38. Rahasia di balik 13 Berlian

Rahasia di balik 13 Berlian

Pagi sudah menjelang. Matahari bersinar sangat cerah. Burung-burung beterbangan di udara. Mereka saling berkicau satu sama lain. Namun, muka Erza tidak secerah sinar matahari pagi. Ia masih bingung dengan berlian-berlian yang ia kumpulkan. Kemarin sore, ia sudah mengumpulkan empat berlian yang masih dipegang oleh teman-temannya. Ia terus mengutak-atik ke-13 berlian itu.

"Pak Acep nggak bilang apa-apa lagi selain mengumpulkan berlian-berlian ini doang." keluh Erza dalam hati.

Ia menumpuk berlian-berlian itu seperti gunung. Namun, tetap tidak ada hasilnya.

"Ini kayak main-main doang." kata Erza dalam hati.

Ia mencoba menyusun potongan-potongan berlian itu. Ketika berhasil disusun, berlian-berlian itu membentuk sebuah pedang tanpa gagang.

"Kayaknya, ini memang pedang. Tapi, kalau gini juga nggak akan kuat, kali." kata Erza dalam hati.

Lama-kelamaan Erza pusing memikirkan berlian-berlian itu. Akhirnya, ia menyimpan semua berlian itu ke dalam tasnya. Setelah itu, ia mengajak Rayhan, Fahri, Ulwan, dan Nabil untuk berjalan-jalan keliling kota.

"Woi, Rayhan, Fahri, Ulwan, Nabil, ayo kita pergi jalan-jalan. Biar aku nggak pusing." ajak Erza. Mereka semua menerima ajakannya.

Mereka pun keluar dari bangunan itu. Dengan berbekal beberapa uang, mereka berjalan-jalan mengelilingi kota. Seperti orang yang sedang stress, mereka mengelilingi kota itu tanpa mengetahui tujuan mereka. Mereka melewati pasar, taman, pertokoan, dan kembali mengelilingi tempat yang sama.

"Duh, dari tadi kita keliling tempat yang sama." kata Fahri.

"Nggak ada tempat lain yang bisa kita kunjungi?" tanya Rayhan.

"Nggak tau." kata Erza.

Tiba-tiba, pandangan Nabil tertuju pada sebuah toko senjata yang menjual senjata-senjata unik. Ia mengajak Erza dan ketiga temannya untuk melihat ke toko itu.

"Selamat datang." kata sang pedagang itu.

"Saya mau lihat senjata yang itu." kata Nabil sambil menunjuk sebuah senjata yang bersandar di dinding. Pedagang itu langsung mengambil senjata itu dan memberikannya kepada Nabil. Nabil mencoba mengayunkan senjata itu. Sepertinya, ia tertarik untuk membeli senjata itu.

"Berapa harga senjata ini?" tanya Nabil.

"Harganya 5.000 Miuros." jawab pedagang itu.

Nabil menghitung uang yang ia bawa. Ternyata, uangnya benar-benar tidak cukup. Ia hanya punya 3.000 Miuros.

"Wan, kamu punya uang berapa?" tanya Nabil kepada Ulwan.

"Wah, cuma 1.000 Miuros." jawab Ulwan.

"Han, kamu punya uang berapa?" tanya Nabil kepada Rayhan.

"Cuma punya 1.500 Miuros." jawab Rayhan.

"Fahri, kamu punya uang..."

"Aku punya 20.000. Kalau kamu mau beli senjata itu, aku yang bayarin." kata Fahri.

"Beneran?" tanya Nabil.

"Beneran. Senjata itu harganya 5.000 'kan?" tanya Fahri.

"Ya." jawab Nabil.

Fahri memberikan uang 5.000 Miuros kepada pedagang itu. Pedagang itu menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih." kata pedagang itu.

"Sama-sama." kata Fahri.

Pedagang itu mengamati wajah Fahri dan keempat temannya. Pandangannya tertuju pada syal yang mereka kenakan. Tiba-tiba, ia terkejut ketika melihat wajah Erza. Ia pun segera mendekati Erza.

"Kamu Pangeran Erza 'kan?" tanya pedagang itu.

"Iya." jawab Erza.

"Kamu kok berkeliaran di luar istana? Apa jangan-jangan Pak Acep sudah menyuruhmu untuk mengumpulkan 69 orang dan 13 berlian?" tanya pedagang itu.

"Iya." jawab Erza.

Pedagang itu berpikir sejenak.

"Kalau dia sudah menyuruh seseorang dari kerajaan untuk mengumpulkan itu semua, berarti penderitaan rakyat selama ini akan segera berakhir." kata pedagang itu dalam hati.

Pedagang itu langsung mengajak mereka berlima untuk masuk ke dalam tokonya. Di dalam tokonya, ia menyuruh mereka berlima untuk menunggu sampai sore hari.

"Kalian tunggu saja dulu di sini sampai sore. Ada yang ingin saya tanyakan." kata pedagang itu.

Tentunya mereka berlima menolak. Mereka tidak mau menunggu di sana sampai petang.

"Tidak mau. Kami tidak mau menunggu di sini sampai petang." kata Erza.

Akhirnya, mereka pun berunding. Berdasarkan hasil perundingan, Erza dan keempat temannya boleh pergi dari toko itu. Namun, mereka harus kembali lagi ke toko itu pada petang hari. Setelah menyetujui hasil perundingan itu, mereka langsung pergi meninggalkan toko itu.

"Kenapa pedagang tadi nyuruh kita balik ke sana nanti petang?" tanya Ulwan.

"Aku nggak tau." jawab Erza.

Mereka pun kembali mengelilingi kota.

Matahari sudah mulai tenggelam. Tandanya hari akan petang. Erza dan keempat temannya yang tadi langsung pergi ke toko yang mereka kunjungi tadi pagi. Erza juga membawa tasnya yang berisi 13 berlian yang sudah dikumpulkannya. Sesampainya di sana, mereka langsung disambut oleh pedagang yang tadi pagi mereka temui.

"Silakan masuk." kata pedagang itu. Mereka berlima langsung masuk ke dalam toko itu.

Di dalam toko itu, mereka langsung duduk di kursi tamu. Pedagang itu pergi ke belakang untuk membawa penganan dan minuman. Tidak lama kemudian, ia kembali sambil menaruh penganan dan minuman di atas meja.

"Silakan dimakan dan diminum. Jangan malu-malu." kata pedagang itu.

"Baik, pak." kata Erza. Mereka berlima langsung menyantap penganan yang sudah disediakan. Mereka pun mengobrol sambil menyatap penganan yang ada.

"Oh, ya, pak, kenapa kami disuruh kembali ke sini?" tanya Erza.

"Saya penasaran dengan kalian berlima, terutama kamu, Erza." kata pedagang itu.

Erza dan keempat temannya langsung berhenti memakan penganan yang tersedia di atas meja itu. Perhatian mereka tertuju pada pedagang itu.

"Saya penasaran dengan kamu, Erza. Mengapa seorang pangeran seperti kamu bisa berkeliaran di luar istana tanpa dijaga oleh prajurit atau pembantu kerajaan? Padahal, dalam peraturan kerajaan tertulis bahwa seorang pangeran, ratu, atau raja dilarang pergi ke luar istana kecuali didampingi oleh beberapa prajurit atau pembantu kerajaan. Selain itu, teman-temanmu dan kamu sendiri memakai syal biru yang ciri-cirinya mirip dengan yang tertulis pada naskah rahasia kerajaan. Makanya, saya suruh kalian ke sini." kata pedagang itu.

"Jadi, bapak menyuruh kami ke sini karena bapak penasaran dengan kami?" tanya Erza.

"Betul. Saya juga mau menanyakan tentang tugas yang tadi pagi aku tanyakan kepadamu, Erza. Tadi pagi, saya nanya ke kamu tentang suruhan dari Pak Acep. Nah, suruhan dari Pak Acep sudah kamu lakukan?" tanya pedagang itu.

"Sudah, pak. Semuanya sudah terkumpul. Tinggal berlian-berlian ini yang membuat aku bingung." kata Erza sambil menunjukkan berlian-berlian yang sudah dikumpulkannya.

Pedagang itu langsung merebut tas Erza. Ia melihat ke-13 berlian itu dengan takjub.

"Sudah terkumpul semua, ya." kata pedagang itu.

Pedagang itu menyuruh keempat temannya untuk segera pulang.

"Maaf, Za, tapi teman-temanmu harus pulang. Saya punya urusan sama kamu di suatu tempat. Tapi, mereka tidak boleh ikut. Jadi, tolong suruh teman-temanmu pulang." kata pedagang itu.

Erza memandang ke arah teman-temannya. Dari muka mereka, terlihat bahwa mereka sudah rela untuk disuruh kembali ke rumah penampungan. Dengan terpaksa, Erza menyuruh teman-temannya untuk kembali ke rumah penampungan. Untungnya, teman-temannya baik dan menuruti permintaan pedagang itu. Mereka paham dan mengerti tentang urusan pribadi seseorang. Mereka pun segera kembali ke rumah penampungan.

Erza dan pedagang itu langsung melanjutkan obrolan mereka.

"Ada urusan apa sama aku, pak?" tanya Erza.

"Ikut saya dulu. Baru kamu mengerti." kata pedagang itu.

Pedagang itu baru menyadari bahwa ia belum memberitahu namanya kepada Erza.

"Oh, ya, nama saya Ade. Panggil saya Paman Ade." kata pedagang itu.

"Baik, paman." kata Erza.

Erza dan Paman Ade berjalan keluar dari toko itu. Mereka terus berjalan hingga memasuki sebuah jalan kecil. Dari jalan kecil itu mereka terus berjalan. Mereka terus berjalan menyusuri jalan kecil. Hingga akhirnya mereka masuk ke sebuah lubang. Sesampainya di dalam lubang itu, mereka masih terus berjalan. Ketika mereka sampai di lorong yang buntu, mereka langsung naik keluar dari lubang itu.

Ketika Erza keluar dari lubang itu, ia terkejut. Rupanya, ia keluar di hutan belantara yang sangat gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa. Paman Ade segera memegang erat tangan Erza. Lalu, ia diajak untuk berjalan kembali. Mereka berjalan di tengah hutan belantara yang gelap di malam hari.

Akhirnya, mereka berdua sampai di sebuah rumah kecil di tengah hutan itu. Paman Ade langsung mengetuk pintu rumah itu.

"Halo, apa ada orang di dalam?" tanya Paman Ade sambil mengetuk pintu.

"Ada. Siapa yang di luar itu?" tanya seseorang yang ada di dalam rumah itu.

"Ini, Ade." jawab Paman Ade.

Pintu rumah itu pun dibuka. Ketika dibuka, terlihat seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahun. Mukanya terlihat bijaksana.

"Ada apa malam-malam begini datang ke sini?" tanya wanita itu.

"Ini, akhirnya orang yang mengumpulkan 69 orang dan 13 berlian itu berhasil ditemukan. Dia juga sudah berhasil mengumpulkan semuanya." jawab Paman Ade.

"Mana orangnya?" tanya wanita itu.

"Ini orangnya." jawab Paman Ade sambil menunjukkan Erza yang membawa tas yang berisi 13 berlian yang sudah terkumpul.

"Coba perlihatkan berlian yang sudah kamu kumpulkan." kata wanita itu. Erza menyerahkan tasnya kepada wanita itu.

"Bagus kerjamu, nak. Sekarang, ikut saya ke dalam." kata wanita itu. Erza dan Paman Ade masuk ke dalam rumah itu. Di dalam rumah itu, mereka langsung menuju ke dalam ruangan bawah tanah yang ada di rumah itu.

Ruangan bawah tanah rumah itu cukup kecil. Di dalamnya terdapat peralatan untuk membuat pedang. Namun, ada beberapa peralatan dan bahan yang tidak lazim di dalam ruangan itu. Paman Ade dan wanita itu langsung menaruh ke-13 berlian itu di atas besi tempat menempa besi dan baja. Lalu, mereka mengambil beberapa peralatan dan bahan yang ada di ruangan itu. Setelah itu, penyusunan ke-13 berlian itu dimulai.

Pertama-tama, semua berlian itu disusun hingga membentuk pedang. Lalu, susunan berlian itu dilumuri dengan suatu cairan pelekat berwarna bening. Setelah itu, susunan berlian tadi dimasukkan ke dalam tempat pembakaran. Kemudian, pedang itu dikeluarkan dari tempat pembakaran. Lalu, pedang itu dibersihkan dari cairan pelekat tadi.

"Wah, ada yang kurang." kata wanita pemilik rumah itu.

"Apa itu?" tanya Paman Ade.

"Bola berlian." kata wanita itu.

Erza langsung merogoh sakunya dan memberikan bola berlian yang ia punya kepada wanita itu. Wanita itu langsung memasang susunan berlian tadi ke sebuah gagang pedang. Lalu, ia masukkan bola berlian itu ke dalam lubang yang ada di gagang pedang itu. Wanita itu segera berjalan menuju puncak bukit. Erza dan Paman Ade mengikutinya. Wanita itu mengangkat pedang itu. Pedang itu langsung mengeluarkan cahaya biru yang sangat terang dan silau. Erza sampai terpana melihatnya. Setelah diangkat, wanita itu memberikan pedang itu kepada Erza.

"13 berlian yang kamu kumpulkan sebenarnya adalah pecahan pedang. Sekarang, ke-13 berlian ini sudah menyatu. Pedang ini kuberikan padamu karena ini memang untukmu." kata wanita itu.

Erza mengambil pedang itu tanpa ragu-ragu.

"Sebelum kamu menggunakannya, kamu harus belajar terlebih dahulu." kata wanita itu.

"Belajar gimana?" tanya Erza.

"Pedang itu bukan sembarang pedang. Pedang itu mempunyai kekuatan tersendiri yang tidak ada di pedang biasa." kata wanita itu.

"Satu lagi, pedang itu mempunyai nama sendiri." kata wanita itu.

"Apa itu?" tanya Erza.

"Namanya, The Blue Diamond Sword of Miracles." jawab wanita itu.

Angin malam berhembus dengan kencang. Erza masih menatap pedangnya dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.

"Apa saja kekuatan spesial dari pedang ini?" tanya Erza.

"Ada banyak kekuatan spesial yang tersimpan dalam pedang itu. Semua kekuatan itu harus dipelajari dengan benar dan sungguh-sungguh. Jika tidak, maka kekuatan itu akan menjadi liar dan sulit untuk dikendalikan." kata wanita itu.

"Oh, ya, saya belum memperkenalkan diri. Panggil saya Master Evie. Mulai sekarang, kau akan mempelajari cara menggunakan pedang itu. Karena kita harus mengejar waktu, saya berikan waktu pelatihan selama tiga hari." kata Master Evie.

"Tiga hari?" Erza tidak percaya.

"Ya, tiga hari. Karena itu, kamu harus serius dalam berlatih menggunakan pedang itu." kata Master Evie.

"Baik." kata Erza.

"Baiklah, mulai sekarang juga, pelatihan dimulai!" kata Master Evie.

Mulai malam itu, Erza berlatih memakai kekuatan spesial pedang itu. Ia dilatih oleh Master Evie dan Paman Ade. Baik pagi, siang, maupun malam, ia terus berlatih. Walaupun hujan turun, ia terus berlatih. Bukan atas keinginannya ia berlatih sampai begitu, tapi karena ia hanya diberi waktu berlatih selama tiga hari. Sudah begitu, kekuatan spesial pedang itu terlalu hebat. Sampai-sampai ia terhempas ketika sedang berlatih suatu kekuatan pedang itu. Namun, ia harus terus berlatih. Master Evie dan Paman Ade terus mendorongnya untuk berlatih di segala kondisi. Akhirnya, kemampuannya untuk memakai kekuatan spesial pedang itu semakin baik.

Pada malam ketiga, ia diuji untuk memakai kekuatan spesial pedang itu.

"Hari ini, kami akan menguji kemampuanmu untuk mengalahkan lawan dengan menggunakan semua kekuatan spesial pedang itu yang sudah kamu pelajari. Ujian ini tidak ada batas waktunya. Saat kamu berhasil mengalahkan lawanmu, berarti ujianmu sudah selesai. Siap?" tanya Master Evie.

"Siap!" jawab Erza.

Master Evie langsung bersiul. Kemudian, di belakangnya muncul seekor beruang raksasa yang sangat mengerikan. Badannya hitam, cakar dan giginya sangat tajam, matanya merah, dan mulutnya selalu meneteskan air liur. Beruang itu terlihat siap menerkam Erza. Beruang itu pun menggeram. Erza sudah memasang kuda-kuda. Beruang itu berteriak. Teriakannya begitu kencang. Sampai-sampai dapat membuat pohon tertiup dan bebatuan terhempas jauh. Erza berusaha bertahan dari teriakan beruang itu. Akhirnya, teriakan beruang itu berakhir.

Beruang itu memukul Erza dengan tangannya yang luar biasa besarnya. Namun, Erza langsung menusuk telapak tangan beruang itu. Beruang itu nampak tidak kesakitan. Beruang itu langsung menyerang Erza dengan cakarnya. Erza langsung menangkis cakaran beruang itu dan langsung memutar-mutar pedangnya. Putaran itu mengakibatkan cakar beruang itu patah. Beruang itu semakin marah. Dengan kekuatan ajaibnya, cakarnya kembali muncul. Beruang itu memakai sebuah kekuatan ajaib. Ia menciptakan sebuah bola cahaya dari cakarnya. Lalu, ia arahkan bola cahaya itu ke arah Erza. Terciptalah sebuah cahaya yang akan mengarah ke Erza. Erza langsung memantulkan cahaya itu dengan pedangnya. Cahaya itu memantul ke sebuah tupai yang sedang melompat. Tupai itu langsung tidak bisa bergerak lagi. Tidak lama kemudian, tupai itu mati.

Beruang itu kembali menyerang Erza. Kali ini, ia menyerang Erza dengan cahaya yang muncul dari cakarnya. Erza terus memantulkan cahaya itu. Lama kelamaan, cahaya yang muncul dari cakar beruang itu semakin cepat. Dengan nekat, Erza memotong cahaya itu dengan pedangnya. Cahaya itu langsung berbelok ke dua arah. Akhirnya, Erza sudah berada di depan beruang itu.

Beruang itu langsung menyerang Erza dengan cakarnya. Dengan cepat, Erza menghindari cakaran itu dan melempar pedangnya ke arah beruang itu. Pedang itu berputar-putar seperti bumerang. Beruang itu menghindari pedang itu. Namun, pedang itu kembali mengarah ke beruang itu. Beruang yang tidak menyadari hal itu langsung terluka akibat serangan pedang itu. Pedang itu kembali ke tangan Erza.

Beruang itu semakin marah. Ia mengangkat tangannya. Dari cakarnya keluarlah petir yang mengarah ke Erza. Tanpa takut sama sekali, ia menahan petir itu dengan pedangnya. Dengan kemampuan yang sudah ia pelajari, ia simpan petir itu ke dalam pedangnya. Pedangnya pun menjadi bercahaya. Ia mencari posisi yang tepat untuk menyerang balik beruang itu sambil menghindari serangan beruang itu. Akhirnya, ia mendapatkan posisi yang tepat untuk menyerang balik. Ia mengeluarkan petir yang ia simpan di dalam pedangnya. Petir itu langsung mengarah ke beruang itu. Beruang itu pun langsung tersambar petir itu. Tubuhnya langsung tersetrum.

Melihat beruang yang sedang tersetrum, Erza langsung naik ke atas pohon untuk mencari sinar bulan. Ia pun melihat bulan sedang bersinar. Ia mengarahkan gagang pedangnya ke sinar bulan. Bola berlian yang terdapat di gagang pedangnya langsung menyimpan sinar bulan yang mengenainya. Lama kelamaan, bola berlian itu bercahaya. Setelah dirasa cukup, Erza mengarahkan pedangnya ke arah beruang itu. Lalu, ia menekan bola berlian itu. Sebuah cahaya yang cukup besar dan sangat terang mengarah lurus ke beruang yang baru saja pulih dari setruman petir.

Cahaya itu langsung membakar tubuh beruang raksasa itu. Tubuhnya terbakar dengan cepat. Tidak lama kemudian, tubuhnya berubah menjadi abu. Cahaya itu pun perlahan-lahan hilang. Erza langsung turun dari atas pohon. Ketika ia turun, ia langsung dihampiri oleh Master Evie dan Paman Ade.

"Selamat, kamu sudah lulus dari latihan berat selama tiga hari. Sekarang, kamu tinggal menyiapkan teman-temanmu untuk memberontak. Kami akan membantu kamu dan teman-temanmu untuk memberontak." kata Paman Ade.

"Sebelum kamu pergi, kami ingin memberimu nasihat yang harus kamu ingat." kata Master Evie.

"Apa itu?" tanya Erza.

"Ingatlah, bagaimanapun pedang yang kamu pakai, itu semua tergantung pada dirimu sendiri. Bijaklah dalam memakainya. Seburuk-buruknya pedang yang dipakai, jika pemakainya ahli, pedang itu akan menjadi baik. Sebagus-bagusnya pedang yang dipakai, jika pemakainya tidak ahli, pedang itu akan menjadi buruk. Tidak cuma urusan pedang. Urusan negara pun begitu. Jadilah pemimpin yang bijak saat memerintah nanti. Urusilah negara ini dengan baik. Buat negara ini menjadi baik lagi. Hilangkan semua penderitaan rakyat yang sekarang sedang melanda negeri ini. Jadilah raja yang dicintai, bukan dibenci. Makmurkan negeri ini. Ingat, jabatan raja adalah sebuah amanah, bukan sekedar kebanggaan. Jika kamu ingin menjadi seorang raja untuk memperkaya diri sendiri, tidak menghiraukan rakyat, dan sekadar untuk kebanggaan diri, janganlah menjadi raja. Raja adalah sebuah amanah yang berat, bukan hanya sekadar sebuah jabatan yang dapat dijadikan sebagai ajang untuk memperkaya diri sekaya-kayanya. Kamu harus ingat itu." kata Master Evie.

"Baik, Master." kata Erza.

"Baiklah, kita akan pergi ke tempat teman-temanmu berada. Hari ini juga kita akan membahas rencana pemberontakan." kata Master Evie.

"Hari ini?" tanya Erza.

"Ya, kita tidak punya banyak waktu. Kalau raja itu mengubah kekuatan rahasia kerajaan, keadaannya akan semakin gawat." jawab Master Evie.

"Tapi, bisakah Master memberikan aku waktu istirahat? Kalau sudah dilatih begini, pasti dilatihnya gila-gilaan. Tapi, latihan ini yang paling gila. Masa' habis latihan langsung bahas rencana pemberontakan, sih?" protes Erza.

Master Evie mengerti perasaan Erza. Ia tahu bahwa Erza benar-benar lelah. Ia harus mengumpulkan 69 orang terpilih dan 13 berlian. Sudah begitu, ia juga belajar dari guru-guru yang ditemuinya di perjalanan.

"Baiklah, kita istirahat dulu di rumah saya. Nanti pagi, saya akan berikan sesuatu untukmu agar tenagamu kembali pulih." kata Master Evie.

"Baik, Master." kata Erza.

Erza, Master Evie, dan Paman Ade kembali ke rumah kecil milik Master Evie untuk beristirahat. Sesampainya di sana, Erza langsung tidur di dalam ruangan bawah tanah. Ia tidur beralaskan tikar. Sementara itu, Master Evie tidur di kamarnya sendiri. Paman Ade tidur di sebuah kamar kosong. Walaupun tanpa selimut dan hanya beralaskan tikar, Erza tetap tidur dengan lelap. Ia tak pernah tidur senyenyak itu. Ia sangat nyaman tidur di tempat itu.

Paginya, Erza langsung bangun dari tidurnya. Tubuhnya langsung segar. Tanpa lama-lama, ia langsung pergi ke ruangan atas. Di atas, Master Evie sedang membuat suatu makanan dan minuman. Sementara itu, Paman Ade sedang mengasah pedangnya.

"Erza, kamu sudah bangun? Ini, saya buatkan minuman. Coba kamu minum dulu." kata Master Evie sambil menuangkan minuman yang baru saja dibuat ke dalam sebuah mangkuk dari kelapa. Erza pun langsung meminumnya. Setelah meminumnya, Erza langsung merasakan sensasi yang luar biasa dahsyatnya. Badannya langsung segar kembali. Tenaganya serasa penuh kembali. Ia merasa sangat segar dan kuat.

"Wah, minuman apaan ini?" tanya Erza.

"Ini minuman yang dibuat dari campuran berbagai tanaman herbal. Saya mendapatkan resep ini dari ibu saya." kata Master Evie.

"Wah, rasanya hangat sama kayak nano-nano. Tapi bikin segar lagi." kata Erza.

"Memang begitu." kata Master Evie sambil membereskan dapur.

"Nah, ayo kita pergi ke tempat teman-temanmu berada." kata Master Evie.

"Sekarang juga?" tanya Erza.

"Dua abad lagi." jawab Master Evie.

"Ya udah." kata Erza.

"Ya, sekarang, lah!" kata Master Evie.

Erza langsung pergi ke ruangan bawah tanah untuk membawa barang-barang miliknya. Setelah itu, ia langsung kembali ke atas. Ketika di atas, ia tidak melihat Master Evie dan Paman Ade. Rupanya, mereka berdua sudah ada di luar rumah.

"Erza, ayo cepat! Kita akan segera pergi!" teriak Master Evie.

"Ya!" sahut Erza. Ia langsung berlari ke luar rumah.

"Nah, barang-barangmu tidak ada yang tertinggal 'kan?" tanya Master Evie.

"Tidak ada." jawab Erza.

Master Evie melihat pedang milik Erza yang tidak disarungkan. Ia langsung sadar bahwa ia belum memberikan Erza sarung pedang.

"Oh, ya, kamu belum diberi sarung pedang untuk pedangmu sendiri 'kan? Ini, saya berikan sarungnya." kata Master Evie sambil memberikan sarung pedang kepada Erza. Erza pun mengambilnya dengan senang hati.

"Terima kasih, Master." kata Erza.

"Sama-sama." kata Master Evie.

"Ayo, kita pergi ke tempat teman-temanmu berada. Erza, kamu yang menunjukkannya. Kami tidak tahu di mana teman-temanmu berada." kata Paman Ade.

"Oke, Paman." kata Erza.

Erza, Master Evie, dan Paman Ade langsung pergi menuju tempat teman-teman Erza menginap. Mereka bertiga berlari menuju tempat tujuan mereka. Sambil berlari, mereka bertiga mengobrol. Kadang-kadang, mereka juga bercanda.

Matahari pagi bersinar begitu cerah. Begitupun dengan semangat Erza. Ia semakin yakin dapat merebut kembali tahta kerajaan. Selama ini ia sudah berjuang keras. Sebentar lagi, ia akan membuktikan hasil dari perjuangannya. Ia terus berlari dan berlari. Sampai-sampai Paman Ade dan Master Evie tertinggal jauh di belakangnya.

"Erza! Jangan terlalu cepat! Kami tertinggal jauh!" teriak Master Evie.

"Master sendiri harus lari lebih cepat lagi!" teriak Erza.

"Oke, kalau begitu. Saya akan memakai kekuatan rahasia." kata Master Evie.

Master Evie langsung menambah kecepatannya. Ia pun berlari sangat kencang. Erza sampai takjub melihatnya. Ia pun menambah kecepatan. Paman Ade pun tak mau kalah. Ia langsung menambah kecepatan. Mereka pun saling kejar-mengejar.

Cuaca pada pagi itu sangat cerah. Hati Erza pun sedang cerah-cerahnya. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti itu. Ia merasa sangat bebas dan bahagia. Ia merasa bahwa takdir untuknya memang seperti itu. Ia pun bersyukur bisa menjelajahi negerinya sendiri. Ia bertemu dengan berbagai macam orang dan mengalami banyak pengalaman. Dari sinilah ia akan belajar untuk menjadi raja yang bijak dan baik. Ia benar-benar bersyukur atas semua anugrah dan nikmat yang ia dapat. Ia mulai mengerti makna di balik pengusirannya dari istana. Sekarang, ia menerima kejadian itu dengan lapang dada.

Begitulah nasib yang harus dihadapi Erza. Ia harus mengalami kesusahan. Namun, adakalanya ia mendapatkan kemudahan. Ia mulai mengerti bahwa hidup itu ada susah dan mudahnya. Dan, di balik kesusahan pasti ada kemudahan. Ya, begitulah hidup itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya