21. Tahun Baru di Pulau Para Wisatawan

Setelah berhasil mengalahkan peneliti yang tinggal di istana itu dan para anak buahnya, Erza dan teman-temannya pergi menuju pinggir pantai untuk melanjutkan perjalanan mereka.

"Ah, kalian nggak mau kaya!" kata Rendy S dengan muka yang masam.

"Bukannya nggak mau Ren, tapi istananya aja udah kebakar kayak gitu. Gimana mau nyarinya?" kata Rendy.

"Ren, kita itu 'kan pengelana, jadi nggak butuh harta banyak kayak gitu. Kalau mau kaya sih kerja aja." kata Erza.

Sementara Erza mengobrol dengan mereka berdua, Rayhan sedang mengobrol dengan Fikri.

"Kamu punya syal kayak gini?" tanya Rayhan sambil menunjukkan syalnya.

"Oh, kalau syal itu kita semua punya, kok. Emangnya kenapa? Kok tiba-tiba nanya yang itu sih?" tanya Fikri.

"Berarti, kalian orang-orang terpilih." jawab Rayhan.

"Woi! Erza! Ternyata Rendy S dan teman-temannya punya syal kayak kita!" teriak Rayhan.

"Bener?" tanya Erza.

"Bener!" jawab Rayhan.

"Hore! Ren, mau ikut kita berkelana?" tanya Erza.

"Tentu! Kelompok aku 'kan penjelajah. Menjelajah hutan, kota, laut..." kata Rendy S.

"Udara?" tanya Erza.

"Nggak menarik! Cuma kumpulan awan doang!" jawab Rendy S.

"Oh, ya. Woi! Budak-budakku, kita ikut menjelajah bareng si sampah Erza!" teriak Rendy S.

"Oke!" jawab semuanya.

Akhirnya, mereka semua sampai di pinggir pantai. Di sana, tiga burung camar sudah menanti.

"Kurang satu, ya." kata Oji.

"Gampang!" kata Andri.

Andri langsung memanggil seekor burung camar.

"Aaaaaaa! Aaaaaaa!" teriak Andri.

Kemudian, seekor burung camar mendekatinya.

"Bagus, anak pintar." Andri memberi burung itu seekor ikan dari tasnya.

Burung itu pun langsung menjadi jinak.

"Nah, ayo semuanya! Naik!" kata Andri.

Mereka semua menaiki burung camar tersebut. Lalu, mereka pun pergi dari pulau tersebut.

"Andri, kita mau ke mana?" tanya Erza yang ada di belakangnya.

"Ke mana ya?" Andri kebingungan.

Sementara itu, Galih dan Fabian sedang mengobrol.

"Seminggu lagi tahun baru, ya?" kata Galih.

"Ya, tapi kita malah berkelana." kata Fabian.

Andri yang mendengar percakapan Galih dan Fabian langsung mendapatkan ide.

"Oh, ya! Kita pergi ke Pulau Pasir Berlian aja! Di sana kita bisa beristirahat dulu! Kalau mau keliling juga bisa! Kalau mau belanja juga bisa!" kata Andri.

"Oh, ya! Seminggu lagi 'kan tahun baru!" kata Oji.

"Asyik! Makan-makan!" kata Hadi.

"Kamu ini kurus-kurus tapi makannya banyak juga!" kata Andri.

"Tapi, energinya masuk ke otot sama tulang aku!" kata Hadi.

"Hah? Pede amat!" kata Andri.

"Biarin!" kata Hadi.

"Ya udah, tujuan kita sekarang ke Pulau Pasir Berlian!" kata Andri.

"Apa? Pulau Pasir Berlian?" tanya Diyyah dan Moza.

"Iya." jawab Andri.

"Hore!" teriak mereka berdua.

Andri, Hadi, Oji, dan Fikri mengarahkan burung camar tersebut ke arah Pulau Pasir Berlian. Pulau Pasir Berlian adalah pulau wisata yang ada di Kepulauan Pasir. Pemandangan pantai di sana begitu indah. Lautnya berwarna biru cerah. Pelabuhan megah dibangun di sana. Bangunan-bangunan di sana sangat megah. Banyak patung dan ukiran batu di sepanjang jalan. Jalanannya pun indah dan bersih. Pohon-pohon tumbuh di sepanjang jalan. Bunga-bunga pun tumbuh sepanjang jalan. Ada banyak hotel di sana. Baik yang murah ataupun mahal. Banyak acara spektakuler yang diadakan di sana. Banyak wisatawan yang pergi berlibur ke sana. Pulau itu adalah pulau paling indah di Kepulauan Pasir.

Akhirnya, setelah beberapa lama mereka melakukan perjalanan, mereka pun sampai di Pulau Pasir Berlian.

"Bagus, ya." Erza terkagum-kagum.

"Wah, aku belum pernah ke sini." kata Fahri.

"Sama dong." kata Rayhan.

"Kayaknya, di sini rame, ya." kata Deiki.

Tiba-tiba, seorang ibu menghampiri mereka semua.

"Halo! Apa kalian semua wisatawan atau pengelana?" tanya ibu tersebut.

"Kami pengelana." jawab Erza.

"Wah, kebetulan. Ayo, ikut ibu. Oh, ya, burung-burung kalian bisa dititipin ke pos jaga yang ada di sana." kata ibu tersebut sambil menunjuk sebuah pos jaga yang letaknya tidak terlalu jauh dari mereka.

Mereka pun menitipkan burung-burung camar tersebut ke pos jaga. Setelah itu, mereka mengikuti ibu tersebut.

"Kita mau ke mana, bu?" tanya Erza.

"Nanti. Sabar aja." jawab ibu tersebut.

Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah pondok yang cukup kecil.

"Nah, silakan masuk." kata ibu tersebut.

Mereka semua masuk ke pondok tersebut.

"Nah, kalian boleh menginap di sini. Tapi, ibu mau nanya dulu. Apa kalian orang-orang terpilih yang punya syal biru gambar cermin bersayap?" tanya ibu tersebut.

"Ya." jawab mereka semua.

"Coba ibu lihat syal kalian." kata ibu tersebut.

Mereka semua menunjukkan syal mereka.

"Ya, cukup. Sekarang, ibu akan memperkenalkan identitas ibu. Nama ibu Bu Nia. Nah, ibu akan mengajarkan kepada kalian cara bersikap dan cara memanah. Ibu selalu mengajari para pengelana yang datang ke sini. Tujuannya, agar mereka bisa bersikap dengan baik. Karena, sikap kita akan berpengaruh terhadap penilaian kita. Jika sikap kita baik, maka kita akan dinilai baik oleh orang lain. Sebaliknya, jika sikap kita buruk, maka kita akan dinilai buruk oleh orang lain. Sikap kita juga mencerminkan sifat kita. Maka, sikap itu sangat penting dalam kehidupan bersosialisasi." kata Bu Nia.

Sejak hari itu, mereka semua diajari bagaimana cara bersikap oleh Bu Nia. Mulai dari sikap duduk, sikap menerima tamu, sikap bertamu, sikap minum, sikap makan, hingga sikap kepada orang yang lebih tua. Selain itu, mereka juga diajari cara memanah. Dengan tekun, mereka mempelajari apa yang diajarkan oleh Bu Nia. Selama lima hari, mereka terus diajari oleh Bu Nia.

Hingga akhirnya, pada suatu hari, Bu Nia menyuruh mereka semua untuk mengirimkan sesuatu kepada beberapa rumah. Mereka semua dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok pergi ke satu rumah untuk mengirimkan sesuatu. Di sanalah mereka akan diuji. Mereka semua akan diuji sikap mereka. Dengan berpedoman ajaran Bu Nia, mereka pergi ke rumah-rumah yang sudah ditunjukkan oleh Bu Nia. Dengan lancar, mereka mempraktekkan cara bersikap yang sudah diajarkan oleh Bu Nia. Mulai dari mengetuk pintu, mengucapkan salam, duduk dengan sopan, hingga berpamitan. Akhirnya, mereka semua sudah selesai menjalankan tugas mereka. Mereka semua langsung kembali ke pondok mereka.

Malamnya, Bu Nia dan Erza serta teman-temannya mengobrol di teras pondok tersebut.

"Bu, apa pekerjaan ibu?" tanya Erza.

"Ibu bekerja sebagai guru bahasa di sebuah sekolah." jawab Bu Nia.

"Tapi, ibu hebat amat bisa memanah." kata Moza.

"Iya, dong. Ibu gitu lho..." kata Bu Nia.

"Ibu belajar memanah sejak kapan?" tanya Rayhan.

"Sejak kecil." jawab Bu Nia.

"Wah, ibu yang tangguh..." kata Deiki dalam hati.

Mereka semua mengobrol hingga larut malam.

"Ya udah, ibu mau balik ke rumah. Kalian cepat tidur, ya? Besok ada ujian lagi." kata Bu Nia.

"Ujian apa lagi, bu?" tanya Erza.

"Lihat besok saja." jawab Bu Nia.

Bu Nia kembali ke rumahnya. Erza dan teman-temannya masuk ke dalam pondok mereka. Mereka pun langsung tidur.

Hari sudah mulai fajar. Tetapi, Erza dan Rayhan sudah bangun dari tidurnya. Mereka berdua membuka pintu pondok secara diam-diam. Lalu, mereka pergi menuju pinggir pantai. Kebetulan, pondok tempat mereka menginap cukup dekat dengan pantai. Mereka berjalan menuju pantai melalui gang kecil. Akhirnya, mereka pun sampai di pantai. Mereka berdua duduk di pinggir pantai. Mereka melihat sekeliling pantai tersebut. Tiba-tiba, mereka melihat Bu Nia sedang duduk sambil menulis di pinggir pantai.

"Oh, Erza dan Rayhan rupanya. Kalian rajin amat." kata Bu Nia.

"Biasa aja, bu." kata Rayhan.

"Kamu emang suka bangun jam segini?" tanya Bu Nia.

"Ya, bu." jawab Rayhan.

"Kalau Erza?" tanya Bu Nia.

"Baru sekarang-sekarang ini aja, bu." jawab Erza.

"Oh, gitu. Berarti, dulu nggak suka bangun jam segini?" tanya Bu Nia.

"Ya, begitulah. Hehehe." jawab Erza sambil malu.

Bu Nia melanjutkan kembali tulisannya. Erza dan Rayhan mengobrol sambil menikmati semilir angin dan desir ombak pantai tersebut.

"Sejuk..." kata Rayhan.

Sementara itu, Erza tertidur di sebelahnya.

"Enak... Ini sih bikin ngantuk... nyem, nyem..." Erza pun tertidur.

"Woi! Erza! Kamu malah tidur lagi!" kata Rayhan.

"Ya udah, kita tinggalin aja, yuk!" kata Bu Nia.

Mereka berdua pergi meninggalkan Erza yang sedang tertidur. Erza langsung sadar dan pergi menyusul Bu Nia dan Rayhan.

"Tunggu!" teriak Erza.

Bu Nia dan Rayhan kembali ke pinggir pantai.

"Eh, balik lagi." kata Erza. Erza pun kembali ke pinggir pantai.

"Makanya, Za, jangan suka tidur di mana aja. Gimana kalau nanti kamu diculik atau barang kamu dicuri?" kata Rayhan.

"Ya, ya, ya..." kata Erza.

Mereka pun duduk kembali di pinggir pantai hingga terbit matahari.

"Wah, bagus, ya?" kata Erza.

"Ya, aku belum pernah lihat matahari terbit." kata Rayhan.

Bu Nia pun berdiri dan mengajak mereka berdua pulang.

"Ayo, kita balik ke pondok. Nanti 'kan ada ujian." kata Bu Nia.

"Oh, ya." kata Rayhan.

Mereka pun kembali ke pondok mereka sedangkan Bu Nia kembali ke rumahnya. Siang harinya, Bu Nia mengadakan ujian memanah untuk mereka semua.

"Ya, hari ini kalian akan ujian memanah. Nah, targetnya adalah target kecil yang sudah ibu pasang di segala sudut. Kalian harus mencarinya sendiri. Areanya hanya di sekitar pondok ini saja. Nah, kalian harus memanah target itu dengan tepat. Ada yang mau ditanyakan?" tanya Bu Nia.

"Tidak." jawab mereka semua.

"Nah, kalau begitu, ujian dimulai!" kata Bu Nia.

Mereka pun langsung mencari target yang sudah dipasang. Beberapa dari mereka sudah ada yang menemukannya. Tetapi, beberapa dari mereka yang sudah menemukannya tidak berhasil memanahnya dengan tepat. Mereka semua terus berusaha mencari dan memanah target tersebut. Ujian pun berlangsung hingga sore hari.

"Ya, ujian selesai!" kata Bu Nia.

Mereka semua langsung berkumpul di depan Bu Nia.

"Siapa yang tidak memanah sama sekali? Angkat tangan!" tanya Bu Nia.

Tidak ada yang mengangkat tangan.

"Berarti, kalian semua berhasil menemukan target tersebut." kata Bu Nia.

Bu Nia langsung memeriksa semua target yang dipasangnya. Setelah itu, Bu Nia langsung kembali ke tempat semula.

"Ya, kalian semua lulus! Termasuk ujian yang kemarin!" kata Bu Nia.

"Bukannya kemarin nggak ada ujian?" tanya Rayhan.

"Ada. Waktu kalian nganter barang ke rumah orang lain itu ujian." jawab Bu Nia.

"Bu Nia tahu berhasil atau tidaknya ujian yang kemarin dari mana?" tanya Rayhan.

"Dari barang yang kalian kasih waktu kemarin." jawab Bu Nia.

"Jadi, yang kemarin itu..." kata Rayhan.

"Ya, itu kardus yang isinya barang. Nah, ibu tulis di kardusnya "KOTAK PENILAIAN". Nah, di dalam sana juga ibu taruh barang. Nah, ibu buat lubang di situ. Terus, di dekat lubangnya ibu tulis "TULIS PENILAIAN SIKAP PENGANTAR BARANG DI KERTAS KECIL, LALU MASUKKAN KE LUBANG INI. JANGAN LUPA AMBIL BARANG YANG ADA DI DALAM SINI. KIRIMKAN KEMBALI KARDUS INI KE RUMAH BU NIA." Nah, dari sana ibu bisa membuat penilaian. Hasilnya, kalian semua lulus." kata Bu Nia.

"Hore!" teriak semuanya.

"Nah, sekarang, silakan kalian bersenang-senang. Kalian boleh jalan-jalan, belanja, atau yang lainnya. Ibu mau balik ke rumah. Oh, ya, nanti malam ada perayaan tahun baru di pinggir pantai. Bagus lho. Sayang kalau pengelanan kayak kalian nggak pergi ke sana." kata Bu Nia.

"Oke, bu." kata Erza.

Mereka semua menyerahkan busur dan anak panah kepada Bu Nia. Setelah itu, mereka semua langsung masuk ke pondok mereka. Beberapa dari mereka ada yang membawa uang untuk belanja. Mereka semua langsung pergi ke luar untuk jalan-jalan atau belanja. Moza dan Diyyah pergi ke toko suvenir untuk beli pernak-pernik. Andri, Hadi, dan Oji pergi jalan-jalan mengelilingi kota tersebut. Yatta dan Nabil pergi ke toko alat musik. Ayang pergi jalan-jalan mengelilingi kota tersebut dengan menaiki gerobak kuda untuk wisatawan. Rendy S dan kelompoknya pergi membeli peralatan untuk menjelajah. Sementara itu, Erza, Rayhan, Deiki, Fahri, Galih, Fabian, Ammar, dan Alidza jalan-jalan di pinggir pantai.

"Enak juga di sini." kata Fahri.

"Iya, di sini indah." kata Galih.

"Sejuk..." kata Rayhan.

"Tadi pagi juga kamu bilang sejuk, Han!" kata Erza.

"Biarin" kata Rayhan.

Ketika mereka sedang jalan-jalan, mereka melihat beberapa orang sedang membangun sesuatu.

"Pak, ini lagi buat apa?" tanya Fahri.

"Ini buat nanti malam." jawab seorang pekerja.

"Emang nanti malam kayak gimana?" tanya Fahri.

"Nanti malam bakal lebih meriah dari tahun lalu. Nanti bakal ada peluncuran petasan dari kapal. Nanti kapalnya ada di tengah laut. Terus, nanti panggungnya juga bakal lebih bagus. Pokoknya, liat aja nanti malam." jawab pekerja tersebut.

"Oh, gitu. Makasih, pak." kata Fahri.

"Sama-sama." kata pekerja tersebut.

Sementara itu, di suatu tempat, terdapat sebuah kelompok yang sedang merundingkan sesuatu.

"Woi! Nanti malam bakal ada petasan?" tanya salah seorang di antara mereka.

"Ya, pasti ada! Nggak usah ditanya lagi!" jawab temannya.

"Jadi, kita bakal pake petasan lagi?" tanya orang yang tadi bertanya.

"Ya, iyalah! Itu sudah ciri khas kita!" jawab temannya.

"Tapi, kali ini kita akan memakai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya petasan saja." kata sang pemimpin.

"Emangnya mau pake apa lagi bos?" tanya seseorang di antara mereka.

"Kita pake... MERIAM!" jawab sang pemimpin.

"Meriam? Emang mau nembak apa?" tanya orang tersebut.

"Menurut bocoran, nanti malam bakal ada kapal yang ngeluncurin petasan dari tengah laut. Nah, kita tembakin kapal itu pake meriam!" jawab sang pemimpin.

"Haha! Mampus tuh kapal!" teriak salah seorang di antara mereka.

"Eh, tapi bos, meriamnya udah ada?" tanya orang tersebut.

"Tenang, udah ada dong!" jawab sang pemimpin.

"Berarti, tinggal nunggu malam aja sekarang?" tanya orang tersebut.

"Ya, kita akan buat perayaan tahun baru yang lebih seru!" jawab sang pemimpin.

Sementara itu, para pekerja tetap mempersiapkan untuk perayaan tahun baru tanpa mengetahui rencana mereka. Apakah rencana mereka berhasil? Jika berhasil, apakah perayaan tahun baru akan gagal? Baca saja nasibnya di bagian selanjutnya. Walau begitu, semoga perayaan tahun baru nanti malam lancar. Semoga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya