37. Terkumpul!


Terkumpul!

Malam yang panjang sudah berlalu. Kini, pagi mulai menjelang. Matahari sebentar lagi akan terbit. Air bekas hujan semalam masih tergenang di jalanan. Udara dingin masih terasa. Orang-orang banyak yang masih tertidur lelap. Namun, sekelompok masa sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan, mereka sedang berjalan menuju sebuah tempat. Mereka adalah kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Hilman dan Fitri sebagai wakilnya. Mereka semua terlihat membawa sekantong batu yang cukup besar, palu, pedang, celurit, dan senjata tajam lainnya. Mereka berjalan secara terpisah. Ada yang berjalan melalui pinggir kota dan ada yang melalui jalan-jalan kecil di tengah kota. Baik pinggir kota maupun tengah kota, keduanya terdapat prajurit-prajurit yang sedang berjalan-jalan menjaga keamanan dan ketertiban kota. Namun, para pemberontak itu tidak takut. Mereka berani menghadapi ratusan prajurit demi kesejahteraan rakyat Negeri Mirror. Mereka berjalan tanpa rasa takut.


Sementara itu, Rachen mengamati keadaan kota dengan kolam ramalannya. Ia melihat sekelompok masa sedang berjalan menuju suatu tempat. Ia melihat senjata-senjata yang dibawa oleh mereka. Setelah itu, ia langsung melaporkan hal tersebut kepada Raja Ehud.

"Tuan! Tuan!" teriak Rachen sambil menghadap Raja Ehud.

"Ada apa?" tanya Raja Ehud dengan tenang.

"Ada sekelompok orang yang membawa senjata-senjata tajam. Sepertinya mereka akan memberontak lagi!" lapor Rachen.

Raja Ehud langsung memanggil salah satu jenderal.

"Jenderal Kemp Mayer!" panggil Raja Ehud. Jenderal itu langsung menghadap kepada Raja Ehud.

"Ada apa, tuan?" tanyanya sambil menghormat kepada Raja Ehud.

"Suruh semua prajurit kamu untuk berjaga-jaga di sekitar istana. Sepertinya akan ada pemberontakan lagi." kata Raja Ehud.

"Baik!" kata Kemp Mayer. Ia langsung pergi dari tempat itu. Rachen pun langsung pergi.

Sementara itu, Erza yang sedang tertidur lelap langsung terbangun. Ia mendengar suara langkah kaki yang begitu keras. Ia menduga ada banyak orang yang sedang berjalan menuju sebuah tempat. Ia langsung bangkit dari tikar tempat tidurnya dan langsung berjalan menuju keluar. Namun, ketika ia akan melangkah, ia melihat dua sosok hitam yang sedang menuruni tangga.

"Tunggu! Siapa kalian!?" teriak Erza. Kedua sosok itu tidak menjawab. Mereka langsung menuruni tangga. Tanpa berpikir lama, ia langsung mengejar dua sosok itu. Akan tetapi, langkah kedua sosok itu sangat cepat. Erza tidak bisa menyusulnya. Ia langsung kelelahan. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang di belakangnya.

"Ada apa, Za?" tanya Fahri.

Erza langsung kaget setengah mati. Hampir saja jantungnya copot. Ternyata, Rayhan, Fahri, Alidza, dan Ulwan sudah bangun.

"Tadi ada suara ribut di luar. Terus ada dua sosok nggak jelas turun ke bawah." jawab Erza.

"Kalau gitu, coba kita keluar." kata Fahri.

Mereka berlima langsung keluar dari bangunan itu melalui pintu belakang. Kebetulan, ketika mereka keluar, mereka menemui seorang lelaki tua bertopi petani, memakai sarung yang diselendangkan, dan berbaju hitam yang sedang duduk bersandar di dinding. Lelaki itu langsung menengok ke arah Erza dan keempat temannya.

"Kalian mencari para pemuda yang berjalan bersama-sama menuju sebuah tempat?" tanya lelaki tua itu.

"Tidak, kami mencari suara ribut yang terdengar dari dalam bangunan ini dan dua sosok yang tadi ada di dalam bangunan ini." jawab Erza.

"Suara ribut tadi dihasilkan oleh langkah kaki para pemuda tadi yang melewati jalan ini. Dua sosok yang kalian cari tadi keluar dari pintu tempat kalian keluar dan bergabung dengan para pemuda tadi." kata lelaki tua itu.

"Mereka mau ke mana?" tanya Ulwan.

"Mereka sepertinya akan memberontak ke istana kerajaan." jawab lelaki tua itu.

"Memberontak? Sepagi ini?" kata Rayhan.

"Ya, mereka memang tidak memberontak pada siang hari. Mereka lebih suka memberontak pada petang hari, dini hari, atau pagi hari. Namun, pagi hari mereka tidak seperti pagi hari kalian. Mereka menganggap pagi lebih awal dari kalian." kata lelaki tua itu.

Tiba-tiba, di belakang Erza dan keempat temannya muncul Iqbal dengan muka tanpa ekspresi.

"Iqbal?" mereka berlima kaget. Iqbal hanya terdiam begitu saja.

"Ada apa?" tanya Iqbal.

"Bukan apa-apa." jawab Alidza.

"Ya, bukan apa-apa." Erza menimpali.

"Ya udah." Iqbal kembali masuk ke bangunan itu. Mereka berlima terheran-heran.

"Teman kalian yang tadi unik juga." kata lelaki tua itu.

"Memang. Dia itu pendiam. Tapi, suka tiba-tiba muncul kayak gitu." kata Ulwan.

"Hmm..." gumam lelaki tua itu.

"Oh, ya, kalian tidak ikut memberontak?" tanya lelaki tua itu.

"Tidak. Kami juga baru tahu." jawab Erza.

"Lebih baik kalian ikut saja agar para pemberontak lebih terbantu lagi." kata lelaki tua itu.

"Boleh, sih. Tapi teman-teman kita yang lain masih tidur." kata Erza.

"Ya sudah. Nggak ikut juga nggak apa-apa. Bukan kewajiban gini, kok. Gitu aja kok repot." kata lelaki tua itu.

Lelaki tua itu menghela nafas. Ia langsung menceritakan tentang masa lalunya.

"Dulu, kakek ini seorang kapten pemimpin ekspedisi pemerintahan. Kakek dan anak buah sudah mengarungi berbagai samudra dan menyinggahi berbagai pulau. Baik pulau kecil maupun pulau besar. Setiap menyinggahi sebuah pulau, kakek mendapat buah tangan dari sana. Kakek juga mahir membuat syair dan cerita. Para anak buah kakek senang mendengar cerita lucu dari kakek. Dulu juga, kakek sering dipuji raja karena kakek selalu menjalankan tugas dengan baik. Raja juga pernah berjanji kepada kakek jika kakek sudah pensiun, kakek akan mendapatkan hidup yang layak. Tapi, raja itu sudah wafat sebelum menepati janjinya. Kakek tidak bisa lagi menunggu janji raja. Kakek harus berjuang sendiri." kata lelaki tua itu.

Lelaki tua itu kembali menghela nafas. Ia kembali bercerita.

"Sekarang, negeri ini semakin kacau balau. Rakyat diperas dan ditindas, para prajurit berbuat seenaknya, kesejahteraan rakyat tidak dipedulikan lagi, dan kriminalitas terjadi di mana-mana. Kakek menjadi sedih jika melihat nasib negeri ini sekarang." kata lelaki tua itu.

Erza dan keempat temannya hanya terdiam mendengarkan cerita lelaki tua itu. Setelah lama bercerita, lelaki tua itu bangkit dari duduknya.

"Kakek berharap pada pemuda seperti kalian. Masa depan negeri ini ada di tangan kalian, para pemuda." kata lelaki tua itu. Ia pun pergi meninggalkan mereka berlima. Ketika lelaki tua itu pergi, tiba-tiba Iqbal, Arif, Ammar, Galih, Ayang, Dede, dan beberapa teman Erza yang lainnya muncul di belakang mereka berlima.

"Apa kita mau ikut memberontak?" tanya Yatta.

"Kalau bukan di istana kerajaan, sih..." pikir Erza.

"Kenapa?" tanya Ulwan.

"Nanggung." jawab Erza.

Mereka semua terdiam sejenak. Memang benar, lebih baik memberontak saat semua orang dan berliannya terkumpul. Mereka semua menjadi bingung.

Tiba-tiba, sebuah teriakan mengagetkan mereka. Mereka segera menoleh ke arah teriakan itu.

"Cepat, dek! Kita harus tolong kakak!" teriak seseorang yang membawa adiknya. Mendengar teriakan itu, Ocha teringat bahwa Dhea dan Anya ikut memberontak dengan kelompok pemberontak.

"Oh, ya, Anya sama Dhea 'kan lagi ikut memberontak." kata Ocha dalam hati.

Ocha langsung mengajak Erza untuk pergi ke tempat pemberontakan.

"Erza! Ayo kita pergi ke tempat pemberontakan! Anya sama Dhea ikut ke sana! Ayo kita selamatin! Biasanya para pemberontak diserang pake senjata-senjata mengerikan! Seperti panah, pedang, bom racun, dan bom asap!" kata Ocha dengan nada terburu-buru.

"Sebentar, kita harus bawa senjata-senjata kita dulu!" kata Erza.

"Makanya, ayo cepat!" kata Ocha.

Erza dan semua temannya langsung membawa senjata-senjata mereka. Lalu, mereka langsung pergi ke istana kerajaan, tempat pemberontakan terjadi.

Sementara itu, di depan istana kerajaan, terjadi pemberontakan besar. Sebagian penduduk kota ikut dalam pemberontakan itu. Mereka melempari istana dengan batu, bom asap, bom racun, bahkan kotoran binatang. Mereka juga berusaha mendobrak pintu gerbang istana. Para prajurit tidak diam saja. Mereka melepaskan panah-panah api ke arah para pemberontak. Tidak cuma itu, mereka juga melempar bom asap, bom racun, dan batu ke arah para pemberontak. Mereka juga sudah mempersiapkan catapult untuk menyerang para pemberontak.

"Turunkan Raja Ehud! Turunkan raja babi itu!" teriak Hilman dengan keringatnya yang bercucuran deras.

Para pemberontak terus menyerang istana kerajaan. Mereka mencoba untuk masuk ke dalamnya. Mereka mencoba untuk melompati benteng istana yang tinggi dan tebalnya luar biasa. Di antara mereka ada yang mencoba untuk memanjat benteng menggunakan tali. Namun, tali itu langsung dipotong oleh prajurit kerajaan. Ada juga yang mencoba dengan cara menggunakan bambu sebagai alat bantu. Namun, orang itu langsung dihabisi oleh para prajurit.

Di antara para pemberontak, ada juga pemberontak yang memberontak dengan lelucon.

"Raja kita sukanya dansa tiap malam! Cita-citanya jadi penari perut nggak kesampaian!" teriak salah seorang pemberontak. Para pemberontak lainnya tertawa terbahak-bahak.

"Bukan! Cita-citanya itu jadi badut jalanan!" teriak pemberontak lainnya. Para pemberontak lainnya tertawa terbahak-bahak.

Sementara itu, Erza dan teman-temannya masih dalam perjalanan menuju istana kerajaan. Jarak dari bangunan tempat mereka singgah dengan istana kerajaan sangat jauh. Istana kerajaan terletak di Miracle Hill, bagian utara kota itu. Bangunan tempat mereka singgah letaknya di selatan kota, cukup dekat dengan benteng kota bagian selatan. Untungnya Dhea memelihara tikus tanah itu. Mereka tidak usah mencari tunggangan lain untuk pergi ke sana.

"Ocha, jangan sampai salah arah. Kita ada di dalam tanah. Susah buat liat ke atas. Kalau mau liat ke atas, kita harus keluar dari sini." kata Putik.

"Beres." kata Ocha.

"Ayo tikus gendut! Lari lebih cepat lagi! Jangan kalah sama gajah!" teriak Ocha sambil mencambuk tikus itu. Tikus itu berlari lebih cepat.

Hari semakin siang. Pemberontakan masih terus terjadi. Hilman masih terus berteriak. Keringat terus bercucuran di seluruh tubuhnya.

"Kami meminta perubahan! Kami meminta keadilan! Kami meminta kesejahteraan!" teriak Hilman.

Salah satu prajurit kerajaan mengarahkan busur panahnya ke arah Hilman. Ia bersiap-siap untuk melepaskan anak panah. Setelah dirasa akan tepat sasaran, ia langsung melepaskan anak panah.

"SYUUUT!" sebuah anak panah melesat menuju ke arah Hilman. Hilman yang sedang berteriak langsung terkejut. Anak panah itu jaraknya hanya beberapa senti dengan badan Hilman. Tiba-tiba, anak panah itu terbakar oleh bola api.

"Siapa itu?" Hilman terkejut.

Tiba-tiba, Andri muncul di sebelah Hilman.

"Halo, bro!" sapa Andri.

"Halo." balas Hilman.

Andri langsung melompat menuju benteng istana. Di atas benteng, ribuan prajurit kerajaan sedang menyerang para pemberontak. Andri melihatnya sebagai sasaran empuk. Ia meminum minyak yang ia bawa dan menyalakan obor. Setelah itu, ia memuncratkan minyak yang ada di dalam mulutnya.

"Shooting Fire!" sebuah bola api meluncur ke arah para prajurit itu. Melihat itu, mereka semua langsung berlarian. Tanpa pikir panjang, beberapa di antara mereka langsung lompat dari atas benteng itu. Mereka pun mati dihabisi oleh para pemberontak. Sebagiannya lagi mati karena melompat dari atas benteng. Sebagiannya lagi mati terbakar. 

"HUP!" Andri mendarat di atas benteng istana yang terbakar.

Yatta, Ocha, dan Putik mencari Anya dan Dhea. Sangat sulit mencari kedua orang itu di tengah kerumunan yang sangat padat itu. Untungnya, ia membawa sesuatu yang dapat memanggil mereka berdua dengan cepat.

"TUK, TUK, TUK." Ocha membunyikan pentungan bambu secara terus-menerus sambil berjalan mencari mereka berdua. Cukup lama untuk menemukan mereka. Namun, Ocha tidak henti-hentinya memukul pentungan itu.

Setelah beberapa lama ia mencari mereka, akhirnya ia menemukan mereka berdua.

"Anya, Dhea, ayo kita pulang!" kata Ocha.

"Pulang? Kenapa?" tanya Anya.

"Di sini bahaya." jawab Ocha.

"Ya iyalah, namanya juga pemberontakan." kata Anya.

"Pokoknya, ayo kita pulang!" kata Ocha.

"Kenapa?" tanya Anya.

Tanpa basa-basi, Ocha menarik lengan Anya dan Dhea. Diseretnya mereka keluar dari kerumunan.

Sementara itu, Erza dan Savannah mencari Hilman dan Fitri. Erza sudah berhasil menemukan Hilman. Begitu juga dengan Savannah. Ia sudah menemukan Fitri.

"Hilman, akan aku bantu kamu. Tapi, ada syaratnya. Aku bantu kamu asal kamu mau gabung sama kamu." kata Erza.

"Asal kamu bener-bener niat menggulingkan Raja Ehud, aku ikut." kata Hilman.

"Akan kubuktikan bahwa aku benar-benar niat untuk itu." kata Erza.

Erza, Rayhan, dan Alidza melompat ke atas benteng istana. Mereka langsung menghabisi para prajurit yang ada di atas sana.

Akhirnya, para prajurit menyerah pada sore hari. Para pemberontak menang pada hari itu. Walaupun belum berhasil menyampaikan aspirasi mereka, mereka sangat senang. Karena, baru hari itu para prajurit menyerah. Para pemberontak mundur karena sudah banyak para pemberontak yang pingsan dan kelelahan. Selain itu, sang ketua mengikuti permintaan Erza untuk memberontak pada lain waktu. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Hilman dan Fitri ikut Erza dan teman-temannya.

"Kamu hebat juga, Za." puji Hilman.

"Nggak juga." kata Erza.

"Habis liat perjuangan kamu yang tadi, aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan kamu. Aku percaya bahwa kamu pangeran. Aku juga percaya bahwa kamulah orang yang akan menggulingkan Raja Ehud. Aku akan menyuruh teman-temanku untuk ikut membantumu, walaupun bukan termasuk orang-orang terpilih." kata Hilman.

"Terima kasih." kata Erza.

"Sama-sama." kata Hilman.

Mereka pun kembali ke kota. Hilman dan Fitri pulang ke rumah mereka sedangkan Erza dan teman-teman lainnya pulang ke rumah penampungan. Akhirnya, ke-69 orang telah terkumpul. Hanya tinggal 13 berlian yang belum. Namun, berlian-berlian itu ada di tangan beberapa orang dari 69 orang itu. Sebentar lagi saatnya untuk menggulingkan tahta Raja Ehud.

"Terimalah nasib buruk yang akan menimpamu , Ehud!" kata Erza dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya