START! - Part 6 (TAMAT)

“Bang Arka?”

“Iya?” Arka membalasku sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

“Eh, Abang mau bayar dulu?” tanyaku sedikit gugup. “Bayar dulu aja, bang.”

“Oke,” jawabnya singkat. Dengan ponselnya, ia memindai QR Code yang dipajang di meja kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah menerima struk pembayaran, ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

“Oh,” kata Arka sambil melirikku. “Tadi kamu mau bilang apa?”

Mendadak, bicaraku jadi gagap. Aku gelagapan.

“A … anu … Aku fans-nya Abang … hehehe … Aku udah lama ngikutin komik-komik Abang …” jelasku sambil cengengesan.

“Hiii!” jerit Arka. “Ada stalker, suka ngikutin aku!”

“Bu, bukan gitu, Bang!” kataku sambil berusaha mencegat Arka yang hendak pergi menjauhiku dengan tatapan ngeri. Setelah aku berkata begitu, Arka kembali berbalik ke arahku.

“Wakakaka!” tawa Arka. “Canda, canda! Jangan panik gitu mukanya …”

“Btw, gua agak keberatan kalo ada yang bilang fans gua,” ujar Arka. “Berasa kayak idol, soalnya.”

“O, oke, Bang. Sori …” maafku.

“Ngga apa-apa. Kalau ketemu lagi, lu bilang aja followers-nya gua,” saran Arka.

“Jadi, lu mau apa ketemu sama gua?”

“Aku mau minta saran, masukan, atau nasihat buat bikin webtoon.”

“Oh,” kata Arka singkat. Untuk sesaat, ia terdiam sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. “Wakakakak, gua harus kasih nasihat apa, ya? Gua nggak jago ngasih nasihat, soalnya.”

“Gua bukan motivator, wakakak,” tutup Arka sambil tertawa.

“Btw,” Arka kembali berkata. “Webtoon lagi buka kontes, ya?”

“Ya, Bang.”

“Hmm …” gumam Arka. “Apa yang bikin lu bingung?”

“Ada banyak, sih. Tapi, utamanya, sih, ide …” jawabku dengan sedikit ragu.

“Btw, kita ngobrol sambil duduk aja,” tawar Arka. “Kebetulan, gua juga lagi nunggu temen-temen gua di sini.”

“Boleh, Bang.”

Akhirnya, aku dan Arka pun duduk saling berhadapan di sebuah meja dengan dua kursi panjang.

“Jadi, apa aja yang lu bingungin?” tanya Arka.

“Aku … agak ragu buat ikut kontes webtoon,” jawabku.

Mendengar jawabanku, Arka keheranan. “Lha, kenapa ragu?”

“Itu …” Aku pun terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Setelah beberapa saat diliputi keheningan, Arka kembali menanyaiku.

“Apa lu pingin banget menang sampai-sampai kamu takut kalah?”

“Ngg …” Aku bergumumam, lalu berkata, “Ya …”

“Hmm …” gumam Arka sambil menatap ke langit-langit kafe. Kemudian, ia kembali mengarahkan perhatiannya kepadaku.

“Btw, lu bisa gambar?”

“Bisa.”

“Bisa bikin komik?”

“Bisa.”

“Pernah nge-publish karya lu di platform atau media sosial?”

“Aku punya, sih, akun IG yang isinya komik-komik aku.”

“Oh, iya?” tanya Arka sambil terkejut. Ia lalu mengambil ponselnya dari saku celana. “Apa nama IG lu?”

“Roket_kucing,” jawabku.

“Hoo, oke,” Arka mengetik di ponselnya. Kemudian, ia scrolling layar ponselnya untuk beberapa saat. Sambil menatap layar ponselnya, ia bergumam.

“Karya lu bagus-bagus, kok,” kata Arka masih sambil menatap layar ponselnya. “Followers lu juga udah banyak. Ini akun lu juga rame sama komentar.”

Arka kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu bertanya lagi kepadaku.

“Jadi, kenapa lu ragu?”

“Itu … anu …” kataku ragu-ragu sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

Melihat tingkah lakuku, Arka menghela napas kemudian kembali berbicara.

“Apa lu takut nggak bisa sukses sebagai komikus webtoon?”

Aku yang mendengar terkaan Arka itu hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Tidak mengiakan ataupun menyangkal meski pikiranku membenarkan apa yang dikatakannya. Setelah terdiam beberapa saat, aku akhirnya membuka suara.

“Ya, Bang. Kayaknya emang aku takut nggak bisa sukses sebagai komikus webtoon.”

“Hmm …” Arka bergumam sambil tersenyum. Sambil saling menautkan jari-jemarinya, ia mengangguk-angguk. Di tengah obrolan kami, seorang pramusaji menghampiri meja kami sambil membawa nampan dengan secangkir kopi di atasnya. Pramusaji itu meletakkan secangkir cappuccino panas itu di atas meja kami lalu kembali ke dekat meja kasir. Arka langsung meminum sedikit cappuccino panas pesanannya yang sudah tiba.

“Apa yang bikin lu takut nggak bisa sukses sebagai komikus webtoon?”

“Aku … punya ortu yang nggak setuju aku kerja jadi komikus,” ungkapku. “Mereka pingin aku kerja jadi karyawan di bank atau perusahaan. Atau nggak jadi PNS. Intinya, mereka pingin aku punya pekerjaan yang jelas dan tetap.”

Setelah jeda sesaat, aku lanjut bercerita.

“Mereka berpikir kalau kerja bikin komik itu nggak jelas dan nggak guna.”

Aku kembali mengambil jeda sesaat sebelum lanjut bercerita.

“Aku berharap banget aku bisa menang kontes webtoon kali ini. Kalau aku menang, ini bisa jadi shortcut aku buat jadi komikus webtoon profesional sekaligus langkah pertama aku buat bisa mandiri secara finansial.”

Seusai aku menceritakan masalahku, Arka tidak berkomentar sama sekali. Ia hanya terdiam menunduk sambil memegang dagu. Kemudian, ia menyeruput sedikit cappucino pesanannya. Setelah itu, ia baru berbicara.

“Jarang ada orang yang berhasil meraih kesuksesan hanya dengan sekali coba. Kalaupun ada, orang itu akan cepat redupnya.”

“Gua juga nggak langsung sukses pas awal bikin komik. Nggak sekali ikutan kompetisi lalu langsung juara.”

“Awalnya gua juga harus struggle untuk bisa dapat banyak pembaca. Ikut kompetisi, gabung komunitas, belajar nge-improve gambar … Pokoknya, banyak yang gua lakuin biar bisa sesukses sekarang.”

“Tapi,” kata Arka. “Sebelum itu, ada yang harus kamu tahu lebih dulu.”

“Kenapa kamu mau bikin komik.”

Aku dibuat tertegun dengan perkataan Arka. Mirip-mirip dengan pertanyaan Ari, tapi ini lebih menjurus.

“Sudah jadi pengetahuan umum kalau kita harus punya tujuan dalam melakukan apapun. Dengan tujuan yang kuat, kita akan punya alasan untuk terus mengusahakan suatu hal meski ada banyak rintangan yang menghadang.”

“Tujuan lu uang? Bisa sih, tapi bukannya pekerjaan lain juga bisa dapat uang? Gua pernah dikasih tau kalau uang adalah konsekuensi karena kita bekerja. Lu harus cari tujuan yang lebih kuat daripada uang.”

“Soal komik nggak guna, kata gua itu salah besar. Cerita itu universal. Semua orang suka cerita. Nggak peduli lu bocah ingusan, bapak-bapak bangkotan, atau ibu-ibu arisan. Buktinya, bioskop tetap ramai dan sinetron terus tayang.”

“Cerita fiksi itu punya banyak manfaat buat kita. Dari cerita, kita belajar empati, kerja sama, komunikasi, kreativitas, dan terbuka dengan berbagai pemikiran yang berbeda. Saking bermanfaatnya, banyak ahli menyarankan untuk lebih banyak membaca buku fiksi daripada nonfiksi.”

“Cerita fiksi pun bahkan menginspirasi penemuan alat-alat baru. Contohnya, smartphone yang kita pegang ini. Itu inspirasinya datang dari Star Trek, lho.”

“Btw, soal orang tua, apa lu pernah ngomong baik-baik atau … gimana?” tanya Arka.

“Ortu aku susah buat diajak diskusi, Bang. Kalau mereka udah bilang A, ya, tetap A. Aku pernah coba motong, tapi mereka malah terus ngomong. Kalau aku nentang, aku malah dibilang durhaka,” terangku.

“Kalau gitu,” kata Arka. “Lu apply job aja ke perusahaan-perusahaan, tapi cari yang buka lowongan semacam desain grafis. Dengan gitu, win-win kan? Lu dapat kerjaan sesuai minat lu dan keinginan ortu lu terpenuhi.”

Aku mengangguk-angguk mendengar saran dari Arka.

“Sambil kerja, lu tetap lanjut bikin komik.”

“Wah, Bang,” kataku. “Makasih banget buat saran-sarannya!”

“Oke,” kata Arka. “Jadi, gimana? Apa lu udah nggak galau lagi?”

“Nggak, Bang,” jawabku dengan mantap. “Aku sekarang udah semangat buat bikin komik!”

“Sip, good luck!” kata Arka. “Oh, ya, nama lu siapa, ya? Lupa tadi kenalan, wakakak!”

“Raka, Bang.”

“Wakakakak! Nama kita agak mirip, ya!” kata Arka sambil tertawa terbahak-bahak dengan suara tawa khasnya.

Setelah berpamitan dengan Arka, aku kembali ke meja tempat teman-temanku duduk. Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu dan berbicara dengan komikus webtoon favoritku. Nasihat dan saran darinya membuatku merasa benar-benar tercerahkan. Berkatnya, aku mendapatkan energi untuk membuat komik.

Sepulangnya dari Comic Fest, aku segera mulai mengerjakan komikku untuk kontes webtoon. Waktunya tinggal sekitar satu setengah bulan lagi, tapi kuyakin bisa menyelesaikan komikku sesuai yang disyaratkan: minimal empat episode dengan empat puluh panel per episodenya.

Balik lagi ke pertanyaanku sebelumnya: mengapa kita membuat cerita fiksi? Setiap orang punya jawaban yang berbeda untuk pertanyaan itu. Mulai dari yang bersifat personal sampai yang bersifat mulia. Mulai dari yang sederhana sampai yang filosofis. Tapi satu yang pasti: kita membuat cerita fiksi karena kita suka cerita.

Kalau aku? Tujuanku membuat cerita fiksi adalah untuk memberikan semangat dan kesenangan kepada para pembaca, terutama para pembaca remaja. Aku terinspirasi dari perasaanku saat membaca manga-manga shonen kesukaanku. Setiap kali membaca manga-manga itu, aku selalu merasa menjadi senang dan bersemangat. Karenanya, aku menjadi pantang menyerah dalam menghadapi masalah dan tantangan yang tak pernah absen dari kehidupan sehari-hari. Aku ingin menularkan perasaan itu kepada para pembaca.

Btw, soal ide, aku sudah mendapatkannya. Premis ceritanya adalah seorang anak laki-laki yang bermimpi menjadi kesatria kerajaan, tapi ia sering dianggap remeh karena badannya yang kecil, lemah, dan sakit-sakitan. Kalian mungkin pernah membaca komik-komik lain dengan premis mirip seperti ini, tapi inilah cerita yang ingin kubuat. Soalnya, aku menyukai tema aksi, petualangan, dan kerajaan. Selain itu, tema-tema ini juga disukai para pembaca remaja, terutama remaja laki-laki.

Apakah aku yakin akan menang? Soal itu, aku tidak bisa jawab. Ada ratusan komik yang telah di-submit di laman webtoon. Beberapa di antaranya memiliki visual dan cerita yang bagus dan menarik. Namun, aku sekarang tidak takut dan khawatir lagi dengan komik-komik para peserta lain. Yang kubisa lakukan sekarang adalah fokus untuk membuat komikku menarik di mata para pembaca.

Saat ini, aku tidak lagi terlalu mengharapkan kemenangan. Jikalau aku tidak menang, semangatku untuk membuat komik takkan hilang sebab aku sudah punya tujuan. Dengan tujuan itu, aku akan terus membuat komik hingga suatu hari nanti aku bisa menunjukkan karya-karyaku kepada kedua orang tuaku sambil berkata bahwa pekerjaanku bikin komik tidak sia-sia.

[TAMAT]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya