Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 3

“PLAK!” terdengar suara hantaman yang amat nyaring. Sesaat setelahnya, keadaan menjadi hening sebelum kemudian terdengar suara bentakan dari seorang perempuan.

“Heh, kalian! Tau, nggak, kalo ini teritori kami!?”

Perempuan yang berteriak itu adalah Via, pemimpin geng cewek yang paling terkenal di sekolah Liana. Ia berdiri sambil menyilangkan tangan di depan Liana dan temannya, Kirana, yang sedang berlutut. Penampilannya tipikal anak berandalan: dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, bagian bawah kemejanya tidak dimasukkan ke dalam rok, dan gincu merah terulas di bibirnya. Dengan buku teks matematika yang tebal di tangannya, ia barusan menghajar Kirana sampai pipinya memerah.

“Ma … maaf, kak …” kata Kirana dengan suara yang lemah. Ia dan Liana memang tidak sengaja melewati tongkrongan geng Via ketika pulang sekolah.

“Heh, ini anak dua-duanya gak punya sopan santun! Masa tadi pas di kantin mereka nyelonong lewat di depan kakak kelasnya!?” timpal salah seorang anggota geng Via.

“Maaf, kak. Tadi kita nggak sadar …” Kali ini, giliran Liana yang meminta maaf.

“PLAK!” buku teks matematika di tangan Via mendarat dengan keras di pipi Liana. Pukulan tersebut membuat pipi Liana memerah dan matanya berkaca-kaca.

“Nggak sadar!? Emangnya kalian mabuk di sekolah!?” bentak Via.

Setelahnya, Liana dan Kirana dihujani bentakan-bentakan dari para anggota geng Via untuk waktu yang sangat lama.

“Benar juga, aku juga sering di-bully

“Liana,” kata Kalya. “Kami semua meninggal di waktu yang berbeda. Namun, satu kesamaan dari kami adalah kami semua adalah korban dari kasus bullying yang tak pernah terungkap dan tertuntaskan.”

“Aku meninggal sekitar dua tahun lalu,” ungkap Kian. “Geng kakak kelas cowok sering jadiin aku dan beberapa anak lainnya sebagai bahan mainan mereka. Aku meninggal akibat benturan keras karena terjatuh dari tangga. Hasil penyelidikan bilang itu karena kecelakaan, tapi aku tahu kakak kelas akulah yang mencelakaiku.”

“Kalau Kalya gimana?” tanya Liana.

“Aku …” Kalya terdiam sejenak. “Bunuh diri.”

“Aku … nggak bisa tahan lagi bully-an dari anak-anak sekolah. Cuma karena muka aku yang jerawatan parah, aku jadi bahan mainan dan olok-olokan geng-geng cewek …” Kalya menceritakan pengalaman pahitnya sambil menahan tangis.

“Hampir tiap hari … aku dijailin cewek-cewek. Kakak-kakak kelas, cewek-cewek populer seangkatan aku … Aku pernah disiram air comberan, rambut aku ditarik, dijadiin babu, digampar … Hampir semua bentuk bullying pernah aku alamin … Rasanya, aku ini kayak makhluk hina di mata mereka …” cerita Kalya sambil terisak-isak.

“Tiap kali Kalya ingat lagi soal bullying yang dia alami, dia pasti selalu nangis. Nggak peduli sudah berapa lama bullying itu berlalu, dia pasti nangis kalau ingat soal itu.” Kian menjelaskan. “Soalnya, memang setraumatis itu.”

“Karena aku udah nggak kuat lagi …” lanjut Kalya sambil terisak-isak. “Aku … akhirnya mutusin buat ngegantung leher aku di depan kelas … Aku sengaja gantung diri di sekolah … biar … semua orang tahu GIMANA MENDERITANYA AKU SEBAGAI KORBAN BULLYING!” Kalya bercerita dengan sangat emosional dan penuh air mata. Saking emosionalnya, air matanya sampai berlinang membasahi pipinya. Ia menyeka kedua matanya yang basah oleh air mata dengan tangannya.

“Kalya sudah meninggal sejak empat tahun lalu,” kata Kian. “Kasus bunuh dirinya sempat bikin gempar satu sekolah, bahkan masuk berita nasional. Tapi, kasus bullying yang dia alami nggak pernah diusut serius. Para pelakunya nggak dapat hukuman. Bahkan, mereka sekarang udah pada kuliah.”

“Kasus bullying emang susah buat diungkap, sih,” ungkap Kian. “Apalagi di sekolah kita. Di sekolah kita kan banyak anak pejabat dan orang kaya. Dan kebanyakan dari mereka itu tukang bullying dan anak berandalan. Udah orang tua mereka punya harta, kuasa, dan koneksi, mereka jadi susah buat dilawan. Kalau anak-anak berandalan itu kena kasus, pasti bisa ditutupi sama orang tua mereka.”

“Itulah kenapa di sekolah kita kasus bullying hampir nggak pernah terungkap dan terselesaikan. Kamu tahu kan itu udah jadi rahasia umum? Selain itu, pihak sekolah juga gila pencitraan dan cuma mau tahu beres. Mereka cuma mau kasus bullying itu ngerusak nama baik sekolah, bukannya usut tuntas demi para muridnya. Mana mereka nurut-nurut aja sama para orang tua murid yang punya banyak harta sama jabatan tinggi!”

“Kayak yang aku bilang sebelumnya. Kami semua di sini adalah korban bullying. Di antara kami, ada yang sudah meninggal sejak tahun 2010. Dialah yang sudah meninggal paling lama. Dari situ, kamu tahu kan sudah berapa bullying terjadi di sekolah kita? Bahkan, katanya tradisi bullying di sekolah kita udah berlangsung lebih lama dari itu!”

Kian bercerita panjang lebar soal bullying di sekolah dengan amarah. Hal itu tampak dari raut mukanya yang mengerut, giginya yang menggemeretak, dan suaranya yang meninggi.

Mendengar cerita Kian, Liana kembali teringat dengan perlakuan bullying yang pernah ia terima.

“Aeliana? Aeliana!?” kata Via, si pemimpin geng cewek, sambil tertawa terbahak-bahak. Bersama para anak buahnya, ia menertawakan nama lengkap Liana yang tertera di buku teks milik Liana. Sementara itu, Liana dan beberapa temannya hanya bisa berlutut dengan kedua tangan diletakkan di belakang kepala layaknya tahanan.

“Lalu, kamu! Ya, kamu! Nama lengkap kamu siapa!?” Via menunjuk perempuan yang berlutut di samping Liana sambil bertanya dengan nada membentak.

“O … Oryza Sativa …” jawab perempuan itu lirih.

“Pfft …” Via dan para anak buahnya tertawa terpingkal-pingkal.

“Orang tua kalian pada alay sama freak, ya! Masa anak mereka dinamain nasi!?” kata Via sambil masih tertawa.

“Ya udah, kita mulai aja permainannya!” kata Via sambil berjalan dengan membawa bola sepak ke depan Liana dan teman-temannya. Dari situ, dimulailah permainan menendang bola yang menyakitkan. Via dan anak-anak buahnya secara bergiliran menendang bola sepak ke arah Liana dan teman-temannya yang berlutut tak berdaya.

“BUK! BUK!” terdengar suara bola sepak yang menghantam muka teman-teman Liana satu per satu. Liana pun tak luput dari hantaman bola sepak itu. Mukanya sampai merah.

Di tengah penyiksaan itu, terbersit sumpah serapah dalam hati Liana.

“Gua harap, gua bisa jadi hantu yang neror kalian semua sampai mati!”

Liana yang teringat akan sumpah serapahnya itu tiba-tiba memekik ke arah Kian.

“Ayo kita balas dendam ke anak-anak tukang bullying!”

[Bersambung]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya