Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

41. Pertarungan Mantan Petugas Keamanan

Pertarungan Mantan Petugas Keamanan Andri, Oji, dan Hadi berhadapan dengan Karl Armstrong dan Aldric. Mereka saling menjaga jarak. “Kalian tidak menyerang?” tanya Karl. Baru saja ia bertanya, Andri langsung menyemburkan api ke arahnya. Ia dan Aldric langsung menghindar. Namun, mereka berdua langsung dikejutkan dengan Oji dan Hadi yang siap menyerangnya. “Tipuan!” kata Oji. Ia langsung menendang perut Aldric. Dengan cepat, Aldric memegang kaki Oji dan memelintirnya. Oji tidak habis akal. Ia memutarkan badannya mengikuti arah pelintiran. Ia langsung menendang kepala Aldric. Aldric langsung melepaskan kaki Oji lalu menangkis tendangannya.

40. Gulingkan Raja Ehud!

Gulingkan Raja Ehud! Siang itu merupakan siang yang cerah. Namun, tak ada aktivitas di kota itu. Jalanan terlihat sepi. Toko-toko tutup. Suara pembawa kabar tak terdengar. Tak terdengar suara ribut di pasar. Kota itu bagaikan tak berpenghuni. Akan tetapi, alun-alun kota penuh dengan para penduduk. Mereka  . Erza selaku pangeran kerajaan memimpin pemberontakan. Ia dibantu oleh Paman Ade, Master Evie, Hilman, dan Fitri. Pagi ini, dia mengarahkan para pemberontak untuk melakukan aksi pemberontakan yang akan dilakukan nanti malam.

ESPC (Erza Sang Pangeran Cermin)

“Untuk menjadi cermin, kita harus melampaui cermin kita sendiri. Kita tak akan bisa menjadi cermin jika kita terus bercermin. Dapatkah kita melampauinya?” Erza Sang Pangeran Cermin adalah proyek tulisan pertama saya. Tulisan ini menceritakan perjuangan sang pangeran yang diasingkan oleh adik ayahnya. Ayahnya adalah seorang raja. Ketika ia meninggal, adik ayahnya, Ehud, mengasingkan sang pangeran ke sebuah hutan. Untungnya, ia menemukan seorang lelaki yang mengajarkannya berbagai keahlian. Lelaki itu berpesan kepadanya jika ia ingin kembali ke istana dan merebut kembali tahta yang direbut oleh Ehud, ia harus mengumpulkan 69 orang dan 13 berlian. Ia juga harus berguru kepada guru-guru yang lain. Dari sanalah perjuangannya dimulai. Sepanjang perjalanannya, ia menghadapi banyak tantangan. Lebih banyak ia harus bertarung dengan berbagai kelompok penjahat dan orang-orang suruhan istana. Dapatkah ia berhasil mengumpulkan semuanya? Apakah ia akan berhasil kembali ke istana dan merebut kemb...

39. Di Bawah Istana

Di Bawah Istana Kota Miracle pun kembali tenang. Para penduduk beraktivitas seperti biasa kembali. Namun, pemberontakan tetap terjadi. Kali ini, giliran para pembawa kabar yang melakukan pemberontakan. Mereka mengabarkan berita tentang raja kepada penduduk yang sedang mengelilinginya untuk mendengarkan kabar itu. “Wahai penduduk Kota Miracle sekalian! Tidak Cuma kita yang menderita seperti ini. Namun, penduduk di beberapa kota lain juga mengalami nasib yang sama seperti kita. Mereka sama-sama menderita. Harta mereka diperas, dirampas, bahkan diambil paksa. Mereka pun tidak sejahtera. Para petani dipaksa untuk terus bekerja tanpa istirahat. Hama menyerang lahan pertanian mereka. Namun, para petanilah yang disalahkan. Menurut kabar yang didapat, rupanya beberapa walikota adalah kaki tangan Raja Ehud. Sudah kita ketahui, ternyata Raja Ehud adalah penguasa yang maruk! Ia berniat mengambil semua harta kita untuk dirinya sendiri! Mari, kita satukan kekuatan kita untuk menggulingkan Raja E...

38. Rahasia di balik 13 Berlian

Rahasia di balik 13 Berlian Pagi sudah menjelang. Matahari bersinar sangat cerah. Burung-burung beterbangan di udara. Mereka saling berkicau satu sama lain. Namun, muka Erza tidak secerah sinar matahari pagi. Ia masih bingung dengan berlian-berlian yang ia kumpulkan. Kemarin sore, ia sudah mengumpulkan empat berlian yang masih dipegang oleh teman-temannya. Ia terus mengutak-atik ke-13 berlian itu.

37. Terkumpul!

Terkumpul! Malam yang panjang sudah berlalu. Kini, pagi mulai menjelang. Matahari sebentar lagi akan terbit. Air bekas hujan semalam masih tergenang di jalanan. Udara dingin masih terasa. Orang-orang banyak yang masih tertidur lelap. Namun, sekelompok masa sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan, mereka sedang berjalan menuju sebuah tempat. Mereka adalah kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Hilman dan Fitri sebagai wakilnya. Mereka semua terlihat membawa sekantong batu yang cukup besar, palu, pedang, celurit, dan senjata tajam lainnya. Mereka berjalan secara terpisah. Ada yang berjalan melalui pinggir kota dan ada yang melalui jalan-jalan kecil di tengah kota. Baik pinggir kota maupun tengah kota, keduanya terdapat prajurit-prajurit yang sedang berjalan-jalan menjaga keamanan dan ketertiban kota. Namun, para pemberontak itu tidak takut. Mereka berani menghadapi ratusan prajurit demi kesejahteraan rakyat Negeri Mirror. Mereka berjalan tanpa rasa takut.

36. Penderitaan, Pemberontakan, Ketidakpercayaan

Penderitaan, Pemberontakan, Ketidakpercayaan Matahari belum terbit. Langit masih hitam dan penuh dengan bintang-bintang. Namun, matahari akan terbit sebentar lagi. Artinya, saat itu sedang fajar. Tak biasanya, Erza bangun pagi sekali. Rayhan pun bangun bersamaan dengannya. Mereka berdua keluar dari tempat itu untuk berjalan-jalan. Mereka pun membuka pintu tempat mereka masuk kemarin. Mereka segera berjalan ke jalan besar. Ketika mereka sedang berjalan, seorang anak kecil berlari menuju mereka. Lalu, anak itu bersembunyi di belakang mereka. "Tolong aku, tolong aku, kak." kata anak kecil itu.

35. Penolong dan Penyerang

Penolong dan Penyerang Erza dan teman-temannya sedang terkepung. The Secret Five dan prajurit-prajurit siap menghabisi mereka dan membawa mereka ke penjara. Tak ada pilihan lain selain bertarung. "Semuanya, siapkan senjata kalian." kata Erza. Semua temannya langsung menyiapkan senjatanya.

34. Kejar! Lari! Potong Jalan!

Kejar! Lari! Potong Jalan! "Lihat! Erza dan teman-temannya mulai jalan!" kata Randi yang sedang membaca peta. "Mereka ke arah mana!?" tanya Fredderson. "Dari arahnya, sepertinya mereka akan pergi ke Kota Miracle!" jawab Randi. "Oke! Semuanya, kita kejar mereka!" kata Fredderson. Mereka semua langsung mengemas barang-barang mereka. Setelah itu, Fredderson memanggil burung elang raksasa peliharaannya. Mereka pun menaiki burung itu dan mengejar Erza dan teman-temannya. Sementara itu, Erza dan teman-temannya sudah berjalan cukup jauh dari Kota Jambalroti. Untungnya Dhea punya keahlian memanggil tikus badak raksasa yang selalu bersembunyi di bawah tanah. Dengan begitu, mereka akan cepat sampai di Kota Miracle.

33. The Secret Five dan Mirror Wonderland

The Secret Five dan Mirror Wonderland Raja Ehud mengutus lima orang kepercayaannya untuk membunuh Erza dan kawan-kawannya. Awalnya, ia mengutus dua orang untuk menangkap mereka. Namun, mereka berdua bergabung dengan Erza. Akhirnya, ia mengutus lima orang kepercayannya sebagai gantinya. Sebenarnya, siapa kelima orang itu? Mereka adalah pengikut setia Raja Ehud. Mereka dijuluki sebagai "The Secret Five". Merekalah yang membantu Raja Ehud dalam usahanya mengasingkan Erza dan menduduki tahta kerajaan. Mereka berlima dikenal sebagai penjahat kelas kakap yang bersembunyi di balik kegelapan. Mereka sering beraksi di tengah malam, ketika semua orang tengah tertidur lelap. Kelima orang itu adalah Aldric, Randi, Van Porter, Fredderson, dan Tauma.

32. Lawan Jadi Kawan

Lawan Jadi Kawan Desa Blacksteel benar-benar sepi. Tidak ada yang bangun pada malam itu. Namun, ada seseorang yang terbangun pada malam itu. Ia berdiri dan membangunkan Erza yang tengah tertidur lelap. "Erza, Erza, bangun." kata orang itu. Erza terbangun dari tidurnya. "Paman Erwin?" kata Erza. "Ssst... jangan berisik! Ikut paman." kata Paman Erwin. Paman Erwin dan Erza keluar dari rumahnya. Mereka berdua berjalan pelan-pelan. Lama-lama mereka meninggalkan desa itu. Sekarang, mereka sedang berjalan di tengah hutan yang sangat gelap. Pandangan Erza terbatas saking gelapnya hutan itu. Ia berpegangan dengan Paman Erwin supaya tidak tersesat.

31. Paman Erwin

Paman Erwin Miracle, ibukota Kerajaan Mirror. Malam di kota itu benar-benar malam yang tenang. Namun, tenang di kota itu bukan berarti aman. Banyak para pencuri, perampok, dan pembunuh di pinggir jalan. Mereka bersembunyi di balik apa saja yang ada di pinggir jalan. Jika ada seseorang yang sedang berjalan di tengah malam, mereka langsung menyambar orang tersebut. Kejadian ini akan terulang kembali di malam itu.

30. Pagi di Warung Van Harjo

Pagi di Warung Van Harjo Akhirnya, satu bulan telah berlalu. Masa-masa yang penuh siksaan di School van Nationaal Ontwaken telah berakhir. Kini, mereka telah lulus dari sekolah itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi, mereka tidak tahu mau ke mana lagi. "Gimana nih sekarang?" tanya Erza. "Aku juga nggak tau, Za." jawab Rayhan. Sementara itu, teman-temannya ingin jalan-jalan di kota itu. "Nggak usah bingung, kita jalan-jalan aja dulu di kota ini." kata Irfan. "Boleh juga." kata Ira. Teman-temannya ikut mendukung Ira dan Irfan. Akhirnya, Erza memutuskan untuk jalan-jalan di kota itu. "Oke, oke, kalian boleh jalan-jalan. Tapi ingat, nanti malam kita kumpul di taman ini lagi." kata Erza. Begitu Erza selesai berbicara, teman-temannya langsung kabur begitu saja. Yang masih berdiri di taman itu hanyalah ia, Fahri, Rayhan, Alidza, dan Ammar. "Eh, kalau jalan-jalan langsung semangat." kata Erza. ...

29. Sekolah Elit Bawah Tanah

Sekolah Elit Bawah Tanah Akhirnya, Erza, Ivan dan teman-temannya sampai di pelabuhan Pulau Ketimuran. Di sana, banyak orang yang menantikan kedatangan kapal layang. Setibanya di sana, Pak Anshor dan teman-teman satu klubnya langsung pergi ke tempat pendaratan kapal layang. "Kalian siapa? Kenapa kalian berdiri di atas sana?" tanya seseorang yang ada di sana. "Sayalah kapten kapal layang dan di belakang saya ini adalah krunya." kata Pak Anshor. Semua orang langsung terkejut. "Bohong kalian! Kalau kalian adalah para kru kapal layang, kenapa kalian bisa sampai di sini?" tanya seseorang yang ada di sana. "Kapal layang kami jatuh di sebuah pulau. Lalu, kami diselamatkan oleh Raja Isfan dan para pegawainya dan sekelompok penjelajah yang kebetulan ada di sana." kata Pak Anshor. "Yang bener kalian semua!" teriak seseorang yang ada di sana. "Benar. Jika mau bukti, coba datangi pulau... pulau apa?" tanya Pak Anshor kepada Ivan....

28. Harta Karun untuk Erza

Harta Karun untuk Erza "Turunkan jangkar!" teriak seorang raja dengan suara keras. Dengan sigap, beberapa pegawainya langsung menurunkan jangkar. Kapal pun berlabuh di sebuah pulau tak berpenghuni. "Kita akan beristirahat sampai badai sudah hilang!" teriak raja tersebut. Mereka tetap diam di kapal itu karena di luar sedang hujan. Sementara itu, di pulau yang sama, terdapat sekelompok penjelajah sedang mencari harta karun yang terpendam di sana. "Gimana nih? Hujan makin deras!" tanya sang pemimpin penjelajahan. "Ya udah, kita istirahat aja dulu! Kita juga mulai kecapekan!" jawab salah satu temannya. "Oke, kita istirahat dulu!" kata sang pemimpin tersebut. Mereka pun membuat bivak dan langsung beristirahat. Di tempat yang lain, Erza dan teman-temannya masih harus bertarung di tengah ancaman badai yang dahsyat. Selain itu, mereka bertarung di tempat yang tidak lazim, yaitu di langit. Keadaan mereka juga diperparah dengan kapal me...

27. Pertarungan di Udara

Pertarungan di Udara Matahari mulai muncul di ufuk timur. Sinarnya mulai menyelimuti dunia. Hangatnya mulai terasa di kulit. Ayam-ayam pun mulai berkokok. Satu per satu orang yang ada di kapal itu mulai bangun. Mereka langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, mereka sarapan pagi untuk mengisi tenaga mereka untuk melanjutkan penjelajahan. "Nyalakan api!" teriak Pak Anshor. Api menyala. Balon pun mengembang. "Turunkan layar!" teriak Pak Anshor. Layar yang ada di samping langsung diturunkan. Kapal pun siap berangkat lagi. Cuaca pada hari itu sangat cerah. Langit berwarna biru cerah. Burung-burung tampak beterbangan di langit. Angin bertiup sepoi-sepoi. Kapal itu terbang dengan tenang dan aman. Kak Yopi memantau keadaan sekitar kapal itu sedangkan Pak Anshor sedang mengecek ruangan rahasia yang ada di kapal itu. Para wartawan sedang asyik memotret aktivitas para anggota klub penjelajah alam yang sedang bekerja. Sementara itu, Erza dan te...