START! - Part 3

Dalam tidur, aku bermimpi. Aku sedang membuka ponselku, melihat pengumuman kontes webtoon di aplikasinya. Kucari karyaku di daftar pemenang pertama, pemenang kedua, pemenang ketiga …

Tidak ada karyaku di ketiga-tiganya. Aku scroll dan refresh halaman pengumuman itu berkali-kali tetap saja tidak ada karyaku muncul di sana.

Sambil masih menggenggam ponsel, aku diam mematung. Kemudian, kedua orang tuaku berdiri di hadapanku dengan wajah masam.

“Sudah ibu bilang, kan? Ngapain kamu bikin-bikin komik kayak gitu? Mending cari kerja aja,” omel ibuku.

“Dari dulu, udah bapak bilang kan? Berhenti bikin komik! Kerjaan nggak jelas kayak gitu. Emangnya kamu bisa sukses dari komik, hah!?” hardik bapakku.

“Harusnya kamu itu belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai bagus dan dapat pekerjaan yang jelas. Bukan bikin ginian!” ujar bapakku sambil menunjuk ponselku yang sedang kupegang.

Dari situ, dimulailah ceramah panjang kedua orang tuaku. Mereka mulai membanding-bandingkan diriku dengan orang lain: anak tetangga yang bekerja sebagai PNS di Kementerian Keuangan, anak teman bapakku yang bekerja di BUMN, hingga sepupuku yang bekerja di perusahaan minyak. Kata mereka, aku seharusnya bekerja sebagai pegawai di pemerintahan atau perusahaan swasta seperti mereka. Bukan bikin komik yang tidak berguna.

“Liat, tuh, anak tetangga! Dengan gajinya, dia udah bisa beli rumah. Lah, kamu, gimana kamu bisa hidup mandiri kalau kerjaan kamu bikin komik nggak jelas kayak gini? Emang komik bisa bikin kamu kaya?” kata bapakku sambil merendahkan kegiatanku menggambar komik.

“Emang komik kamu banyak yang baca? Palingan anak kecil doang yang baca!” timpal ibuku yang ikut mengejek komikku.

“Kamu udah ngelamar kerja, belum? Ibu kan kemarin udah kasih banyak lowongan kerja.”

Sebelum aku sempat membuka mulut, ibuku sudah lanjut berbicara.

“Belum, ya?” tuding ibuku. “Eeuuh … dibilangingin bukannya nurut …”

Cukup! Aku sudah muak dengan ceramah panjang lebar kedua orang tuaku! Bukannya mendukung, mereka malah menghina kegiatanku. Ingin aku balik memarahi mereka. Namun, entah bagaimana, drawing tablet-ku sudah ada di tangan bapakku. Bagaimana bisa? Aku menyimpan barang itu di bawah tumpukan buku di dalam laci terbawah meja belajarku. Bahkan, aku tidak pernah menunjukkannya kepada kedua orang tuaku.

“Karena kamu nggak juga ngelamar kerja, jadi bapak banting alat gambar kamu!” ancam bapakku sambil mengangkat drawing tablet-ku tinggi-tinggi.

“Enam ratus ribuku!” batinku. Drawing tablet yang kubeli diam-diam dengan menyisihkan uang sakuku akan dibanting!

Aku berusaha bergerak untuk mencegah bapakku merusak barang kesayanganku. Namun, bapakku sudah keburu mengayunkan lengannya ke bawah, melepaskan drawing tablet itu dari tangannya. Barang itu pun menghatam lantai dengan suara yang keras.

“HUAH!” Aku bangkit dari tidurku sambil setengah berteriak. Dengan kepala yang belum sepenuhnya sadar, aku buru-buru membuka laci terbawah meja belajarku untuk mengecek apakah drawing tablet-ku masih ada di tempatnya.

“Nggak ada!?” batinku panik. Drawing tablet-ku tidak ada. Untuk sesaat, aku terdiam kebingungan sambil memegang tumpukan buku yang biasa menutupi drawing tablet-ku. Namun, setelah aku sepenuhnya sadar, aku baru ingat …

drawing tablet-ku masih ada di dalam tas ransel.

Syukurlah. Kupikir bapakku benar-benar telah membanting drawing tablet-ku. Ternyata, itu semua cuma mimpi.

Kulirik jam dinding di kamarku. Pukul setengah empat pas. Aku tertidur sekitar satu jam rupanya. Aku pun keluar kamar lalu mengambil wudhu untuk salat asar. Setelahnya, aku menghabiskan waktu dengan bermain gim online Mobile Legend di ponselku.

[Bersambung]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya