14. Pulau Ajaib, Makhluk Ajaib, dan Penculik Ajaib


Kapal yang Erza dan teman-temannya tumpangi akhirnya pergi menuju tempat tinggal Yatta dan kawan-kawannya dan tempat sepupunya diculik. Kapal tersebut berlayar menembus gelapnya malam. Galih memandangi lautan dengan tenang. Perasaan gugup dan gelisah sudah hilang dari dirinya. Angin berhembus sepoi-sepoi. Langit sedang cerah. Bintang-bintang bersinar tanpa tertutup awan. Langit benar-benar bersih dari awan.

Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat Galih mengantuk. Lama-kelamaan, matanya menjadi berat dan akhirnya ia tertidur. Kapal yang terus berlayar tanpa hambatan membuat tidurnya menjadi lebih pulas. Tak lama kemudian, semua penumpang pun tertidur lelap.

Tiba-tiba, ketika semua penumpang sedang tidur, kapal tersebut didekati oleh kapa bajak laut. Salah satu kru kapal menyadari hal itu. Ia pun segera membangunkan semua penumpang dan mendatangi nahkoda kapal. Erza, Alidza, dan Fahri langsung melihat ke luar kapal. Mereka melihat sebuah kapal bajak laut yang berada dekat dengan kapal tersebut. Ternyata, para anggota bajak laut sedang memanjat dinding kapal tersebut.

"Ah, yang kayak gini serahin aja ama Alidza." kata Fahri.

"Baik, Majesty! Dengan senjata saya, semua anggota bajak laut akan langsung jatuh ke laut." kata Alidza.

Alidza mengeluarkan senjata yang mirip dengan meriam. Ia masukkan roket petasan ke dalam senjatanya, lalu ia meluncurkan petasan tersebut ke salah satu anggota bajak laut.

"BUUUM!" petasan tersebut meledak dan mengenai beberapa anggota bajak laut. Mereka pun terbakar dan terjatuh ke laut. Ia pun kembali meluncurkan roket petasannya. Kali ini ia menyerang kapal bajak laut tersebut. Kapa tersebut hancur sebagian. Tetapi, anggota bajak laut yang tersisa tetap memanjat. Kemudian, ia menembakkan petasan tersebut ke arah para anggota bajak laut yang masih tersisa. "BUUUM!" petasan tersebut meledak kembali. Para anggota yang tersisa itu langsung jatuh ke laut. Sekarang, tinggal pemimpinnya yang tersisa.

"Grrr... kurang ajar! Rasakan ini!" sang pemimpin membawa meriam untuk ditembakkan ke arah Alidza.

"BUM!" petasan tersebut meledak dan membakar sang pemimpin yang belum sempat menembakkan meriamnya.

"Ini yang terakhir." kata Alidza.

"BUM!" kapal tersebut hancur terbelah dua akibat ledakan petasan. Akhirnya, bajak laut tersebut berhasil dikalahkan dengan mudah.

Akhirnya kapal sampai pada pagi hari. Erza, Yatta, dan teman-temannya turun dari kapal tersebut. Tak lupa mereka membawa gerobaknya keluar dari kapal tersebut. Mereka pun menaiki gerobak mereka dan mulai berjalan meninggalkan pelabuhan tersebut.

"Ini pulau apa?" tanya Erza.

"Ini, ini Pulau Hati. Nama pulau ini diambil dari bentuknya yang mirip hati." kata Yatta.

"Kita sekarang mau ke mana? Apa kita harus ke luar kota?" tanya Erza.

"Ya, nggak. Kita udah nyampe." jawab Yatta.

"Nyampe?" tanya Erza.

"Ya, ini tempat tinggal aku, Kota Pasir Merah." jawab Yatta.

"Kenapa namanya Pasir Merah?" tanya Erza.

"Konon, dulu, di sini ada perang antara penduduk pulau ini dan bajak laut. Ternyata, jumlah anggota bajak laut lebih banyak daripada jumlah penduduk. Karena itu, ada penduduk yang punya ide buat ngalahin mereka. Penduduk itu ngumpulin batu-batu yang besar. Terus, mereka menggelindingkannya dari atas bukit pada waktu fajar. Pada saat itu, para bajak laut sedang tidur di pinggir pantai. Batu-batu itu menimpa para bajak laut. Akhirnya, mereka semua mati. Darah-darah para bajak laut itu berbekas di pantai sampai beberapa tahun. Akhirnya, penduduk setempat menamakannya sebagai Pasir Merah." Yatta bercerita.

Akhirnya mereka sampai di alun-alun Kota Pasir Merah. Suasana alun-alun tersebut sangat ramai. Ada yang sedang berjualan, ada yang sedang duduk-duduk, ada yang sedang bermain, ada yang sedang memancing, dan ada yang sedang tidur. Tiba-tiba, di depan mereka lewatlah sekelompok pemain musik. Pemain musik itu memutari alun-alun. Mereka memang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh penduduk. Alunan musiknya selalu terdengar ceria. Bahkan orang yang sedih sekalipun dapat langsung ceria kembali setelah mendengarkannya.

"Salam hangat, penduduk kota! Musik itu harus dimainkan dan didengarkan dengan hati!" kata sang pemimpin pemain musik tersebut.

"Wah, mereka selalu keliling kota sambil main musik?" tanya Erza.

"Ya, mereka selalu dibayar oleh pemerintah untuk menghibur penduduk." jawab Yatta.

Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka kembali. Akhirnya, mereka sampai di tempat tinggal Ayang, Diyyah, dan Dede. Mereka bertiga turun dari gerobak Yatta.

"Makasih, bang!" kata Ayang.

"Sama-sama!" balas Yatta.

Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal Yatta, Nabil, dan Rendy. Setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka sampai di tempat tinggal Yatta dan teman-temannya.

"Inilah tempat tinggal aku, Nabil, sama Rendy." kata Yatta.

"Pondok?" tanya Fahri.

"Ya, pondok. Pondok Laut. Namanya aja yang laut, tapi nggak di dekat laut." jawab Yatta.

Mereka pun masuk ke pondok tersebut.

"Nah, Erza, Deiki, sama Rayhan tinggal di pondok Rendy. Fahri, sama... siapa itu yang ada di belakang kamu?" tanya Yatta.

"Alidza sama Ammar." jawab Fahri.

"Kalian bertiga tinggal di pondok Nabil. Terus, sisanya tinggal di pondok aku. Siapa itu yang ada di sebelah Galih?" tanya Yatta.

"Fabian." jawab Galih.

"Nah, kalian yang sisanya tinggalnya di pondok aku." kata Yatta.

"Hore! Nanti kita bahas yang itu lagi, yuk!" kata Galih.

"Yuk!" balas Yatta.

Mereka pun turun dari gerobak dan masuk ke pondok masing-masing. Sesampainya di dalam pondok, mereka pun mengobrol.

"Eh, Bil, kamu punya peliharaan?" tanya Alidza sambil menunjuk sebuah sangkar.

"Ya." kata Nabil.

Alidza mendekati sangkar tersebut.

"Ini hewan apa, Bil? Kok aku nggak pernah lihat yang kayak gini?" tanya Alidza.

"Itu burung benang. Cuma ada di Kepulauan Pasir." jawab Nabil.

"Oh, gitu." kata Alidza sambil mengamati burung tersebut.

"Kamu kasih nama apa ke burung ini?" tanya Alidza.

"Jacko. Coba aja kamu panggil Jacko. Pasti dia langsung terbang muter-muter." jawab Nabil.

"Jacko!" panggil Alidza. Burung tersebut langsung terbang berputar-putar.

"Lucu, ya?" kata Alidza.

"Bil, kenapa harus Jacko?" tanya Fahri. Tiba-tiba, burung tersebut terbang berputar-putar lagi.

"Ya, keren aja." jawab Nabil.

Sementara itu, di pondok Rendy, Erza sedang mengamati peliharaan Rendy.

"Ren, ini apa?" tanya Erza.

"Ya, binatang, lah!" jawab Rendy.

"Ya, aku tahu ini binatang. Tapi, ini binatang apa? Perasaan, belum pernah liat yang kayak gini." kata Erza.

"Itu kucing ekor emas. Kamu nggak akan bisa nemuin kucing itu di tempat lain selain Kepulauan Pasir." kata Rendy.

"Emang di sana banyak binatang aneh?" tanya Erza.

"Di sana? Yang bener tuh di sini. Ini masuk Kepulauan Pasir." kata Rendy.

"Emang apa aja gitu pulaunya?" tanya Erza.

"Ada Pulau Pasir Biru, Pulau Pasir Berlian, Pulau Pasir Angin, Pulau Batuemas, Pulau Raksasa, Pulau Kosongmelompong, Pulau Batu Merah, Pulau Kaca, dan masih banyak lagi. Capek nyebutnya." jawab Rendy.

Tiba-tiba, Deiki melihat sesuatu yang melayang di langit.

"Eh, ada kucing terbang." kata Deiki.

"Ah, bohong kamu, Ki!" kata Erza.

"Beneran! Liat aja ke luar!" kata Deiki.

Erza pun melihat ke jendela.

"Eh, beneran! Kucingnya bisa terbang gitu!" kata Erza sambil takjub.

"Itu kucing udara. Bisa terbang kayak burung. Cuma ada di sini aja." kata Rendy.

"Apa binatang yang paling aneh di sini?" tanya Rayhan.

"Gajah batu! Udah gede, hitam, tumbuh bulu kayak lumut lagi!" kata Rendy sambil kesal.

"Emangnya segimana anehnya sampai kamu kesel gitu?" tanya Rayhan.

"Gajah itu, badannya licin! Kalau lagi makan, jangan inget gajah itu! Nanti kalian bisa muntah karenanya!" kata Rendy.

"Santai, Ren. Santai." kata Erza sambil menenangkan Rendy.

Sementara itu, di rumah Yatta, Galih sedang mengobrol dengan Yatta.

"Hei, Yat, kamu udah dapet senjata keren belum?" tanya Galih.

"Udah, nih, Pedang Racun. Pedang ini dicampur ama racun ular raja. Siapa aja yang kena sabetan pedang ini bakal keracunan. Hebat 'kan?" kata Yatta sambil menunjukkan pedangnya.

"Wah, hebat, lah!" puji Galih.

Galih melihat ke jendela dan ia melihat sesuatu yang sedang terbang.

"Wah, tumben amat ada camar naga terbang ke sini." kata Galih.

"Camar naga!? Di mana!?" tanya Yatta dengan tidak sabar.

"Di luar." jawab Galih.

Yatta melihat ke luar jendela dan melihat camar naga tersebut.

"Wah, tumben amat ada camar naga yang ke sini. Biasanya jarang." kata Yatta.

"Lho, kenapa kita santai gini? Bukannya kita mau nyelamatin sepupu kamu?" tanya Galih.

"Tenang, sang penculik masih berbaik hati. Sepupu aku dirawat sama dia. Katanya, dia mau bertingkah aneh dulu kayak monyet yang baru nemuin sesuatu. Dia juga bilang kalau sepupu aku itu punya asset yang berharga dan dia akan merugi jika sepupu aku itu dibunuh. Jadi, kita masih bisa santai selama dua hari aja. 'Kan kita baru sampai tadi pagi. Istirahat dulu aja." kata Yatta.

"Untung penculiknya aneh. Coba kalau penculiknya normal. Kayaknya sepupu kamu udah dibunuh duluan, ya?" kata Galih.

"Iya, ya. Berarti aku masih beruntung." kata Yatta. Mereka pun tertawa.

Akhirnya, malam pun tiba. Mereka pun mandi, makan, lalu mengobrol lagi. Setelah itu, mereka pun mematikan lampu lentera dan tidur.

Suasana kota menjadi sepi. Tidak ada satu pun yang beraktivitas kecuali para petugas keamanan yang sedang berkeliling menjaga kota. Tetapi, ada satu bangunan yang misterius. Di dalamnya terdapat sekelompok orang yang sedang berkumpul.

"Eh, kamu itu mau berlagak kayak penjahat yang baik!? Atau kamu itu tidak berakal!? Korban kita malah kamu rawat! Kamu ini maunya apa sih!? Apa memang kamu itu kurang waras!?" kata salah seorang di antara mereka.

"Tepatnya, tidak waras!" kata seseorang yang lain.

"Udah, bunuh aja! Pemimpin kok kayak gitu! Tampang kayak orang nggak sadar, pikiran kosong, nyulik anak ini malah dia nggak ikut! Gimana sih jadi pemimpin!" kata seseorang yang lain.

"Huuuuu!" teriak semua orang yang ada di sana.

"Udah bunuh aja!" teriak semuanya.

"Woi, kamu sadar nggak apa yang mereka bilang!?" tanya seseorang.

Sang pemimpin bertingkah seperti monyet.

"Udah, ini emang udah nggak waras! Lebih baik dibunuh aja!" kata sang penanya. Ia pun langsung mengeluarkan botol racun, benang, dan pisau. Ia mencekokinya dengan racun, lalu ia tusuk perutnya dan mencekiknya dengan benang. Dengan cara yang tragis seperti itu,akhirnya sang pemimpin tersebut tewas dengan mulut berbusa, mata memutih, dan darah yang mengucur deras dari perutnya. Orang-orang yang ada di sana langsung menggotongnya keluar dari bangunan tersebut. Lalu, mereka membuang begitu saja sang pemimpin yang sudah tewas ke pinggir jalan yang jauh dari bangunan tempat mereka berkumpul tadi. Setelah itu, mereka pergi dan membiarkan sang pemimpin mereka yang sudah tewas. Mereka berpikir ia akan segera membusuk atau diketahui oleh seseorang. Tetapi, tetap saja mereka membiarkannya. Mereka pun pergi ke tempat mereka berkumpul tanpa menoleh lagi ke mayat pemimpin mereka. Sungguh akhir yang tragis bagi sang pemimpin yang tewas itu. Dibunuh lalu ditinggalkan begitu saja oleh anggotanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya