25. Kapal Layang
Kapal Layang
Matahari kian meninggi. Mereka semua pergi menuju pinggir pantai untuk melanjutkan perjalanan mereka. Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di pinggir pantai. Mereka semua langsung menaiki burung-burung camar milik mereka yang ada di tempat penginapan. Mereka pun berpamitan dengan pemilik tempat tersebut. Akhirnya, mereka semua pergi meninggalkan pulau tersebut.
“Pulau itu bagus banget, ya?” kata Diyyah.
“Iya.” Timpal Moza.
Sementara itu, Galih dan Yatta sedang memandangi laut yang ada di bawah mereka.
“Liat, Yat! Ada belut laut mutiara!” kata Galih sambil menunjuk belut itu.
“Liat, Galih! Ada naga mutiara!” kata Yatta sambil menunjuk naga itu.
“Liat, Yat! Ada macan laut!” kata Galih sambil menunjuk macan itu.
Tiba-tiba, Hadi ikut mengobrol dengan Galih dan Yatta.
“Liat, ada hiu laut!” kata Hadi sambil menunjuk hiu itu.
“Hadi, yang bener itu ikan hiu. Lagipula, ikan hiu itu banyak. Banyak orang yang pernah liat. Kalau yang...” kata Galih.
“Galih! Ada merak pelangi!” tunjuk Hadi.
“Mana?” tanya Galih dan Yatta.
“Tuh!” tunjuk Hadi.
Mereka bertiga memandangi burung itu dengan takjub.
“Besar...” kata Hadi.
“Indah...” kata Yatta.
“Warna-warni...” kata Galih.
Tiba-tiba, Rendy S mengagetkan mereka dari belakang.
“Waaa!” teriak Rendy S.
Mereka bertiga terkejut.
“Rendys! Jangan ngagetin kayak gitu! Hampir aja kita jatuh!” kata Yatta.
“Makanya, jangan ngelamun!” kata Rendy S.
“Kita nggak ngelamun.” Kata Yatta.
“Ya udah, jangan ngeliat sesuatu sampai kayak gitu!” kata Rendy S.
“Rendy, yang tadi kita liat itu jarang diliat! Makanya, kita sampai kayak gitu.” Kata Yatta.
“Ah, liat yang jarang diliat. Kalau itu juga aku pernah! Aku pernah liat simpanse laut, merak pelangi, merak api, merak bulu berlian, burung pulau cokelat, burung ini, burung itu, hewan ini, hewan itu. Ah, pokoknya, banyak hewan langka yang udah aku liat!” kata Rendy S.
“Sombong!” kata Yatta kesal.
Tiba-tiba, di samping burung camar yang mereka naiki, muncul burung langka yang sangat besar. Mereka semua terkejut dengan hewan tersebut. Burung itu terbang lebih cepat daripada burung camar mereka. Burung tersebut terbang menuju sebuah karang.
“Ren, yang itu udah pernah kamu liat?” tanya Yatta.
“Belum.” jawab Rendy S.
“Kamu tau itu burung apa?” tanya Yatta.
“Nggak.” jawab Rendy S.
“Itu garuda raksasa. Burung itu jarang muncul.” kata Yatta.
“Tunggu, katanya kamu udah pernah liat banyak hewan langka? Kok, burung kayak gitu aja kamu nggak tau. Harusnya, kamu tau. Kamu ‘kan penjelajah.” kata Yatta.
“Eh, eh, eh...” Rendy S mulai gugup.
“Ayo, katanya udah pernah liat banyak hewan langka.” kata Yatta.
Rendy S tak bisa berkata apa-apa lagi.
“Ah, ketahuan kamu. Makanya, jangan sombong!” kata Yatta.
“Sombong apanya?” tanya Rendy S.
“Ah, jangan ngelak!” kata Yatta.
“Udah, udah! Jangan berisik!” kata Andri.
Mereka pun semakin ribut. Tiba-tiba, Andri membelokkan camar tersebut ke kiri dan ke kanan. Mereka semua pun hampir terjatuh.
“Andri!” kata Fahri.
“Tuh, suruh mereka diam! Gara-gara berisik, aku jadi nggak bisa denger suara katak-katak orkestra!” kata Andri.
“Katak-katak orkestra?” tanya Hadi.
“Nih, kotak kecil yang ada di sebelah aku. Isinya katak-katak orkestra!” kata Andri.
“Emangnya apa bagusnya?” tanya Hadi.
“Ih, masa’ kamu nggak tau, Di? Ini ‘kan katak yang sering dipake buat iringan musik! Lagipula, kamu ‘kan ikut aku beli ini. Masa’ kamu nggak inget?” kata Andri.
“Oh, iya, iya.” Kata Hadi.
Mereka semua langsung diam. Lama kelamaan, suara katak-katak itu mulai terdengar. Suaranya terdengar sangat bagus dan membuat orang bersemangat. Maklum, katak-katak itu sedang menyanyikan lagu yang bersemangat. Semakin lama katak-katak itu bernyanyi semakin keras suaranya. Akhirnya, suara katak-katak itu terdengar sampai ke burung-burung camar yang lain.
“Untung aku beli ini.” Kata Andri dalam hati.
Akhirnya, malam pun tiba. Mereka semua beristirahat di sebuah pulau terpencil. Pagi harinya, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Tanah Langit. Kali ini, mereka menemui banyak rintangan, seperti tebing-tebing tinggi, kabut, hujan, petir, dan badai. Walau begitu, mereka berhasil melewatinya dengan susah payah. Akhirnya, setelah beberapa hari mengarungi langit yang luas, mereka melihat sebuah pelabuhan yang sangat besar dan megah. Banyak kapal-kapal besar dan mewah yang sedang berlabuh di sana. Mereka segera mendekati pelabuhan tersebut.
“Ah, pelabuhan! Kita udah sampai! Hah!” kata Fahri.
“Nah, kita mau turun di mana?” tanya Andri.
“Cari aja tempat kosong!” jawab Fahri.
Akhirnya, mereka semua segera mencari tempat yang cukup sepi untuk mendarat. Mereka menemukan sebuah tempat yang cukup sepi di pelabuhan itu. Mereka segera mendarat dan turun dari burung camar tersebut.
“Akhirnya, kita sampai juga...” kata Rayhan sambil meregangkan tangannya.
“Nah, kalau dari sini, gudang tempat awal penjelajahan itu agak deket.” Kata Fahri.
“Deket?” tanya Erza.
“Iya, tinggal keluar dari pelabuhan ini, terus lewat jalan besar, kalau ada papan petunjuk tulisannya ‘Klub Penjelajah Alam’, ikutin petunjuknya. Lurus terus ngikutin jalan,udah, kita sampai di gudang tempat kumpul mereka.” kata Fahri.
“Ya udah, kita naik ini lagi?” tanya Erza.
“Iya lah! Emang mau naik apa lagi?” tanya Andri.
“Mana bisa camar disuruh jalan? Paling Cuma bentar.” kata Erza.
“Siapa bilang? Ini bisa jalan di darat. Malah, bisa lari!” kata Andri.
“Oh, ya udah. Kita naik ini lagi.” kata Erza.
Mereka semua kembali menaiki camar tersebut dan berjalan menuju tempat itu. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, mereka hanya melihat rerumputan, pohon-pohon kelapa, dan beberapa bangunan saja. Banyak pedagang yang berlalu lalang di jalan itu. Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di gudang klub penjelajah alam. Sesampainya di sana, mereka dicegat oleh petugas keamanan.
“Tunggu, kalian siapa?” tanya petugas keamanan itu.
“Kami diundang untuk ikut penjelajahan.” jawab Fahri.
“Kalian punya suratnya?” tanya petugas keamanan itu.
“Punya.” jawab Fahri sambil menunjukkan surat tersebut.
“Sebentar.” kata petugas keamanan itu. Ia langsung bertanya tentang hal tersebut kepada seseorang yang bekerja di sana. Setelah itu, ia kembali lagi bersama orang itu.
“Silakan masuk.” kata petugas keamanan itu.
Mereka semua langsung masuk ke gudang itu. Sesampainya di gudang itu, mereka langsung disambut oleh seseorang.
“Wah, Fahri, Ammar, Alidza, kalian dateng sama siapa tuh?” tanya orang tersebut.
“Temen baru.” jawab Fahri.
“Wah, makin rame nanti penjelajahannya.” kata orang tersebut.
“Oh, ya, perkenalkan, nama saya Ulwan. Saya kerja di sini. Nah, nanti saya kenalin temen-temen saya yang lain. Ayo kita masuk ke dalem.” kata Ulwan. Mereka pun masuk ke dalam gudang itu.
“Fathur! Iqbal! Arif! Ke sini dulu! Kita kedatangan tamu, nih!” kata Ulwan. Mereka bertiga langsung menemui Ulwan.
“Nah, ini temen-temen saya. Yang ini namanya Fathur. Dia itu jago ngitung. Di sebelahnya Fathur namanya Iqbal. Dia itu jago gambar. Nah, yang paling ujung itu namanya Arif. Dia itu yang ngerakit-rakit. Gitu-gitu juga ngerakitnya cepet lho. Bisa dibilang, Fathur itu bagian perhitungan, Iqbal itu arsitek, dan Arif itu ahli mekanik. Nah, untung kalian ke sininya seminggu sebelum keberangkatan. Jadi, kalian bisa liat-liat proyek yang udah jadi ini.” kata Ulwan.
“Nah, aku mau ngeliatin proyek buat penjelajahan. Kalian semua, ikut aku. Fathur, Iqbal, sama Arif juga boleh ikut.” Kata Ulwan. Mereka semua berjalan menuju sebuah proyek untuk penjelajahan. Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan yang sangat besar. Terdapat berbagai macam peralatan canggih di sana.
“Inilah proyek yang belum pernah ada. KAPAL LAYANG! Bentuk mirip kapal laut. Tapi bisa terbang di langit. Kapal ini dikasih balon udara di atasnya. Biar bisa gerak, di samping kapal dikasih layar. Nah, ayo kita naik ke kapalnya.” Ajak Ulwan.
Mereka semua naik ke kapal itu. Sesampainya di atas kapal itu, mereka semua dibuat takjub dengan desain kapal itu. Kapal itu dibuat dengan ukiran khas daerah itu. Kayu yang dibuat untuk kapal itu terbuat dari kayu yang sangat kuat dan sangat awet. Meriam-meriam yang ada di kapal itu sangat banyak. Kapal itu juga mempunyai senjata rahasia. Selain itu, kapal itu sangat besar. Ukurannya hampir sama dengan kapal pesiar. Mereka pun diajak ke dalam ruangan dalam kapal itu. Mereka pun semakin takjub. Kapal pesiar itu mempunyai banyak kamar, satu dapur, satu ruang makan, satu ruang kumpul, satu perpustakaan, satu gudang, satu tempat penyimpanan, dan satu ruangan rahasia yang menyimpan banyak senjata rahasia.
“Bagus amat...” kata Hadi takjub.
“Iya, dong! Ini tuh mahakaryanya klub ini!” kata Ulwan.
“Apa bisa berlayar di laut?” tanya Deiki.
“Sebenarnya sih bisa. Tapi, itu juga kalau keadaannya darurat. Misalnya, balon udaranya mulai kempis pas di atas laut.” jawab Ulwan.
Akhirnya, mereka pun turun dari kapal itu dengan puas. Mereka tidak sabar untuk segera ikut penjelajahan
dengan menaiki kapal itu. Mereka pun berkeliling di sekitar gudang itu. Setelah itu, mereka mengobrol dengan Ulwan, Iqbal, Fathur, dan Arif. Mereka mengobrol tentang pembuatan kapal itu.
Tak terasa malam pun tiba. Semua orang yang bekerja di sana pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara itu, Erza dan teman-temannya menginap di rumah Ulwan, Iqbal, Fathur, dan Arif. Burung-burung camar mereka disimpan di depan rumah Ulwan. Mereka pun beristirahat untuk melepas lelah setelah beraktivitas di siang hari. Erza dan teman-temannya dan orang-orang klub penjelajah alam masih harus bersabar menunggu seminggu lagi untuk bisa melakukan penjelajahan dengan kapal layang yang revolusioner itu. Sebuah kapal yang akan menjadi terobosan baru bagi teknologi transportasi. Harapannya, di masa yang akan datang, kapal itu akan menjadi kendaraan alternatif yang cepat dan bebas hambatan.
Komentar
Posting Komentar