Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 4

Kian dan Kalya saling melirik satu sama lain. Raut murung tampak tergambar di muka mereka. Liana merasakan adanya aura kegelisahan di antara mereka berdua. Ia lalu bertanya.

“Kenapa? Kalian ragu?”

“Anu,” Kalya membuka suara. “Sebenarnya, kita udah pernah coba buat balas perbuatan mereka. Cuma …”

“Ya, gitu. Kita selalu gagal,” lanjut Kian.

Liana terperangah. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja kupingnya dengar. Gagal?

“Lah, gimana bisa gagal? Kita ini kan hantu, arwah gentayangan. Kok bisa kalah sama orang yang masih hidup?” tanya Liana dengan nada agak meninggi.

“Kamu pikir kamu bisa balas dendam dengan menjadi hantu?” Kalya bertanya balik. Ia menghela napas. “Ya, wajar sih kamu mikir kayak gitu. Aku juga dulu kayak kamu.”

“Waktu aku meninggal dan jadi arwah gentayangan, aku pikir aku bisa menakut-nakuti para pelaku bullying sampai mereka ketakutan dan ngaku perbuatan mereka. Nyatanya, tidak. Setelah beberapa kali ditakuti, mereka semua dikasih jimat penangkal kekuatan gaib. Sejak saat itu, aku jadi nggak bisa nakut-nakutin mereka lagi. Bahkan, mencoba dekatin mereka pun aku nggak bisa.”

Liana berdecak sambil menyilangkan tangannya. Ia kembali bertanya.

“Masa cuma gitu doang yang kamu lakuin? Apa nggak ada cara lain?”

“Ada,” jawab Kalya. “Teman aku indigo. Dia bisa melihat dan merasakan hal-hal gaib, termasuk kita para arwah. Ketika aku putus asa buat nakutin langsung para pem-bully, aku mutusin buat datang ke rumah dia buat konsultasi.”

Liana terbengong-bengong. Pada saat ini, ia dibuat terheran-heran dengan teman-teman arwah yang baru saja dikenalnya. Gagal menakut-nakuti orang hidup? Konsultasi ke anak indigo?

“Terus, teman kamu bilang apa?” tanya Liana.

“Dia bilang coba bikin teror di satu sekolah. Geserin barang, pecahin barang, bikin suara-suara mengerikan, bikin penampakan, tulis pesan darah di cermin kamar mandi, bikin anak kesurupan,” Kalya menerangkan.

“Terus, gimana? Dilakuin?”

“Ya, aku lakuin. Aku nyala matiin lampu kamar mandi, geserin meja kelas, mecahin kaca jendela kelas, nulis ancaman ke pelaku bullying di cermin kamar mandi,” jelas Kalya. “Aku sampai minjam badan teman aku buat dirasukin.”

Liana bergidik mendengar Kalya merasuki tubuh temannya sendiri. Sewaktu masih hidup, rasanya ngeri membayangkan seseorang kesurupan. Namun, entah mengapa sekarang rasanya geli untuk membayangkan hal itu terjadi.

“Terus, setelah kamu ngelakuin itu semua, gimana hasilnya?”

“Ya, ga banyak yang berubah sih. Sekolah manggil orang pintar, anak-anak jadi pada ketakutan, dan jimat-jimat pelindung dipasang di banyak tempat di sekolah,” jawab Kalya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

“Hmm …” Liana bergumam sambil memegang dagunya. “Apa ada lagi nggak yang kamu lakuin?”

“Ada lagi?” Kalya bertanya balik dengan nada kesal. “Ada, sih. Aku pernah minta teman indigo aku buat lapor ke polisi, komnas perlindungan anak, atau siapa pun yang bisa nanganin kasus ini. Terus dia bilang gini …”

“kamu gila, ya!? Nyuruh aku lapor!? Kamu tahu kan gimana kalau aku lapor ke guru? Aku juga nggak tahu gimana caranya lapor kasus bullying ke polisi atau komnas perlindungan anak! Kamu aja gih yang lapor!” keluh si teman indigo dengan jengkel kepada Kalya.

“Terus, aku juga nggak mau lagi sering-sering ketemu sama kamu! Kalau aku kelihatan sering ngobrol sama kamu, bisa-bisa aku dikira gila!”

“Kalau kamu, Kian?” giliran Kian yang ditanya oleh Liana.

“Kalau aku … ya, mirip-mirip sama Kalya.”

“Mirip-mirip gimana?”

“Ya, standar. Lemparin barang-barang ke para pem-bully. Barang-barang yang aku lempar sih kayak bola tenis, penghapus papan tulis, batu …”

“Batu? Kok agak seram, ya?” pikir Liana.

“Terus, gimana?”

“Ya, nggak terlalu berhasil. Soalnya aku kan nggak jago ngelempar,” jawab Kian sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

“Selain itu,” lanjut Kian. “Aku juga sempat coba pergi ke rumah para pem-bully.”

“Terus?”

“Mirip sama Kalya. Setelah beberapa kali aku ganggu para pem-bully di rumah mereka, keluarga mereka manggil paranormal buat ngusir makhluk gaib dari rumah mereka sama ngelindungin rumah mereka dari makhluk gaib.”

“Hmm …” Liana kembali bergumam sambil menyilangkan tangannya. Wajahnya mengerut tampak seperti sedang berpikir keras.

“Ayolah,” kata Liana dengan kesal. “Pasti kalian punya ide biar para pem-bully itu takut terus ngakuin perbuatan mereka. Apa kalian mau terus bergentayangan kayak gini?”

“Liana,” balas Kian. “Apa kamu tahu sekolah punya cenayang kepercayaan yang sering dipanggil kalau ada kasus-kasus mistis? Para pengurus sekolah ini percaya hal-hal klenik, lho.”

“Seperti yang tadi udah diceritain Kalya, sekolah ini sering masang jimat-jimat penangkal kekuatan gaib di banyak tempat. Jadi, hampir setiap sudut di sekolah ini dilindungi oleh kekuatan dari jimat. Cuma, entah kenapa pepohonan ini tidak terjangkau oleh kekuatan itu.”

“Jadi, itu alasannya kenapa banyak kasus kesurupan di tempat ini?”

“Iya.”

“Ooh,” kata Liana. “Jadi, kalian yang ngerasukin anak-anak sekolah ini!?”

“I, iya,” jawab Kian terbata-bata. “Tapi, jangan salah kira dulu. Kita cuma ganggu anak-anak nakal, kok! Anak-anak yang ngegosipin anak lain, anak-anak yang berencana mem-bully anak-anak lain …”

“Oh, syukurlah …” kata Liana lega. Namun, ia merasa masih ada yang mengganjal di hatinya. Perasaan marah dan kesal mengapa hantu-hantu ini terdengar payah dalam hal menghantui para pelaku bullying. Sekali lagi, dengan muka merengut, ia mengungkapkan kekesalannya.

“Tapi, apa kalian semua serius kalian nggak punya lagi ide buat ganggu para pem-bully? Apa kalian nggak pingin balas dendam kalian terbayarkan?”

“Liana,” kata Kian sambil menghela napas. “Tidak semudah itu. Seperti yang udah aku ceritakan tadi, sekolah punya cenayang kepercayaan. Jimat-jimat penangkal juga terpasang di banyak sudut di sekolah.”

“Bukan cuma itu,” Kian masih menjelaskan. “Para pejabat yang menyekolahkan anak-anak mereka di sini juga biasa meminta bantuan para cenayang. Apa kamu nggak pernah dengar rumor bahwa para pejabat di negara kita sering pergi ke daerah-daerah pedalaman cuma buat minta bantuan ke para cenayang? Mereka itu tipe orang-orang yang akan melakukan apapun demi mendapatkan kekuasaan.”

“Di kepala mereka, cuma ada keluarganya. Itu makanya mereka selalu melindungi anak-anak mereka dengan cara apapun sekalipun anak-anak itu telah melakukan tindak kriminal yang parah.”

“Walaupun kita sudah jadi hantu, nyatanya melakukan balas dendam masih tidak mudah,” Kian memungkasi bicaranya yang panjang sambil menundukkan wajahnya.

Untuk beberapa lama, suasana menjadi hening setelah Kian berhenti berbicara. Liana melihat teman-teman barunya menundukkan kepala sambil memasang muka yang muram. Melihat pemandangan itu, rasa bersalah muncul di hati Liana. Ia merasa bersalah karena telah memaksa para arwah itu untuk meneror para pem-bully tanpa tahu apa saja yang sudah pernah mereka alami selama mencoba melakukan hal itu.

“Te … sate …” Suara tukang sate dari kejauhan memecah kesunyian dalam kelompok hantu itu. Liana dan teman-teman barunya spontan menoleh ke sumber suara. Dalam cahaya remang, tampak siluet seseorang yang sedang mendorong gerobak bergerak menuju ke arah mereka. Semakin lama siluet itu semakin membesar. Semakin tampak pula sosok yang mendorong gerobak itu.

“Mang Ade?” sebut Kian.

Liana menoleh ke arah Kian yang menyebut suatu nama. Ketika ia kembali menoleh ke siluet itu, matanya terbelalak. Ia tercekat.

“Lah, mana kepalanya!?”

[Bersambung]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya