START! - Part 5
Hari-H pun tiba. Kami berempat sudah tiba di Indonesia Convention Center (ICE) BSD, tempat acara Comic Fest digelar. Dari Bandung, kami berangkat menggunakan travel dengan jadwal paling pagi, yaitu pukul lima. Kami sengaja mengambil jadwal travel paling pagi agar bisa mengejar jam buka acara sehingga kami bisa punya waktu yang panjang untuk berkeliling dan menikmati acara. Tadinya, kami ingin berangkat pada Jumat malam untuk mengantisipasi panjangnya antrian untuk masuk ke acara. Tapi, berhubung Brian dan Dito baru saja pulang kerja pukul lima sore, rencana itu dibatalkan.
Jam tanganku saat ini menunjukkan pukul setengah sepuluh. Namun, antrian pengunjung sudah sangat menumpuk dan memanjang hingga mencapai area parkiran. Untungnya, kami berhasil mendapatkan tiket pre-sale yang kami beli setelah “berperang” dengan para pembeli lainnya di internet. Jadi, kami mengantri di jalur antrian khusus pemilik tiket pre-sale yang tidak sepanjang dan sepadat jalur antrian tiket on the spot (OTS).
Bersama kami, bergabung satu orang lain lagi. Andre namanya. Ia juga teman satu komunitas dengan kami di kampus. Ia datang dengan berpakaian ala Ken Kaneki dari anime Tokyo Ghoul: jaket hoodie hitam, celana pendek hitam, dan masker hitam bergambar gigi menyeringai yang tersambung dengan eye patch. Tak lupa, wig pendek berwarna putih ia kenakan. Ia bercerita ia mendapat kabar kalau antrian pengunjung sudah terbentuk sejak subuh baik di jalur OTS maupun jalur pre-sale. Ia awalnya ingin mengantri sekitar pukul tujuh pagi. Namun, ia memilih untuk menunggu kami tiba sebelum ikut mengantri.
Sambil mengantri, aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. Kulihat banyk dari pengantre yang mengenakan kostum macam-macam karakter dari berbagai gim, anime, dan manga. Ada karakter-karakter dari Evangelion, Vocaloid, dan Genshin Impact. Tapi, sejauh pengamatanku, karakter keluarga Forger dari Spy x Family - Loid, Yor, dan Anya - adalah karakter yang paling banyak ditiru para pengantre. Ini bisa kulihat dari banyaknya pengantre yang mengenakan setelan jas hijau, gaun panjang hitam, atau wig lurus pendek pink dengan sepasang tanduk hitam. Selain itu, kulihat juga orang-orang duduk-duduk di area rumput sambil mengipas-ngipasi kepala mereka.
Setelah mengantre sekitar setengah jam lebih, kami pun akhirnya telah sampai di depan booth tiket pre-sale. Kepada petugas yang berjaga, kami menunjukkan bukti pembelian tiket di ponsel kami untuk ditukar dengan tiket masuk berupa kertas yang dapat dilingkarkan ke pergelangan tangan. Dengan ini, kami pun masuk ke dalam hall tempat acara diadakan.
Sesampainya di dalam hall, aku dibuat tercengang dengan apa yang kulihat. Hall-nya amat luas, langit-langitnya amat tinggi. Sebut saja aku norak, tapi memang aku belum pernah datang ke gedung seluas ini. Ini kali pertamaku pergi ke ICE BSD. Meskipun begitu, banyaknya pengunjung yang datang membuat hall ini terasa sempit. Hanya ada celah-celah kecil yang tersisa di antara pengunjung untuk bergerak.
Di dalam hall ini, ada seratusan booth yang terbagi ke dalam beberapa blok. Booth ini diisi oleh perorangan, kelompok, dan juga perusahaan. Selain booth, didirikan juga sebuah panggung di salah satu sisi hall. Panggung yang tidak begitu besar ini digunakan acara-acara seperti talkshow, storytelling, temu sapa dengan VTuber, dan karaoke bareng. Seperti halnya acara festival pada umumnya, booth penjaja makan pun tersedia di sini.
Semenjak masuk ke dalam hall, semua temanku sudah berpencar untuk mengincar tujuan masing-masing. Ari berkunjung ke booth perusahaan gim lokal untuk melihat gim terbaru mereka. Brian mencari booth yang menyediakan gacha. Dito pergi ke booth action figure untuk menebus waifu kesayangannya. Andre asyik berfoto-foto bersama para pengunjung dan cosplayer lainnya. Sementara itu, aku pergi menuju satu booth di blok A yang terletak di tengah-tengah hall. Menurut peta, di situlah booth mz_arka berada.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan booth komikus webtoon favoritku. Namun, booth-nya dipenuhi para pengunjung. Dari jauh, bisa kulihat Arka dan teman-temannya sedang sibuk melayani para pengunjung yang membeli dagangan mereka. Tampak Arka hanya berbicara sebentar dengan satu pengunjung yang mampir di booth-nya lalu beralih ke pengunjung lain. Sepertinya, aku tidak bisa mengobrol banyak dengan Arka. Namun, karena sudah di depan booth-nya, aku pun memutuskan untuk ikut mengantre.
Selepas dari booth Arka, aku hanya membawa pulang satu komik terbarunya dan beberapa stiker serta gantungan kunci. Ketika aku sudah persis di depan booth, nyaris tidak ada waktu untuk mengobrol lebih dari lima kata dengan Arka maupun teman-temannya. Mereka semua terlalu sibuk untuk melayani para pengunjung yang terus berdatangan. Akhirnya, aku pergi dari booth Arka tanpa sempat mengobrol dengannya.
Setelah berjam-jam lamanya kami berputar-putar mengelilingi booth dan mengikuti beberapa acara di sana, kami akhirnya keluar dari hall pada pukul tiga sore. Dari hall ICE BSD, kami meluncur ke rumah Andre, tempat kami akan menginap, yang juga berada di BSD. Di rumah Andre, kami beristirahat dan bermain Nintendo Switch. Malamnya, kami pergi keluar untuk nongkrong di kafe baru yang masih berada di dalam daerah BSD. Di kafe, kami mengbrol soal acara Comic Fest yang tadi pagi kami datangi.
“Jadi, dapat apa aja kalian dari Comic Fest?” tanya Ari membuka obrolan.
“Akhirnya, gua bisa bawa pulang waifu gua!” kata Dito sambil tertawa terbahak-bahak.
“Lu nggak beli waifu lu pake PayLater kan?” tanya Brian sambil bercanda.
“Nggak dong!” bantah Dito. “Ini dari hasil gua nabung buat bisa nebus istriku tersayang!”
“Awas aja lu kalo pake PayLater,” ancam Brian sambil tertawa. “Lu auto di-banned dari sirkel pertemanan kita.”
“Woi! Woi! Kita harus ganti nomor hape kita semua!” timpal Andre.
Kami semua tertawa terbahak-bahak.
“Yang lain?” Ari kembali bertanya.
“Kalo gua, sih, berhasil nambahin followers Instagram gua!” kata Andre sambil membusungkan dada dan menepuk-nepuknya.
“Wah, asik, nih! Artis cosplayer kita! Wuh!” komentar Ari sambil bersorak.
Kemudian, pandangan semua temanku tertuju kepadaku. Seolah-olah mereka baru teringat sesuatu yang penting.
“Gimana, Ka? Berhasil ngobrol sama Arka?” tanya Ari.
“Nggak, euy,” jawabku. “Arkanya terlalu sibuk di booth.”
Mendengar jawabanku, semua temanku terdiam dengan wajah yang sedikit muram.
“Tapi, nggak apa-apa, kok. Walaupun aku nggak ngobrol sama Arka, aku udah senang diajak main ke sini …”
Baru saja aku selesai berbicara, aku melihat sesosok pria yang familiar bagiku. Dari kursiku, aku melihat pria itu sedang berdiri di depan kasir. Ia tampak sedang memesan sesuatu.
“Gengs, coba tengok ke belakang. Ke arah meja kasir,” perintahku kepada teman-temanku.
“Itu Arka kan?” tanyaku ragu.
“Iya, iya. Itu Arka!” kata Ari dengan yakin.
“Sikat, Ka! Tanya dia sekarang! Mumpung keliatannya dia lagi lowong!” dorong Brian.
Aku bangkit dari kursi dan segera menghampiri Arka yang masih berdiri di depan meja kasir. Semoga kali ini Arka bisa dan berkenan untuk kutanya-tanya.
[Bersambung]
Komentar
Posting Komentar