30. Pagi di Warung Van Harjo
Pagi di Warung Van Harjo
Akhirnya, satu bulan telah berlalu. Masa-masa yang penuh siksaan di School van Nationaal Ontwaken telah berakhir. Kini, mereka telah lulus dari sekolah itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Akan tetapi, mereka tidak tahu mau ke mana lagi.
"Gimana nih sekarang?" tanya Erza.
"Aku juga nggak tau, Za." jawab Rayhan.
Sementara itu, teman-temannya ingin jalan-jalan di kota itu.
"Nggak usah bingung, kita jalan-jalan aja dulu di kota ini." kata Irfan.
"Boleh juga." kata Ira. Teman-temannya ikut mendukung Ira dan Irfan. Akhirnya, Erza memutuskan untuk jalan-jalan di kota itu.
"Oke, oke, kalian boleh jalan-jalan. Tapi ingat, nanti malam kita kumpul di taman ini lagi." kata Erza.
Begitu Erza selesai berbicara, teman-temannya langsung kabur begitu saja. Yang masih berdiri di taman itu hanyalah ia, Fahri, Rayhan, Alidza, dan Ammar.
"Eh, kalau jalan-jalan langsung semangat." kata Erza.
"Ya udah, Za. Kita juga jalan-jalan. Jangan cuma diem di sini aja." kata Rayhan.
"Oke." kata Erza.
Mereka berlima langsung jalan-jalan. Di sepanjang jalan, mereka melihat gedung-gedung dengan arsitektur yang sangat indah. Di jalan itu juga terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman. Walau begitu, mereka berlima tampak tak tertarik sedikitpun.
Hari masih pagi. Namun, perut mereka mulai berbunyi. Ketika perut mereka berbunyi, mereka berada di depan sebuah warung yang sangat terkenal. Di atas warung itu terdapat sebuah papan yang bertuliskan "Warung Van Harjo". Tanpa berlama-lama, mereka langsung memasuki warung itu. Sesampainya di sana, mereka langsung duduk di kursi.
"Mau pesen apa?" seorang pelayan menghampiri mereka.
"Ada apa aja?" tanya Erza.
"Ada bala-bala, gehu, tahu goreng, tempe goreng, tahu bacem, tempe bacem, pisang goreng, kacang rebus, ubi rebus, jagung rebus, jagung bakar, dan lain-lain." jawab sang pelayan.
"Saya pesan bala-bala, gehu, tempe goreng, dan pisang goreng." pesan Erza.
"Berapa porsi?" tanya sang pelayan.
"Satu porsi berapa?" tanya Erza.
"Lima buah." jawab sang pelayan.
"Kalau gitu, saya pesen lima buah." kata Erza.
"Minumannya?" tanya sang pelayan.
"Teh aja." jawab Erza.
"Baik, pesanan anda akan segera datang." kata sang pelayan. Pelayan itu segera pergi. Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengobrol tentang pengalaman mereka. Kadang mereka tertawa, serius, dan datar-datar saja. Ketika mereka sedang asyik mengobrol, pesanan mereka datang.
"Silakan menikmati." kata sang pelayan sambil menaruh pesanan mereka. Tanpa aba-aba, mereka langsung menyerbu pesanan mereka. Mereka tampak seperti orang kelaparan. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa ada orang lain di sebelah mereka.
"Woi, liat! Mereka makannya kayak ayam!" kata seseorang.
"Hahaha, mereka kayak nggak punya malu!" kata temannya. Teman-temannya ikut tertawa. Erza dan keempat temannya langsung berhenti makan.
"Kalian siapa?" tanya Erza.
"Kami para pelajar yang baru pulang dari negeri lain. Kami membuat perkumpulan, yaitu 'Kumpulan Pelajar Perantau' yang disingkat 'KPP'." jawab orang itu.
Tiba-tiba, Erza terkejut ketika melihat orang-orang itu memakai syal biru yang sama dengan kepunyaannya dan teman-temannya. Ia ingin menanyakan apakah mereka ingin bergabung dengannya. Namun, ia menahan pertanyaan itu.
"Kalau mau nanya itu, jangan sekarang. Nanti aja." kata Erza dalam hati.
"Nama kalian siapa?" tanya Erza.
"Nama saya Mehdi. Nah, di sebelah saya Zacki. Dia ahli mekanik. Kalau yang di sebelah Zacki namanya Adhi. Dia ahli melukis. Di sebelahnya Adhi ada Talitha. Dia ahlinya mengobati hewan-hewan. Karena itu, dia sering didekatin hewan. Tuh, ada burung di bahunya. Nah, di sebelahnya Talitha ada Ayesha. Dia itu ahli tulis-menulis. Di sebelahnya Ayesha ada Shofi. Dia tukang lukis-melukis. Di sebelahnya Shofi ada Fasya. Di sebelahnya Fasya ada Laras. Nah, mereka berdua jagonya seni. Dua orang terakhir itu adalah Karin dan Najmi. Mereka berdua jago dalam hal bahasa. Tapi, Karin juga jago dalam hal menasehati. Karena dia orangnya sopan, kalem, dan suka menasehati orang, dia menjadi penasehat perkumpulan kami." Mehdi memperkenalkan teman-temannya.
"Oh, ya, kenalkan, nama saya Erza. Nah, ini teman-teman saya." kata Erza. Keempat teman Erza langsung memperkenalkan dirinya.
Hanya dalam waktu singkat, mereka menjadi sangat akrab. Mereka mengobrol bagaikan sahabat dekat. Mereka saling berbagi cerita dan pengalamannya. Terkadang, suara tawa keluar dari mulut mereka. Terkadang juga, suasana menjadi sangat sepi. Mereka seperti teman yang telah lama tidak berjumpa. Padahal, mereka baru saja bertemu. Dengan alunan suara musik dari pemusik kota, mereka terus mengobrol.
"Eh, coba denger lagu ini." kata Talitha.
"Emangnya kenapa?" tanya Fahri.
"Aku tau lagu ini. Shofi, Laras, dan Najmi juga tau." jawab Talitha.
"Emangnya ini lagu apa?" tanya Fahri.
"Ini lagu Selamat Pagi." kata Talitha.
"Apa enaknya?" tanya Fahri.
"Coba dengerin dulu." kata Talitha.
RAN - Selamat Pagi
Kurasakan hangat indahnya sang mentari
membangunkanku dari tidur yang lelap ini
Sinarmu yang terang mulai memasuki mata
dan mengusirku dari alam mimpi
Dan kini kubergegas tuk segera siapkan diriku
tuk mulai menjalani hari ini
Tak sabar ku temui seluruh sahabat yang tersenyum
menyambut datangnya pagi ini
Dan kukatakan..
(Chorus)
Selamat pagi!!
Embun membasahi dunia dan mulai mengawali hari ini
Dan kukatakan:
Selamat pagi!!
Kicau burung bernyanyi dan kini ku siap tuk jalani hari ini.
Kini bergegaslah sipakan dirimu untuk memulai menjalani hari ini
"Gimana?" tanya Talitha.
"Bagus." jawab Fahri.
Mereka melanjutkan kembali obrolan mereka. Mereka mengobrol tanpa henti. Seakan-akan mereka tak puas hanya mengobrol segitu saja. Mereka terus dan terus mengobrol. Akhirnya, siang pun tiba. Mereka makan siang di sana sambil mengobrol. Setelah selesai makan, mereka tetap mengobrol.
Tak terasa sore pun tiba, Erza merasa sudah saatnya untuk menanyakan pertanyaan yang ia simpan dari tadi pagi.
"Kalian mau ikut sama aku?" tanya Erza.
"Ikut ke mana?" tanya Mehdi.
"Ke istana kerajaan. Aku dan teman-temanku akan merebut kembali tahta kerajaan dari adik ayahku yang lalim dan licik." jawab Erza.
"Sebentar, kamu ini utusan kerajaan?" tanya Mehdi.
"Bukan, aku pangeran." jawab Erza.
"Pangeran? Apa buktinya kalau kamu pangeran?" tanya Mehdi.
"Apa ya? Nih, aku tunjukin baju kerajaan yang aku punya." kata Erza. Ia mengeluarkan baju kerajaannya dari tasnya.
"Wah, bajunya bercahaya!" kata Adhi.
"Ajaib!" kata Zacki.
"Jangan-jangan, ini harta karun kerajaan!" kata Najmi.
"Tau dari mana?" tanya Mehdi.
"Dari catatan kuno yang ada di sekolah kita dulu. Di situ, ditulis ada harta karun kerajaan yang bisa diambil pas darurat. Letaknya di pulau kosong. Yang bisa ngambil harta itu cuma raja dan keturunannya." kata Najmi.
"Berarti..." kata Mehdi.
"Bener, ini pangeran." kata Najmi.
"Gimana, Karin?" tanya Mehdi.
"Karena niatnya baik, kita ikut aja." jawab Karin.
"Baiklah, kita ikut denganmu." kata Mehdi.
"Hore!" Erza langsung menari tak karuan.
"Makasih, Meh!" kata Erza sambil menyalami Mehdi.
"Sa, sama-sama." kata Mehdi.
"Ayo, kita ke taman kota, biar aku kenalin teman-teman aku yang lainnya." kata Erza.
"Oke." kata Mehdi.
Erza dan teman-temannya, termasuk teman-teman barunya pergi ke taman kota. Di sana, teman-teman Erza sudah berkumpul.
"Eh, Erza datang!" kata Rendy S.
"Wah, dia baru datang!" kata Andri.
"Woi, kalian semua udah lama di sini?" tanya Erza.
"Enggak, baru aja datang." kata Andri.
"Untunglah. Oh, ya, aku dapat teman-teman baru!" kata Erza.
"Siapa tuh?" tanya Andri.
"Nah, kalian semua, silakan berkenalan dengan teman-teman aku." kata Erza. Mehdi dan teman-temannya berkenalan dengan teman-teman Erza.
"Nah, sekarang 'kan udah malam, kita mau nginap di mana?" tanya Andri.
"Oh, iya, ya, aku juga nggak kepikiran." kata Erza.
Muka Andri berubah menjadi kusut.
"Ya udah, di dekat sini ada pondok. Kita bisa nginap di sana." kata Mehdi.
"Gratis?" tanya Oji.
"Ya, nggak lah!" jawab Mehdi.
"Udah, udah, nggak usah ngurus harga nginap! Yang penting kita bisa tidur di tempat yang nyaman! Aku nggak mau tidur di sini! Nanti disangka gembel!" kata Rendy.
"Oke, oke, kita ke pondok." kata Erza dengan muka malas.
Akhirnya, mereka semua menginap di pondok itu. Untungnya harga menginap di sana sangat murah. Jadi, mereka tidak harus tidur di taman kota atau di pinggir jalan. Keinginan Rendy yang ingin tidur di tempat yang nyaman pun terkabul.
Sekarang, Erza telah mengumpulkan 55 orang terpilih. Hanya tinggal 14 orang lagi untuk merebut kembali tahta kerajaan. Perjuangan Erza untuk bisa merebut kembali tahta kerajaan tinggal sedikit lagi. Harapan untuk bisa kembali ke istana semakin besar. Dengan bantuan dari orang-orang terpilih itu, ia yakin bisa menggulingkan Raja Ehud dari singgasananya.
Sementara itu, di kota tempat istana berdiri, keadaannya semakin kacau. Banyak rakyat kelaparan berkeliaran. Anak-anak menderita busung lapar dan gizi buruk. Lahan pertanian kering kerontang. Para penagih pajak dari kerajaan terus mengambil harta para rakyat. Kesejahteraan rakyat sudah tidak ada lagi. Keadilan sudah tidak ditegakkan lagi. Tindak kriminal semakin menjadi-jadi. Sedangkan sang raja dengan enaknya menyantap makan malam yang sangat lezat. Sementara sang ratu yang merupakan ibunya Erza dikurung dan diperlakukan secara tidak manusiawi.
Kini, nasib negeri itu berada pada tangan Erza, sang pangeran yang seharusnya naik ke singgasana menggantikan ayahnya yang wafat. Semakin cepat ia mengumpulkan orang-orang terpilih dan berlian khusus, semakin cepat pula ia bisa mengakhiri penderitaan rakyat.
Komentar
Posting Komentar