28. Harta Karun untuk Erza
Harta Karun untuk Erza
"Turunkan jangkar!" teriak seorang raja dengan suara keras. Dengan sigap, beberapa pegawainya langsung menurunkan jangkar. Kapal pun berlabuh di sebuah pulau tak berpenghuni.
"Kita akan beristirahat sampai badai sudah hilang!" teriak raja tersebut. Mereka tetap diam di kapal itu karena di luar sedang hujan.
Sementara itu, di pulau yang sama, terdapat sekelompok penjelajah sedang mencari harta karun yang terpendam di sana.
"Gimana nih? Hujan makin deras!" tanya sang pemimpin penjelajahan.
"Ya udah, kita istirahat aja dulu! Kita juga mulai kecapekan!" jawab salah satu temannya.
"Oke, kita istirahat dulu!" kata sang pemimpin tersebut. Mereka pun membuat bivak dan langsung beristirahat.
Di tempat yang lain, Erza dan teman-temannya masih harus bertarung di tengah ancaman badai yang dahsyat. Selain itu, mereka bertarung di tempat yang tidak lazim, yaitu di langit. Keadaan mereka juga diperparah dengan kapal mereka yang setengah bagiannya sudah terbakar.
"Waduh! Aku harus ngapain nih?" Ulwan mulai panik. Di tengah kepanikan itu, ia melihat kemudi kapal. Ia langsung mendapat akal. Ia berlari menuju kemudi kapal dan mengemudikan kemudi kapal itu. Tak lupa ia memanggil burung-burung yang membawa teman-temannya. Setelah ia benar-benar siap, ia langsung memakai bahan luncur terakhir. Ia membuka kain-kain yang ada di pinggir kanan dan kiri kapal itu. Ternyata, di balik kain itu terdapat roket-roket petasan berukuran raksasa. Dengan cekatan, ia menyalakan roket-roket petasan tersebut. Roket-roket itu akan segera meluncur. Ia langsung kembali memegang kemudi kapal. Lalu, ia melihat peta yang ada di depan kemudi tersebut. Di peta tersebut, ia melihat sebuah pulau yang terletak di sebelah barat daya. Pulau tersebut memang sangat jauh. Tetapi, ia mengambil resiko dengan mengarahkan kapal tersebut ke arah pulau itu.
"Semoga berhasil!" kata Ulwan dalam hati. Akhirnya, sumbu roket-roket tersebut sudah terbakar habis. Kapal itu langsung meluncur dengan cepat dan tajam. Erza dan teman-temannya dan kelompok Dewa Hitam langsung kehilangan keseimbangan. Mereka semua tertarik ke arah haluan. Terjadilah sensasi luar biasa. Kapal itu melawan arah angin yang berhembus kencang. Selain itu, kapal itu melawan badai yang akan menyedot kapal itu.
"Harus ada dorongan tambahan, nih!" kata Ulwan dalam hati. Ia melihat sekelilingnya. Tiba-tiba, ia melihat beberapa roket petasan yang cukup besar. Ia langsung mengambil semua roket itu. Lalu, ia mengikatkannya di pinggir kanan dan kiri kapal itu. Ia pun langsung menyalakan roket itu. Kapal pun meluncur lebih cepat. Saking cepatnya, mereka yang ada di kapal itu langsung pusing. Bahkan, ada juga yang muntah. Ulwan menahan rasa pusingnya dengan sekuat tenaga. Akhirnya, Ulwan berhasil mengarahkan kapal itu ke sebuah pulau.
"BUM!" kapal itu jatuh di pulau tersebut. Sang raja dan beberapa pegawainya langsung turun dari kapal dan berlari ke arah kapal yang jatuh itu. Begitupun dengan para penjelajah yang sedang mencari harta karun.
"Woi! Cepat kalian semua!" teriak sang raja yang sudah sampai lebih dulu.
"Ada apa?" tanya para pegawainya yang sudah sampai di kapal itu.
"Tolongin mereka semua!" perintah sang raja. Semua pegawainya langsung mengangkut semua orang yang ada di kapal yang jatuh itu. Sang raja pun ikut membantu para pegawainya. Akhirnya, semua orang yang ada di kapal itu berhasil diangkut ke pinggir pantai. Tidak lama setelah itu, kelompok penjelajah itu sampai di kapal yang jatuh itu.
"Woi, cepet kalian cek ke dalam kapalnya! Ada orang nggak di dalamnya!?" perintah sang pemimpin penjelajahan. Semua anggotanya langsung masuk ke kapal itu. Tiba-tiba, ketika mereka sedang masuk ke dalam kapal, mereka dihampiri oleh seorang raja.
"Woi, kalau orang-orang yang ada di kapal itu udah dibawa ke pinggir pantai." kata raja tersebut.
"Bener?" tanya sang pemimpin penjelajahan. Raja tersebut mengangguk.
"Woi! Kalian semua! Keluar dari kapal itu!" perintah sang pemimpin tersebut. Semua anggotanya langsung keluar dari kapal itu. Sang raja dan kelompok penjelajah itu langsung pergi ke pinggir pantai. Sang raja melihat satu per satu wajah korban kapal yang jatuh itu. Tiba-tiba, ia terkejut ketika melihat wajah seorang korban yang tidak lain adalah Erza.
"Lho, ini 'kan Erza?" kata raja tersebut. Ia langsung mendekati Erza dan mencoba untuk menyadarkannya.
"Erza! Erza! Bangun, Erza!" teriak raja tersebut. Erza tetap tidak bangun. Raja tersebut mengoleskan kayu putih ke hidung Erza. Perlahan-lahan, Erza pun bangun.
"Aduh, di mana ini?" tanya Erza dengan kepala yang masih pusing.
"Untunglah kamu sadar, Za." kata raja tersebut.
"Raja Isfan?" tanya Erza.
"Ya?" raja itu bertanya balik.
"Aku ada di mana? Kok sampai ada anda?" tanya Erza.
"Kamu dan teman-temanmu jatuh di Pulau Leer Boden." kata Raja Isfan.
Tiba-tiba, terjadi keributan di kelompok penjelajah.
"Eh, itu 'kan si tukang mabuk?" kata seorang anggota kelompok itu.
"Bener! Ini sih nggak usah ditolongin! Lebih baik dibuang aja ke laut! Udah tukang mabuk, tukang nyuri, pembunuh lagi! Dasar tengik!" kata temannya. Raja Isfan langsung mendekati kelompok itu.
"Ada apa?" tanya Raja Isfan.
"Kenapa kalian nyelamatin orang-orang jahannam ini?" tanya salah seorang anggota kelompok itu.
"Emangnya kenapa?" Raja Isfan bertanya balik.
"Mereka itu penjahat! Bikin kota tempat tinggal aku jadi nggak aman!" jawab orang tersebut.
"Udah, jangan dibunuh, walaupun mereka penjahat, tapi kita nggak boleh main hakim sendiri." kata Raja Isfan.
"Ah, tidak bisa!" kata orang tersebut.
"Tidak bisa juga!" kata Raja Isfan.
"Tuh 'kan, kata raja juga lebih baik dibuang 'kan?" kata orang tersebut.
"Bukan gitu, tapi..." kata Raja Isfan.
"Ah, tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa..." kata orang tersebut.
"DIAM! SAYA INI RAJA! SAYALAH YANG MEMBUAT KEPUTUSAN! BUKAN KALIAN!" teriak Raja Isfan.
"Ampun raja... ampun..." kata orang tersebut.
"Cukup! Para pegawai, bawa mereka ke penjara kapal!" perintah Raja Isfan. Para pegawai itu langsung membawa semua anggota kelompok Dewa Hitam yang masih pingsan ke dalam penajra kapal, termasuk sang pemimpin. Raja Isfan langsung menghampiri Erza.
"Za, sebenarnya, kenapa kamu bisa naik kapal yang melayang itu tanpa ditemani bapak kamu atau pegawai istana?" tanya Raja Isfan.
"Sebenarnya, ayah saya sudah meninggal. Terus, saya diasingkan oleh adik ayah saya." jawab Erza.
"Siapa? Si Ehud?" tanya Raja Isfan. Erza mengangguk.
"Dasar Ehud si syaiton jahannam! Bikin ulah aja kerjaannya! Dasar licik! Bau bangkai!" kata Raja Isfan.
"Ya udah, sekarang, kamu sama temen-temen kamu istirahat aja di kapal saya. Kapal saya sih gede. Cukuplah buat nampung temen-temen kamu." kata Raja Isfan.
"Makasih." kata Erza.
"Sama-sama." kata Raja Isfan.
Malamnya, Erza dan teman-temannya beristirahat di kapal milik Raja Isfan. Sementara itu, kelompok penjelajah beristirahat di dekat kapal itu. Tidak seperti Erza dan teman-temannya yang langsung tidur, mereka semua malah bernyanyi dengan sangat keras. Suara gajah? Jangan bandingkan suara mereka dengan suara gajah. Suara gajah juga kalah. Saking kerasnya suara mereka, Raja Isfan dan para pegawainya harus menutup telinga mereka dengan bantal. Bagaimanapun kerasnya suara mereka, virus kantuk takkan bisa terpengaruh oleh suara tersebut. Setelah beberapa lama mereka bernyanyi, akhirnya mereka mengantuk juga. Mereka pun menghentikan nyanyian mereka yang bagaikan radio sumbang. Lalu, mereka pun tidur dengan pulas.
Akhirnya, pagi pun tiba. Kelompok penjelajah itu mengajak Raja Isfan beserta pegawainya dan Erza beserta teman-temannya untuk melakukan pencarian harta karun.
"Raja Isfan, ayo kita cari harta karun bareng." kata sang pemimpin.
"Sok, boleh lah." kata Raja Isfan.
"Kalau yang kemarin pingsan?" tanya sang pemimpin.
"Kita ikut!" kata Erza dan teman-temannya.
"Kalian yakin?" tanya Raja Isfan.
"Ya!" jawab Erza mantap.
"Baiklah, kita mulai pencariannya! Sebelumnya, aku mau ingetin dulu ke kalian, para penjelajah. Kalian, kalau nyanyi itu jangan keras-keras! Berisik! Tau diri dong!" kata Raja Isfan.
"Ya, ya." kata sang pemimpin.
"Oh, ya, kenalan dulu, dong sama kita-kita." kata Rendy.
"Iya, kenalan dulu dong!" kata Rosa.
"Oke, oke, nama saya Ivan, si pemimpin penjelajahan. Nah, yang ini tuh Adi, yang ngaku-ngaku punya muka lucu." kata Ivan, sang pemimpin penjelajahan. Sembari ia mengenalkan Adi, Adi langsung memasang mimik muka lucunya yang khas.
"Nah, yang di sebelah Adi tuh solmetnya, Uqi. Kedua-duanya adalah tukang ngelucu. Kalau nggak ada mereka berdua, perjalanan nggak akan seru. Kayak sambal tanpa cabai atau gehu tanpa tahu." kata Ivan.
"Ya iyalah, kalau sambal tanpa cabai dan gehu tanpa tahu, itu bukan sambal dan gehu!" kata Rendy dalam hati.
"Nah, di sebelahnya Uqi tuh Divo. Di belakang Divo tuh Ardi. Di sampingnya Ardi tuh Ardhi. Bedain ya dua-duanya. Yang satu itu Ardi dan yang satunya lagi Ardhi. Pipi Ardi nggak tembem. Kalau Ardhi temben. Nah, di sebelahnya Ardhi tuh Uva. Di sebelahnya Uva tuh Rifa. Di sampingnya Rifa tuh Rivi. Di sampingnya Rivi tuh Yusuf. Memang merepotkan ngenalin satu-satu. Mulut aku bisa berbusa." kata Ivan.
"Ya udah, kita kenalannya sambil salaman aja." kata Erza.
"Silakan." kata Ivan.
Erza dan teman-temannya bersalaman dengan Ivan dan teman-temannya sambil memperkenalkan diri.
"Nah, kenal-kenalannya udah selesai! Ayo kita mulai pencariannya!" kata Ivan.
"Yook!" teriak semuanya.
"Nah, saya yang mimpin pencariannya!" teriak Ivan.
"Eh, nggak sama Raja Isfan aja?" tanya Erza.
"Oh, silakan Raja Isfan saja yang memimpin." kata Ivan.
"Tidak, kamu aja." kata Raja Isfan.
"Nggak usah, raja aja yang mimpin. Lebih baik sama raja." kata Ivan.
"Baiklah." kata Raja Isfan. Ia pun memimpin pencarian harta karun tersebut. Mereka melakukan pencarian sambil bercanda. Ya, hasil "provokasi" dari Adi dan Uqi.
"Ayo kita tukeran senjata, Adi. Aku jadi panah, kamu jadi pedang." kata Uqi.
"Oh, tidak bisa. Saya 'kan jagonya di panah. Bukan di pedang." kata Adi.
"Saya manusia. Bukan panah atau pedang." kata Yatta.
"Oh, saya Fahri." kata Fahri.
"Saya manusia juga." kata Galih.
"Saya Erza." kata Erza.
"Saya Rayhan." kata Rayhan.
"Saya manusia yang bernama Andri." kata Andri.
"Saya Oji yang ganteng." kata Oji.
"Bohong kamu, Ji!" kata Andri.
"Ya, harusnya, yang ganteng itu saya!" kata Hadi.
"Ah, kamu juga bohong, Di!" kata Andri.
"Woi, berisik!" teriak Ivan yang menjadi navigator.
"Wah, sok sibuk lah!" teriak Damar.
"Iya, sok sibuk!" teriak Fathur.
"Sabar aja, Van. Fathur emang suka gitu." kata Ulwan yang berada tepat di belakang Ivan.
"Sip." kata Ivan.
Gara-gara bercanda, akhirnya mereka sering salah jalan. Sebaliknya, mereka malah mendapat kejutan dari alam. Mereka tercebur ke dalam rawa, terjatuh ke dalam lubang, tersandung akar pohon, terkena duri dari sebuah pohon, peralatan mereka dicuri monyet, dikejar-kejar badak, hingga bertemu dengan beruang raksasa. Akhirnya, mereka pun belum menemukan harta karun itu hingga malam hari. Bagaimana mau mencari jika sering salah jalan. Benar-benar nasib sial bagi mereka semua.
"Ah, capek!" kata Fathur sambil duduk bersandar di batu yang cukup besar.
"Sama!" kata Damar sambil ikut duduk. Akhirnya, mereka semua beristirahat di batu itu. Ketika beristirahat, Pak Anshor melihat seekor jangkrik sedang hinggap di batu itu.
"Wah, ada jangkrik. Lumayan buat ganjal perut." kata Pak Anshor. Pak Anshor langsung menangkap jangkrik tersebut. Jangkrik tersebut berhasil ditangkapnya.
"Asiik, makan jangkrik." kata Pak Anshor. Pak Anshor langsung mematikan jangkrik tersebut. Lalu, jangkrik tersebut dimakan olehnya. Ketika sedang memakan jangkrik, Pak Anshor melihat sebuah tulisan yang terukir di batu tersebut.
"Mu, sini!" panggil Pak Anshor.
"Ada apa?" tanya Kak Imu sambil menghampiri Pak Anshor.
"Tolong baca tulisan ini." kata Pak Anshor. Kak Imu membaca tulisan itu dengan saksama.
"Gimana?" tanya Pak Anshor.
"Tulisan ini... kayaknya tulisan ini nunjukin kalo harta karun yang kita cari itu ada di sini!" jawab Kak Imu.
"Bener?" tanya Pak Anshor.
"Bener." jawab Kak Imu.
"Raja Isfan! Batu ini tempat harta karunnya!" teriak Pak Anshor.
"Apa? Yang bener?" tanya Raja Isfan.
"Bener!" jawab Pak Anshor.
"Tapi, gimana cara ngambilnya? Ini 'kan batu?" tanya Raja Isfan.
"Caranya, salah seorang di antara kita harus berdiri di depan cermin yang ada di sebelah kiri batu ini. Yang harus berdiri di depan cermin itu harus orang yang khusus. Cuma keturunan raja negeri ini yang bisa. Harta itu juga cuma bisa diambil oleh keturunan raja." kata Kak Imu.
"Berarti, yang bisa ngambil cuma Erza, dong?" kata Alidza.
"Betul. Nah, Erza, berdiri di depan cermin yang ada di kiri batu ini!" perintah Kak Imu. Erza langsung berdiri di depan cermin tersebut. Tiba-tiba, terjadilah keajaiban. Cermin itu langsung mengeluarkan cahaya yang begitu silaunya. Cahayanya sangat terang. Sampai-sampai pulau itu diselimuti oleh cahaya itu. Erza yang sedang berdiri di depan cermin itu langsung tersedot ke dalam cermin itu. Lalu, cahaya itu perlahan-lahan hilang.
Sekarang, Erza berada di dalam sebuah gua yang penuh dengan berlian dan cermin. Ia melihat sekelilingnya dengan heran. "Sebenarnya, aku ada di mana?" tanyanya dalam hati. Tiba-tiba, ia melihat sebuah peti harta karun yang sangat berkilauan. Ia mendekati peti tersebut. Tiba-tiba, sebuah surat jatuh dari atas gua itu. Ia pun mengambil surat itu dan membacanya.
Salam Hormat
Di depan anda terdapat sebuah peti harta karun yang tidak biasa. Peti tersebut merupakan peti rahasia kerajaan. Peti ini adalah penolong dari masalah anda. Ketika negeri ini mulai kacau, tahta kerajaan direbut oleh yang tidak seharusnya, datangilah tempat ini. Ambillah isi peti ini. Gunakanlah dengan bijak. Laksanakanlah misi mengumpulkan 69 orang terpilih dan 13 berlian biru yang khusus itu. Setelah keduanya terlaksana, kembalilah ke tempat ini. Lalu, bersama dengan 69 orang itu, masuklah ke dalam peti ini. Anda akan sampai di ibukota dengan cepat. Selamat berjuang wahai keturunan raja negeri ini. Semoga anda dapat merebut kembali tahtamu.
Salam Kerajaan
Setelah membaca surat itu, ia langsung membuka peti itu. Ternyata, peti itu terbuka dengan sendirinya sebelum ia membukanya terlebih dahulu. Di dalam peti itu terdapat baju kerajaan, baju zirah, jubah, tameng, dan sebuah bola berlian yang berukuran kecil. Ia langsung memakai semuanya. Setelah semuanya ia pakai, tiba-tiba ia menghilang dari gua itu.
Sementara itu, teman-teman Erza yang ada di luar menunggu Erza.
"Kapan ya dia keluar dari batu ini?" tanya Rayhan. Tiba-tiba, muncul cahaya putih di depan Rayhan. Dari cahaya itulah Erza muncul dengan mengenakan baju kerajaan, baju zirah, jubah, dan tameng.
"Wah, Za, ini beneran kamu?" tanya Rayhan.
"Bukan, ini monyet." jawab Erza.
"Oh, berarti kamu bukan Erza." kata Rayhan.
"Ya udah." kata Erza.
"Wah, Erza bercahaya. Aah, aku pingsan." kata Adi.
"Aku juga." kata Uqi.
"Wah, Erza bercahaya." kata Yatta.
"Iya, ya, kenapa, ya?" tanya Erza.
"Kali baju kamu mantulin cahaya." kata Raja Isfan.
"Wah, keren. Saya bercahaya. Wahahaha!" kata Erza.
"Ah, sombong!" kata Fathur.
"Sombong!" kata Rendy.
"Ah, kalian bisanya sirik aja!" kata Erza.
"Udah, udah, sekarang kita istirahat di sini aja." kata Raja Isfan.
"Ok, aku tidur pake baju zirah. Biar bercahaya." kata Erza.
"Lepas baju zirah kamu, Za! Ganggu pemandangan!" kata Raja Isfan.
"Oke, oke." kata Erza sambil melepas baju zirah dan jubahnya.
"Nah, sekarang, ayo kita tidur." kata Ulwan.
"Ayo!" kata Adi.
Akhirnya, mereka semua tidur di dekat batu itu. Paginya, mereka pergi ke kapal mereka masing-masing. Sebelumnya, Erza dan teman-temannya berpamitan dengan Raja Isfan. Setelah itu, Erza dan teman-temannya ikut dengan Ivan dan teman-temannya pergi ke kapal Ivan dan teman-temannya. Mereka juga kembali ke kapal yang jatuh itu sebelum pergi ke kapal Ivan dan teman-temannya. Mereka mencoba untuk mengambil barang-barang yang masih dapat diselamatkan, seperti hewan dan tumbuhan hasil penjelajahan, peta, teropong, dan perbekalan. Akan tetapi, mereka hanya bisa mengambil satu hewan hasil penjelajahan dan perbekalan. Sisanya rusak akibat terbakar dan jatuh. Setelah mengambil barang-barang yang ada di kapal itu, mereka pergi menuju kapal Ivan dan teman-temannya. Mereka menaiki kapal itu dan berlayar menuju Pulau Ketimuran.
"Aduh, cuma satu hewan yang bisa kita bawa. Parah nih..." kata Fathur.
"Udah, udah, yang penting kita selamat." kata Pak Anshor.
"Tapi, sayang, ya? Kapalnya rusak." kata Arif.
"Emang, tapi bagus juga buat hiasan di Pulau Leer Boden." kata Ulwan.
"Oh, ya, ya. Buat sejarah." kata Arif.
Cuaca pada hari itu sangat cerah. Tidak seperti hari kemarin. Langit benar-benar berwarna biru cerah. Burung-burung saling bersahutan. Sementara itu, Yatta dan Galih sedang memancing.
"Liat! Aku dapat ikan salmon!" teriak Yatta.
"Aku dapat ikan salmon juga!" teriak Galih.
"Aku dapat brem!" teriak Uqi.
"Kalau aku dapat bala-bala!" teriak Adi.
"Kalau aku dapat ikan hiu!" teriak Hadi.
"Bohong kamu!" kata Andri.
Sementara itu, Erza dan Rayhan sedang ada di dalam kamar kapal itu. Erza menggambar muka Raja Ehud. Setelah itu, ia menempelkan gambarnya di dinding kamar. Lalu, Erza dan Rayhan melempari gambar itu.
"Haha! Mati kamu, Ehud!" kata Erza.
"Makan nih! Ehud!" kata Rayhan.
Mereka terus melempari gambar itu. Ivan yang melihatnya langsung ikut melempari gambar itu. Kemudian, Adi dan Uqi ikut melempari gambar itu.
Perlahan-lahan, orang-orang terpilih yang Erza temukan sudah lebih dari setengahnya. Ia harus terus berjuang untuk merebut kembali tahta kerajaan.
Sementara itu, Pak Acep masih berharap semoga Erza berhasil merebut kembali tahta kerajaan.
"Hidup ini memang penuh dengan perjuangan. Hidup tidak selalu mudah. Kadang kita harus menghadapi masalah dalam hidup kita. Namun, kita harus menghadapinya. Masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Jangan lari dari masalah. Hadapilah masalah itu dengan segenap kemampuan. Dengan berusaha dan berdo'a, masalah itu akan selesai. Terus berjuang, Erza! Rebut kembali apa yang seharusnya untukmu! Selamatkan negeri ini dari kehancuran!" kata Pak Acep dalam hati.
Komentar
Posting Komentar