16. Puncak Pertarungan


Pertarungan satu lawan satu dimulai. Yatta sebagai sepupunya Moza harus berhadapan dengan sang pemimpin. Sedangkan Galih harus berhadapan dengan wakilnya. Sementara itu, temannya yang lain harus berhadapan dengan anggota-anggota kelompok tersebut.

Yatta langsung memulai pertarungan. Ia pun langsung menyerang sang pemimpin. Sang pemimpin langsung menahan serangan Yatta dan menghempaskannya dengan pedangnya. Yatta pun terhempas hingga ke dinding gedung tersebut. Yatta berusaha untuk berdiri lagi. Tetapi, ketika ia akan berdiri, ia langsung diserang oleh sang pemimpin. Dengan relfeks, Yatta menahan serangan sang pemimpin. Tetapi, ternyata sang pemimpin memiliki kekuatan rahasia di dalam pedangnya. Ternyata, pedang sang pemimpin memiliki tabung untuk meluncurkan roket petasan. Sang pemimpin mengambil roket petasan berukuran kecil dari sakunya, kemudian ia masukkan ke dalam tabung tersebut. Tabung tersebut diarahkan ke Yatta. Lalu, roket-roket meluncur dari dalam tabung tersebut. Yatta pun melihat ke bawah dan langsung panik. Ia mengambil sebuah papan kecil yang ada di sebelahnya dan menghalangi roket petasan tersebut. Roket petasan tersebut pun mengenai papan tersebut dan meledak. Yatta pun bernafas lega. Tetapi, di atas kepalanya, sebuah bogem mentah sudah menunggunya. Dengan secepat kilat, sang pemimpin memukul kepala Yatta hingga pingsan. Lalu, sang pemimpin melempar Yatta ke luar. Yatta pun kalah begitu saja.

Andri, Oji, Hadi, dan Diyyah yang melihat kejadian itu langsung menolong Yatta. Andri pun langsung mengejar sang pemimpin. Ia membawa obor, camar naga yang masih kecil, dan minyak. Ia membasahi obor itu dengan minyak. Lalu, ia menyuruh camar naga peliharaannya untuk mengeluarkan api ke obor itu. Setelah itu, ia memasukkan minyak yang ia bawa ke dalam mulutnya. Setelah ia cukup dekat dengan sang pemimpin, ia mengarahkan obor itu ke sang pemimpin dan langsung menyemprotkan minyak yang ada dalam mulutnya. Dengan seketika, muncul api yang sangat besar yang mengarah ke sang pemimpin. Sang pemimpin langsung menghadap ke belakang dan menangkis api tersebut. Karena gagal, Andri melakukan serangan lain. Ia mengeluarkan batu yang diikat dengan tali yang cukup panjang. Ia pun membasahi batu tersebut dengan minyak. Lalu, ia bakar batu tersebut di atas obor. Batu tersebut terbakar. Setelah itu, ia langsung memutar-mutar batu tersebut dan melemparkannya ke sang pemimpin. Tetapi, lagi-lagi serangannya berhasil dipatahkan.

Andri tidak kehilangan akal. Ia pun mengeluarkan pedangnya dan membakarnya. Ia langsung menyerang sang pemimpin. Sang pemimpin langsung meluncurkan roket-roket petasan berukuran besar. Dengan cepat, Andri memotong semua roket petasan tersebut. Setelah semua roket petasan terpotong dan meledak. Ia langsung menyerang sang pemimpin. Sang pemimpin menahan serangan Andri dan terjadilah adu pedang yang sengit. Andri berusaha sekuat tenaga untuk menghempaskan sang pemimpin. Begitupun sang pemimpin. Di saat mereka sedang beradu pedang, Hadi dan Oji ikut membantu Andri. Mereka dengan secepat kilat mendekati sang pemimpin dan menyerangnya. Ternyata, sang pemimpin sudah mengetahui rencana mereka berdua. Sang pemimpin langsung menendang mereka berdua. Mereka berdua langsung terpental jauh. Setelah itu, sang pemimpin langsung menendang Andri lalu memasukkan pedangnya kembali. Ia langsung melempar bom asap dan kabur.

Andri, Oji, dan Hadi langsung bangkit kembali. Tiba-tiba, Hadi melihat sesosok bayangan yang membawa sesuatu. Bayangan tersebut sedang berlari ke arah mereka. Ketika asap mulai menipis, sosok bayangan tersebut terlihat jelas. Ternyata, bayangan tersebut adalah sang pemimpin yang sedang mengendarai kuda dan membawa sepupunya Yatta.

"Itu dia, sepupunya Yatta!" teriak Oji.

"Ya! Dia dibawa kabur sama bos penculiknya!" teriak Hadi.

"Kejar!" teriak Andri.

Andri, Oji, dan Hadi mengejar sang pemimpin. Ternyata, Galih yang ada di lantai dua mendengar keributan tersebut.

"Apa!? Moza dibawa kabur!? Nggak bisa dibiarin!" Galih pun segera mengejar sang pemimpin tersebut.

"Tunggu, kamu mau ke mana!?" tanya wakil pemimpin.

"Kamu nggak usah ikut-ikutan!" jawab Galih.

Galih pun turun ke lantai satu dan segera mengejar sang pemimpin. Wakil pemimpin yang jadi lawannya langsung mengejar Galih. Terjadilah pengejaran yang rumit. Galih hanya sanggup mengejar gerobak Andri, Oji, dan Hadi. Ia pun langsung menaiki gerobak tersebut.

"Numpang!" kata Galih.

"Boleh, kok." kata Andri.

Wakil pemimpin tidak bisa mengejar Galih lagi. Ia pun memanggil seekor hewan.

"Hiiii, hiiii." teriak wakil pemimpin.

Kemudian, datanglah kuda petir, kuda yang bisa berlari secepat kilat. Ia langsung menaiki kuda tersebut lalu mengejar Galih.

"Wah, dia naik kuda petir!" kata Galih.

"Tenang, kita lawan dia!" kata Andri.

Akhirnya, tidak beberapa lama kemudian, wakil pemimpin berhasil menyusul mereka.

"Hadi, kendaliin kudanya!" kata Andri.

"Oke!" kata Hadi.

Andri dan Galih menghadapi wakil pemimpin. Akhirnya, mereka pun bertarung. Andri dan Galih bertarung di atas gerobak sedangkan wakil pemimpin bertarung di atas kuda. Pertarungan pun menjadi sengit. Wakil pemimpin menyerang Andri dan Galih dengan martil. Dengan cepat, Andri menahan martil tersebut dengan tangannya. Pada saat wakil pemimpin menyerang Andri, Galih langsung menyerang wakil pemimpin. Tetapi, wakil pemimpin langsung melepaskan martilnya lalu mengambil pedangnya. Ia langsung menahan serangan Galih. Akhirnya, terjadi adu pedang. Pada saat wakil pemimpin sedang menahan serangan Galih, Andri langsung menyerang wakil pemimpin dengan martil yang dimiliki wakil pemimpin. Wakil pemimpin langsung menahan serangan Andri dengan tangan kirinya. Di saat ia sedang terpojok, Oji langsung membelah kepala wakil pemimpin. Akhirnya, wakil pemimpin yang terpojok itu tewas seketika.

Akhirnya, sang pemimpin sudah sampai di pinggir pantai. Andri, Galih, Oji, dan Hadi pun sudah sampai di sana. Sang pemimpin pun terpojok. Di saat seperti itu, ia langsung memanggil seekor hewan.

"Haaaa, haaaaa." teriak wakil pemimpin.

Kemudian, datanglah elang api. Ia pun menaiki elang api tersebut dan kabur ke Pulau Pasir Kuning. Andri tidak kehilangan akal. Ia pun memanggil seekor hewan.

"Aaaaa, aaaaaa." teriak Andri.

Kemudian, datanglah camar raksasa. Mereka mengikat kuda mereka di pohon terlebih dahulu. Setelah itu, mereka menaiki camar raksasa dan pergi ke Pulau Pasir Kuning.

Akhirnya, mereka pun sampai di Pulau Pasir Kuning. Pulau tersebut penuh dengan batu karang besar yang berwarna kuning dan berlubang. Sesampainya di sana, mereka berpencar untuk mencari sang pemimpin. Karena pulau itu cukup luas dan penuh dengan batu karang, mereka kesusahan untuk mencarinya. Akhirnya, Andri memanggil seekor hewan.

"Ciiit, ciiit, ciiiit." teriak Andri.

Lalu, datanglah tikus karang raksasa. Ia menaiki hewan tersebut lalu menyuruhnya untuk mencari sang pemimpin. Tikus tersebut mencari sang pemimpin dengan cara mencium baunya. Setelah tercium baunya, tikus tersebut mengejar sang pemimpin. Akhirnya, sang pemimpin berhasil ditemukan. Andri pun turun dari tikus tersebut dan langsung menyerang sang pemimpin.

"Nah, sekarang kamu nggak bisa kabur!" Andri menyerang sang pemimpin.

Sang pemimpin menahan serangan Andri dengan mudah. Andri pun menyerang sang pemimpin lagi. Tetapi, sang pemimpin menghindar dengan cepat. Ternyata, di belakang sang pemimpin terdapat Moza, sepupu Yatta. Andri pun langsung memasukkan pedangnya lagi dan langsung menabrak Moza.

"Aduh, cepet amat itu orang! Awas aja! Akan aku bunuh!" kata Andri.

Andri pun menyerang sang pemimpin lagi. Tetapi, ketika ia akan menyerang, sang pemimpin lebih dulu menyerang. Ia memukul Andri hingga terpental ke pinggir pantai. Andri pun bangkit lagi. Ketika ia akan bangkit, ia langsung diserang dengan roket petasan. Andri langsung berlari menghindari roket petasan tersebut. Tetapi, ia tidak bisa lari lebih kencang seperti biasanya. Karena itu, akhirnya roket petasan tersebut mendekati dirinya. Ia hanya bisa pasrah jika petasan tersebut mengenai dirinya dan meledak. Tiba-tiba, roket petasan yang akan mengenai dirinya terbelah. Akhirnya, roket tersebut meledak. Andri pun bersyukur karena bisa terhindar dari serangan roket petasan tersebut. Tiba-tiba, datanglah seseorang mendekati Andri. Ia langsung menolong Andri. Setelah Andri berdiri, ia langsung menyadari sesuatu.

"Galih?" kata Andri.

"Kenapa?" tanya Galih.

"Makasih." kata Andri.

"Sama-sama." kata Galih.

Galih langsung berlari ke arah sang pemimpin. Setelah dekat dengan sang pemimpin ia langsung melompat dan menyerang sang pemimpin dari atas. Dengan cepat, sang pemimpin langsung menangkis serangan Galih. Galih menyerang sang pemimpin secara terus-menerus. Sang pemimpin pun terus menangkis serangan Galih. Sampai pada akhirnya, sang pemimpin memukul Galih dengan martilnya. Galih pun terpental hingga ke pinggir pantai.

"Wahahaha! Makanya, jangan coba-coba lawan saya!" kata sang pemimpin dengan suaranya yang menggelegar.

Sang pemimpin langsung meluncurkan roket petasan ke arah Galih. Galih yang baru saja dipukul tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya, roket petasan tersebut mengenai Galih dan meledak. Punggungnya terbakar. Andri langsung mendekati Galih dan meyeretnya ke pinggir laut.

"Wahahaha! Rasakan itu!" kata sang pemimpin.

Moza yang melihat kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan dan kakinya diikat. Dengan keadaan yang seperti itu, Moza mendapat ide untuk mengalahkan sang pemimpin. Ia pun berteriak sekeras-kerasnya.

"KWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!" teriak Moza.

"Heh, ngapain kamu teriak-teriak? Mau manggil hewan?" tanya sang pemimpin.

Tiba-tiba, datanglah seekor burung besar. Burung tersebut mendarat di dekat Moza. Sang pemimpin hanya bisa terkejut melihatnya. Burung tersebut adalah burung badai raksasa. Kepakan sayapnya dapat menciptakan badai besar yang dapat menghancurkan satu kota. Burung tersebut termasuk burung langka yang hanya ada di Kepulauan Pasir.

"KWAAAAAAAAK, serang dia!" teriak Moza.

Sang pemimpin menjadi ketakutan. Badannya menjadi gemetaran. Martil yang ada di tangannya terlepas. Ia langsung dicengkeram oleh burung tersebut dan dibawa terbang. Burung tersebut melepaskan cengkeramannya dan mengepakkan sayapnya ke arah sang pemimpin. Sang pemimpin pun terbawa oleh angin hingga ke tengah samudra.

Galih dan Andri yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terpana melihatnya. Mereka belum pernah melihat burung seperti itu. Mereka pun berlari menuju Moza.

"Moza, kamu nggak apa-apa?" tanya Galih.

"Nggak." jawab Moza.

Galih melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Moza.

"Makasih." kata Moza.

"Sama-sama." kata Galih.

Wajah Galih terlihat pusing. Badannya pun lemas. Mata kirinya terlihat lebam.

"Galih, kamu nggak apa-apa?" tanya Andri.

"Nggak, nggak apa-apa." jawab Galih.

Tiba-tiba, Galih jatuh tersungkur dan pingsan.

"Galih, Galih, kamu kenapa?" tanya Andri.

"Sebentar." kata Moza.

Moza mengeluarkan sebuah minyak dari sakunya dan memberikannya kepada Andri.

"Pakai ini. Biasanya dia langsung sadar kalau pakai ini." kata Moza.

Andri pun langsung mengoleskan minyak tersebut ke jari telunjuknya. Lalu, ia dekatkan jari telunjuknya ke hidung Galih. Beberapa saat kemudian, Galih langsung sadar.

"Akhirnya, sadar juga." kata Andri.

Galih hanya diam saja. Badannya masih lemas.

"Lebih baik, kita langsung pulang." kata Andri.

Andri memanggil Oji dan Hadi.

"Hadi, Oji! Cepat ke pinggir pantai!" teriak Andri.

Hadi dan Oji langsung menuju pinggir pantai walaupun mereka tidak tahu di mana Andri berada. Andri langsung memanggil camar raksasa yang tadi ia naiki.

"Aaaaaaa, aaaaaaaa." teriak Andri.

Tidak lama kemudian, datanglah camar raksasa. Andri, Galih, dan Moza langsung menaiki camar tersebut. Andri pun menyuruh camar tersebut terbang ke pinggir pantai. Setelah sampai di pinggir pantai, Andri langsung menyuruh Hadi dan Oji untuk naik ke camar tersebut. Mereka semua langsung kembali ke gedung tersebut dengan menaiki camar tersebut.

"Akhirnya, kalah juga." kata Erza sambil tersungkur di lantai. Di depannya terdapat lawannya yang sudah tertusuk kepalanya.

"Ini akibatnya kalau sombong!" kata Rayhan sambil berdiri membelakangi lawannya. Badan lawannya telah terbelah dua.

"Ternyata, bersama lebih baik daripada sendirian." kata Fahri kepada Alidza. Di depan mereka terdapat dua lawan mereka yang sudah hangus terbakar.

"Terbanglah ke langit!" kata Deiki sambil memandangi lawannya yang terpental ke atas.

"Yeah! Kemenangan untuk Rock n Roll!" kata Nabil sambil menginjak lawannya yang tersungkur di tanah. Lawannya telah dikalahkan oleh Nabil.

"Rasakan putaranmu sendiri!" kata Rendy sambil memandangi lawannya yang terus berputar-putar hingga ke laut.

"Gimana sih? Yang ngajak tarungan malah kalah." kata Ayang sambil mengambil senjata lawannya yang telah dikalahkannya.

"Selamat tinggal!" kata Dede. Ia pun memukul lawannya dengan martil lawannya hingga ke laut.

"Akhirnya, selesai juga. Dasar musuh busuk!" kata Dede.

Tiba-tiba, di belakang Dede terdengar suara langkah kaki.

"Siapa itu?" tanya Dede.

"Saya, manusia." jawab orang yang ada di belakang Dede.

"Ah, Andri. Jangan ngagetin gitu, dong! Hampir aja aku jantungan!" kata Dede.

"Bagus, dong!" kata Andri.

"Apanya yang bagus? Kalau aku jantungan, kamu yang harus bawa aku ke pondok pengobatan!" kata Dede sambil kesal.

"Udah, udah. Santai dong!" kata Andri.

"Oh, ya, di mana yang lainnya?" tanya Andri.

"Aku nggak tahu. Tapi, kayaknya ada di dalam gedung. Kalau Ayang, ada di sebelah sana." tunjuk Dede.

"Ya udah, makasih." kata Andri.

"Sama-sama." kata Dede.

Andri pun mengumpulkan semua teman-teman Yatta. Setelah itu, ia memanggil camar raksasa lainnya. Ia pun menyuruh Hadi dan Oji untuk mengendalikan camar rakasasa tersebut. Sementara itu, gerobak-gerobak kuda yang ada di sana ditinggalkan oleh Andri. Barang-barang yang ada di gerobak-gerobak itu diambil oleh Andri. Mereka semua pergi ke markas petugas keamanan bagian timur. Akhirnya, pertarungan yang sangat sengit pun berakhir. Moza, sepupu Yatta berhasil diselamatkan tanpa terluka sedikit pun. Yatta pun tidak kehilangan berlian birunya. Galih bersyukur karena Moza telah selamat. Hatinya pun mulai tenang. Janjinya kembali ke kampung halamannya berhasil dipenuhinya. Sekarang, ia tidak bersedih lagi. Ia pun tampak bahagia bisa kembali ke kampung halamannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya