36. Penderitaan, Pemberontakan, Ketidakpercayaan

Penderitaan, Pemberontakan, Ketidakpercayaan

Matahari belum terbit. Langit masih hitam dan penuh dengan bintang-bintang. Namun, matahari akan terbit sebentar lagi. Artinya, saat itu sedang fajar. Tak biasanya, Erza bangun pagi sekali. Rayhan pun bangun bersamaan dengannya. Mereka berdua keluar dari tempat itu untuk berjalan-jalan.

Mereka pun membuka pintu tempat mereka masuk kemarin. Mereka segera berjalan ke jalan besar. Ketika mereka sedang berjalan, seorang anak kecil berlari menuju mereka. Lalu, anak itu bersembunyi di belakang mereka.

"Tolong aku, tolong aku, kak." kata anak kecil itu.

Tiba-tiba, dua orang prajurit yang bertubuh besar dan kekar muncul di hadapan mereka. Dengan muka yang sangar dan garang, mereka langsung berteriak.

"Hei, anak kecil! Serahkan uang itu kepada kami!" teriak salah satu prajurit itu.

"Tidak, aku tidak akan menyerahkan uang hasil kerja ibuku!" teriak anak itu.

"Begitu, ya. Anak kurang ajar, pergilah ke neraka!" kedua prajurit itu langsung mengayunkan pedangnya. Oleh Erza dan Rayhan, serangan itu ditangkis.

"Hei, kalian berdua makhluk buronan, 'kan? Akan kami tangkap kalian berdua beserta anak jelek itu!" teriak mereka berdua. Rayhan dan Erza langsung melarikan diri dengan anak itu. Sementara itu, kedua prajurit itu mengejar mereka. Erza dan Rayhan berlari dengan sekuat tenaga sambil menggendong anak itu. Kedua prajurit tetap mengejar mereka. Kedua prajurit itu bagaikan singa yang sedang mengejar mangsanya. Erza dan Rayhan memanjat dinding bangunan agar tidak tertangkap oleh kedua prajurit ganas itu. Namun, di atas bangunan sudah berdiri dua prajurit yang sudah siap menghabisi mereka. Erza dan Rayhan langsung berlari menjauh dari kedua prajurit itu. Kedua prajurit itu langsung mengejar mereka. Terjadilah kejar-kejaran di atas atap. Erza dan Rayhan loncat dari atap ke atap. Kedua prajurit pun melakukan hal yang sama. Tiba-tiba, Erza dan Rayhan dilempari batu oleh kedua prajurit itu. Mereka berdua menghindari batu itu. Sesekali mereka terkena lemparan batu. Mereka terus berlari dan berlari. Hingga akhirnya, mereka sampai di ujung atap. Di ujung atap itu, mereka tidak bisa ke mana-mana lagi. Mereka sudah ada di sekitar alun-alun kota. Sudah begitu, mereka ada di bangunan yang cukup tinggi. Jika mereka jatuh, pastilah mereka mati. Hanya ada satu pilihan, bertarung!

Mereka langsung menghadap ke arah dua prajurit yang akan menyerang mereka. Mereka mencabut pedang dan bersiap-siap untuk menyerang dua prajurit itu. Namun, ketika mereka baru saja mencabut pedang, asap muncul menutupi pandangan. Ketika asap sudah hilang, kedua prajurit itu langsung tertusuk pedang. Mereka berdua terheran-heran, siapa yang telah menusuk kedua prajurit itu. Mereka tidak ambil pusing dengan kejadian itu. Mereka langsung turun dari atap dan bersembunyi dari prajurit.

"Dek, rumah kamu di mana? Biar kami antarkan." tanya Rayhan.

"Rumah aku di rumah penampungan." kata anak itu.

"Wah, kalau tau gitu, harusnya kita langsung masuk ke sana." kata Erza.

"Iya, ya, ngapain kita lari-lari jauh, ya?" kata Rayhan.

Mereka pun kembali ke rumah penampungan. Di sana, teman-teman mereka sudah menunggu mereka.

"Erza! Rayhan! Kalian ke mana aja!? Dikirain hilang terus ditangkap!" kata Damar.

"Sabar, Mar. Kita habis nyelamatin anak ini." kata Erza sambil menunjukkan anak yang ia gendong. Tiba-tiba, seorang ibu menghampiri anak itu.

"Oh, anakku! Syukurlah kamu selamat! Dari mana saja kamu?" tanya sang ibu.

"Habis belanja obat buat ibu." kata anak itu.

"Aduh, nak, kok sampai lama amat?" kata sang ibu.

"Dikejar prajurit, bu." kata anak itu.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu selamat." kata sang ibu.

Anak itu langsung tertidur di pangkuan ibunya. Erza yang melihat anak itu dan ibunya langsung diam membisu. Ingatannya langsung melayang. Ia langsung mengingat masa kecilnya. Saat dia masih kecil, ia pernah tidur di pangkuan ibunya. Kepalanya dibelai. Ah, hangatnya masa kecil dulu, katanya dalam hati.

Tiba-tiba, Erza langsung dikejutkan oleh Rayhan.

"Eh, Za! Kamu lagi mikirin apa?" tanya Rayhan.

"Ah, bukan apa-apa." kata Erza.

Tiba-tiba, Dhea menghampiri Erza dan Rayhan.

"Erza, aku udah bilang ke temen-temen aku yang tentang ikut sama kamu. Aku sama temen-temen aku diskusi tentang itu pas kamu lagi dikejar-kejar. Nah, hasil akhirnya, temen-temen aku pingin ikut kamu." kata Dhea.

Erza langsung senang. Mukanya menjadi cerah ceria. Mulutnya tersenyum lebar.

"Akhirnya, tinggal dua orang lagi." kata Erza.

Tiba-tiba, Dhea teringat sesuatu.

"Oh, ya, Za. Yang kamu cari itu yang punya syal kayak gini 'kan?" tanya Dhea sambil menunjukkan syal yang mirip dengan yang disebutkan oleh Pak Acep. Erza mengangguk.

"Kalau begitu, aku tau siapa dua orang itu." kata Dhea.

"Siapa?" tanya Erza.

"Kalau nggak salah, Hilman dan Fitri. Karena, mereka punya syal yang mirip punya aku." kata Dhea.

"Kamu bisa ngaterin aku ke mereka, nggak?" tanya Erza.

"Bisa. Mau sekarang?" tanya Dhea.

"Ya." jawab Erza.

Dhea langsung mengantarkan Erza ke tempat tinggal Hilman dan Fitri. Untuk pergi ke sana, mereka harus berjalan cukup jauh. Mereka harus menyusuri jalan besar. Lalu, mereka masuk ke gang. Lalu, mereka harus berbelok-belok menyusuri gang. Akhirnya, mereka sampai di suatu gang. Di sanalah tempat mereka tinggal. Mereka tinggal di rumah yang berbeda. Dhea langsung mengetuk pintu rumah Hilman. Hilman pun langsung membuka pintu.

"Halo, Hilman." kata Dhea.

"Halo. Ada perlu apa ke sini?" tanya Hilman.

"Ada yang mau ketemu sama kamu." jawab Dhea.

"Siapa itu?" tanya Hilman.

"Ini." kata Dhea sambil memperkenalkan Erza.

"Wah, ini 'kan yang kemarin dikepung sama prajurit berengsek itu?" kata Hilman.

"Emang." kata Dhea.

"Oh, ya, nama kamu siapa?" tanya Hilman.

"Aku Erza." jawab Erza.

"Nama aku Hilman." Hilman memperkenalkan dirinya.

Hilman bercerita mengenai dirinya. Ia adalah seorang ketua pemberontak di Kota Miracle. Bersama Fitri dan beberapa temannya yang lain, mereka selalu mengadakan rapat bawah tanah untuk membahas keadaan negeri Mirror dan rencana pemberontakan. Kelompoknya sudah berkali-kali melakukan pemberontakan. Namun, mereka selalu gagal. Sebaliknya, mereka dipukul mundur oleh para prajurit kerajaan. Banyak kelompok yang mengaku ingin bergabung dengan kelompoknya, tetapi mereka malah ketakutan ketika akan memberontak. Lebih buruk lagi, mereka adalah orang-orang suruhan Raja Ehud untuk membubarkan kelompoknya dan menangkap semua anggotanya, termasuk ia sebagai pemimpin kelompok itu.

Mereka pun mengobrol sangat lama. Mereka membicarakan tentang hobi, kesukaan mereka, cerita lucu mereka, hingga ngobrol yang tidak jelas. Sampai suatu saat Hilman bertanya mengenai Erza.

"Oh, ya, dari tadi ngobrol nggak tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu itu siapa sebenarnya? Ada apa kamu ke sini?" tanya Hilman. Ia meminum segelas teh yang ada di depannya.

"Aku pangeran. Pangeran Kerajaan Mirror." jawab Erza.

Hilman yang sedang minum teh langsung memuncratkan teh yang diminumnya. Ia seakan-akan tidak percaya. Apakah benar yang ada di hadapannya ini seorang pangeran?

"Pangeran?" tanya Hilman.

"Ya, pangeran." jawab Erza.

Hilman tidak mempercayai perkataan Erza.

"Apa buktinya?" tanya Hilman.

Erza menunjukkan syal birunya, jubah, dan baju zirahnya. Namun, ia tetap tidak percaya.

"Kalau kamu benar pangeran, mau apa kamu ke sini?" tanya Hilman.

"Aku minta bantuan kamu dan teman kamu untuk merebut tahta kerajaan." jawab Erza.

Muka Hilman terlihat tidak bersahabat. Ia seperti mencurigai Erza. Perasaan Erza tidak enak.

"Bohong, kamu pasti bohong." tuduh Hilman.

Erza terkejut. Ia tidak menyangka Hilman yang awalnya terlihat ramah menjadi tidak bersahabat.

"Kamu pasti orang yang mengaku-ngaku sebagai ketua dari kelompok yang akan menggulingkan kerajaan. Namun, ternyata kamu dan kelompok terkutukmu adalah pendukung Raja Ehud. Lalu, kalian akan menangkap kami. Atau, kalian adalah orang-orang pengecut. Kalian dengan mudahnya menyerah begitu saja di tangan Raja Ehud. Aku tahu itu. Jangan tipu aku lagi. Sekarang, keluar kamu! Keluar dari sini! Keluar!" teriak Hilman dengan mukanya yang garang.

Dhea langsung memegang tangan Erza dan menyeretnya keluar. Mereka berdua keluar dari rumah itu.

"Dhea, kenapa kamu tarik tangan aku?" tanya Erza.

"Biar kamu selamat! Biasanya, kalau dia marah, kamu bisa disikatnya!" jawab Dhea.

Mereka berdua langsung kembali ke rumah penampungan. Erza harus menerima kenyataan pahit bahwa dua orang terakhir itu tidak mudah untuk diajak bergabung dengannya.

Sementara itu, teman-temannya sedang asyik bermain dan mengobrol di rumah penampungan. Mereka bermain dengan para penghuni rumah itu. Fahri, Ammar, Rayhan, Alidza, Fabian, dan Galih sedang bermain kartu sambil mengobrol.

"Ammar, Alidza, udah lama kita nggak salam Majesty." kata Fahri.

"Oh, ya, ayo kita pakai lagi." kata Alidza.

"Tapi, kita tambah 'sir'." usul Fahri.

"Boleh juga." kata Ammar.

"Kita boleh ikutan?" tanya Fabian dan Galih.

"Boleh, tapi apa dulu julukan kalian?" tanya Fahri.

"Sir aja." usul Ammar.

"Boleh." Fahri setuju.

"Kalau untuk Rayhan?" tanya Ammar.

"Sultan aja." kata Fahri.

Mereka terus bermain sambil mengobrol dengan panggilan yang mereka setujui. Sementara itu, Adi, Uqi, dan Ulwan malah ketawa cekikikan dengan anak-anak penghuni rumah itu.

"Di, ayo kita main ke luar!" kata Uqi.

"Oh, tidak bisa." kata Adi.

"Dasar pemalas." kata Ulwan.

"Oh, tidak bisa." kata Adi.

"Itu terus! Nggak rame!" kata Ulwan.

"Ya udah!" kata Adi.

Mereka bertiga dan anak-anak penghuni rumah itu tertawa terbahak-bahak. Mereka semua tertawa sepuasnya. Bahkan, mereka sampai sakit perut gara-gara tertawa. Anya yang sedang mengobrol dengan teman-temannya langsung terdiam. Ia tak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan hingga tertawa seperti itu.

Tiba-tiba, Erza dan Dhea sudah sampai di rumah penampungan lagi. Anya langsung bertanya kepada Dhea.

"Dhea, sudah berhasil, belum?" tanya Anya. Dhea menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ah, dia memang kayak gitu. Nggak gampang percaya sama orang lain." kata Anya.

"Besok kita coba lagi, Dhea." kata Erza.

"Boleh aja." kata Dhea.

"Aku juga ikut." kata Anya.

"Boleh, biar Hilman tambah percaya." kata Dhea.

Erza langsung duduk di sebuah bangku yang terletak di sebelah jendela rumah itu. Di sebelah Erza, terdapat Yatta, Nabil, Rendy dan Ivan yang sedang bermain gitar.

"Eh, Za, dari mana aja." tanya Yatta.

"Dari rumah orang." jawab Erza.

"Rumah siapa?" tanya Yatta.

"Rumah pemimpin pemberontak." jawab Erza.

"Ngapain?" tanya Yatta.

"Ngajak gabung dia." jawab Erza.

"Emang orang yang harus dikumpulin tinggal berapa lagi?" tanya Yatta.

"Dua lagi." jawab Erza.

"Pemimpin pemberontak itu orang yang terpilih?" tanya Yatta.

"Ya, sama satu temennya lagi." jawab Erza.

"Ah, sayang amat. Ngajak tawur amat sih mereka berdua!" kata Yatta. Erza hanya diam membisu.

"Kenapa, Za?" tanya Yatta.

"Nggak, tadi diusir sama si pemimpin tadi." jawab Erza.

"Kok jadi bengong gitu?" tanya Yatta.

"Masih kebayang-bayang. Serem liat mukanya." jawab Erza.

"Mmm..." Yatta bergumam. Ia mengerti mengapa Erza melamun seperti itu. Yatta dan ketiga temannya bermain gitar. Mereka bermain gitar sangat lama. Erza yang awalnya melamun lama-lama jadi ikut bernyanyi bersama Yatta dan ketiga temannya. Kejadian tadi langsung hilang dari kepalanya.

Malam pun tiba. Namun, bulan tak terlihat karena tertutup awan gelap. Awan gelap menyelimuti langit malam itu. Titik-titik hujan perlahan-lahan turun. Lama-kelamaan titik-titik hujan turun semakin deras. Hujan deras terjadi pada malam itu. Semua penduduk tidak ada yang keluar satupun. Namun, ada beberapa orang berjubah dan bertudung hitam yang pergi ke rumah Hilman. Mereka mengetuk pintu rumahnya. Hilman membuka pintu. Disambutnya mereka dengan sopan.

"Sebutkan kata sandi." kata Hilman.

"Kubur Ehud hidup-hidup." kata mereka.

"Silakan masuk." kata Hilman.

Orang-orang itu segera masuk ke rumahnya. Lalu, Hilman dan mereka masuk ke sebuah pintu rahasia yang terletak di dalam rumah itu. Mereka menyusuri lorong yang panjang dan menurun. Mereka pun sampai di sebuah ruangan yang cukup kecil, tetapi bersih dan terawat. Di sana, Fitri sudah menunggu mereka. Mereka langsung duduk berbentuk lingkaran. Setelah itu, Hilman langsung berbicara.

"Hari ini, kita akan mengadakan rapat tentang rencana pemberontakan kepada Raja Ehud. Sebelum rapat, saya akan mengingatkan peraturan yang sudah kita sepakati. Pertama, seluruh anggota rapat harus mengatakan kata sandi kepada ketua atau wakil sebelum masuk. Kedua, seluruh anggota rapat harus menyimak dan mengikuti rapat dengan baik. Ketiga, dilarang ribut atau mengacau selama rapat berlangsung. Keempat, seluruh anggota rapat harus menjaga kebersihan ruangan rapat. Dilarang untuk membuang sampah atau mengotori ruangan rapat. Kelima, seluruh anggota rapat harus berbicara dengan suara pelan. Tidak diperbolehkan berbicara dengan suara keras bahkan berteriak. Keenam, seluruh anggota rapat harus menjaga rahasia tentang rapat ini, ruangan rapat, hasil rapat, dan semua yang berkaitan dengan rapat ini dan kelompok ini. Ketujuh, seluruh anggota rapat harus melaksanakan seluruh peraturan yang sudah dibuat bersama. Ingat, siapapun yang ribut atau mengacau di sini, akan segera diingatkan sebanyak tiga kali. Setelah itu, orang yang ribut atau mengacau akan dikeluarkan dari rapat. Jika ada yang membeberkan rahasia tentang rapat dan kelompok ini, akan segera dikeluarkan dari kelompok ini. Paham?" tanya Hilman.

"Paham." kata semua anggota rapat.

"Baiklah, rapat dimulai." Hilman mengetuk palu sebanyak tiga kali. Rapat pun dimulai.

Seluruh anggota rapat berbicara di rapat itu. Tidak ada seorang pun yang diam mendengarkan. Semuanya terlibat. Semua mengeluarkan pendapatnya. Ada pendapat yang disetujui dan ada yang tidak. Perbedaan pendapat terjadi pada rapat ini. Namun, perbedaan itu dapat diluruskan oleh Hilman. Walau berjalan cukup alot, rapat itu menghasilkan suatu rencana, yaitu pemberontakan dimulai esok pagi. Rapat segera ditutup. Semua anggota langsung bubar. Setelah itu, mereka langsung mengabarkan kepada para anggota yang lainnya untuk bersiap melakukan pemberontakan esok pagi. Mereka memang sudah terbiasa bergerak cepat. Sekali dikatakan langsung bergerak. Seperti tentara yang menerima tugas dari atasannya.

Hilman dan Fitri bersiap-siap untuk melakukan pemberontakan esok pagi. Mereka menyiapkan pedang, batu, panah, celurit, arit, dan senjata-senjata tajam lainnya untuk melakukan pemberontakan. Setelah itu, mereka tidur untuk mengisi stamina agar esok pagi mereka siap untuk memberontak.

Sementara itu, semua penduduk tertidur lelap. Mereka tidak mengetahui rencana pemberontakan itu. Pastinya, esok pagi mereka akan terkejut dengan aksi pemberontakan kepada Raja Ehud. Namun, sebagian dari mereka tidak akan terkejut. Mereka malah ikut bergabung untuk memberontak.

"Lihat saja besok, raja gila! Kamu akan terkejut besok pagi!" kata Hilman dalam hatinya.

Hujan pun sudah reda. Langit malam terlihat. Bulan bersinar dengan terangnya. Bintang-bintang bersinar kelap-kelip di langit. Jalanan basah karena hujan. Genangan air kecil terbentuk. Sisa-sisa air hujan menetes dari atap-atap rumah penduduk. Katak-katak melompat dengan gembira. Tampak seorang lelaki tua sedang duduk di taman. Ia mengenakan topi petani, sarung yang diselendangkan ke bahunya, dan baju hitam. Ia menulis sesuatu di atas kertas yang ia bawa. Lalu, ia pergi dari taman itu dengan meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan sebait puisi.

Awan gelap telah tiada
Langit malam telah muncul kembali
Bulan bersinar dengan cerahnya
Bintang-bintang bertaburan
Namun, hatiku tidak secerah bulan ataupun bintang
Awan gelap masih menyelimuti pikiranku
Awan itu sudah lama menutupi kebahagiaanku
Kapankah kau akan menghilang?
Wahai awan penderitaan
Hilanglah kau bersama setan bengis dan kejam
Yang bersemayam di hati raja
Pergilah kau jauh-jauh
Dan janganlah tampak kembali

Kertas itu tetap berada di atas kursi walau angin berhembus cukup kencang. Mungkin keyakinan dan keteguhan hati penulisnyalah yang membuat kertas itu tegar menghadapi angin. Penderitaan rakyat Mirror harus segera dihilangkan. Tugas itu yang harus ditanggung oleh Erza, sebagai pangeran Negeri Mirror.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya