Hantu-Hantu yang Gagal Menghantui - Part 6
Akhirnya, hari yang ditentukan pun tiba. Liana, Kian, Kalya, dan teman-teman hantu yang lain berjalan menuju gedung olahraga sekolah. Mang Ade pun ikut bersama mereka. Ia juga membawa hantu-hantu kenalannya sebagai bala bantuan.
Matahari sudah berada di sebelah barat saat mereka menyusuri koridor sekolah untuk sampai di tempat tujuan mereka. Sepanjang jalan, Liana melihat beberapa murid mondar-mandir berkeliaran sambil mengenakan baju bebas. Ada pula yang tampak berkeringat dengan baju olahraga melekat di badan dan handuk menggantung di leher. Hari ini memang ada jadwal pertandingan liga basket sekolah yang selalu diadakan tiap tahunnya. Aksi mereka sudah direncanakan untuk dilakukan pada hari ini, seperti yang telah disampaikan dalam rapat strategi kelompok hantu.
…
“Berdasarkan informasi dari teman indigonya Kalya, bakal ada jadwal liga basket di sekolah saat weekend dalam waktu dekat ini. Katanya, di hari itu, ada banyak pertandingan yang dimulai dari pagi sampai menjelang magrib. Kita bisa pakai waktu menjelang magrib ini buat melancarkan aksi kita. Apalagi, katanya itu jadwal pertandingan antara kelas XII-3 IPA lawan kelas XII-1 IPS yang disebut-sebut bakal rame,” terang Kian.
“Sebenarnya, waktu prom night lebih aku suka sih buat aksi kita. Cuma, sekolah biasanya bakal ekstra waspada untuk acara-acara di malam hari. Ekstra waspada di sini maksudnya adalah mereka bakal minta bantuan cenayang kepercayaan mereka buat membersihkan dan mengusir makhluk-makhluk gaib di sekolah.”
“Jadi, menurutku, lebih baik kita menakut-nakuti mereka di jadwal terakhir pertandingan basket di weekend ini. Walaupun kekuatan kita tidak sebesar saat malam, setidaknya kita punya sedikit kekuatan lebih saat menjelang magrib.”
“Lagipula, kelas XII-1 IPS itu kelasnya Via, kan? Si pemimpin geng cewek yang jadi target balas dendam kamu?” tanya Kian sambil menatap ke arah Liana.
…
Setelah berjalan beberapa lama, Liana dan para hantu sudah tiba di tujuan mereka, gedung olahraga sekolah. Sesuai perkiraan, banyak bangku penonton telah terisi oleh para murid. Para pemain dari kedua tim sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan basket yang kosong. Jam di gedung itu menunjukkan setengah enam sore kurang lima menit. Menurut jadwal, lima menit lagi pertandingan dimulai.
Lima menit telah berlalu. Wasit membunyikan peluit. Para pemain dari kedua tim berjalan menuju ke tengah lapangan lalu bergegas menempati posisi masing-masing. Tepat di titik tengah lapangan, satu pemain dari kedua tim berdiri saling berhadapan. Mereka saling melempar tatapan tajam. Di antara mereka, seorang wasit sedikit membungkuk dengan bola di tangan kanan dan peluit terapit di bibirnya.
Peluit berbunyi. Bola melambung ke atas. Kedua pemain berusaha memperebutkan bola itu. Permainan pun dimulai. Para pemain dari kelas XII-3 IPA berusaha untuk mendribel bola itu ke daerah lawan, sementara tim XII-1 IPS berusaha untuk merebut bola itu. Dalam waktu singkat, bola itu selalu berpindah-pindah dari satu tim ke tim lain. Para penonton bersorak-sorai menyaksikan pertandingan yang sangat intens itu. Sementara itu, Liana dan para hantu bersiaga di posisinya masing-masing. Liana mendapat tugas berjaga di dalam gedung olahraga.
Setengah jam telah berlalu. Permainan telah mendekati penghujung waktu. Para penonton berteriak penuh semangat melihat suasana di lapangan yang semakin tegang.
“Prang!”
Tiba-tiba, jam di gedung olahraga pecah. Semua murid mendadak mengalihkan perhatiannya ke arah suara jam yang pecah itu. Sesaat setelah itu, sebuah benda bundar menggelinding di tengah lapangan, di antara kaki para pemain.
“Waaa!”
Para pemain menjerit-jerit layaknya anak kecil yang ketakutan. Benda yang menggelinding di tengah lapangan itu ternyata adalah sebuah kepala. Kemudian, terdengar bunyi gemuruh benda-benda yang bergeser dan berjatuhan. Sontak, semua yang berada di sana menjadi panik dan menjerit histeris.
Melihat keadaan yang kacau itu, Liana langsung beraksi.
Ia segera berlari ke arah kerumunan murid yang panik, mengincar salah seorang di antara mereka. Lalu, ia merasuki tubuhnya, memainkannya layaknya boneka. Setelah merasuki satu orang, ia berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Hantu-hantu lainnya ikut merasuki tubuh murid-murid di sana.
Di gudang olahraga, beberapa murid dibuat lari tunggang-langgang. Benda-benda di dalam sana melayang ke arah mereka.
Kejadian yang berbeda terjadi di toilet gedung olahraga. Para murid di dalam sana merinding melihat pesan “AKUILAH DOSA-DOSA KALIAN!” yang tertulis besar-besar di cermin menggunakan darah. Ditambah lagi, terdengar suara tawa perempuan di dalam sana. Mereka yang ketakutan langsung memilih keluar dari sana. Namun, mereka tak bisa membuka pintu toilet yang mendadak tertutup.
Di tengah kekacauan itu, Liana tertawa terbahak-bahak. Ia menikmati pemandangan para murid yang histeris ketakutan.
“Hahaha! Rasakan pembalasanku!” teriak Liana melalui tubuh seorang murid yang sedang ia rasuki.
Tiba-tiba, ia melihat Via dan beberapa anak buahnya berdiri di depan pintu gedung olahraga. Mereka tampak diam mematung dengan mata terbelalak. Melihat hal itu, Liana langsung mengambil kesempatan untuk merasukinya.
Liana segera lepas dari tubuh yang ia rasuki lalu berlari menuju Via yang masih terperangah. Tinggal beberapa langkah lagi, ia bisa mencapai tubuh Via. Namun, tiba-tiba …
“BUK!”
Liana terhempas ke lantai. Ia terkejut.
Liana berusaha bangkit untuk mendekati Via lagi. Tiba-tiba, para guru datang dari belakang Via bersama seorang pria berjanggut putih dan berpakaian serba hitam. Pria itu mengenakan banyak aksesoris di badannya: kalung kantong kulit di leher, keris di pinggang, dan batu akik berwarna-warni di jari-jari tangan. Dengan membawa kemenyan yang terbakar di tangan kirinya, ia berjalan cepat sambil mengangkat tangan kanannya ke depan.
Mendadak, Liana merasakan badannya sedang didorong oleh sesuatu. Rasanya, ia sedang berada di dalam gelombang air yang besar. Samar-samar, ia melihat semacam kabut putih tipis sedang bergerak menyelimuti seisi gedung olahraga.
“Pergi kalian makhluk halus! Jangan berani-berani mengganggu manusia lagi!” teriak pria itu.
Pria itu menyerahkan kemenyan pada salah satu guru di sampingnya. Kemudian, ia mulai bergerak-gerak seperti sedang melakukan tarian atau silat. Pada saat yang bersamaan, Liana merasakan badannya didorong semakin kuat. Ia seperti sedang dihantam air bah. Ia tak kuat lagi bertahan. Ia terhempas.
“Liana!” panggil Mang Ade yang tampak kesakitan tak jauh darinya. “Kita harus keluar dari sini!”
Liana beserta Mang Ade dan hantu-hantu lainnya lari terbirit-birit menuju pintu keluar gedung olahraga. Keadaan yang semula dikuasai para hantu kini telah terbalik. Merasa energi dari pria itu masih terus menyerang mereka, para hantu itu terus berlari hingga keluar sekolah.
Setelah kejadian itu, jimat-jimat penangkal kekuatan gaib ditempatkan semakin banyak di seluruh penjuru sekolah. Pepohonan di sisi barat yang terkenal angker pun akhirnya ditebang dan digantikan oleh sebuah taman. Tentunya, taman itu juga diberi jimat penangkal kekuatan gaib. Liana dan para hantu kehilangan markas mereka. Alhasil, mereka berpindah ke sebuah pohon beringin besar di bundaran dekat sekolah.
“Aku … mau minta maaf …” lirih Liana.
Kian dan Kalya yang mendengar itu terdiam beberapa saat. Kian menghela napas sebelum berbicara.
“Nggak apa-apa, Liana. Kami juga yang mengiakan permintaan kamu.”
“Tapi, dari kejadian ini kamu jadi tahu, kan? Gimana pun kita menghantui mereka, kasus bullying nggak akan pernah terungkap kalau nggak ada yang lapor ke pihak berwenang.”
“Jadi, intinya, nggak ada yang bisa kita lakuin?” tanya Liana.
“Ya, paling kita cuma bisa bersabar,” kata Kian.
[TAMAT]
Komentar
Posting Komentar