6. Perjuangan Dimulai
Seperti kesepkatan yang telah mereka buat, Erza akan dilatih oleh Pak Acep mulai besok. Setelah itu, mereka menuju kamar masing - masing untuk tidur. Di rumah itu terdapat sebuah ruangan yang cukup kecil. Bisa dikatakan bahwa ruangan itu adalah sebuah gudang. Ruangan tersebut kotor, berdebu, dan banyak sarang laba - laba tergantung di atas. Barang - barang rongsokan tertumpuk banyak di dalamnya. Tetapi, ruangan tersebut dibereskan ketika Erza datang ke rumah Pak Acep. Ruangan yang awalnya kotor, berdebu, dan tak terurus menjadi bersih dan cukup tertata rapi walau masih banyak barang - barang rongsokan di dalamnya. Ia tidur di dalam ruangan itu dengan seadanya. Walau begitu, ia bisa tertidur lelap.
Akhirnya, hari esok pun tiba. Walau matahari masih belum muncul, pintu tempat Erza tidur diketuk. Erza langsung terbangun dari tidurnya yang lelap. Dengan mata yang masih berat, Erza membuka pintu. Ketika dilihat, ternyata Pak Acep sudah berdiri di depan pintu.
"Ayo Erza, kemas barang - barang yang akan dibawa. Kita pergi latihan sekarang juga." kata Pak Acep.
"Sekarang?" tanya Erza dengan nada tak yakin.
"Ya, sekarang." jawab Pak Acep.
"Kenapa harus sekarang?" tanya Erza lagi. Kali ini Pak Acep tidak menjawabnya. Erza semakin bertanya - tanya. Mengapa Pak Acep mengajaknya latihan sepagi ini? tanyanya dalam hati. Tetapi, ia tidak diam terbengong - bengong. Ia menuruti perintah Pak Acep. Ia pun mengemas barang bawaan yang disuruh oleh Pak Acep. Setelah semuanya siap, mereka pun berangkat menuju tempat latihan. Di manakah Erza akan menempa latihannya? Hal tersebut dirahasiakan oleh Pak Acep.
Mereka berjalan dan terus berjalan hingga pinggir desa tersebut. Di pinggir desa tersebut, Pak Acep masuk ke dalam hutan yang pernah mereka lalui. Erza mengikuti beliau sambil bertanya - tanya. Ia akan dibawa ke mana? tanyanya kembali dalam hati. Mereka pun berhenti di depan mulut gua. Di sana, Erza semakin bertanya - tanya. Ia akan dilatih di sini? Tanyanya kembali dalam hati. Ia berniat menanyakannya kepada Pak brAcep. Tetapi, sebelum ia menanyakannya, Pak Acep lebih dahulu berbicara.
"Kita akan berlatih di sini." tegas Pak Acep.
"Di sini?" tanya Erza.
"Ya, di sini." jawab Pak Acep.
"Sekarang, saya akan dilatih apa?" tanya Erza lagi.
Pak Acep mengambil sebuah pedang dan diletakkan di depan Erza. "Kamu tahu apa yang ada di depanmu?" tanya Pak Acep.
"Tahu." jawab Erza.
"Kalau begitu, apa ini?" tanya Pak Acep lagi.
"Pedang." jawab Erza singkat.
"Kali ini, bapak akan mengajarimu cara memainkan pedang. Semua pegawai istana mulai dari pembersih istana, pengasuh anak kerajaan, bahkan ratu pun harus bisa memainkan pedang. Termasuk bapak yang dulunya penasehat kerajaan. Bapak akan mengajarimu dari yang paling dasar." jelas Pak Acep. "Pedang adalah benda yang harus digunakan secara hati - hati. Pedang dapat mencelakakan diri sendiri maupun orang lain jika digunakan dengan salah. Tetapi, akan menjadi bermanfaat jika digunakan dengan benar. Seperti raja, jika ia memerintah dengan baik, negerinya pun menjadi baik. Sebaliknya, jika ia memerintah dengan buruk, negerinya pun menjadi buruk. Waktu pun seperti itu. Waktu adalah pedang. Jika digunakan dengan baik, maka waktu yang ia punya menjadi bermanfaat. Jika tidak digunakan dengan baik, maka waktu yang ia punya menjadi sia - sia. Intinya, jaga amanah yang telah diberikan dengan sebaik - baiknya dan manfaatkan waktu yang ada. Paham?" lanjut Pak Acep dengan panjang lebar.
"Paham." jawab Erza.
"Kalau sudah paham, bapak nggak akan bicara panjang lebar lagi. Kita mulai saja latihannya." tegas Pak Acep.
Akhirnya Erza pun berlatih memainkan pedang. Untuk permulaan, ia berlatih dengan pedang kayu. Ia berlatih dengan sungguh - sungguh. Dari pagi hingga malam ia berlatih. Tidak peduli apakah hujan atau tidak, tidak peduli luka yang dialaminya, tidak peduli ia lelah atau tidak, ia tetap berlatih. Sampai akhirnya ia berhasil memainkan pedang dengan lihai. Pak Acep pun senang melihatnya. Usahanya mengajari sang pangeran memainkan pedang ternyata tidak sia - sia. Mereka pun pulang menuju rumah Pak Acep.
Malamnya, Pak Acep mengajak Erza bermain catur, sebuah olahraga yang membutuhkan kecerdasan otak.
"Malam ini bapak akan mengajarimu tentang strategi melalui catur. Bermain catur membutuhkan kecerdasan. Permainan ini seperti simulasi sebuah peperangan. Di dalam catur terdapat raja, ratu, menteri, kuda, benteng, serta pion. Hikmah permainan ini adalah berpikir secara bijak, tenang, dan positif, serta tidak terburu - buru dalam mengambil suatu keputusan." jelas Pak Acep.
Akhirnya, selama berpuluh - puluh malam ia dan Pak Acep bermain catur. Kelihatannya seperti tidak ada sesuatu pelajaran yang akan diberikan kepada Erza. Tetapi, ada suatu pelajaran di balik permainan itu. Mereka terus bermain catur setiap malamnya. Setiap malam terjadi pertandingan sengit antara Pak Acep dengan Erza. Walau pada awal ia bermain ia kalah, tetapi ia terus bermain hingga suatu malam...
"Akhirnya aku berhasil mengalahkan Pak Acep!" teriak Erza.
"Ya, nggak apa - apa. Itu karena Pak Acep lagi baik aja." kata Pak Acep.
"Ya gitu?" tanya Erza.
"Ya." jawab Pak Acep.
Mereka pun tertawa. Pada malam berikutnya, Erza selalu mengalahkan Pak Acep. Jika ia sudah menang, Pak Acep selalu berkata, "Itu karena Pak Acep lagi baik aja."
Akhirnya, pada suatu hari, Pak Acep mengajak Erza kembali menuju hutan. Kali ini Pak Acep akan mengujinya tentang apa yang sudah ia pelajari. Ketika mereka sudah sampai di hutan, Pak Acep langsung mengeluarkan pedangnya.
"Mari kita bertarung, Erza." tegas Pak Acep.
"Bapak serius?" tanya Erza tak yakin.
"Serius!" tegas Pak Acep.
"Benarkah?" tanya Erza sekali lagi.
"Benar! Cepat kamu keluarkan pedangmu! Atau bapak akan langsung menyerangmu!" tegas Pak Acep.
Melihat kesungguhan dari Pak Acep, Erza langsung mengeluarkan pedangnya. Tentu saja pedang tersebut merupakan pemberian dari Pak Acep. Tak lama setelah ia mengeluarkan pedangnya, tiba - tiba Pak Acep langsung mengayunkan pedangnya ke arah Erza.
"Ya, lengah!" kata Pak Acep.
Untungnya Erza bisa menghindar. Erza pun mulai konsentrasi dengan keadaan sekitarnya. Ia pun melihat ke belakang dan... "TRAANG!" terdengar bunyi dua pedang yang sedang diadu. Ternyata Pak Acep akan menyerangnya dari arah belakang. Lagi - lagi ia beruntung karena ia sempat melihat ke belakang. Mungkin nasibnya akan berakhir jika ia tidak melihat ke belakang. Pertarungan pun semakin sengit. Semakin lama semakin sering suara pedang beradu terdengar. Pak Acep dengan taktik yang sudah beliau pikirkan menyerang Erza secara bertubi - tubi. Sedangkan Erza lebih banyak bertahan daripada menyerang. Di tengah keadaan seperti itu, ia teringat dengan kata - kata Pak Acep.
"Berpikir dengan bijak, tenang, dan positf, serta tidak terburu - buru dalam mengambil suatu keputusan." kata - kata itu terngiang - ngiang di dalam pikirannya. Ia pun berpikir sejenak sambil bersembunyi di atas pohon. Sedangkan Pak Acep sedang mencari Erza sambil memerhatikan keadaan sekelilingnya.
"Jangan harap kamu bisa sembunyi dari bapak, ya?" kata Pak Acep menakut - nakuti. Erza tetap tenang dan terus berpikir. Tidak lama kemudian ia mendapat ide untuk mengalahkan Pak Acep.
"Ayo, Za! Jangan penakut! Tunjukkan dirimu!" teriak Pak Acep.
Tiba - tiba Erza langsung melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia melakukan hal tersebut secara terus - menerus. Pak Acep pun cukup bingung. Tapi, beliau tetap tenang dan terus memerhatikan sekelilingnya. Dan tiba - tiba Pak Acep terkena tendangan dari Erza yang baru saja melompat dari atas pohon. Pak Acep terjatuh dan langsung ditindih oleh Erza dari belakang. Erza langsung mengancam Pak Acep dengan pedangnya.
"Cukup, kita hentikan pertarungan ini." kata Pak Acep. Erza pun memasukkan pedangnya kembali. Lalu Pak Acep pun berdiri.
"Sepertinya yang bapak sudah ajarkan kepada kamu sudah cukup. Kamu harus beguru kepada orang - orang lainnya. Karena ilmu yang kamu punya belum cukup. Teruslah belajar. Kamu bisa belajar dari mana saja. Tidak hanya dari orang - orang yang nanti akan mengajarimu. Selain itu, bapak akan memberitahu satu hal yang sangat penting." kata Pak Acep.
"Apa itu pak?" tanya Erza.
"Kamu tidak bisa merebut kembali tahtamu dengan kamu sendiri. Kamu juga tidak bisa merebut tahtamu dengan bantuan sembarang orang. Jadi, kumpulkan 69 orang yang terpilih. Kamu bisa melihat bahwa orang itu orang yang spesial dari sebuah tanda. Yaitu sebuah syal berwarna biru dan terdapat gambar kotak menyerupai sebuah cermin di tengahnya. Di pinggir gambar tersebut terdapat gambar sayap. Syal tersebut terikat di tangan, leher, ataupun kepala. Yang penting, orang tersebut memakai syal tersebut. Selain itu, di antara 69 orang tersebut, ada 13 orang yang mempunyai sebuah pecahan berlian berwarna biru yang ketika terkena sinar matahari berlian itu bersinar sangat terang. Kumpulkan berlian tersebut dari 13 orang tersebut dan satukanlah." kata Pak Acep.
"Baik, pak." kata Erza.
"Kalau begitu, ayo kita pulang ke rumah. Besok kamu harus pergi melanjutkan perjalananmu." kata Pak Acep.
"Jadi, besok aku harus pergi?" tanya Erza.
"Ya. Walau berat menerimanya, kamu tetap harus pergi." kata Pak Acep.
"Baiklah." kata Erza.
Mereka pun pulang ke rumah Pak Acep. Keesokan harinya, Erza bersiap - siap untuk pergi melanjutkan perjalanannya. Akhirnya, ia pun siap dan berpamitan dengan Pak Acep beserta keluarganya.
"Pak, bu, aku mau melanjutkan perjalananku lagi sesuai yang dikatakan Pak Acep kemarin. Terima kasih karena sudah menerima aku di sini. Maaf kalau aku sudah merepotkan bapak dan ibu." kata Erza.
"Nggak apa - apa. Bapak sekeluarga sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga bapak. Sebelum kamu pergi, bapak akan memberimu sesuatu." kata Pak Acep.
Pak Acep mengikatkan sebuah syal dengan ciri - ciri seperti yang sudah beliau ceritakan kemarin. Setelah itu, Erza pun pergi dari rumah itu sambil melambaikan tangannya ke arah rumah itu. Kali ini, ia harus berjuang untuk mengumpulkan 69 orang terpilih itu. Dengan semangat yang tinggi, ia berjalan keluar dari desa tersebut dan melanjutkan perjalanannya.
Komentar
Posting Komentar