani melewati jalanan Dago siang hari yang sedikit ramai oleh kendaraan. Sepanjang jalan, pertanyaan Ari terus menempel di kepalaku.
“Maneh serius pingin jadi komikus webtoon kan?”
Duh, memikirkan pertanyaan itu malah bikin aku kesal! Rasanya, ingin kugaruk keras-keras kepalaku agar pertanyaan itu rontok dari kepalaku. Niat cari ide malah dapat beban pikiran baru. Tapi, saat ini, aku harus fokus. Pikiran itu tidak boleh mengganggu konsentrasiku di jalanan. Kalau tidak, mungkin tadi aku sudah menabrak mobil yang melintang di depanku.
Setelah sekitar empat puluh menit berkendara, aku pun sampai di depan rumahku yang berada di dalam jalan-jalan kecil di Antapani. Kubuka pagar rumahku yang setinggi bahuku lalu kuparkirkan motorku di carport rumah. Kemudian, kuketuk pintu rumahku sambil mengucap salam.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
“Krek!” Gagang pintu berputar. Pintu pub terbuka. Dari balik pintu, tampak ibuku yang sudah berbalik badan menuju ruang tengah. Aku pun masuk dan mengunci pintu rumah.
“Sudah makan?” tanya ibuku yang tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menonton berita di televisi.
“Sudah,” jawabku singkat sambil melangkah menuju kamar.
Ketika kakiku akan masuk ke dalam kamar, ibuku tiba-tiba memanggil.
“Raka, ibu dapat info lowongan kerja nih dari grup arisan jalan. Katanya, Bank Kaya Raya lagi buka lowongan kerja buat fresh grad dari jurusan apa aja. Coba kamu lamar ke situ.”
“Atau kamu mau coba lamar ke perusahaan Semesta? Perusahaan gede kan, tuh? Perusahaan itu juga lagi buka lowongan kerja besar-besaran. Coba kamu juga lamar ke situ. Ibu kirim, ya, info lowongan kerjanya ke WA kamu biar kamu bisa baca lebih lengkap.”
“Pokoknya, kalau ada lowongan kerja, dicoba-coba aja. Tapi, jangan asal lamar ke perusahaan abal-abal, terutama yang namanya startup-startup itu. Ibu denger di berita, banyak orang yang dipecat dari perusahaan-perusahaan kayak gitu. Mending cari perusahaan yang udah gede, udah jelas. Atau daftar jadi PNS.” pungkas ibuku.
“Ya,” balasku singkat.
Seusai mendengar omongan panjang lebar dari ibuku soal lowongan kerja, aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Kutaruh tas ranselku di atas kursi belajar lalu kuhempaskan diriku di atas kasur setelah berganti celana. Dengan badan yang telentang di atas kasur, kuraih ponselku yang berada di atas meja belajar. Saat kunyalakan ponselku, ada ikon notifikasi WhatsApp di sudut kiri atas layar. Pesan dari ibuku ternyata. Kuketuk notifikasi itu untuk membaca pesan dari ibuku lebih lanjut.
Rupanya, dua lowongan kerja yang dikirim ibuku sama: lowongan kerja management trainee dari dua perusahaan yang berbeda. Satu dari bank dan satu lagi dari perusahaan besar yang bergerak di banyak bidang usaha. Setelah membaca informasi itu, aku pun mematikan layar ponselku dan meletakkannya di samping badanku. Sambil berbaring dan menatap langit-langit kamar, aku memikirkan lowongan kerja itu.
Akhir-akhir ini, ibuku rajin sekali mencari lowongan kerja untukku. Beliau mencari-cari informasi dari macam-macam grup WA mulai dari grup keluarga besar hingga grup ibu-ibu arisan. Berita-berita dari internet pun bahkan beliau ikuti. Berkebalikan denganku yang tidak begitu antusias ke sana kemari mencari lowongan kerja. Itu karena aku baru saja lulus kuliah sekitar sebulan lalu dan aku punya keinginan lain yang ingin kucapai.
Dengan badan masih rebahan, aku kembali mengambil ponselku yang tadi kuletakkan di sampingku dan menyalakannya. Kubuka akun komikku di Instagram. Ketika kubuka, kulihat tanda notifikasi muncul di akunku. Segera kulihat pesan notifikasi itu. Notifikasi itu memberitahuku beberapa followers-ku meninggalkan komentar di postingan terbaruku yang kuunggah tiga hari lalu.
“Bang, nggak ikutan kontes webtoon?”
“Bang, itu ada kontes webtoon. Nggak ikutan lu, bang?”
“Min, kalau mimin ikutan kontes webtoon, gua bakal dukung mimin!”
Aku terharu mengetahui para followers-ku mendukungku untuk mengikuti kontes. Di sisi lain, aku merasa minim motivasi. Pertanyaan dari Ari masih juga menggantung di pikiranku. Awalnya, aku memang bersemangat untuk ikut. Namun, karya-karya dari peserta lain membuatku ingin mundur, mengurungkan niat untuk ikut. Tapi, mengapa aku takut dengan karya-karya orang lain? Apa yang sebenarnya bikin aku ragu? Duuuh! Lagi-lagi aku ingin menggaruk-garuk kepalaku keras-keras untuk merontokkan pikiran-pikiran yang menggangguku.
Untuk menenangkan pikiran, aku memutuskan untuk menonton reels yang berseliweran di akun Instagram-ku.
Di tengah-tengah aku menonton reels, fokusku mulai hilang. Mataku tidak lagi menangkap apa yang sedang diputar oleh layar ponselku. Pikiranku membawaku ke ingatan-ingatan masa lalu, saat aku baru duduk di bangku SMP.
Saat itu, aku duduk bersebelahan dengan seorang murid laki-laki yang belum kukenal. Lambat laun, kami pun menjadi dekat berkat kesamaan hobi kami, yaitu anime dan manga. Selain membahas tugas sekolah, kami selalu membahas kegemaran kami setiap kali bertemu. Kami membahas chapter terbaru dari manga yang kami baca dan saling bertukar rekomendasi anime dan manga.
Selain anime dan manga, temanku juga jago menggambar. Gambar-gambarnya persis seperti karakter-karakter manga yang kami baca. Karena temanku, aku jadi suka menggambar. Temankulah guru menggambarku yang pertama. Sejak saat itu, aku menjadi senang dan sering menggambar. Saat istirahat, saat jam pelajaran kosong, atau di sela-sela jam pelajaran, aku pasti akan menggambar. Kegemaran menggambarku terus berlanjut hingga SMA. Bahkan, aku pun masih suka menggambar hingga sekarang.
Di Instagram, aku punya akun yang berisi komik-komik pendek dan gambar karakter-karakter karyaku. Aku membuatnya ketika pertama kali masuk kuliah. Ari, best friend-ku sejak SMA, mendorongku untuk membuat akun Instagram khusus karya-karyaku. Sekarang, aku sudah mengunggah sekitar dua ratusan karya dan memiliki sepuluh ribuan followers. Setiap kali aku mengunggah komik, aku mendapatkan ribuan likes. Postinganku pun selalu ramai oleh komentar.
Dengan modal seperti ini, harusnya aku yakin untuk mengikuti kontes webtoon itu. Namun, mengapa aku begitu ragu?
Atau tepatnya, apa yang sebenarnya aku rasakan?
Ragu atau takut?
Di tengah kecamuk pikiran, mataku perlahan-lahan menutup. Aku pun tertidur.
[Bersambung]
Komentar
Posting Komentar