22. Pertarungan di Malam Akhir Tahun
Pertarungan di Malam Akhir Tahun
Akhirnya, malam pun tiba. Jalanan pun menjadi ramai. Orang-orang berbondong-bondong menuju pinggir pantai untuk merayakan pergantian tahun, termasuk Erza dan teman-temannya dan Bu Nia beserta keluarganya. Jalanan penuh dengan cahaya kelap-kelip. Bunyi terompet terdengar di mana-mana. Toko-toko memasang hiasan-hiasan yang menarik.
Erza dan teman-temannya berjalan sambil memerhatikan sekitarnya. Di sekitarnya terdapat lampu-lampu dan hiasan-hiasan yang menarik. Mereka belum pernah ke tempat yang indah seperti itu.
"Bagus, ya?" kata Rayhan.
"Tentu dong, Rayhan!" Bu Nia menimpali.
Tiba-tiba, di samping Rayhan terdapat kelompok marching band. Mereka semua memainkan alat musiknya dengan lihai. Sepintas seperti marching band umumnya. Tetapi, ada perbedaan dengan marching band itu. Marching band itu terdapat pemain terompet dan drum. Tetapi, di marching band itu terdapat pemain saksofon, harmonika, seruling, xylophone, biola, bahkan gitar. Jenis musik yang mereka mainkan beragam. Mulai dari rock, pop, hingga jazz. Kali ini, mereka sedang memainkan sebuah lagu yang cukup terkenal bagi para penjelajah dan pengelana.
Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan dua orang yang mereka tidak kenal. Tetapi, dikenal oleh wisatawan dan penduduk pulau itu.
"Wah, itu 'kan..." kata seseorang.
"Waaaaaa! Minta tanda tangan!" teriak orang tersebut. Banyak orang yang ikut minta tanda tangan. Suasana pun menjadi ramai.
"Tenang, tenang, semua dapat tanda tangan." kata orang yang dikerumuni itu.
"Ya, ya, tenang aja." kata orang yang ada di sampingnya.
Satu per satu dari mereka yang mengerumuni kedua orang tersebut diberi tanda tangan. Mereka yang sudah mendapat tanda tangan langsung pergi dari kerumunan itu.
"Mereka berdua itu siapa?" tanya Fahri.
"Mereka itu penyanyi terkenal. Laki-laki yang itu namanya Hero. Tapi, panggil aja Pak Heru. Ibu aja suka manggilnya Pak Hero. Pak Hero itu bisa nyanyi dan bermain gitar. Kalau yang perempuan di sebelahnya itu adalah Asha. Mereka berdua penyanyi duet. Setiap tampil, mereka selalu membawakan musik dengan aliran yang berbeda-beda. Misalnya, hari ini mereka menyanyikan lagu jazz, ketika mereka tampil keesokan harinya, mereka tidak akan lagi menyanyikan lagu jazz. Bisa saja mereka menyanyikan lagu pop." kata Bu Nia.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Akhirnya, setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka sampai di pinggir pantai. Di sana, banyak orang-orang sudah berkumpul di sana. Mereka hanya mendapat tempat di bagian belakang.
"Penuh, ya?" keluh Moza.
"Panas! Bisa-bisa aku meleleh!" teriak Rendy S.
"Lebay amat..." kata Fahri.
"Fahri! Jangan sok gitu! Lama-lama juga kamu kepanasan!" kata Diyyah sambil mengipas-ngipas mukanya.
"Fahri! Kamu nggak ngerasain panas?" tanya Alidza.
Fahri pun terdiam sejenak.
"Oh, ya, ya. Lama-lama juga kepanasan..." kata Fahri.
"Hah, hah, panas! Panas!" kata Fahri.
"Tuh, 'kan?" kata Diyyah.
"Iya!" kata Fahri.
Akhirnya, acara perayaan malam tahun baru pun dimulai. Acara itu dimulai dengan pembukaan, lalu dilanjutkan dengan pertunjukan drama. Setelah itu, dilanjutkan lagi dengan pertunjukan tarian. Lalu, acara dilanjukan dengan penampilan dari penyanyi dan pemain musik. Tetapi, diantara semua acara itu, penampilan Kelapa Marching Band dan Pak Hero dan Asha sangat dinanti-nanti oleh semua orang. penampilan mereka sangat bagus. Penampilan mereka dapat menghipnotis siapa saja yang menyaksikannya atau mendengarnya. Sekarang, Pak Hero dan Asha akan tampil dengan menyanyikan sebuah lagu yang sangat terkenal di seluruh dunia.
"Mari kita saksikan penampilan dari penyanyi duet terkenal di negeri ini, Hero dan Asha!" kata sang MC.
Seluruh orang yang ada di sana langsung bersorak sorai. Mereka semua sangat menantikan penampilan mereka. Sementara itu, mereka berdua sedang bersiap-siap di balik panggung.
"Lagi-lagi mereka teriak-teriak." kata Asha.
"Udah, Asha, ini 'kan resikonya..." kata Pak Hero.
"Ya..." kata Asha.
Mereka pun berjalan menuju panggung. Sementara itu, di suatu menara yang cukup dekat dengan tempat itu, sekelompok teroris sedang bersiap-siap untuk menyerang sebuah kapal yang disiapkan untuk puncak acara perayaan malam tahun baru itu.
"Bos! Meriamnya udah siap!" kata seorang anggotanya.
"Petasan?" tanya sang pemimpin.
"Udah, bos!" jawab anggotanya itu.
"Bagus..." kata sang pemimpin.
"Kapan kapalnya ditembak?" tanya anggotanya.
"Bentar lagi." jawab sang pemimpin.
Kelompok itu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kapal itu.
"Bos, udah waktunya?" tanya anggotanya.
"Belum!" jawab sang pemimpin.
Mereka menunggu lagi. Setelah beberapa lama mereka menunggu, akhirnya pemimpin mereka menyuruh mereka menyerang kapal itu.
"Ya, sekarang serang!" perintah sang pemimpin.
Mereka langsung menyerang kapal itu dengan meriam. Sementara itu, di pinggir pantai, acara perayaan malam tahun baru masih berlangsung.
"Ya, kita lanjutkan dengan..." kata sang MC.
Belum saja sang MC selesai bicara, "BUM!" kapal yang akan meluncurkan petasan itu meledak secara tiba-tiba. Semua orang yang ada di sana langsung terdiam.
"Ada apa?" tanya sang MC.
"Kapalnya ditembak meriam!" jawab seorang panitia.
"Meriam? Kok bisa?" tanya sang MC.
"Kita juga nggak tahu. Tapi, kayaknya meriam itu datangnya dari atas." jawab panitia itu sambil menunjuk sebuah menara.
Tiba-tiba, beberapa roket petasan meluncur dari menara itu. Petasan-petasan itu meluncur ke arah kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan acara perayaan malam tahun baru itu.
"Woi! Liat! Ada petasan!" teriak seseorang sambil menunjuk petasan-petasan yang meluncur ke arah mereka.
Mereka semua langsung melihat ke petasan-petasan itu.
"Waaaaaaaaa!" teriak mereka semua. Mereka semua langsung berlarian. Sang MC pun segera turun dari panggung dan meninggalkan tempat itu. Semua panitia pun berlari meninggalkan tempat itu. Para penari, penyanyi, dan semua yang tampil di acara itu juga langsung berlari meninggalkan tempat itu. Para petugas keamanan yang berjaga di sana langsung menuju sumber meluncurnya petasan itu. Erza dan teman-temannya dan Bu Nia mengikuti para petugas keamanan itu.
"Yang tadi ngeluncurin petasan itu kayaknya teroris itu lagi!" kata seorang petugas keamanan.
"Ya, biasa! Mereka terlalu lincah! Kayak belut aja!" kata temannya.
"Awas! Kali ini kalian nggak bisa kabur lagi!" kata petugas keamanan itu.
Akhirnya, mereka pun sampai di menara itu.
"Woi! Yang ada di atas! Turun kalian!" teriak pemimpin petugas keamanan itu.
Tiba-tiba, mereka ditembaki dengan roket petasan.
"Woi! Yang bener!" teriak pemimpin petugas keamanan itu.
Mereka ditembaki lagi dengan roket petasan.
"Turun kalian!" teriak pemimpin petugas keamanan itu.
Tiba-tiba, sang pemimpin kelompok teroris itu turun dan menemui mereka semua.
"Mau apa kamu?" tanya pemimpin kelompok teroris itu.
Pemimpin petugas keamanan itu langsung menyerang pemimpin kelompok teroris itu dengan pedangnya yang tajamnya minta ampun. Dengan cepat, pemimpin kelompok teroris itu langsung menangkis serangan itu.
"Badai Laut!" pemimpin kelompok teroris itu mengayunkan pedangnya. Dengan sekejap, semua petugas keamanan itu langsung terhempas, kecuali pemimpin petugas keamanan, Erza dan teman-temannya, dan Bu Nia.
"Kuat juga ya, kalian..." kata pemimpin kelompok teroris itu.
"Kalian?" tanya pemimpin petugas keamanan itu.
"Yang ada di belakangmu itu siapa?" tanya pemimpin kelompok teroris itu.
Pemimpin petugas keamanan itu langsung menoleh ke belakang.
"Siapa kalian?" tanya pemimpin petugas keamanan itu.
"Kami orang biasa. Tapi, kami akan membantu anda." jawab Bu Nia.
Pemimpin petugas keamanan itu terdiam sejenak.
"Benarkah?" tanya pemimpin petugas keamanan itu.
"Benar." jawab Bu Nia.
"Baiklah. Kalian boleh ikut membantu." kata pemimpin petugas keamanan itu.
Pemimpin kelompok teroris itu langsung memanggil anak buahnya.
"Anak buahku! Turun!" teriak pemimpin kelompok teroris itu.
Mereka semua langsung turun. Jumlah mereka ada 10 orang. Semua itu adalah anak buahnya.
"Nah, saya perkenalkan nama saya dulu. Nama saya adalah Frank si Tangan Besi! Keahlian saya banyak! Mulai dari berpedang, memanah, menembak, dan lain-lain. Selanjutnya, saya akan perkenalkan anak buah saya. Yang ini ahli senjata, yang di sebelahnya itu ahli pedang, di sebelahnya lagi adalah ahli memanah, di sebelahnya lagi adalah ahli mekanik, di sebelahnya lagi adalah 'ilmuwan' kelompok kami, di sebelahnya lagi adalah ahli peledak, di sebelahnya lagi adalah 'psikopat' bertangan dingin, di sebelahnya lagi adalah si besar 'tameng' kelompok kami, di sebelahnya lagi adalah ahli martil, dan yang terakhir adalah ahli silat. Oh, ya, kelompok kami bernama SERIGALA API dengan motto 'menghancurkan semua yang ada di depan kami'! Sekian perkenalannya!" kata Frank, sang pemimpin kelompok teroris itu.
"Banyak omong kamu!" Rendy S langsung menyerang pemimpin itu. Dengan cepat, Rendy S langsung dihempaskan ke dekat Erza dan teman-temannya oleh pemimpin itu. Pemimpin petugas keamanan itu langsung menantang Frank untuk bertarung.
"Baiklah, aku akan melawanmu!" tantang pemimpin petugas keamanan itu.
"Oke!" kata Frank.
Frank pun mengeluarkan senjata kesayangannya.
"Anak buahku! Serang mereka yang berdiri di sana!" teriak Frank dengan suara yang sangat keras dan serak.
Mereka semua langsung menyerang Erza dan teman-temannya dan Bu Nia. Erza dan teman-temannya dan Bu Nia langsung mengeluarkan senjata mereka. Pertarungan di malam tahun baru pun dimulai. Bunyi pedang yang beradu pun mulai terdengar. Suara ledakan pun mulai terdengar. Pertarungan langsung menjadi sengit dalam waktu yang sangat singkat. Sementara itu, Frank dan pemimpin petugas keamanan itu langsung bertarung. Malam tahun baru yang awalnya ramai dan menyenangkan berubah menjadi sepi dan mencekam. Semua orang yang menyaksikan acara perayaan malam tahun baru pun kembali ke rumahnya masing-masing. Para wisatawan yang datang ke sana pun kembali ke pondok tempat mereka menginap.
Suasana di di pinggir pantai tempat diadakannya acara perayaan malam tahun baru pun menjadi sepi. Tidak ada seorang pun yang masih ada di tempat itu. Sementara itu, di depan sebuah menara, terjadilah pertarungan sengit yang akan menjadi pertarungan terakhir di tahun itu, sebelum tengah malam datang dan berubah menjadi tahun yang baru.
Komentar
Posting Komentar