Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 2

Setelah terdiam sejenak, Liana meneruskan lagi perjalanannya ke sekolah menembus gelapnya malam.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, ia akhirnya sampai di sekolah. Di sana, suasananya benar-benar sepi dari riuh suara para siswa. "Wajar, masih malam," pikirnya. Ia memperhatikan hanya ada pak satpam yang berjaga di posnya saat ini.

Ngomong-ngomong soal satpam, ia tiba-tiba merasa salut dengan satpam-satpam di sekolahnya yang rela dan berani terjaga semalaman untuk menjaga sekolahnya. Soalnya, banyak rumor soal hantu yang beredar di antara siswa-siswi di sekolahnya. Sebagian rumor itu bahkan berasal dari para satpam yang bekerja di sekolahnya. Berdasarkan rumor, ada banyak titik yang angker di sekolahnya. Menurutnya, mungkin itu wajar mengingat sekolahnya sudah berusia tua dan menempati bekas bangunan kolonial. Namun, di antara banyak titik angker di sekolahnya, ada satu titik yang disebut-sebut paling angker.

Pepohonan di pagar sisi barat sekolah.

Sekilas, tampak tidak ada yang aneh dengan pepohonan tersebut. Malah, pepohonan tersebut sempat dijadikan tempat nongkrong oleh para murid. Namun, konon katanya ada beberapa kali kasus kesurupan di tempat itu. Tidak hanya siswa putri, beberapa siswa putra yang terkenal sebagai berandalan pun pernah mengalami kesurupan. Akibat seringnya kasus kesurupan, tempat itu pun akhirnya dihindari oleh semua murid. Bahkan, anak-anak badung pun takut nongkrong di sana.

Ngomong-ngomong soal tempat angker, Liana baru menyadari bahwa ia tidak bertemu atau melihat satu pun hantu atau arwah lain. Ia berpikir apa ini seperti di film horor lawas yang pernah ia tonton? Dalam film itu, para arwah diceritakan tidak dapat melihat arwah lain. Kalau itu yang terjadi, apakah ia akan bergentayangan di dunia ini sendirian?

Teringat dengan cerita pepohonan angker di sekolahnya, ia pun memutuskan untuk berjalan ke sana.

Saat langkahnya sudah semakin dekat dengan tempat tujuannya, ia melihat sesosok laki-laki kurus berseragam putih abu-abu sedang berdiri di dekat pepohonan. Ia mengernyit.

"Ada anak SMA di bawah pohon malam-malam gini?" tanyanya dalam hati.

Apa mungkin itu hantu? duganya. Ia berjalan mendekati sosok laki-laki itu. Semakin dekat semakin jelas rupa sosok itu. Ketika ia berjalan semakin dekat, ia dengan spontan bergidik.

"Hiii!" jeritnya. Sosok laki-laki di depannya tampak berkulit pucat. Lingkar hitam terbentuk di bawah matanya yang berkacamata. Kedua lengan laki-laki itu terlihat penuh dengan lebam. Raut wajahnya datar tanpa ada ekspresi sama sekali. Meskipun sudah menjadi hantu, tetap saja Liana terkejut melihat sosok laki-laki yang menakutkan itu.

"Hantu baru, ya?" tanya laki-laki itu sambil sedikit menyunggingkan senyum.

"Ma … maksudnya?" Liana bertanya balik dengan terbata-bata.

Laki-laki itu menatap sejenak Liana yang berada di depannya.

"Kamu pasti hantu baru. Ya, wajar, sih, kalau kamu kaget lihat hantu lain."

"Ngomong-ngomong, kamu anak SMA sini, kan? Soalnya, badge SMA di lengan baju kita sama," lanjut laki-laki itu sambil menunjuk SMA di sebelah mereka, tempat Liana bersekolah.

"Kenalin, aku Kian," kata laki-laki itu sambil menjulurkan tangan kanannya.

"Li … Liana …," kata Liana gugup sambil menjabat tangan kanan Kian. Ia kembali bergidik. Dingin, batinnya.

"Dingin, ya?" kata Kian seolah-olah bisa membaca pikiran Liana. "Kalau sudah jadi hantu, badan kita memang jadi dingin."

Liana yang mendengar penjelasan Kian langsung memegang kening dan lengannya. Benar, dingin! Kenapa, ya, ia baru sadar sekarang, batinnya.

"Karena kamu hantu baru, ayo, aku kenalin ke hantu-hantu lain," kata Kian sambil menarik lengan Liana.

"Eh, ada hantu baru?"

Terdengar suara perempuan dari atas mereka. Liana mengangkat kepalanya, menengok ke arah datangnya suara. Tampak sosok perempuan yang juga berpakaian putih abu-abu tengah duduk di dahan pohon yang tinggi. Perempuan itu lalu melompat dari dahan ke depan mereka berdua. Lagi-lagi, Liana dibuat bergidik melihat perempuan itu melompat dari tempat yang tinggi. Namun, ia terkejut melihat perempuan itu tampak baik-baik saja.

"Kenapa? Kaget?" tanya perempuan itu melihat mata Liana yang terbelalak.

"Kalau kamu jadi hantu, badan kamu juga bakal jadi ringan. Rasanya, kayak kamu punya kekuatan superhero," lanjut perempuan itu.

"Kenalin, Kalya."

"Liana."

Liana menjabat tangan Kalya yang sudah lebih dulu terjulur. Pada saat itu, ia mengamati sosok perempuan di hadapannya. Meskipun penerangan di sana sangat remang, ia bisa melihat banyak jerawat di muka Kalya dan garis tebal di lehernya. Garis itu tampak luka seperti jeratan tali.

"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Kalya yang sadar bahwa Liana menatapnya cukup lama.

"Oh, apa kamu lihat luka jeratan di leher aku, ya?" tebak Kalya. "Kalau soal itu, nanti aku ceritain. Tapi, sekarang, kita ketemu teman-teman hantu kita dulu, yuk!"

Liana pun diajak Kian dan Kalya bertemu dengan hantu-hantu lainnya. Hanya beberapa langkah dari sana, ia sudah bertemu dengan beberapa hantu lainnya. Mereka semua tampak sedang nongkrong di bawah pepohonan layaknya para murid yang sedang istirahat. Selain itu, mereka juga mengenakan pakaian SMA.

"Teman-teman, kenalkan, kita kedatangan hantu baru. Namanya Liana," kata Kian sambil memperkenalkan Liana di depan kelompok hantu itu.

"Hai, semua. Salam kenal …"

"Hai, Liana!" balas mereka dengan kompak.

"Jadi, Liana," kata Kian. "Kapan kamu meninggal?"

"Sekitar tiga hari yang lalu."

"Ooh, masih baru, ya" gumam kelompok hantu itu.

"Boleh cerita, nggak, kenapa kamu meninggal?"

"Aku … ditabrak angkot yang lagi ngebut …"

"Kasihan …" bisik kelompok hantu.

"Anu … Liana," Kian kembali bertanya. "Kamu punya sesuatu yang belum kamu tuntaskan selama hidup? Semisal keinginan atau dendam?"

"Eh?" Liana keheranan.

"Liana," kata Kalya. "Arwah orang mati bisa bergentayangan karena ada urusan yang belum selesai."

"Dan kami semua punya urusan yang sama," Kian menimpali.

"Kami semua … korban bullying."

Deg! Kata itu mengingatkan Liana pada hari-hari yang menyakitkan di sekolah.

[Bersambung]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya