39. Di Bawah Istana
Di Bawah Istana
Kota Miracle pun kembali tenang. Para penduduk beraktivitas seperti biasa kembali. Namun, pemberontakan tetap terjadi. Kali ini, giliran para pembawa kabar yang melakukan pemberontakan. Mereka mengabarkan berita tentang raja kepada penduduk yang sedang mengelilinginya untuk mendengarkan kabar itu.
“Wahai penduduk Kota Miracle sekalian! Tidak Cuma kita yang menderita seperti ini. Namun, penduduk di beberapa kota lain juga mengalami nasib yang sama seperti kita. Mereka sama-sama menderita. Harta mereka diperas, dirampas, bahkan diambil paksa. Mereka pun tidak sejahtera. Para petani dipaksa untuk terus bekerja tanpa istirahat. Hama menyerang lahan pertanian mereka. Namun, para petanilah yang disalahkan. Menurut kabar yang didapat, rupanya beberapa walikota adalah kaki tangan Raja Ehud. Sudah kita ketahui, ternyata Raja Ehud adalah penguasa yang maruk! Ia berniat mengambil semua harta kita untuk dirinya sendiri! Mari, kita satukan kekuatan kita untuk menggulingkan Raja Ehud!” seorang pembawa kabar dengan lantangnya mengabarkan kabar itu.
Berita itu langsung disambut dengan teriakan para penduduk yang sedang mendengarkan berita itu.
“Matilah Raja Ehud dan kaki tangannya!” teriak salah satu penduduk.
“Setuju!” teriak penduduk yang lain. Para penduduk langsung berteriak kembali.
Sementara para penduduk semangat untuk menjatuhkan Raja Ehud, Raja Ehud hanya tenang-tenang saja. Ia sama sekali tidak khawatir jika ada pemberontakan dari para penduduk Kota Miracle. Ia sangat percaya dengan kekuatan para pengikutnya yang sangat setia kepadanya. Mereka tidak akan mungkin berkhianat kepadanya karena mereka mempunyai tujuan dan ambisi yang hampir sama dengannya. Pada hari itu, ia ditanya oleh salah seorang pengawalnya.
“Tuan, apa tuan tidak merasa khawatir dengan para pemberontak dan pembawa kabar? Mereka bisa menggulingkan tahta kerajaan anda. Anda bisa turun tahta, tuan.” tanya salah seorang pengawalnya.
Raja Ehud dengan tenang menjawab pertanyaan pengawalnya.
“Sudah, kita tidak usah khawatir dengan kutu-kutu busuk itu. Para prajurit di sini sangat kuat. Tidak mudah untuk diberantas begitu saja. Selain itu, di dalam istana ini ada orang-orang istimewa. Mereka tak akan mudah untuk menjatuhkan tahta saya. Percayalah.” jawab Raja Ehud.
Pengawal itu mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lagi. Ia merasa puas dengan jawaban tuannya.
Sementara itu, keadaan di bawah istana begitu suram. Sebenarnya, ada apa di bawah istana yang megah itu? Di bawah istana itu terdapat ruang bawah yang luas sekali. Di ruang bawah tanah itu terdapat sebuah lorong menuju penjara bawah tanah. Penjara bawah tanah itu cukup luas. Para penghuninya adalah para algojo dan pegawai istana yang masih setia kepada raja yang terdahulu, Raja Edric. Di dalam penjara itu juga terdapat seorang ratu yang merupakan ibunya Erza, Ratu Alvia.
Keadaan Ratu Alvia di dalam penjara itu semakin memburuk. Ratu yang dulunya dikenal cantik jelita itu perlahan-lahan menjadi kurus kering bagaikan nenek-nenek. Mukanya yang cantik dan menjadi perhatian para penduduk itu sudah menjadi cerita lama. Suaranya yang lemah lembut berubah menjadi suara yang sangat memprihatinkan jika didengar. Para algojo dan pegawai istana yang ikut dipenjara merasa kasihan dengannya. Namun, bagaimana lagi? Makanan mereka hanya nasi dan lauk pauk yang merupakan sisa dari makanan raja. Ratu Alvia pun makan makanan itu. Mau bagaimana lagi? Hanya itu yang diberikan oleh petugas kerajaan.
Pada hari itu, Ratu Alvia duduk di sudut penjara sambil memandangi mainan yang dulu sering dimainkan Erza. Ia langsung teringat dengan anaknya.
…
Cerita kembali ke masa lalu, ketika Erza masih kecil.
Pada suatu hari yang sangat cerah, Erza dan ibunya sedang bermain di taman istana. Mereka bermain lempar tangkap bola.
“Ibu, tangkap, ya?” teriak Erza.
“Ya.” jawab ibunya.
Erza langsung melempar bola dengan sekuat tenaga.
“SYUUUT!” bola terlempar. Bola langsung mengarah kepada ibunya. Ibunya langsung bersiap-siap menangkap bola. “GREB!” bola berhasil ditangkap.
“Nah, sekarang giliran ibu yang lempar.” Kata ibunya. Erza langsung bersiap-siap untuk menangkapnya.
“SYUUUUT!” bola dilempar ke arah Erza. “GREB!” Erza menangkap bola itu.
“Hebat kamu, Erza!” puji ibunya.
Erza langsung melemparkan bola itu kepada ibunya. Dengan tangkas, ibunya menangkap bola itu.
Tiba-tiba, Erza melihat seorang prajurit pergi ke luar istana. Ia langsung bertanya kepada ibunya.
“Bu, orang tadi mau ke mana?” tanya Erza.
“Ibu juga nggak tau. Kayaknya orang tadi mau pergi bertugas.” jawab ibunya.
“Ooh.” kata Erza.
Erza kembali bertanya kepada ibunya.
“Bu, di luar istana itu kayak gimana?” tanya Erza.
“Di luar istana itu banyak yang kamu bisa lihat. Kamu bisa ketemu banyak orang, lihat banyak binatang, tumbuhan, dan lain-lain.” jawab ibunya.
“Benarkah?” tanya Erza.
“Iya.” jawab ibunya.
“Bolehkah aku keluar istana?” tanya Erza.
“Boleh. Nanti ibu tanya ke ayah.” jawab ibunya.
“Kenapa nggak sekarang aja?” tanya Erza.
“Nggak bisa sekarang, Erza. Kita harus minta izin ke ayah supaya ayah nggak khawatir.” jawab ibunya.
“’Kan bisa minta izin ke prajurit yang lain?” kata Erza.
“Nggak bisa. Ayah melarang kita pergi kalau tidak minta izin ke ayah.” kata ibunya.
Erza menjadi sedih.
“Udah, Erza. Kapan-kapan kita keluar bareng ayah.” hibur ibunya sambil mengelus kepala Erza.
“Ibu janji?” tanya Erza sambil memandangi wajah ibunya.
“Ibu janji.” jawab ibunya.
…
“Ratu, apa anda tidak apa-apa?” tanya seorang algojo yang ikut dipenjara.
“Tidak, tidak apa-apa.” jawab Ratu Alvia.
“Setiap hari anda selalu melihat bola itu terus.” kata algojo itu.
“Memangnya kenapa?” tanya Ratu Alvia.
“Tidak, saya cuma khawatir saja dengan anda.” jawab algojo itu.
Ratu Alvia diam membisu. Pandangannya terpaku ke arah bola yang dulu sering dimainkan Erza.
“Anda masih terus meratapi anak anda?” tanya algojo itu.
“Tidak.” jawab Ratu Alvia.
“Jangan berbohong. Kami semua tahu anda masih meratapi anak anda.” kata algojo itu.
Ratu Alvia diam membisu.
“Memang benar. Erza hanya satu-satunya penghibur saya. Tanpanya, saya seperti kehilangan hidup saya sendiri.” kata Ratu Alvia.
“Mmmmmm…” gumam algojo itu.
Suasana penjara itu begitu menyuramkan. Para tahanan yang ada di dalamnya begitu lemas. Mereka hanya bisa duduk dan tidur saja. Atau tidak, memegangi terali besi sambil menempelkan mukanya pada terali besi itu.
“Tidak ada harapan lagi bagi kita.” kata Ratu Alvia.
“Jangan seperti itu, baginda ratu! Yakinlah, kita bisa keluar dari sini!” kata algojo itu dengan mantap.
Tiba-tiba, algojo itu teringat dengan kejadian kemarin.
…
Kemarin, ia mendengar dua orang prajurit kerajaan sedang mengobrol. Ia pun menguping obrolan itu.
“Kamu tahu sesuatu?” tanya salah seorang prajurit.
“Apaan?” tanya temannya.
“Pangeran Erza sudah kembali ke kota ini. Dia dan temannya yang jumlahnya puluhan orang akan menggulingkan Raja Ehud.” kata prajurit itu.
“Lalu?” tanya temannya.
“Raja menyuruh kita untuk menangkap mereka.” jawab prajurit itu.
…
Setelah mengingat kejadian itu, ia langsung sadar. Pangeran Erza sudah kembali! Ia langsung menceritakan kabar itu kepada Ratu Alvia.
“Baginda ratu! Kemarin saya dengar bahwa anak anda sudah kembali ke kota ini dengan membawa teman-temannya yang sangat banyak. Mereka akan menggulingkan Raja Ehud dari singgasananya!” kata algojo itu.
“Benarkah?” tanya Ratu Alvia seakan tidak percaya.
“Benar! Saya mendengar kabarnya dari prajurit kerajaan!” jawab algojo itu.
Algojo itu menyemangati Ratu Alvia. Matanya memandangi Ratu Alvia dengan serius.
“Dengar perkataan saya, anak anda sedang berjuang untuk merebut kembali tahtanya. Sebagai ibunya, anda juga harus semangat. Bukankah anda menyayangi anak anda? Jika iya, anda juga harus semangat dan mendo’akan supaya anak anda berhasil menggulingkan kerajaan.” kata algojo itu dengan penuh semangat.
Ratu Alvia segera bangkit dari duduknya.
“Sepertinya, pesan yang saya titipkan kepada Pak Acep sudah disampaikan kepada Erza.” kata Ratu Alvia.
Ratu Alvia langsung mengambil pedang rahasianya dari dalam sakunya.
“Tidak ada waktu lagi untuk menunggu hingga Raja Ehud turun dari tahtanya. Kita dengar, semua penduduk bersatu untuk menggulingkan Raja Ehud. Sang pangeran kini sudah kembali ke sini untuk merebut kembali tahtanya. Kita tidak boleh diam saja. Sebagai ratu kerajaan ini, saya perintahkan semua yang ada di dalam penjara ini untuk bangkit dari keterpurukan kita! Kita harus membebaskan diri kita dari penjara yang suram ini! Lalu, kita bantu para penduduk dan pangeran untuk menggulingkan Raja Ehud!” teriak Ratu Alvia sambil mengacungkan pedangnya.
Para tahanan menyambut perkataannya dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka semua berteriak tanda mengikuti perintah sang ratu.
Di alun-alun kota, Erza dan teman-temannya sudah siap untuk melakukan pemberontakan. Rencana sudah disusun dengan baik. Para penduduk juga akan ikut serta dalam pemberontakan. Begitu juga dengan kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Hilman. Mereka juga sudah siap untuk memberontak.
“Kalian siap untuk memberontak!?” tanya Erza.
“Siap!” teriak semuanya.
Erza, teman-temannya, dan seluruh penduduk kota itu siap untuk menggulingkan tahta Raja Ehud.
Sebentar lagi, akan terjadi gejolak besar di ibukota tanah keajaiban, Kota Miracle.
Komentar
Posting Komentar