15. Golok Merah

"TOPLAK, TOPLAK, TOPLAK!" terdengar suara hentakan kaki kuda- kuda yang sedang berjalan menembus gelapnya fajar. Di atas kuda-kuda tersebut, terdapat tiga lelaki yang sedang menunggangi kuda-kuda itu. Mereka bertiga adalah kepala petugas keamanan Kota Pasir Merah bagian timur, daerah yang jarang dihuni oleh penduduk. Daerah itu adalah tempat persembunyian dan markas penjahat-penjahat yang terkenal. Banyak kelompok penjahat yang bersembunyi di sana, sehingga daerah itu menjadi daerah rawan kejahatan. Banyak kejahatan yang terjadi di sana. Mulai dari pembunuhan, penculikan, perampokan, perdagangan hewan dan tumbuhan langka secara ilegal, hingga perdagangan racun-racun terlarang. Karena itu, para petugas keamanan yang ditugaskan di sana bukan sekedar petugas biasa. Mereka yang ditugaskan di sana adalah petugas elit yang berani mati demi menumpas kejahatan. Mereka dipimpin oleh tiga kepala petugas keamanan. Tiga kepala petugas keamanan itu adalah Andri sebagai kepala petugas keamanan pertama atau bisa dibilang kepala yang paling tinggi, Hadi sebagai petugas keamanan kedua dibawah Andri, dan Oji sebagai petugas keamanan ketiga dibawah Hadi. Merekalah pemimpin petugas keamanan bagian timur.

Ketika mereka sedang berkuda melewati jalan raya yang sepi, tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan. Mereka pun mendekatinya lalu turun dari kuda.

"Ini apaan? Kok baunya busuk amat?" tanya Andri sambil menutup hidungnya.

"Aku juga nggak tahu." kata Oji.

"Coba nyalain lampu lenteranya." kata Hadi.

"Sok, kamu yang nyalain, di." kata Andri.

"Kamu nyuruh aku, Andri?" tanya Oji.

"Bukan kamu, Ji. Tapi Hadi." kata Andri.

"Kamu nyuruh aku, Andri?" tanya Hadi.

Muka Andri terlihat cemberut.

"Iya, Hadi!" kata Andri.

"Oke, oke." kata Hadi.

Hadi pun menyalakan lampu lentera. Setelah lampu lentera menyala, Hadi mendekatkan lampu tersebut ke sesuatu yang ada di depannya. Ketika didekatkan, mereka semua terkejut.

"Wah, mayat!" Andri terkejut.

"Parah amat!" kata Oji.

"Kayaknya dibunuh deh." kata Hadi.

"Ya, iyalah! Emangnya diapain lagi!?" kata Andri.

"Bisa aja bunuh diri." kata Hadi.

"Oh, iya, ya. Ada pisaunya lagi." kata Andri.

Andri pun memeriksa mayat tersebut.

"Kayaknya, dia mati gara-gara keracunan, ditusuk, ama dicekik." kata Andri.

"Ya gitu?" tanya Hadi.

"Sok, kamu periksa." kata Andri.

Hadi pun memeriksa kembali mayat tersebut.

"Iya, ya." kata Hadi.

"Udah, daripada gitu, kita langsung bawa ke markas buat diperiksa lagi." kata Andri.

"Eh, tunggu. Di gagangnya kayak ada tulisan gitu." kata Hadi.

"Apaan?" tanya Andri.

"Bentar." kata Hadi.

Hadi pun mengamati gagang pisau tersebut dan dugaannya benar. Di gagang pisau tersebut terdapat tulisan yang samar-samar. Hadi berusaha membaca tulisan tersebut.

"JOHN "BREWOK", PEMBUNUH. GOLOK MERAH BERJAYA SELAMANYA." Hadi membaca tulisan itu dengan pelan-pelan.

"Apa? Golok Merah?" Andri tidak percaya.

"Ya, Golok Merah." kata Hadi.

"Golok Merah itu 'kan kelompok penculik yang terkenal itu?" kata Oji.

"Emang." kata Hadi.

"Berarti, nggak mungkin mereka teledor sampai kelupaan nyabut pisau ini. Pasti mereka udah tau kita bakal nemuin ini." kata Andri.

"Terus, apa maksudnya ini?" tanya Oji.

"Aku juga nggak tau. Kayaknya, mereka sengaja ngajak kita buat tarungan langsung." kata Andri.

"Ya udah, kita bawa aja dulu mayatnya ke markas buat diperiksa." kata Oji.

"Bener juga. Ayo, kita bawa ke markas." kata Andri.

"Ayo." kata Oji.

Mereka pun membawa mayat tersebut ke markas mereka.

Matahari pun mulai muncul. Sinarnya mulai menyinari dunia, termasuk Kota Pasir Merah.

"Korokokok, kooook!" seekor hewan berkokok.

Fahri pun bangun dan membuka jendela. Ia melihat seekor hewan yang asing baginya.

"Bil, tadi itu suara apa?" tanya Fahri.

"Itu suara ayam melodi. Setiap harinya, kokokannya pasti beda terus." kata Nabil.

"Enak buat dimakan, nggak?" tanya Fahri.

"Ah, masih enakan ayam pasir merah daripada ayam yang itu." jawab Nabil.

"Ayam pasir merah tuh apaan, sih?" tanya Fahri.

"Ayam sini, lah! Ayamnya gede-gede, bisa terbang, suaranya lebih gede." jawab Nabil.

"Yang itu bukan?" tanya Fahri sambil menunjuk seekor burung yang sedang terbang.

"Bukan, itu camar balon. Dia bisa ngapung sama bisa terbang." jawab Nabil.

"Banyak amat makhluk aneh di sini!" gerutu Fahri.

"Masih mending yang tadi itu. Kalau yang itu lebih parah!" kata Nabil sambil menunjuk seekor kodok.

"Apaan itu? Banyak amat lendirnya. Gede lagi." tanya Fahri.

"Itu kodok gua tawar. Gedenya malah bisa segede serigala. Dia suka jilat-jilat semua yang ada di depannya. Lendirnya itu yang bikin kotor kota. Sampai-sampai, petugas keamanan harus nembakin kodok itu biar kabur ke sarangnya lagi." kata Nabil.

"Liat, petugas keamanan nembak-nembakin kodok itu." kata Nabil sambil menunjuk seekor kodok yang sedang ditembak.

"Wah, parah." kata Fahri.

"Emang." kata Nabil.

Yatta pun keluar dari pondoknya.

"Eh, Yat! Ternyata kamu udah bangun." kata Nabil.

"Udah sejak kapan." kata Yatta

Ia pun berjalan ke pondok Nabil. Tetapi, ketika ia akan berjalan, ia menginjak sesuatu. Ia pun melihat ke bawah.

"Surat?" tanya Yatta keheranan.

Ia pun membaca surat tersebut.

Kawan Lamaku
Yatta
Di mana saja

      Salam hangat

     Halo, apa kabar kawan lamaku? Apa kamu sehat-sehat saja? Ataukah kamu sedang terbaring lemas di ranjangmu yang empuk itu? Hahaha, kami di sini baik-baik saja.
     Kamu tau 'kan? Sepupumu sedang ada di tangan kami. Kami pun berbaik hati dengan merawatnya selama ia ada di tangan kami. Kawan lamaku, kami tidak akan berbaik hati lagi. Kami akan segera membunuh sepupu kamu! Kamu mengerti? Sepupu kamu akan dibunuh! Kalau ingin sepupumu selamat, serahkan berlian biru yang kamu punya! Kudengar, kamu mempunyai berlian biru yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Nah, kalau mau ketemu sepupu kamu, serahkan berlian biru itu! Ingat, serahkan berlian tersebut di gedung bekas pabrik senjata yang ada di bagian timur kota ini! Kamu cuma boleh bawa beberapa teman kamu aja!
     Sekian surat dari kami. Terima kasih sudah memberikan sepupu kamu sebagai korban kami. Senang bertemu dengan kamu lagi! Sampai jumpa di gedung bekas pabrik senjata! Dadah!

                                    Salam hangat


                                        Kelompok "Golok Merah"

Yatta langsung geram. Dirobeknya surat tersebut. Ia pun langsung menyuruh semua temannya untuk bersiap-siap pergi ke tempat sepupunya diculik.

"Woi! Semuanya! Cepat beres-beresin senjata yang mau kalian bawa! Kita akan nyelamatin sepupu aku sekarang juga!" perintah Yatta.

Setelah mereka melakukan persiapan, mereka langsung menaiki gerobak mereka dan pergi ke pondok tempat tinggal Ayang, Diyyah, dan Dede. Karena terburu-buru, Yatta dan Deiki yang menjadi kusir memacu kuda mereka dengan sangat cepat. Sampai-sampai mereka hampir menabrak semua orang yang sedang menyebrangi jalan. Akhirnya, dengan teburu-buru mereka sampai di pondok tempat tinggal Ayang, Diyyah, dan Dede. Yatta langsung turun dari gerobaknya dan segera menyuruh mereka bertiga untuk bersiap-siap pergi ke tempat sepupunya diculik. Untungnya mereka bertiga ada di depan pondok. Jadi, Yatta dapat menyuruh mereka lebih cepat. Setelah mereka bertiga melakukan persiapan, mereka bertiga langsung menaiki gerobak Yatta. Yatta pun langsung menaiki gerobaknya. Ia dan Deiki langsung memacu kudanya menuju gedung bekas pabrik senjata di bagian timur kota itu.

Akhirnya, setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka sampai di jalan raya bagian timur kota itu. Karena sepi, Yatta dan Deiki memacu kuda mereka secepat-cepatnya. Ketika gerobak mereka sedang melaju secepat-cepatnya, mereka dicegat oleh tiga petugas keamanan.

"Tunggu!" kata mereka.

Gerobak Yatta dan Deiki langsung berhenti.

"Kalian mau ngapain?" tanya salah satu di antara mereka.

Erza menoleh ke belakang. Ia melihat tiga orang petugas keamanan yang memakai syal biru bergambar cermin bersayap.

"Ah..." kata Erza.

"Kenapa?" tanya Rayhan.

"Mereka..." kata Erza.

"Apa?" tanya Rayhan.

"Itu..." tunjuk Erza.

"Oh, ya." kata Rayhan.

"Mereka termasuk orang-orang terpilih!" kata Erza.

"Berarti, bisa nambah lagi, nih!" kata Rayhan.

Mereka berdua terlihat senang.

"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya seorang petugas keamanan sambil menunjuk Erza dan Rayhan.

"Aku juga nggak tahu." jawab temannya.

"Oh, ya, ngapain kalian ke sini?" tanya petugas keamanan tersebut kepada Yatta.

"Kami mau nyelamatin sepupu aku." jawab Yatta.

"Emangnya sepupu kamu kenapa?" tanya petugas keamanan.

"Sepupu aku diculik." jawab Yatta.

"Hah? Diculik?" tanya petugas keamanan.

"Ya, diculik." jawab Yatta.

"Tunggu, harusnya dari kemarin kamu bilang ke petugas keamanan, dong!" kata petugas keamanan.

"Habis, kata mereka, aku nggak boleh lapor ke petugas keamanan." kata Yatta.

"Oh, yang itu jangan dianggap. Laporin aja harusnya. Mereka ngomong gitu cuma buat ngancam doang!" kata petugas keamanan.

"Oh, ya, sepupu kalian diculik ama siapa?" tanya petugas keamanan.

"Kelompok 'Golok Merah'." jawab Yatta.

"Apa? Golok Merah!?" tanya petugas keamanan.

"Ya." jawab Yatta.

"Berarti, mayat tadi pagi itu dibunuh sama kelompok itu!" kata petugas keamanan kepada temannya.

"Wah, bahaya kalau mereka pergi ke sana!" kata temannya.

"Ya udah, kita ikut aja sama mereka." kata petugas keamanan.

"Oh, ya, sepupu kalian ada di mana?" tanya petugas keamanan.

"Ada di bekas pabrik senjata." jawab Yatta.

"Kalau gitu, kami ikut. Kami mau nangkep mereka!" kata petugas keamanan.

"Tapi..." kata Yatta.

"Udah, nggak apa-apa. Kalau sama kami, kalian aman." kata petugas keamanan.

"Makasih." kata Yatta.

"Sama-sama." kata petugas keamanan tersebut.

"Oh, ya, kalian siapa?" tanya petugas keamanan tersebut.

"Saya Yatta. Ini teman-teman saya. Ini Nabil, yang ini Rendy, yang ini Ayang, yang ini Diyyah, yang ini Dede, yang ini Fahri, yang ini Galih, yang ini Ammar, yang ini Fabian, yang ini Alidza, yang ini Rayhan, yang ini Erza, dan yang ini Deiki." Yatta memperkenalkan semua temannya kepada petugas keamanan tersebut.

"Saya Andri, yang ada di belakang saya adalah teman-teman saya. Ini Oji dan ini Hadi. Kami bertiga adalah kepala petugas keamanan di sini." kata Andri.

"Kalau gitu, kita langsung aja pergi ke sana." kata Yatta.

Mereka semua pergi menuju gedung bekas pabrik senjata, tempat sepupunya Yatta diculik.

"Oh, ya, siapa nama sepupu kamu yang diculik?" tanya Andri.

"Moza." jawab Yatta.

Akhirnya, mereka sampai di gedung bekas pabrik senjata. Mereka semua turun dari gerobak dan masuk ke gedung tersebut dengan perlahan-lahan. Tetapi, ketika mereka akan masuk, mereka langsung dikejutkan oleh sang pemimpin kelompok tersebut.

"Selamat datang, Yatta." kata sang pemimpin kelompok tersebut.

Ia melihat petugas keamanan yang ikut dengan Yatta.

"Oh, ternyata ada petugas keamanan juga, ya? Apakah kalian menemukan mayat yang tergeletak di pinggir jalan?" tanya sang pemimpin.

"Ya. Apakah nama anda John 'Brewok'?" tanya Andri.

"Wah, anda ternyata tahu juga. Ternyata petugas-petugas di sini memang hebat." puji sang pemimpin.

"Woi, turun coy!" kata sang pemimpin.

Turunlah semua anggota kelompok tersebut. Kelompok tersebut mempunyai 10 anggota. Ada dua perempuan dan delapan laki-laki. Mereka semua memiliki keahlian tersendiri.

"Sepertinya, persyaratan yang tertulis dalam surat tidak berlaku lagi. Sekarang, lawanlah kami semua. Untuk para anggota, silakan memilih lawan kalian! Hahaha!" kata sang pemimpin.

Para anggota kelompok tersebut langsung mencari lawan mereka masing-masing.

"Sepertinya, kau adalah lawanku." bisik seorang lelaki kepada Galih. Galih pun diseret ke lantai dua gedung tersebut.

"Hahaha!" seorang lelaki yang berbadan besar tertawa. Ia pun memukul Erza hingga ia sampai di lantai dua.

"Orang yang baik." bisik seorang lelaki kepada Rayhan. Ia pun melempar Rayhan hingga keluar dari gedung.

"Halo." bisik seorang lelaki kepada Fahri. Hidung Fahri pun ditutup oleh lelaki tersebut dan ia membawa Fahri ke lantai tiga.

"Tangamu kuborgol, ya?" tanya seorang lelaki kepada Alidza. Alidza pun dilempar oleh lelaki tersebut hingga ke lantai tiga.

"Belum pernah melihat tendangan seperti ini?" tanya seorang lelaki kepada Deiki. Deiki pun ditendang oleh lelaki tersebut hingga ke bagian belakang gedung.

"Bisa bermain musik?" tanya seorang lelaki kepada Nabil. Lelaki tersebut langsung meniup terompetnya. Dengan seketika, Nabil pun terhempas hingga keluar dari gedung.

"Mau merasakan sensasi berputar-putar?" tanya seorang lelaki kepada Rendy. Lelaki tersebut langsung memutar badan Rendy. Rendy pun terhempas hingga ke bagian belakang gedung.

"Mari kita bertarung." bisik seorang perempuan kepada Ayang. Ayang pun didorong hingga keluar dari gedung.

"Salam kenal!" kata seorang perempuan kepada Dede. Dede langsung dipukul hingga terhempas keluar dari gedung.

"Yatta, kau adalah lawanku!" kata sang pemimpin kepada Yatta.

"Hadapilah aku!" tantang sang pemimpin kepada Yatta.

Yatta langsung mengeluarkan pedang racunnya. Ia sudah siap untuk bertarung. Ia akan bertarung sekuat tenaga demi menyelamatkan sepupunya.

"Moza, bersabarlah. Aku pasti akan menyelamatkanmu!" kata Yatta dalam hati.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya