START! - Part 1
Mengapa kita membuat cerita fiksi?
Fiksi, menurut Yuval Noah Harari, adalah realitas yang diyakini banyak manusia meskipun tidak memiliki ciri fisik yang dapat diamati. Fiksi mencakup hal-hal seperti uang, negara, dan ideologi. Cerita rakyat seperti fabel, mitos, dan legenda pun termasuk di dalamnya. Kemampuan membuat fiksi ini hanya dimiliki oleh manusia. Karenanya, manusia dapat bersatu dan bekerja sama dalam jumlah yang amat besar sehingga dapat mempertahankan eksistensinya selama ratusan ribu tahun.
Dalam banyak budaya, cerita fiksi memiliki tempat tersendiri. Di Arab, ada syair yang banyak digemari masyarakat setempat. Di bangsa Viking, ada profesi yang disebut dengan skald. Sementara itu, Indonesia sendiri kaya akan bentuk cerita fiksi. Salah satunya adalah cerita pewayangan. Semua cerita dalam kebudayaan itu memiliki kesamaan: mengandung nilai-nilai kehidupan suatu kebudayaan.
Saat ini, cerita fiksi bukan lagi tentang nilai-nilai yang diturunkan. Bercerita sudah menjadi mata pencaharian. Para penulis dan komikus berlomba-lomba memikat mata dan hati para pembaca sebanyak-banyaknya demi meraih titel serial komik terpopuler atau novel best seller. Sebab, banyak pembaca berarti banyak uang yang didapat. Untuk itu, para pencerita melakukan berbagai cara untuk membuat sebuah cerita yang menarik. Bisa dengan mengambil tema romansa yang mainstream atau membuat cerita misteri penuh plot twist …
“Oi, Rak! Ngelamun maneh?”
Sentakan itu membuatku tersadar dari lamunanku. Aku kembali memusatkan perhatianku kepada Ari, temanku yang duduk di depanku dan menyentakku.
“Jadi, gimana? Maneh udah dapat ide?”
“Ngg …” gumamku dengan pikiran yang belum sepenuhnya fokus. “Teuing (tidak tahu), euy.”
“Gimana kalau cerita cowok yang dikecengin banyak cewek?”
“Kalau itu mah cuma cowok yang kayaknya bakal baca!”
“Cerita tentang isekai? Kerajaan?”
“Lah, itu mah emang salah satu tema yang dilombain! Lagian, itu udah banyak yang bikin. Urang jadi bingung …”
“Terus, maneh punya ide apa, atuh?” tanya Ari sedikit kesal.
“Justru urang ketemu maneh buat minta saran ide!” jawabku dengan nada sedikit meninggi sambil menggebrak meja.
Sontak, semua orang yang sedang duduk di sekitarku menoleh ke arahku.
“Maaf,” kataku sambil membungkukkan badan ke arah orang-orang yang melihatku.
Setelah kejadian itu, aku dan Ari terdiam untuk waktu yang cukup lama. Ari menatap cappuccino-nya yang sudah diminum sebagian, sedangkan aku menatap ke layar laptopku yang menampilkan laman webtoon sambil scrolling ratusan karya yang sudah masuk ke dalamnya.
Saat ini, aku sedang dalam proses mencari ide untuk membuat serial komik yang akan diikutsertakan di kontes webtoon. Ketika kontes itu pertama kali dibuka, aku sangat bersemangat untuk mengikutinya. Ini bisa jadi batu lompatan untuk mewujudkan impianku menjadi seorang komikus webtoon.
Namun, satu bulan sudah berlalu sejak pembukaan kontes dan aku masih belum mendapatkan ide yang bagus dan unik untuk membuat komik. Tersisa dua bulan lagi kesempatanku untuk mengikuti kontes webtoon itu. Aku sudah mencari referensi dari banyak sumber: internet, film, serial televisi, manga, dan webtoon. Tapi, aku belum menemukan ide yang pas untuk komikku. Karenanya, hari ini aku bertemu dengan Ari di sebuah kafe untuk membantuku mencari ide. Ari dan aku adalah best friend sejak SMA. Kami sama-sama pencinta anime, manga, dan serial Marvel. Namun, soal anime dan manga, ia tahu lebih banyak daripada aku. Jadi, mungkin ia bisa memberiku banyak saran ide.
Akan tetapi, sembilan puluh menit sudah berlalu sejak kami berdua duduk di kafe. Aku masih juga belum dapat ide untuk komikku.
“Jadi, apa yang sebenarnya bikin maneh bingung?” Ari kembali membuka pembicaraan.
“Udah ada ratusan komik yang di-submit di webtoon,” kataku. “Dan hampir semua ide kayaknya udah dipake sama peserta kontes.”
“Tuh, kan!” kata Ari. “Padahal, kemarin-kemarin maneh dapet ide-ide bagus. Harusnya ide-ide itu kamu eksekusi sebelum diduluin orang lain!”
“Tapi, maneh bilang idenya berat buat maneh. Maneh nggak bisa ngembangin idenya …” keluh Ari sambil memegang jidatnya dengan tangan kanannya yang bertopang pada meja.
“Maneh serius pingin jadi komikus webtoon kan?”
Pertanyaan Ari itu membuatku termenung lama. Tadinya, kukira bertemu dengan best friend-ku bisa memberiku ide. Tapi, aku malah diberi pertanyaan yang seolah-olah menyudutkanku. Sudah tentu, menjadi komikus webtoon adalah impianku! Tapi …
“Apa urang nggak usah jadi komikus webtoon, ya?”
Ari terkejut mendengar aku berkata seperti itu.
“Lah, gimana? Bukannya maneh pernah bilang mau ngebuktiin ke ortu kalau maneh bisa sukses jadi komikus webtoon?”
“Ya, sih. Tapi, kalau kayak gini …”
“Yah, naha (mengapa) maneh jadi galau gini?” terdengar Ari bertanya dengan nada yang sedikit meninggi seperti sedang kesal.
“Btw,” kata Ari sambil melihat jam tangannya. “Bentar lagi urang cabut, ya. Urang ada janji sama orang lain soalnya.”
“Oke,” jawabku singkat.
“Kalau masih pingin diskusi lagi, kasih tahu urang we (saja),” kata Ari menawarkan. “Tapi, maneh tong (jangan) galau jiga kitu (seperti itu)!”
Sekitar lima menit kemudian, Ari pun pamit meninggalkanku untuk janjian bertemu dengan seseorang. Sekarang, tinggalah aku sendiri yang menatap layar laptop dengan kepala penuh kebingungan. Sepeniggal Ari, yang kulakukan hanyalah scrolling dan scrolling laman webtoon yang menampilkan ratusan komik yang telah di-submit untuk mengikuti kontes. Sementara itu, mataku tidak begitu fokus menatap layar dan isi kepalaku terasa seperti benang kusut. Tak karuan. Namun, di antara pikiran-pikiran yang kusut itu, menyembul satu pertanyaan.
“Maneh serius pingin jadi komikus webtoon kan?”
Komentar
Posting Komentar