4. Penolong dari Desa
Akhirnya Erza tertidur lelap dengan berselimutkan pakaian bekas prajurit tentara. Sebelum tertidur, ia berpikir tentang nasib ibunya. Apakah ibunya baik-baik saja atau tidak, pikirnya. Tidak lama setelah itu, ia pun tertidur lelap di dalam gua dalam hutan yang gelap dan dingin yang ditambah oleh hujan deras malam itu.
Bagaimanakah nasib ibunya? Apakah beliau baik-baik saja? Ternyata, sang raja baru, Raja Ehud memaksa sang ratu atau ibunya Erza untuk menikah. Apakah beliau mau menikah dengan raja baru tersebut? Tentu saja beliau menolak paksaan raja baru tersebut.
"Untuk apa aku menikah dengan kau yang telah menggulingkan tahta kerajaan dan mengasingkan putraku? Lebih baik penjarakan aku daripada menikah dengan kau!" Bentak sang ratu.
Sang raja pun kaget dengan bentakan seperti itu. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang ratu yang ia pikir lemah, tidak berdaya, dan hanya mengikuti perintah raja, bisa melawan seperti itu. Raja Ehud marah besar. Darahnya naik, dan ia segera mengambil pedangnya. Sang ratu pun tidak takut. Ratu Alvia langsung mengambil pedang peninggalan suaminya yang sudah meninggal.
"Kau berani melawanku!?" tantang Raja Ehdu.
"Tentu saja!" jawab Ratu Alvia.
Setelah itu, terjadilah pertarungan sengit antara sang Raja dengan sang Ratu. Awalnya mereka bertarung di dalam sebuah ruangan. Tetapi, pertarungan itu meluas hingga seluruh istana tersebut menjadi arena bertarung. Mereka pun tidak bertarung hanya dengan pedang, tetapi dengan peralatan lainnya yang berada di sekitar istana tersebut. Apakah barang itu mahal ataupun murah, mereka tak peduli. Mereka terus bertarung hingga akhirnya sang Raja dan sang Ratu bertarung di sbuah lorong bawah tanah isatana tersebut. Di dalam sana terdapat beberapa kurungan untuk para pegawai kerajaan yang berbuat kesalahan dan sebuah ruang rahasia yang di dalamnya terdapat sebuah benda yang memiliki kekuatan rahasia. Sang ratu akhirnya terpojok di dalam sebuah kurungan dan akhirnya sang Raja langsung mengunci kurungan tersebut. Sang Ratu akhirnya terkurung dan hanya bisa tertunduk lemas.
Akhirnya, hujan deras pun berhenti. Matahari mulai menampakkan sinarnya yang cerah dan hangat. Hutan yang awalnya gelap berangsur cerah. Erza pun bangun dari tidurnya. Ia keluar dari gua tersebut dan ia senang bahwa hujan deras sudah berhenti. Ia pun bisa melanjutkan perjalanannya menyusuri hutan tersebut. Sebelumnya, ia mengisi perutnya terlebih dahulu dengan sisa makanan yang terdapat dalam gua tersebut. Setelah energinya cukup untuk menyusuri hutan tersebut, ia langsung memulai perjalanannya dengan pedang dan panah beserta busurnya untuk berjaga-jaga jika ada hewan yang berbahaya dan untuk berburu.
Ia menyusuri hutan tersebut dengan hati-hati. Jalan setapak di hutan tersebut licin akibat hujan deras semalam. Lagipula, di hutan tersebut banyak akar-akar pohon dan batu-batuan yang cukup besar. Tetapi, ia tidak tahu satu hal, di hutan tersebut, terdapat prajurit-prajurit yang masih hidup dan membuntutinya dalam perjalanannya. Tampaknya, Erza tidak merasa dibuntuti seseorang. Karena, ia berpikir hutan ini sepi dan sunyi. Jarang ada orang yang masuk ke hutan ini.
Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan sebuah suara. Ia menoleh ke sumber suara tersebut dan ia melihat prajurit yang sudah siap menyerangnya. Walaupun terlihat lusuh dan lemas, prajurit itu tampaknya masih bisa menyerang Erza. Terjadilah pertarungan antara Erza dengan prajurit itu. Erza yang tidak bisa memainkan pedang akhirnya hanya bisa bertahan. Beberapa sabetan pedang mengenai dirinya. Ia pun terjatuh dan terpojok. Ia tidak bisa apa-apa lagi. Prajurit itu akan segera membunuhnya. Tetapi, sebelum sabetan pedang itu mengenainya, prajurit itu terbelah oleh pedang seseorang. Akhirnya prajurit itu tewas. Di belakang prajurit itu, muncul seseorang yang memegang pedang yang berlumuran darah prajurit itu. Erza pun ketakutan. Ia mengira bahwa orang tersebut adalah prajurit yang akan menyerangnya lagi. Namun, orang tersebut mendekatinya dengan perlahan-lahan.
"S,s,s,siapa...?" tanya Erza terbata-bata.
"Jangan takut. Bapak bukan orang jahat." jawab orang tersebut sambil tersenyum.
"Ka,ka,kalau begitu...?" tanya Erza lagi.
"Udah, jangan takut, ikut bapak." ajak orang tersebut.
Erza mengikuti orang tersebut sambil gemetaran. Ia takut orang tersebut akan menyerangnya secara diam-diam di sebuah tempat yang tersembunyi. Akhirnya keduanya sampai di sebuah gua tempat Erza mendengar suara bisikan misterius. Orang tersebut tetap berjalan. Erza masih mengikutinya. Ia mulai bertanya-tanya. Ia akan diajak ke mana? tanyanya dalam hati. Sampai akhirnya, mereka berdua sampai di mulut gua lainnya. Dari sana, Erza melihat sebuah desa yang indah, bersih, dan teratur. Ia pun terkagum-kagum.
"Gimana, bagus 'kan?" tanya orang tersebut.
Erza mengangguk. Sekarang, ia tidak takut kepada orang tersebut. Dari wajahnya terlihat jika orang tersebut orang yang baik.
"Bapak siapa?" tanya Erza.
"Bapak dulunya penasehat kerajaan. Bapak sekeluarga pernah tinggal di istana. Tapi, bapak dan keluarga bapak diasingkan ke hutan karena dituduh melakukan rencana penggulingan tahta kerajaan. Lalu, bapak menemukan gua ini. Setelah disusuri, ternyata ada sebuah desa dibawah sana. Bapak mengajak keluarga bapak tinggal di desa itu. Akhirnya bapak beserta keluarga tinggal di desa itu." jawab orang tersebut.
"Oh, ya. Kamu pangeran kan? Perasaan bapak pernah lihat wajah kamu sebelumnya. Di mana ya?" orang tersebut berpikir.
"Oh, ya. Waktu kemarin! Pas bapak lagi di gua, ada yang teriak-teriak! Ternyata kamu, ya? Wahahahahaha!" kata orang tersebut sambil tertawa lebar.
"Jadi, yang kemarin bisik-bisik itu bapak, ya?" tanya Erza.
"Ya dong, siapa lagi kalau bukan bapak yang keren ini." jawab orang tersebut dengan percaya diri. Mulut Erza terbuka lebar. Ia heran mengapa orang tersebut terlalu percaya diri sampai-sampai menyebut dirinya keren. Ia pun tertawa, tapi tidak besar- besar juga suaranya. Jika besar-besar suaranya, tidak sopan namanya, pikirnya.
"Nama bapak siapa?" tanya Erza.
"Nama bapak adalah Acep. Panggil aja Pak Acep. Orang keren gitu loh..." jawab orang tersebut. Lagi-lagi orang tersebut mengaku dirinya keren.
"Mau turun ke desa itu?" ajak Pak Acep.
"Tentu." jawab Erza.
Mereka pun turun ke desa tersebut. Sekarang, ia sudah tenang. Ia sudah bersama Pak Acep yang baik dan penolong walaupun terlalu percaya diri atau istilah zaman sekarangnya adalah narsis atau kepedean. Selain itu, ia sudah tenang karena ia sudah sampai di suatu desa yang indah, bersih, dan damai. Masyarakat desa itu hidup dengan rukun dan tenteram. Tidak ada pertengkaran di antara mereka. Jika ada masalah, mereka menyelesaikannya secara baik-baik dan damai. Jika masalah tersebut berat untuk diselesaikan, maka mereka akan menyelesaikan masalah tersebut dengan musyawarah yang dipimpin oleh ketua desa tersebut.
Petualangan Erza pun masih berlanjut. Masih banyak tantangan yang akan menghadapinya.
Komentar
Posting Komentar