7. Menolong dengan Tulus
Perjalanan panjang Erza pun dimulai. Ia memulai perjalanan seorang diri. Tak ada yang menemaninya. Kini, ia mengerti hidup seorang diri. Ia harus mandiri. Tidak bisa bergantung kepada orang lain. Baginya, ini kali pertama ia melakukan perjalanan yang panjang tanpa ditemani seorang pun.
Dengan perbekalan yang cukup banyak, ia berjalan menyusuri sebuah jalan besar yang ramai dengan lalu lalang pedagang. Banyak tempat istirahat dan penginapan di pinggir jalan tersebut. Dengan keadaan seperti itu, ia tidak usah khawatir jika perbekalannya habis. Tetapi, masalahnya, ia tidak punya uang sama sekali. Jika hanya beristirahat saja, tidak apa - apa. Tapi, jika perbekalannya habis, jadi masalah. Sepertinya, Erza tidak terlalu memedulikan hal tersebut karena ia punya cukup banyak perbekalan. Ya, mungkin cukup untuk dua atau tiga hari. Jika ia lebih irit lagi, mungkin cukup untuk empat atau lima hari. Tanpa memikirkan masalah apapun, ia tetap berjalan.
Akhirnya petang pun tiba. Matahari mulai tenggelam. Ia pun sudah berjalan cukup jauh. Sekarang, ia sudah berada di sebuah tempat yang sepi, tidak seperti jalan besar yang ia lewati sebelumnya. Ia pun tetap berjalan. Apakah ia tidak memikirkan di mana ia akan beristirahat? Tentu saja ia memikirkannya. Bahkan ia sudah tahu di mana ia akan istirahat. Di pinggir jalan yang ia lewati terdapat hutan yang lebat. Jika ia ingin istirahat, ia tinggal masuk ke hutan tersebut dan mencari tempat yang dapat digunakan untuk istirahat. Seperti gua, di bawah pohon yang lebat, atau tempat lainnya yang nyaman dan aman.
Di tengah perjalanannya, ia menemukan sebuah pertigaan. Ia pun melihat sebuah tanda panah yang bertuliskan "Desa Harapan". Tanpa basa - basi, ia mengikuti tanda panah tersebut. Ternyata, untuk menuju desa tersebut, ia harus melewati jalan menanjak dan kebun teh yang sangat luas. Desa tersebut cukup jauh dari pertigaan tersebut. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia berjalan menuju desa tersebut. Ternyata, tenaga yang ia punya tidak cukup untuk sampai di desa tersebut. Ia pun kelelahan. Akhirnya, ia memutuskan untuk istirahat di kebun teh. Ia pun tidur di kebun teh tersebut saking lelahnya.
Tiba - tiba, lewatlah seseorang mengedarai gerobak yang ditarik oleh kuda. Ia melihat Erza yang tertidur. Karena kasihan, ia membawanya ke rumahnya di Desa Harapan. Udara di kebun tersebut dingin. Tapi, orang tersebut tidak merasa dingin. Mungkin ia sudah terbiasa dengan udara dingin di kebun tersebut.
Pagi harinya, Erza pun terbangun. Ketika terbangun, ia terkejut. Ia sudah berada di dalam sebuah rumah. Padahal, kemarin malam ia tertidur di kebun teh.
"Sudah bangun?" tanya orang tersebut.
"Siapa kamu?" tanya Erza.
"Saya? Saya hanya pedagang biasa yang setiap minggu pergi ke kota untuk menjual barang dagangan. Ya, teh yang saya jual. Karena desa ini adalah penghasil teh terbaik. Oh, ya, kemarin saya yang nolongin kamu, lho." jawab orang tersebut.
Selanjutnya, orang tersebut berbasa - basi tidak jelas. Erza pun tidak mengerti apa yang ia katakan. Dengan kesal, Erza mendengarkan basa - basi orang tersebut sampai selesai.
Akhirnya, basa - basi orang tersebut sudah selesai. Setelah itu, Erza membereskan perbekalannya dan berpamitan dengan orang tersebut.
"Saya mau pergi melanjutkan perjalanan saya. Jadi, saya akan pergi sekarang juga." kata Erza.
"Bener nih?" tanya orang tersebut.
"Ya." jawab Erza.
"Beneran?" tanya orang tersebut kembali.
"Ya." jawab Erza.
"Bener?" tanya orang tersebut ketiga kalinya.
"HEU - EUH!" jawab Erza dengan kesal.
"Ya udah, saya tidak bisa memaksa lagi." kata orang tersebut.
Erza pun pergi meninggalkan rumah itu tanpa menolehnya kembali. Sementara orang tersebut masih teriak - teriak.
"Dadaaaaah! Sampai ketemu lagi!" teriak orang tersebut sambil melambaikan tangannya.
"Ah! ngapain aku ketemu orang itu lagi! Mending aku ketemu monyet daripada ketemu orang itu!" kata Erza mendengus.
Tiba - tiba seseorang menghampirinya. Orang tersebut mengendarai kendaraan yang sama seperti orang yang menolong Erza kemarin.
"Kamu orang asing, ya?" tanya orang tersebut.
"Ya." kata Erza.
"Kenapa kamu bisa ada di rumah orang aneh itu?" tanya orang tersebut kembali.
"Entahlah. Sepertinya, saya ditolong olehnya." kata Erza.
"Sabar aja. Orang itu memang seperti itu. Aneh, narsis, nggak jelas, dan lain - lain." kata orang tersebut.
"Oh, ya, kamu mau ke kota? Kalau mau, ikut aja sama saya." kata orang tersebut menawarkan.
"Boleh?" tanya Erza.
"Tentu saja." jawab orang tersebut.
"Makasih, ya." kata Erza.
"Sama - sama." kata orang tersebut.
Akhirnya, Erza pergi ke kota dengan menumpang gerobak orang tersebut. Sepanjang perjalanan, mereka berbincang - bincang.
"Kenapa kamu mau pergi ke kota?" tanya Erza.
"Saya mau belajar di sana. Katanya, di sana ada sekolah yang bagus. Banyak perusahaan atau tempat kerja yang mencari lulusan sekolah tersebut karena pekerjaannya selalu baik dan cepat. Selain itu, ada pelajaran yang hanya terdapat di sekolah itu saja. Yaitu ilmu kepemimpinan. Masih banyak keunggulan yang ada di sekolah itu." kata orang tersebut.
"Oh, ya, kamu juga kenapa mau pergi ke kota?" tanya orang tersebut.
"Saya sedang mencari 69 orang yang terpilih untuk merebut kembali tahta kerajaan. Selain itu, saya juga harus mengumpulkan 13 berlian khusus. Karena itu, saya melakukan perjalanan yang sangat panjang. Satu lagi, saya sedang mencari guru yang bisa mengajari saya." jawab Erza.
Orang tersebut terkejut sampai ia menghentikan kudanya. Gerobak pun berhenti.
"Jadi, kamu itu pangeran?" tanya orang tersebut.
"Ya, memangnya kenapa?" kata Erza.
"Memangnya ada kejadian apa di istana sampai kamu harus mencari 69 orang terpilih dan 13 berlian khusus?" tanya orang tersebut.
"Ceritanya panjang." jawab Erza.
"Ceritakan saja." kata orang tersebut.
"Baik. Tapi, tolong jalankan lagi gerobaknya. Baru saya ceritakan." kata Erza.
Orang tersebut memecut kudanya. Gerobak pun berjalan kembali. Sambil orang tersebut mengendalikan kudanya, ia pun mendengarkan cerita Erza.
"Jadi, begitu ya?" kata orang tersebut setelah mendengarkan cerita Erza.
"Ya, begitulah." kata Erza.
"Hmmm" orang tersebut bergumam.
"Kenapa?" tanya Erza.
"Sebentar, saya pernah dengar bahwa ada seorang yang sering didatangi oleh orang - orang untuk berkonsultasi atau meminta saran atau nasihat. Orang tersebut dikenal oleh masyarakat kota tersebut sebagai seorang penasehat. Ia sering memakai syal berwarna biru di lehernya. Syal tersebut memiliki gambar unik, yaitu sebuah cermin dengan sayap." kata orang tersebut.
"Siapa namanya?" tanya Erza penasaran.
"Menurut kabar yang saya dengar, nama orang tersebut adalah Rayhan. Ya, benar. Namanya Rayhan." jawab orang tersebut.
Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang lama, mereka sampai di gerbang kota yang cukup megah. Di atasnya tertulis nama kota tersebut.
"Kota Harapan." Erza membaca tulisan tersebut.
"Sama 'kan dengan nama desa tempat awal kita pergi?" tanya orang tersebut.
"Ya, kok bisa?" tanya Erza dengan heran.
"Ya, kota ini dengan desa itu masih terhubung. Desa itu termasuk bagian dari kota ini. Desa itu merupakan kekuatan perekonomian kota ini. Jika desa itu hancur, makan kota ini akan hancur perekonomiannya." jawab orang tersebut.
"Jadi, keduanya saling bergantung satu sama lain?" tanya Erza.
"Ya. Desa itu bisa maju karena kota ini dan kota ini bisa maju karena desa itu." jawab orang tersebut.
Akhirnya mereka sampai di tengah kota itu. Erza pun turun dari gerobak orang tersebut.
"Makasih, ya." kata Erza sambil memberikan beberapa perbekalannya kepada orang tersebut.
"Sama - sama. Saya melakukan ini dengan tulus dan ikhlas. Jadi, saya tidak meminta pemberian dari orang lain" jawab orang tersebut sambil menolak pemberian Erza.
"Baiklah, makasih, ya. Udah dikasih tumpangan." kata Erza.
"Ya, sama - sama." jawab orang tersebut.
Akhirnya Erza sampai di Kota Harapan. Sebuah kota yang cukup megah, tenteram, dan ramai. Erza bersyukur bisa sampai di kota ini karena bantuan dari orang yang ia temui di Desa Harapan. Tapi, sayangnya, ia bukan termasuk orang yang terpilih. Coba saja jika ia termasuk orang yang terpilih. Mungkin sekarang ia sudah mempunyai teman untuk perjalanannya. Sekarang, Erza berharap semoga ia bisa bertemu dengan Rayhan, seorang penasehat masyarakat yang baik dan bijak. Dan, semoga ia benar - benar orang yang terpilih.
Komentar
Posting Komentar