35. Penolong dan Penyerang
Penolong dan Penyerang
Erza dan teman-temannya sedang terkepung. The Secret Five dan prajurit-prajurit siap menghabisi mereka dan membawa mereka ke penjara. Tak ada pilihan lain selain bertarung.
"Habisi mereka!" teriak komandan para prajurit itu. Semua prajurit langsung menyerang Erza dan teman-temannya. Namun, ada beberapa prajurit yang tewas sebelum menyerang. Beberapa prajurit bingung. Ketika mereka bingung, mereka langsung terbunuh. Sang komandan yang sedang menyerang tidak memedulikan beberapa prajuritnya yang tewas. Ia terus menyerang Erza dan teman-temannya.
Sang komandan beserta para prajuritnya terus menyerang Erza dan teman-temannya. Sementara itu, The Secret Five menyaksikan pertarungan itu. Walaupun hanya bertarung dengan pedang dan silat, pertarungan itu tetap sengit. Pertarungan itu tidak terlihat seperti pertarungan, melainkan seperti unjuk rasa. Ketika pertarungan sedang berlangsung, para prajurit berjatuhan satu per satu. Mereka semua tidak dibunuh oleh Erza dan teman-temannya, tetapi oleh anak panah yang menghujam jantung mereka. Entah dari mana datangnya panah-panah itu. Tanpa memedulikan para prajuritnya, sang komandan terus menyerang Erza dan teman-temannya dengan membabi-buta. Ia terus menyerang bagaikan singa. Tanpa ia sadari, kepalanya tertusuk panah. Dengan perlahan-lahan, ia terjatuh ke tanah. Pedangnya pun terlepas dari tangannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Erza langsung menebas leher sang komandan. Setelah itu, ia dan teman-temannya langsung lari menjauh dari kawanan The Secret Five. Kawanan itu langsung menghadang Erza dan teman-temannya.
"Mau lari ke mana kalian?" tanya Fredderson.
Erza dan teman-temannya langsung menyerang kawanan itu. Pertarungan kembali terjadi. Ia dan teman-temannya terus mendesak The Secret Five. Sebaliknya, mereka terus mendesak Erza dan teman-temannya. Terjadilah pertarungan yang sengit. Ketika mereka sedang bertarung, datanglah beberapa orang yang mendekati mereka. Mereka mendekati arena pertarungan dengan pelan-pelan. Lalu, mereka menyerang kawanan The Secret Five dari belakang. Namun, kedatangan mereka diketahui oleh kawanan itu. Mereka terus menyerang Erza dan teman-temannya dan orang-orang yang tidak dikenal itu. Akan tetapi, mereka terus terkepung. Akhirnya, Tauma mengeluarkan jurus rahasianya. Ia menghentakkan kakinya. Tanah pun bergetar. Erza dan teman-temannya dan orang-orang yang membantu mereka terhempas. Ketika terhempas, Fredderson langsung menyerang Erza. Namun, Erza menangkis serangan Fredderson. Oleh Rayhan, kepala Fredderson dipukul. Fredderson sama sekali tidak merasa sakit. Tiba-tiba, Rayhan diserang oleh Randi. Untungnya, serangan Randi meleset. Pada saat itu, datanglah dua orang yang tak dikenal. Tanpa basa-basi, mereka langsung menyerang dua dari lima orang kawanan The Secret Five. Naum, dua orang kawanan itu langsung menangkis serangan mereka. Karena semakin terdesak, Tauma memakai tongkat saktinya.
"Gunung api kembang melati kembang mawar kembang kemboja MUSNAH!" Tauma menancapkan tongkatnya ke tanah. Seketika itu, muncullah semburan lahar dari tanah. Erza dan teman-temannya, beberapa orang yang membantu mereka, dua orang yang ikut membantu mereka juga, termasuk orang yang ikut menumpang dengan Erza dan teman-temannya langsung menghindari lahar itu.
"Penjaga gunung api, MELEDAKLAH!" Tauma kembali menancapkan tongkatnya. Tanah-tanah mulai retak. Lahar pun menyembur. Erza dan teman-temannya dan beberapa orang yang membantu mereka langsung menghindari semburan lahar itu.
"Kalau sudah begini, biar aku yang melawannya." kata Diyyah.
Diyyah berlari menuju semburan lahar. Dengan pedang es, ia menebas lahar itu.
"Eternal Einfrieren!" ia membekukan lahar itu dengan pedangnya.
Ardi langsung berlari menuju kawanan The Secret Five. Ia melemparkan bom api kepada mereka.
"Shoot!" ia melemparkan bom api kepada mereka berlima. Bom pun meledak. Ardi bersorak kegirangan.
"Wuuhuu! Aku sang dewa!" kata Ardi.
Namun, ketika asap hilang, mereka berlima lenyap.
"Apa!? Mereka lenyap!? Sialan!" kata Ardi.
"Ya udah, yang penting kita selamat." kata Erza.
Sementara itu, Jhonny, orang yang ikut menumpang dengan Erza dan teman-temannya pamit dengan mereka.
"Eh, saya mau pergi, ya. Makasih atas tumpangannya." kata Jhonny.
"Sama-sama. Maaf udah bikin repot kayak gini." kata Erza.
"Nggak apa-apa. Saya mau pergi, ya. Daah!" kata Jhonny sambil pergi.
"Daaaah!" kata Erza sambil melambaikan tangannya. Jhonny membalas lambaian tangan Erza. Ia pun pergi meninggalkan mereka. Setelah itu, Erza menoleh kepada beberapa orang yang membantunya dan teman-temannya. Ia mendekati mereka dan langsung bertanya.
"Kalian siapa?" tanya Erza.
"Kami semua pengurus para tunawisma dan orang miskin di kota ini, kecuali dua orang itu." kata salah seorang di antara mereka.
"Kalau gitu, kalian itu temennya Dhea sama Anya?" tanya Erza.
"Memang." kata orang itu.
"Kalau gitu, kenalan dulu, dong!" kata Erza.
"Eh, jangan di sini. Bahaya! Kalau ada tentara lain lewat ke sini dan liat kita dan mayat-mayat ini, gimana jadinya?" kata orang itu.
"Ya udah, di mana dong?" tanya Erza.
"Gini aja, kamu sama temen-temen kamu ikut kami ke rumah penampungan yang kami buat." kata orang itu.
"Ah, Ocha, aku sama Fitri mau pulang dulu, ya." kata salah seorang yang tadi ikut membantu Erza dan teman-temannya.
"Ah, kalian nggak mau ikut sama kami?" tanya Ocha, orang yang menjawab pertanyaan Erza.
"Nggak, makasih. Kita ada urusan lain." kata orang itu.
"Ya, kalau gitu, kalian pulang aja." kata Ocha.
"Makasih, Cha. Dadah." kata orang itu. Ia dan temannya langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Siapa mereka?" tanya Erza.
Belum saja pertanyaannya terjawab, terdengar suara langkah kuda. Ocha langsung mengambil bom asap dari sakunya. Ia bersiap-siap dengan panah racunnya. Kemudian, muncul seorang tentara yang sedang mengendarai kuda. Tanpa basa-basi, Ocha langsung melepaskan panah racun yang sudah disiapkannya ke arah perut tentara itu. Racun di panah itu langsung menyebar ke seluruh tubuh tentara itu. Tentara itu keracunan dan jatuh dari kudanya. Tanpa memedulikan tentara itu, Ocha langsung mengajak teman-temannya dan Erza dan teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu. Mereka semua masuk ke sebuah gang kecil. Mereka berlari dan terus berlari. Mereka melewati gang-gang kecil. Sampai akhirnya, mereka masuk ke sebuah pintu yang terdapat di pojok sebuah gang.
Ketika mereka masuk ke pintu itu, mereka langsung berada di dalam sebuah ruangan yang cukup kecil. Ruangan itu berisikan barang-barang. Rupanya, itu adalah sebuah gudang. Mereka semua langsung masuk ke sebuah pintu. Ketika mereka masuk ke pintu itu, mereka berada di sebuah ruangan lagi. Lantainya basah dan terdapat beberapa ruangan kecil di dalamnya. Rupanya, itu adalah sebuah tempat MCK. Mereka masuk ke sebuah pintu lagi. Barulah mereka sampai di suatu ruangan yang besar. Di sana terdapat banyak orang-orang yang sedang tidur. Ocha, Anya, dan Dhea menyuruh Erza dan teman-temannya untuk tidak ribut. Mereka berjalan menaiki tangga. Mereka pun sampai di lantai dua bangunan itu. Mereka kembali menaiki tangga. Akhirnya, mereka sampai di loteng bangunan itu. Di sana terdapat banyak gambar seorang pangeran. Baik itu gambar sketsa maupun lukisan.
"Hei, ini 'kan Pangeran Justin?" kata Erza.
"Iya, ya." kata Rayhan.
"Minat amat mereka ngoleksi gambar kayak ginian." kata Rendy.
"Mending buat beli pedang, panah, atau bola." kata Deiki.
"Bola?" tanya Rendy.
"Bola. Masa' kamu nggak tau bola. Bola buat main." kata Deiki.
"Oh, ya, ya." kata Rendy sambil menepuk keningnya.
"Ah, gambar ginian dikoleksi. Cuih! Tempat ini jadi najis!" kata Erza.
"Jahat amat, Za!" kata Rayhan.
"Tapi aku setuju." kata Fahri.
"Bener itu." kata Alidza.
Mereka terus mencibir gambar-gambar Pangeran Justin. Lama-kelamaan, Anya menjadi panas. Kepalanya merah dan mengeluarkan asap. Ia langsung membalas cibiran itu.
"Berisik! Dasar lelaki kurang ganteng!" kata Anya.
"Eits, kami ini ganteng, lho." kata Rendy sambil berpose. Anya langsung pura-pura muntah.
"Huek! Terlalu narsis!" kata Anya.
"Emang gitu faktanya. Kalau nggak ganteng, kami bukan laki-laki." kata Rendy.
"Bener itu." kata Fahri.
Anya dan mereka berdua terus berdebat. Sementara itu, Ocha memperkenalkan teman-temannya tanpa memedulikan Anya yang terus berdebat.
"Za, perkenalkan. Ini teman-teman sekaligus rekan-rekan yang mengurus rumah penampungan ini. Aku kenalin dari yang paling kiri. Yang paling kiri itu Sabna, lalu itu Putik, lalu itu Savannah, itu Salma, itu Rara, itu Jehan, itu Isti, itu Ovi, dan yang terakhir itu Fathia. Aku sendiri namanya Ocha. Salam kenal." kata Ocha.
Erza pun memperkenalkan teman-temannya. Pada malam itu, mereka saling berkenalan. Mereka semua pun tidur di loteng itu.
Sementara itu, The Secret Five yang tadi menyerang Erza dan teman-temannya langsung mengahadap ke Raja Ehud. Mereka meminta maaf karena tidak berhasil membunuh Erza dan teman-temannya.
"Tuan, maafkan kami. Kami tidak bisa membunuh Erza dan teman-temannya. Mereka malah masuk ke kota ini." kata Fredderson. Raja Ehud dengan tenang mendengar permintaan maaf itu. Ia tidak langsung memukul sesuatu atau mencabut pedangya seperti yang biasa ia lakukan. Namun, ia tetap duduk tenang di singgasananya dan berpikir tenang.
"Tidak apa-apa. Yang penting, mereka masuk ke kota ini. Jika mereka masuk ke kota ini, mereka akan semakin mudah dibereskan. Hanya tinggal mengerahkan pasukan saja dan semua beres. Kalian semua boleh kembali ke tempat kalian. Terima kasih atas bantuannya." kata Raja Ehud.
"Sama-sama." kata Fredderson. Mereka berlima segera pergi dari tempat itu. Setelah mereka pergi, Raja Ehud segera memanggil lima jenderal kerajaan. Mereka adalah Karl Armstrong, Duke Richmond, Igor Dante, Kemp Mayer, dan Curran Caspar. Mereka berlima langsung menghadap kepadanya. Raja Ehud langsung memerintahkan mereka semua untuk menangkap atau membunuh Erza dan teman-temannya. Ia juga memerintahkan untuk memberitahukan perintah tersebut kepada para prajurit di semua tempat di negeri Mirror. Mereka langsung pergi dari tempat itu. Tanpa berbasa-basi, mereka mengumpulkan semua prajurit. Salah satu di antara mereka langsung memberitahukan perintah dari raja.
"Para prajurit semua! Mohon dengarkan perintah dari raja ini! Siapapun yang melihat Erza dan teman-temannya, maka ia harus segera menangkap atau membunuhnya. Karena, mereka adalah buronan sekarang. Laksanakanlah perintah itu! Siapapun yang tidak menyembunyikan mereka, akan diberi hukuman yang berat. Mengerti?" kata sang jenderal.
"Mengerti!" jawab para prajurit.
"Bagus! Sekarang kalian boleh bubar!" kata sang jenderal. Para prajurit langsung bubar. Setelah selesai menyampaikan pesan, lima jenderal itu langsung mengirimkan surat kepada para pemimpin prajurit di seluruh kota di negeri itu melalui burung merpati. Mereka tinggal menunggu surat itu sampai ke tujuan.
Sebentar lagi, Erza dan teman-temannya akan menghadapi situasi yang sulit. Mereka akan diincar oleh prajurit-prajurit yang selalu berkeliaran di kota. Mau tidak mau, mereka harus siap bertarung dengan sekuat tenaga. Atau tidak, mereka harus lari dari kejaran prajurit-prajurit yang tidak kenal ampun. Namanya juga perjuangan.
Komentar
Posting Komentar