40. Gulingkan Raja Ehud!
Gulingkan Raja Ehud!
Siang itu merupakan siang yang cerah. Namun, tak ada aktivitas di kota itu. Jalanan terlihat sepi. Toko-toko tutup. Suara pembawa kabar tak terdengar. Tak terdengar suara ribut di pasar. Kota itu bagaikan tak berpenghuni. Akan tetapi, alun-alun kota penuh dengan para penduduk. Mereka . Erza selaku pangeran kerajaan memimpin pemberontakan. Ia dibantu oleh Paman Ade, Master Evie, Hilman, dan Fitri. Pagi ini, dia mengarahkan para pemberontak untuk melakukan aksi pemberontakan yang akan dilakukan nanti malam.
“Divisi A yang dipimpin oleh Mahmud Alaudin memberontak dari sebelah timur istana. Jalurnya melalui pinggir timur kota. Ikuti saja yang sudah ditunjukkan dalam peta yang sudah diberikan.” perintah Erza kepada Divisi A, kelompok yang akan memberontak ke istana.
“Divisi B yang dipimpin oleh Eric Julian memberontak dari sebelah barat istana. Jalurnya berlawanan dengan Divisi A, tapi tetap melalui pinggir kota. Ikuti saja yang sudah ditunjukkan dalam peta yang sudah diberikan.” perintah Erza kepada Divisi B.
“Divisi C yang dipimpin oleh Matsuda Shiroyama memberontak dari sebelah selatan istana. Jalurnya melalui pinggir timur dan barat kota. Karenanya, kalian akan dipecah lagi menjadi dua kelompok. Satu ke timur dan satunya lagi ke barat. Siapa yang memegang peta yang satunya lagi akan menjadi pemimpinnya. Ikuti petunjuk yang ada di peta itu.” perintah Erza kepada Divisi C.
“Divisi D yang dipimpin oleh Amir Alamsyah, Harry South, dan Ken Ichiro memberontak dari sebelah utara istana. Karena jalur kalian melewati pusat kota, kalian akan dipecah menjadi sepuluh kelompok. Setiap yang memegang peta jalur pemberontakan akan menjadi pemimpinnya. Seperti perintah sebelumnya, kalian ikuti petunjuk yang ada di peta itu.” perintah Erza kepada Divisi D.
“Baiklah, kalian siap untuk memberontak?” tanya Erza dengan lantang.
“Siap!” jawab semuanya.
“Kalau begitu, kalian bersiap di posisi kalian masing-masing. Kita akan memberontak ke istana sekarang juga!” perintah Erza.
“Baik!” teriak semuanya.
“Baiklah, segera menuju posisi kalian masing-masing! Ingat tanda dimulainya pemberontakan. Mengerti?” tanya Erza.
“Mengerti!” teriak semuanya.
“Baiklah. Tanpa penghormatan, bubar, jalan!” perintah Erza.
Para penduduk segera bubar dari alun-alun itu. Mereka langsung pergi ke posisi awal mereka masing-masing. Sementara itu, teman-teman Erza masih berdiri di alun-alun kota. Rupanya, mereka punya jalur sendiri.
“Ayo, teman-teman. Kita naik burung-burung elang raksasa ini. Kita akan pergi ke Pulau Leer Boden.” kata Erza.
Mereka langsung menaiki ketiga burung elang raksasa yang sudah ada di sana. Paman Ade dan Master Evie tidak ikut dengan mereka.
“Ayo Master sama paman, kita naik burung ini.” ajak Erza.
Paman Ade dan Master Evie menggelengkan kepala.
“Yang bisa masuk ke dalam gua itu cuma kamu dan teman-teman kamu saja.” kata Paman Ade.
“Jadi?” tanya Erza.
“Kami tidak bisa ikut dengan kalian. Kami akan ikut dengan para pemberontak.” kata Paman Ade.
Erza terdiam sejenak. Ia sangat menyayangkan Paman Ade dan Master Evie tidak bisa ikut dengannya dan teman-temannya.
“Sekarang, kalian harus berjuang sendiri. Erza, kau sudah pernah bertemu banyak guru ‘kan?” tanya Master Evie.
Erza menganggukkan kepalanya.
“Kau sudah belajar banyak dari guru-guru itu ‘kan? Sekarang, kau harus terapkan apa yang sudah kamu pelajari selama ini. Buktikan pelajaran yang kamu dapat hanya omong kosong belaka. Buktikan bahwa kamu bisa menggulingkan tahta Raja Ehud. Buktikan bahwa kamu pangeran! Pangeran yang seharusnya naik tahta!” Master Evie menyemangati Erza.
“Baik, Master!” kata Erza.
“Baiklah, sebelum kalian pergi, saya akan memberikan nasihat terakhir kepada kalian.” kata Master Evie.
Erza dan teman-temannya terdiam. Mereka menunggu nasihat dari Master Evie.
“Berjuanglah!” kata Master Evie.
Erza dan teman-temannya masih terdiam. Apa hanya itu saja nasihat yang ingin disampaikannya?
“Berjuanglah semampu kalian. Berjuanglah untuk negeri ini. Masa depan negeri ini ada di tangan kalian. Karena itu, berjuanglah.” kata Master Evie.
“Baik, Master. Terima kasih sudah membimbing dan membantu saya.” kata Erza.
“Sama-sama. Kini, pergilah. Cepatlah kalian pergi.” kata Master Evie.
“Baiklah, Master.” kata Erza.
Erza memberi aba-aba untuk pergi.
“Satu, dua, tiga, terbang!” teriak Erza.
Ketiga burung itu mengepakkan sayapnya. Mereka mulai meninggalkan Master Evie dan Paman Ade yang ada di bawah sana. Mereka berdua hanya melihat sang pangeran beserta kawan-kawannya pergi meninggalkan ibukota.
“Ayo kita pergi sekarang juga.” kata Master Evie.
“Ayo.” kata Paman Ade.
Mereka berdua pergi meninggalkan alun-alun kota untuk bergabung dengan para pemberontak. Sementara itu, Erza dan teman-temannya sudah terbang meninggalkan ibukota. Sebelum pergi, ia memberikan tanda untuk memulai pemberontakan.
“Teriak, Elang!” teriak Erza sambil memecut burung itu.
“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAK!” teriak burung itu.
Para pemberontak yang di bawah sana mendengar teriakan itu.
“Itu dia tandanya!” kata mereka.
Mereka langsung bergerak menuju istana dengan melalui jalurnya masing-masing. Mereka semua bergerak dengan cepat. Para prajurit istana yang ditemui mereka sepanjang perjalanan langsung disikat habis. Jika perlu, mereka ambil senjata prajurit yang sudah mereka habisi.
Sementara itu, Rachen memantau keadaan kota dengan kolam ramalannya. Ia langsung terkejut ketika ia melihat para pemberontak akan menuju istana. Lebih terkejut lagi, ia melihat Erza dan teman-temannya sedang pergi menuju Pulau Leer Boden. Ia tahu tempat itu dapat membuat mereka sampai di istana, bahkan langsung sampai di dalamnya. Ia segera melaporkannya kepada Raja Ehud.
“Tuan! Para penduduk kota akan memberontak ke sini! Cepatlah membuat pertahanan!” kata Rachen.
“Hanya itu?” tanya Raja Ehud.
“Tidak hanya itu! Erza dan kawan-kawannya sedang menuju Pulau Leer Boden dengan menaiki burung elang raksasa!” jawab Rachen.
“Baiklah, ini saatnya. Karl Armstrong, Duke Richmond, Igor Dante, Kemp Mayer, Curran Caspar! Kemari!” panggil Raja Ehud.
Mereka berlima yang berada di sekitar Raja Ehud langsung mengahadap kepadanya.
“Ada apa tuan?” tanya mereka.
“Siapkan seluruh prajurit. Mulai dari prajurit biasa sampai prajurit elit. Suruh juga The Secret Five untuk berjaga-jaga di sekitar istana. Oh, ya, kalian juga harus berjaga-jaga di sekitar istana karena Erza dan teman-temannya sedang menuju Pulau Leer Boden yang merupakan jalan pintas menuju istana. Mengerti?” tanya Raja Ehud.
“Siap, kami mengerti!” jawab mereka dengan lantang.
“Laksanakan sekarang juga!” perintah Raja Ehud.
Kelima jenderal itu langsung pergi meninggalkan Raja Ehud. Dengan cepat, mereka langsung memanggil seluruh prajurit dengan menggunakan terompet. Ketika bunyi terompet terdengar, seluruh prajurit langsung berkumpul di halaman istana.
“Perhatian semuanya! Raja Ehud memerintahkan kalian untuk menjaga istana kerajaan! Baik dari luar maupun dalam. Ungsikan keluarga para pejabat. Masukkan mereka ke dalam ruang bawah tanah. Habisi semua pemberontak! Jaga istana ini tetap aman! Mengerti?” tanya salah seorang jenderal.
“Mengerti!” jawab semuanya.
“Baiklah, laksanakan!” perintah sang jenderal.
“Siap, jenderal!” jawab semuanya.
Mereka langsung bubar dan menjalankan perintah sang jenderal. Mereka berjaga-jaga di depan dan belakang benteng istana. Ada juga yang berjaga-jaga di atas benteng istana. Banyak juga yang berjaga-jaga di di dalam istana. Para keluarga pejabat pun sudah diungsikan ke dalam ruang bawah tanah kerajaan. Kelima jenderal dan The Secret Five itu ikut berjaga-jaga di sekitar istana jika Erza dan teman-temannya sampai di istana itu. Sementara itu, Rachen disuruh untuk mengawasi keadaan di sekitar istana.
Dalam waktu yang cukup singkat, para prajurit sudah menjaga istana dengan sangat ketat. Raja Ehud tidak mau lagi para prajuritnya dikalahkan oleh para pemberontak seperti sebelumnya. Ia juga merasa cukup khawatir jika pemberontak itu dapat menggulingkannya. Karena, kali ini para pemberontak itu adalah semua penduduk Kota Miracle. Ditambah lagi dengan Erza dan teman-temannya istimewanya. Raja Ehud semakin khawatir. Ia tahu isi pesan yang disampaikan oleh Pak Acep kepada Erza. Ia juga tahu ke-69 orang terpilih dan 13 berlian itu.
Kali ini, ia siap untuk bertarung melawan Erza. Untuk bertarung melawannya, ia sudah mempunyai pedang yang tak kalah kuatnya dengan pedang Erza. Ia membuka sebuah peti. Di dalamnya, terdapat sebuah pedang yang terbuat dari berlian yang berwarna merah menyala. Persis seperti Erza. Hanya gagang dan warnanya saja yang berbeda. Ia mengambil pedang itu dan digantungkan di pinggangnya. Ia pun mengambil sebuah berlian merah yang ada di dalam kotak rahasia. Lalu, ia gantungkan di lehernya.
“Jangan pikir kamu bisa menggulingkan aku dengan mudah, Erza si pangeran cengeng dan lemah!” kata Raja Ehud.
Sementara itu, para pemberontak sudah hampir tiba di istana. Para prajurit yang mereka temui di jalan pun ada yang ikut bergabung dengan mereka. Kini, dengan jumlah yang lebih banyak dan ditambah dengan sang pangeran dan kawan-kawannya, mereka siap untuk memberontak hingga titik penghabisan.
Erza dan teman-temannya sudah sampai di Pulau Leer Boden. Mereka tinggal mencari batu yang terdapat cermin itu.
“Erza, kamu masih ingat di mana batu tempat kamu tiba-tiba hilang itu ada?” tanya Ulwan.
“Aduh, aku juga tidak terlalu ingat.” kata Erza sambil berdiri di samping genangan air. Tiba-tiba, bayangannya yang terpantul di genangan air itu berbicara kepadanya.
“Erza, batu itu letaknya jauh di depan kamu. Kamu tinggal lurus terus sampai bertemu batunya.” kata bayangannya.
“Benarkah?” tanya Erza.
Bayangannya mengangguk.
“Baiklah, terima kasih.” kata Erza.
“Sama-sama.” balas bayangannya.
Erza menuntun teman-temannya ke arah batu itu. Mereka mengambil jalan yang telah ditunjukkan oleh bayangan Erza. Rupanya, batu itu cukup jauh. Walaupun begitu, mereka tidak mengeluh. Mereka berlari untuk lebih cepat. Akhirnya, mereka sampai di batu itu.
“Ini dia batu yang katanya bisa sampai ke istana dengan cepat.” kata Erza.
Erza segera mencari cermin yang terletak menempel di batu itu. Tanpa berlama-lama, ia berhasil menemukannya. Ia pun langsung menyuruh teman-temannya untuk berdiri di depan cermin itu. Supaya bisa terbuka, Erza berdiri di depan cermin itu. Tiba-tiba, cermin itu bercahaya.
“Apa ini tandanya kita bisa masuk?” tanya Adhi.
“Mungkin.” jawab Erza.
Erza mencoba untuk masuk ke dalamnya. Ketika kaki kanannya masuk ke cermin itu, ia dan teman-temannya langsung tertarik ke cermin itu. Mereka pun sampai di dalam cermin itu. Seperti cerita sebelumnya, di dalam cermin itu terdapat gua yang penuh dengan berlian dan kaca. Seluruh teman Erza terpukau melihatnya.
“Waaaaaw… indahnya…” kata Adhi.
“Iya… indah…” kata Zacki.
Erza langsung berjalan tanpa memedulikan sekelilingnya.
“Ayo, semuanya. Tak ada waktu untuk memerhatikan sekeliling gua ini. Kita harus terus berjalan.” kata Erza.
Teman-temannya langsung mengikuti perintah Erza. Mereka terus berjalan tanpa memerhatikan sekelilingnya. Mereka terus berjalan dan berjalan. Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah cahaya yang sangat terang.
“Wuuuuh! Terangnya…” kata Ulwan.
Mereka semua berjalan menuju cahaya itu. Mereka pun berada di dalam lorong yang penuh dengan cahaya. Erza dan teman-temannya berjalan lurus mengikuti lorong itu. Mereka terus berjalan menyusuri lorong itu. Akhirnya, mereka keluar di sebuah pintu yang terdapat di ruang bawah tanah istana.
“Akhirnya, kita sampai juga.” kata Erza.
Tiba-tiba, para prajurit menemukan mereka.
“Siapa kalian!?” tanya salah seorang prajurit.
“Tidak ada waktu untuk menjawab itu.” kata Erza sambil mencabut pedangnya.
Erza langsung menghabisi para prajurit itu. Teman-temannya ikut menghabisi para prajurit itu. Mereka menghabisi para prajurit itu tanpa kenal ampun.
“Fireline!” Andri membuat api yang berbentuk garis mendatar di lantai istana. Kaki para prajurit langsung terbakar.
“Little Cannon!” Alidza mengetapel para prajurit dengan bom. Para prajurit menghindarinya dengan sekuat tenaga.
“Dancing on the Battle!” Dede menendang para prajurit dengan cara berputar di lantai istana.
Para prajurit yang ada di ruang bawah tanah langsung dihabisi oleh Erza dan teman-temannya. Karena sudah terdesak, para prajurit yang masih selamat melarikan diri ke atas.
Tiba-tiba, Erza mendengar suara berisik dari lorong yang ada di pojok kiri ruangan bawah tanah. Ia dan teman-temannya langsung berlari menuju lorong itu. Mereka masuk dan menyusuri lorong itu. Ternyata, suara berisik itu berasal dari penjara. Para tahanan berusaha untuk melawan para prajurit dari balik jeruji besi. Erza dan teman-temannya langsung menghabisi para prajurit itu.
“Ring of Sword!” Fahri memutar-mutar pedangnya. Kepala para prajurit tertebas. Para prajurit yang masih hidup tinggal beberapa lagi. Erza menyerang para prajurit itu dengan sekali tebas. Para prajurit pun langsung tewas seketika.
“Erza! Apa itu kamu, nak?” tanya Ratu Alvia yang terkurung dalam penjara.
“Ibu?” Erza menoleh ke arah Ratu Alvia.
“Ini ibu, nak.” kata Ratu Alvia.
Erza terdiam sejenak. Ia tidak percaya bahwa yang di dalam penjara itu adalah ibunya.
“Ibu?” Erza mendekati ibunya yang terkurung di dalam penjara. Ia semakin yakin bahwa yang ada di hadapannya adalah ibunya. Ia langsung menebas jeruji besi yang mengurung ibunya dan para tahanan lainnya. Rusaklah jeruji besi itu. Para tahanan dapat keluar dari penjara itu.
“Ibu!” Erza langsung memeluk ibunya.
“Aku rindu ibu!” kata Erza.
“Ibu juga rindu kamu.” kata ibunya sambil mengelus kepala Erza.
“Dan aku benci kalian!” kata seorang jenderal yang sudah berdiri di dekat mereka. Rupanya, seorang jenderal, Karl Armstrong, dan seorang dari kawanan The Secret Five, Aldric, dan beberapa prajurit elit sudah menghadang Erza dan teman-temannya.
“Karl…” ibunya langsung mendekati Karl Armstrong. Aldric langsung mengeluarkan pedang beracunnya.
“Matilah kau!” teriak Aldric sambil menusuk perut Ratu Alvia. Namun, Aldric langsung diserang oleh Andri.
“Firesword!” Andri menusuk Aldric dengan pedangnya yang terbakar dengan api. Karl langsung menangkis tusukan Andri dengan pedangnya. Namun, Karl langsung diserang oleh Hadi.
“Desert Attack!” Hadi menyerang Karl dengan pedangnya. Salah seorang prajurit langsung menangkis serangan Hadi. Pada saat itu juga, Oji langsung membelah kepala prajurit itu. Setelah itu, ia menghabisi seluruh prajurit yang ada di lorong itu.
“Erza, baginda ratu, dan teman-teman yang lain! Cepat keluar dari sini! Sebelum prajurit lain datang kemari!” perintah Oji.
Erza, Ratu Alvia, dan teman-temannya langsung pergi dari penjara itu.
“Oji, kamu tidak ikut?” tanya Erza.
“Aku harus membantu Hadi dan Andri. Kalian pergi saja duluan.” kata Oji.
“Terima kasih, Oji.” kata Erza.
“Sama-sama.” kata Oji.
Erza, Ratu Alvia, dan teman-temannya pergi menuju lantai atas. Namun, para prajurit menghadang mereka di tangga menuju lantai atas.
“Sekarang, giliran aku yang membereskannya.” kata Erza.
“Tidak usah, aku saja yang membereskannya.” kata Fahri dan Alidza.
Fahri dan Alidza langsung maju menghadapi para prajurit yang menghadang mereka semua. Mereka menyiapkan ancang-ancang untuk menyerang.
“Desert Tornado!” Fahri menyerang para prajurit dengan pedangnya yang diputar-putar seperti tornado.
“Medium Cannon!” Alidza mengetapel para prajurit dengan bom.
Para prajurit langsung tewas seketika. Fahri dan Alidza terus menyerang. Namun, serangan mereka ditangkis oleh seorang jenderal dan seorang dari kawanan The Secret Five, Duke Richmond dan Randi.
“Kita bertemu lagi, ya?” kata Randi.
“Iya, sudah lama kita tidak bertemu.” Kata Fahri.
Fabian, Ammar dan Galih ikut dengan Alidza dan Fahri.
“Fabian, Galih, Ammar, kalian mau bantu aku?” tanya Fahri.
“Ya.” jawab Fabian.
“Baiklah.” kata Fahri.
Fahri, Galih, Fabian, Ammar, dan Alidza menyiapkan senjatanya.
“Erza, kamu dan teman-teman kamu langsung pergi saja. Serahkan masalah mereka berdua pada kami.” kata Fahri.
“Baiklah!” kata Erza. Erza, Ratu Alvia, dan teman-temannya pergi ke lantai atas meninggalkan Fahri, Galih, Fabian, Alidza, dan Ammar.
Baru saja mereka sampai di lantai atas, mereka dihadang oleh para prajurit kembali. Namun, kali ini mereka dihadang juga oleh pasukan makhluk halus. Mereka langsung terdesak.
“Dai Bakuchiku!” M. Irfan langsung meluncurkan petasan besar ke arah para prajurit itu.
“BLAAAR!” petasan itu meledak. Sebagian prajurit langsung terbakar. Namun, pasukan makhluk halus tidak sama sekali terluka.
“UGYAAA…” pasukan makhluk halus melempar tulang-tulang terbakar ke arah Erza dan teman-temannya. Rayhan langsung menangkis semua serangan itu dengan pedang rahasianya. Ia mengacungkan pedangnya ke atas. Pedangnya mengeluarkan cahaya. Cahaya itu mengarah kepada semua pasukan yang ada di sana.
“GYAAAAA…” pasukan itu langsung terbakar habis tanpa sisa. Setelah terbakar, mereka semua langsung berubah menjadi sehelai rambut panjang. Ketika semua pasukan hilang, Rayhan melihat Tauma, Van Porter, Fredderson, dan Igor Dante sedang berdiri di hadapannya dan teman-temannya.
“Ah, ketemu si dukun gila itu lagi.” kata Rayhan.
“Sial, si penasihat sinting itu harus bertemu lagi denganku.” kata Tauma.
“Erza, kamu dan teman-temanmu pergi saja ke atas. Biar aku yang hadapi mereka.” kata Rayhan.
“Aku juga.” kata M. Irfan.
“Aku juga.” kata Rendy dan Rendy S.
“Aku juga.” kata Ulwan.
“Baiklah, selamat berjuang.” kata Erza.
“Kamu juga, selamat berjuang.” kata Rayhan.
Erza, Ratu Alvia, dan teman-temannya langsung pergi menuju lantai atas. Namun, lagi-lagi mereka dihadang oleh banyak prajurit di tangga.
“Erza, biar kami yang hadapi ini. Kamu dan ibumu ikuti kami dari belakang. Kami akan permudah jalan kalian menuju Raja Ehud.
“Baiklah.” kata Erza.
Erza dan ibunya mundur ke barisan paling belakang. Mereka mengikuti teman-teman Erza dari belakang.
“Lihat ini, Erza. Kami juga punya keahlian luar biasa.” kata Yatta.
Yatta dan Nabil mengambil posisi kuda-kuda. Mereka menunggu datangnya para prajurit. Namun, para prajurit masih diam menunggu Erza dan teman-temannya naik.
“Woi! Kawanan pangeran cengeng! Apa kalian tidak berani kemari?” tanya salah seorang prajurit.
Nabil mengeluarkan bom asap dari sakunya.
“Kalau kalian berani, kemarilah dan lawan kami.” tantang Nabil. Para prajurit langsung naik darah. Tanpa basa-basi, mereka berlari menuju Erza dan teman-temannya.
“Sekarang!” kata Nabil. Ia dan Yatta melempar bom asap ke arah para prajurit. “BUUUUM!” asap menghalangi penglihatan para prajurit.
“Yiiihaaaa!” Nabil dan Yatta menghabisi para prajurit itu. Diyyah, Ayang, dan Dede pun ikut menghabisi para prajurit yang jumlahnya sangat banyak itu. Teman-teman Erza terus menghabisi para prajurit selama mereka berjalan. Hingga akhirnya, mereka sampai di lantai tempat singgasana Raja Ehud.
“Akhirnya, kita sampai di sini juga.” kata Ratu Alvia.
“Memangnya ini tempat apa?” tanya Nabil.
Ratu Alvia menunjuk sebuah pintu besar yang terletak di ujung ruangan.
“Itu singgasana Raja Ehud.” kata Ratu Alvia.
“Dan ini adalah tempat kalian akan mati!” kata dua orang jenderal yang berada di belakang mereka. Kedua jenderal itu adalah Kemp Mayer dan Curran Caspar.
“Kalian hanya berdua?” tanya Ratu Alvia.
“Jika hanya berdua, kami semua dapat menghabisi kalian dengan cepat.” lanjut Ratu Alvia. Kedua jenderal itu tersenyum licik.
“Para prajurit, keluarlah!” teriak Curran Caspar. Para prajurit langsung muncul dari berbagai sudut ruangan itu. Ada yang dari atas, pintu-pintu di ruangan itu, bawah tangga, dan lain sebagainya. Rupanya, para prajurit itu jumlahnya lebih banyak dari jumlah mereka. Jika dikira-kira, jumlahnya bisa mencapai ratusan. Ratu Alvia langsung mencabut pedangnya.
“Erza, kamu lari ke pintu besar yang paling ujung. Di sana singgasana Raja Ehud. Kamu bisa langsung menghadapinya dengan cara menghancurkan dindingnya, bukan pintunya. Jika pintu yang kamu rusak, itu akan memakan waktu lama. Mengerti?” tanya Ratu Alvia.
“Mengerti.” jawab Erza.
“Sekarang, larilah! Cepat!” perintah Ratu Alvia.
“Baik!” Erza langsung berlari ke pintu itu sambil menghindari para prajurit yang akan menyerangnya.
Para prajurit bermunculan dari berbagai sudut ruangan di lantai atas itu. Erza berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Namun, ia tak bisa menghindari semuanya. Dengan terpaksa, ia menyerang para prajurit.
“Hiiiah!” Erza menebas badan para prajurit. Badan para prajurit langsung terbelah menjadi dua bagian. Dengan cepat, Erza langsung menghancurkan dinding pintu menuju singgasana itu. Dengan kekuatan special yang telah dipelajarinya, ia melempar pedangnya ke arah dinding itu. Pedang itu memotong dinding pintu. Ketika akan sampai di ujung bawah pintu, ia langsung mengambil pedangnya. Perlahan-lahan pintu besar itu runtuh. Di dalamnya, terlihat Raja Ehud sudah menunggu Erza sambil duduk di singgasananya.
“Sudah datang, ya?” tanya Raja Ehud.
“Ya! Sekarang juga akan kubunuh kau.” jawab Erza.
Raja Ehud turun dari singgasananya dan mendekati Erza.
“Berani sekali kau, bocah. Kutahu, dulu kamu seorang pangeran yang lemah dan cengeng.” kata Raja Ehud.
“Ya, itu dulu. Tapi, sekarang tidak lagi.” kata Erza sambil mencabut pedangnya. Raja Ehud pun mencabut pedangnya. Erza dan Raja Ehud memasang kuda-kuda. Mereka saling menjaga jarak untuk menyerang. Mereka belum saling serang-menyerang. Dengan cepat, Raja Ehud langsung menyerang Erza.
“Matilah kau, Erza!” Raja Ehud langsung menyerang Erza dengan pedangnya. Erza langsung menangkis serangan Raja Ehud dengan pedangnya.
“Berani juga, kau!” kata Raja Ehud. Erza tak membalas perkataan Raja Ehud. Ia langsung membalas menyerang. Dengan cepat, Raja Ehud menangkis semua serangan brutal Erza. Terjadilah duel yang sangat sengit antara pangeran dan raja di dalam ruangan raja. Mereka saling serang-menyerang.
Sementara itu, para pemberontak terus menyerang para prajurit yang berjaga di depan istana. Dengan brutalnya, para pemberontak membunuh para prajurit dengan seluruh senjata yang mereka bawa. Para prajurit yang berjaga di depan istana langsung terdesak. Para prajurit yang di atas benteng langsung memanahi para pemberontak. Namun, para pemberontak tidak mundur sama sekali. Walau terluka, mereka terus menyerang para prajurit yang ada di depan istana maupun di atas benteng.
Suasana di Kota Miracle sangat sepi. Namun, suasana di istana kerajaan sangat berbeda. Suasana di istana sangat tegang. Para pemberontak terus menyerang para prajurit. Mereka memaksa untuk masuk ke dalam istana. Para prajurit mulai kewalahan. Kekuatan mereka tidak sebanding dengan kekuatan para pemberontak. Untuk sementara, para pemberontak lebih unggul dari para prajurit.
Sementara itu, Pak Acep sedang berada di atas pohon paling tinggi sambil mengamati istana kerajaan. Ia mengetahui bahwa istana kerajaan sedang diserang oleh para pemberontak.
“Berjuanglah, Erza. Jangan mati oleh kekuatan bengis Raja Ehud. Bapak akan mendo’akanmu.” kata Pak Acep dalam hati.
Komentar
Posting Komentar