34. Kejar! Lari! Potong Jalan!

Kejar! Lari! Potong Jalan!

"Lihat! Erza dan teman-temannya mulai jalan!" kata Randi yang sedang membaca peta.

"Mereka ke arah mana!?" tanya Fredderson.

"Dari arahnya, sepertinya mereka akan pergi ke Kota Miracle!" jawab Randi.

"Oke! Semuanya, kita kejar mereka!" kata Fredderson.

Mereka semua langsung mengemas barang-barang mereka. Setelah itu, Fredderson memanggil burung elang raksasa peliharaannya. Mereka pun menaiki burung itu dan mengejar Erza dan teman-temannya.

Sementara itu, Erza dan teman-temannya sudah berjalan cukup jauh dari Kota Jambalroti. Untungnya Dhea punya keahlian memanggil tikus badak raksasa yang selalu bersembunyi di bawah tanah. Dengan begitu, mereka akan cepat sampai di Kota Miracle.

"Ayo! Tikus besar! Lebih cepat lagi!" teriak Dhea yang mengendarai tikus itu. Tikus itu berlari semakin kencang. Larinya bagaikan membelah angin. Semakin lama kecepatan tikus itu semakin cepat. Saking cepatnya, tikus itu merusak hutan dan sawah. Dengan tidak peduli, Dhea terus mengendarai tikus itu. Sampai suatu saat, tikus itu berhenti dengan sendirinya.

"Hei, tikus jelek! Ngapain kamu berhenti? Jalan!" kata Dhea. Tikus itu tetap tidak berjalan.

"Tikus jelek!" Dhea menginjak tikus itu. Namun, tikus itu tetap diam.

"Tikus itu tidak akan jalan sampai aku ikut sama kalian." kata seseorang.

"Siapa itu?" tanya Dhea.

"Coba lihat ke bawah." kata orang itu.

Erza, Dhea, dan teman-teman mereka melihat ke bawah.

"Tunggu, kayaknya aku pernah liat." kata Erza.

"Sama." kata Rayhan.

Orang itu menoleh ke arah Erza dan Rayhan.

"Tunggu dulu, kalian berdua itu... ah! Kalian berdua penyiksa saya! Turun kalian! Dasar jahannam! Masa' saya diiket terus ditaruh di bawah gerobak!? Udah gitu kalian ninggalin saya dengan gerobak kalian!? Dasar makhluk jahannam!" teriak orang itu.

"Oh, jangan-jangan..." kata Erza.

"Ya! Aku mantan gerombolan yang dulu kalian lawan!" kata orang itu.

"Ya, ya, kalem dong. Kalem." kata Erza.

"Berisik!" teriak orang itu. Erza dan Rayhan langsung terdiam.

"Hehehe, jangan gitu, dong! Cuma bercanda." kata orang itu.

Erza dan teman-temannya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Hei, kalian kenapa?" tanya orang itu.

"Garing!" kata Andri.

"Kacang, kacang!" kata Fany.

"Ketawa jangan?" tanya Ivan.

Orang itu hanya bisa terdiam. Mukanya sangat masam. Seperti buah mangga muda.

"Ya udah, saya mau ikut ke Kota Miracle." kata orang itu.

"Oh, tidak bisa." kata Dhea.

"Ya udah." orang itu menggulingkan tikus itu dengan tali yang diikat di kaki tikus itu. Erza dan teman-temannya langsung terjatuh.

"Mau digulingin lagi?" tanya orang itu.

"Ampun, ampun, jangan digulingin lagi. Silakan kalau mau naik." kata Dhea.

Orang itu segera membangunkan tikus itu. Erza dan teman-temannya dan orang itu naik ke tikus itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan, orang itu bercerita kepada Erza dan teman-temannya. Ia bernama Jhonny. Dulu, ia adalah anggota sebuah gerombolan penjahat. Ia sudah melakukan kejahatan di berbagai tempat. Namun, ia harus menerima nasib sial. Ia berhasil dikalahkan Erza dan Rayhan. Ia diikat dan ditaruh di bawah gerobak. Ia terus diikat dan ditaruh di bawah gerobak. Ia pun hampir pingsan karena diikat. Maklum, ia tidak diberi makan dan minum. Ia ingin berteriak, tetapi mulutnya ditutup. Akhirnya, ia dibebaskan oleh seorang nelayan yang sedang lewat di depan bangunan bekas pabrik senjata, tempat Erza dan teman-temannya menyelamatkan Moza yang diculik. Ia pun dibawa ke rumah nelayan itu. Di sana, ia sering dinasehati oleh nelayan itu. Lama-kelamaan, ia berubah menjadi orang yang baik. Ia pun memutuskan untuk menjadi pengelana yang terus mencari ilmu ke berbagai tempat. Ia berpamitan dengan nelayan itu dan pergi berkelana.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, mereka tidak menyadari ada yang mengikuti mereka dari kejauhan. Mereka adalah The Secret Five, lima orang kepercayaan Raja Ehud. Sekarang, mereka sudah cukup dekat dengan Erza dan teman-temannya. Namun, mereka menjaga jarak agar tidak diketahui oleh Erza dan teman-temannya.

"Nah, kalau sekarang tinggal dibunuh aja, 'kan?" kata Van Porter.

"Jangan dulu. Kita harus agak jauhan dikit." kata Fredderson.

"Fred! Kamu ini kayak pembunuh misterius aja! Padahal kamu cuma tukang besi doang!" kata Van Porter.

"Eits, gini-gini aku ini jagonya pedang tau!" kata Fredderson.

"Sombong!" kata Van Porter.

Tikus yang dinaiki Erza dan teman-temannya semakin menjauh.

"Nah, sekarang saatnya!" kata Fredderson.

Aldric langsung memberikan cairan peledak kepada Van Porter. Lalu, Van Porter mengikatnya ke sebuah panah. Ia pun mengarahkan panah itu ke tikus itu. Kemudian, dilepaslah anak panah itu.

"Erza! Ada panah!" teriak Moza.

"Tenang." kata Andri.

"Api Garuda!" Andri mengeluarkan jurus semburan apinya. Api itu langsung membakar panah itu. Lalu, meledaklah cairan peledak yang ada di panah itu.

"Cih, gagal!" kata Van Porter dengan kesal.

"Sini, giliran saya yang beraksi." kata Tauma.

Tauma menyuruh Randi yang sedang mengendarai burung agar mendekati tikus itu. Setelah cukup dekat, ia mengeluarkan jurus andalannya.

"Stop Heart!" Tauma mengarahkan jurus itu kepada Rayhan. Tiba-tiba, jantung Rayhan berhenti. Ia pun merasakan penderitaan yang luar biasa. Namun, ia menyadari bahwa ia sedang diserang oleh seorang dukun. Dengan jurus penglihatan tingkat tinggi, ia mendeteksi dukun yang menyerangnya. Akhirnya, Tauma diketahui oleh Rayhan. Dengan kemampuan rahasianya, Rayhan memantulkan serangan itu kepada Tauma. Tauma menangkis serangan itu.

"Woi, kita mundur. Kita harus menyerangnya dari jauh." kata Fredderson.

"Tidak usah! Biar saya yang menyerangnya." kata Randi.

Randi menyerahkan kendali kepada Fredderson. Ia langsung mengeluarkan senjata-senjata aneh dari dalam tasnya. Senjata itu berbentuk meriam-meriam kecil yang disatukan. Ia mengisinya dengan peluru-peluru. Lalu, ia tembakkan ke arah tikus itu. Erza dan teman-temannya diserang dengan peluru bertubi-tubi. Dhea langsung mempecepat lari tikus itu. Tikus itu semakin kencang larinya. Namun, The Secret Five masih bisa mengejarnya. Mereka semakin mendekati Erza dan teman-temannya. Di saat seperti itu, Dhea memakai cara terakhir yang sangat ampuh.

"Tikus! Masuk ke tanah!" kata Dhea.

Tikus itu langsung masuk ke tanah. Agar tidak ketahuan, Alidza menembakkan bom racun ke mulut lubang.

"Makasih." kata Dhea.

"Sama-sama." kata Alidza.

Sementara itu, The Secret Five yang mengejar mereka sudah tertinggal jauh.

"Bangsat! Mereka sudah terlalu jauh!" kata Aldric.

"Sudah. Kita kejar lagi." kata Fredderson.

Mereka kembali mengejar Erza dan teman-temannya. Agar bisa mengejar mereka, Fredderson mempercepat laju burungnya.

Sementara itu, Erza dan teman-temannya sedang berada di dalam tanah. Mereka melewati bawah tanah untuk menghindari The Secret Five.

"Ayo tikus bau! Lebih cepat lagi!" kata Dhea sambil menenendang tikus itu. Tikus itu berlari semakin cepat. Erza dan teman-temannya merasakan sensasi yang luar biasa. Mereka bagai terbawa angin.

"Lebih cepat lagi, tikus!" kata Dhea sambil menendang tikus itu. Tikus itu berlari lebih cepat lagi. Erza dan teman-temannya hampir terjatuh dari tikus itu. Untungnya, mereka semua berpegangan pada tikus itu.

Akhirnya, setelah mereka melakukan perjalanan yang sangat lama, mereka beristirahat di dalam tanah. Mereka membuat lubang agar bisa bernafas. Setelah itu, mereka makan dan langsung tidur.

Matahari terbit kembali. Cahayanya masuk ke dalam lubang itu. Erza dan teman-temannya langsung terbangun. Mereka langsung makan dan mengemas barang-barang mereka. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, Aldric sedang mengamati peta untuk melihat pergerakan Erza dan teman-temannya.

"Fred! Mereka gerak!" teriak Aldric yang sedang mengamati peta.

"Oke, kalau gitu, kita kejar mereka!" kata Fredderson.

Fredderson dan rekan-rekannya langsung mengemas barang-barang mereka dan pergi mengejar Erza dan teman-temannya.

Erza dan teman-temannya sudah langsung bergerak lebih cepat daripada yang mengejar mereka. Dhea, sang kusir, langsung mempercepat lari tikus itu. Hanya dalam waktu beberapa detik, kecepatannya sudah menyamai mobil balap.

"Ayo! Lebih cepat lagi, tikus bau!" teriak Dhea. Tikus itu berlari semakin cepat.

"Lebih cepat lagi!" teriak Rendy S.

"Ya! Lebih cepat lagi!" teriak Damar.

"Sampai kecepatan dewa!" teriak Rendy.

"Oke!" kata Dhea. Ia menendang tikus itu berkali-kali.

"Ayo tikus sialan! Larinya lebih cepat lagi!" teriaknya. Tikus itu berlari sangat kencang. Erza dan teman-temannya berpegangan pada tikus itu agar tidak terjatuh. 

"Yeah! Ini baru kecepatan dewa!" teriak Damar.

"Innalillahi..." kata Alidza.

"Kenapa, Dza?" tanya Fahri.

"Pusing." jawab Alidza.

"Tahan aja, Dza." kata Fahri.

"Ya, Alidza payah! Yang kayak gini aja nggak tahan!" kata Galih. Alidza tidak menanggapi perkataan Galih.

Sementara itu, The Secret Five masih tertinggal jauh dari mereka. Randi yang menjadi kusir terus mempercepat laju burung itu. Namun, mereka tetap saja tertinggal jauh.

"Sialan! Mereka terlalu cepat!" kata Randi.

Mendengar perkataan itu, Van Porter langsung mengikatkan dua buah roket petasan ke sayap burung itu. Setelah itu, ia langsung menyalakan sumbunya. Sumbu pun terbakar dan "BUUM!" petasan pun menyala. Burung itu terbang semakin cepat. Merasa masih lambat, Van Porter menambah satu roket petasan di perut burung itu. Ia langsung menyalakan sumbunya. Petasan itu langsung menyala. Burung itu pun mempunyai kecepatan tambahan, yaitu tiga buah roket petasan yang diikat di tubuhnya.

Lama-kelamaan, mereka semua sudah cukup dekat dengan Erza dan teman-temannya. Namun, ketika mereka melihat menggunakan teropong, mereka tidak melihat Erza dan teman-temannya ada di depan mereka. Mereka pun melihat ke sekeliling mereka. Namun, mereka tetap tidak melihatnya.

"Wah, sialan! Mereka nggak ada di mana-mana. Apa peta ini salah, ya?" kata Aldric.

"Tidak, peta itu tidak salah. Mungkin mereka ada di dalam tanah atau pakai cairan penghilang." kata Fredderson.

"Tau dari mana?" tanya Aldric.

"Menurut perkiraan aja. Habis, kalau nggak ada di udara sama di darat, mereka ada di mana lagi?" kata Fredderson.

"Oh, ya, ya." kata Aldric. Mereka tetap mengejar Erza dan teman-temannya.

Malam pun tiba. Seperti malam sebelumnya, Erza dan teman-temannya beristirahat dan membuat lubang untuk udara. Saat pagi tiba, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Ketika mereka mulai melanjutkan perjalanan, The Secret Five sudah ada di atas mereka. Tanpa basa-basi, mereka menjatuhkan sesuatu ke tanah. Tanah pun bergetar. Erza dan teman-temannya pun ikut bergetar. Tiba-tiba, di belakang mereka terdapat gergaji panjang yang terbakar. Mereka semua ketakutan. Dhea segera mempercepat tikus yang dinaiki mereka. Namun, di depannya terdapat gergaji yang sama pula dengan yang ada di belakang mereka. Dhea segera membelokkan tikusnya dan mempercepatnya sekencang mungkin. Walaupun begitu, mereka terus dijatuhi berbagai senjata dari atas. Mereka terus menghindar dan menangkis senjata itu. Akan tetapi, senjata itu terus berjatuhan bagai hujan. Dhea terus mempercepat tikusnya. Tikus itu sudah sangat cepat larinya. Akhirnya, lama-kelamaan mereka berhasil menjauhi The Secret Five.

"Berengsek! Mereka sudah jauh lagi!" kata Aldric.

"Ya sudah, kita biarkan mereka menjauhi kita. Saat mereka sampai di Kota Miracle, mereka akan menerima kejutan. Saat itu, kita akan ikut mengejutkan mereka." kata Fredderson.

Akhirnya, mereka sudah menjauh dari The Secret Five. Mereka tidak dijatuhi senjata lagi. Dhea langsung mempercepat tikusnya secepat mungkin. Setelah mereka ada di dalam tanah dalam waktu yang lama, Dhea menyuruh tikusnya untuk meloncat keluar dari dalam tanah.

"Loncat!" kata Dhea. Tikus itu meloncat keluar. Akhirnya, mereka keluar dari dalam tanah pada malam hari. Mereka juga meloncati benteng Kota Miracle. Akhirnya, mereka sampai di Kota Miracle.

"Akhirnya..." kata Dhea yang sudah kelelahan.

Baru saja mereka sampai di sana, mereka langsung dikepung oleh prajurit-prajurit yang ada di kota itu.

"Jangan bergerak, penyusup!" teriak salah seorang prajurit.

"Wah, gawat..." bisik Dhea.

Tiba-tiba, di belakang mereka berdiri orang-orang yang mengejar mereka, The Secret Five.

"Halo, Erza." kata Fredderson.

Erza kaget setengah mati ketika melihat kelima orang itu. Kini, mereka sudah terkepung. Di depan, kiri, dan kanan mereka terdapat prajurit-prajurit yang akan menyerang mereka. Ditambah dengan The Secret Five di belakang mereka yang akan menghabisi mereka. Mau tidak mau, mereka harus menyerang jika tidak mau ditangkap.

Inilah awal pertempuran Erza dan teman-temannya di Kota Miracle, tempat Raja Ehud memerintah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya