8. Kebaikan Rayhan
Akhirnya Erza sampai di Kota Harapan. Ia beruntung karena dapat tumpangan untuk sampai ke kota itu. Karena itu, ia masih mempunyai cukup banyak perbekalan. Sesampainya di kota itu, ia tak tahu apa yang akan ia lakukan terlebih dahulu. Apakah ia akan mencari penginapan? Tidak. Membeli sesuatu? Tidak. Uang juga ia tidak punya. Akhirnya ia berpikir dahulu. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk mencari Rayhan, seorang penasehat rakyat.
Untuk mencarinya, Erza bertanya kepada orang - orang di kota itu.
"Permisi, anda kenal Rayhan?" tanya Erza kepada seorang pedagang.
"Rayhan? Tidak." jawab pedagang itu.
"Bukannya anda penduduk kota ini?" tanya Erza kembali.
"Bukan, saya bukan penduduk kota ini. Saya kaum pendatang dari desa. Semua pedagang di pasar ini adalah kaum pendatang." jawab pedagang itu.
"Kenapa bisa?" tanya Erza.
"'Kan namanya juga Pasar Pendatang. Semua pedagang di pasar ini adalah kaum pendatang. Barang yang dijual juga berasal dari daerah asal pedagang." jawab pedagang itu.
"Oh, jadi pasar ini namanya Pasar Pedagang." kata Erza.
"Emang kamu nggak baca papan di depan tadi?" tanya pedagang itu.
"Emang ada papannya?" Erza bertanya balik.
"Aduh! Ini orang rabun atau apa sih?" tanya pedagang itu sewot.
"Ah, gitu aja sewot!" kata Erza sambil kesal.
"Ya, udah! Saya pergi aja!" kata Erza sambil pergi.
Erza pergi meninggalkan pedagang itu sambil kesal. Saking kesalnya, ia tidak memperhatikan jalan. Sampai - sampai...
"Jdug! Bruk! Gubrak! Glundung... glundung..." ternyata Erza menabrak seorang buruh angkut yang sedang mengangkut kotak yang isinya adalah buah.
"Woi! Liat - liat kalau jalan!" teriak buruh itu.
"Ya, maaf, maaf." kata Erza.
"Maaf, maaf. Ganti rugi!" teriak orang itu lebih keras.
"Aduh, kalem, kalem dong." kata Erza ketakutan.
"GAK! POKOKNYA GANTI!" teriak orang itu lebih keras.
"Ya, saya pungutin satu - satu. Tuh, masih utuh semua 'kan. Enggak ada yang keinjak." kata Erza.
"JANGAN MAIN - MAIN!" teriak orang itu.
Tiba - tiba, datang seseorang dengan mengenakan pakaian serba putih. Orang itu langsung mendekati Erza dan buruh itu.
"Ada apa ribut - ribut?" tanya orang itu.
"Nih, orang ini nabrak saya! Buah yang saya angkut jadi jatuh semua!" kata buruh itu.
"Tapi, saya nggak sengaja." kata Erza.
"Tapi, tetep aja kamu harus ganti!" kata buruh itu.
"Tapi, saya nggak punya uang." kata Erza.
"Tetep aja ganti." kata buruh itu.
"Tapi, saya 'kan nggak punya uang." kata Erza.
"Tetep ganti!"
"Tapi..."
"Ganti!"
"Tapi..."
"Udah, udah, orang ini 'kan tidak punya uang. Lebih baik diikhlaskan." kata orang tersebut.
"Tapi..." kata buruh itu.
"Kita beresin aja buah yang jatuh. Tuh, semuanya masih belum keinjak." kata orang tersebut.
"Ya." kata buruh itu.
Akhirnya, mereka bertiga membereskan buah - buah yang berjatuhan. Setelah selesai, Erza dan buruh itu saling bermaafan. Buruh itu melanjutkan pekerjaannya kembali. Erza yang melihat orang tersebut langsung kaget ketika melihat orang tersebut mengenakan syal biru dengan gambar cermin bersayap.
"Kamu Rayhan?" tanya Erza.
"Ya, kenapa bisa tahu?" tanya Rayhan.
"Saya dengar tentangmu dari seseorang." jawab Erza.
"Terus?" tanya Rayhan.
"Boleh saya menginap di rumahmu?" tanya Erza.
"Untuk apa?" tanya Rayhan.
"Saya hanya seorang pengelana dan tidak punya rumah. Jadi, boleh saya menginap di rumahmu?" tanya Erza.
"Kalau begitu, boleh saja. Kita harus berbagi dengan orang lain yang tidak mampu." kata Rayhan.
"Wah, baik sekali kamu. Makasih ya." kata Erza.
"Itu sudah kewajiban bagi orang yang mampu untuk menolong orang yang kurang atau tidak mampu." kata Rayhan.
"Wah, baik amat nih orang! Hehehe, bisa hemat bekal nih!" kata Erza dalam hati.
Mereka pun berjalan menuju rumah Rayhan. Di tengah perjalanan, mereka melihat sesuatu yang menarik, yaitu ayam. Ayam? Apa yang menarik dari ayam? Biasa saja. Tapi, Rayhan dapat ide.
"Kata kamu, duluan ayam atau telur?" tanya Rayhan.
"Telur, lah. Kalau ayam itu lahirnya dari telur." jawab Erza.
"Ah, kata saya, ayam duluan. 'Kan, sebelum telur ada, ayam diciptakan lebih dulu. Kayak manusia aja. Coba, kalau nggak ada ayam, mana ada telur?" kata Rayhan.
"Tapi, kata saya duluan telur." kata Erza.
"Ayam." kata Rayhan.
"Telur."
"Ayam."
"Telur!"
"Ayam!"
"Telur!"
"Ayam!"
"Berisik! Dari tadi telur, ayam, telur, ayam! Nggak lihat orang lagi tidur apa!?" teriak seseorang yang sedang tertidur pulas. Sepertinya, ia benar-benar terganggu dengan suara Erza dan Rayhan yang sangat keras.
"Aduh, maaf." kata Rayhan.
"Hhh!" dengus orang itu. Ia melanjutkan tidurnya kembali.
"Duh, ternyata suara kita keras juga, ya?" kata Rayhan.
"Ya." kata Erza.
Mereka pun berjalan kembali menuju rumah Rayhan. Rumah Rayhan cukup jauh dari tengah kota. Sudah begitu, rumahnya berada di gang, bukan di jalan besar. Pasar yang paling dekat dengan rumahnya adalah Pasar Pendatang. Ia sering berjalan kaki menuju sana. Walau cukup mahal karena barang yang dijual adalah barang dari luar, tetapi ia tetap berbelanja di sana. Ia lebih senang berbelanja di sana daripada harus berbelanja di pasar lain yang lebih jauh. Jika ia ingin pergi ke tengah kota. Ia menaiki grodak, alat transportasi yang ada di kota itu. Sebenarnya, grodak adalah singkatan dari gerobak kuda. Biaya grodak tergantung jaraknya. Jika dekat, biayanya murah. Jika jauh, maka biayanya mahal.
Akhirnya, mereka sampai di rumah Rayhan. Rumahnya cukup kecil, tetapi bersih. Di depan rumahnya terdapat banyak tanaman, baik dalam pot ataupun tidak.
"Kamu suka tanaman?" tanya Erza.
"Ya, karena tanaman membuat rumah menjadi indah. Lagipula, tanaman itu penting bagi lingkungan. Tanpa tanaman, lingkungan akan gersang, tidak ada penyerapan untuk air tanah, dan tidak ada tempat teduh. Pohon juga bisa dijadikan sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan." jelas Rayhan.
"Ternyata kamu peduli juga dengan lingkungan." kata Erza.
"Itu harus, dong!" kata Rayhan.
"Ayo, kita masuk rumah." ajak Rayhan.
Rayhan membuka kunci rumah dan membuka pintu rumah. Ternyata, di bagian dalamnya bersih, rapi, dan indah. Erza sampai kagum melihatnya.
"Kamu rapi juga, ya?" puji Erza.
"Eh, pujian itu bagaikan pedang. Jadi, jangan memuji seperti itu." kata Rayhan.
"Ah, bilang aja malu." kata tetangganya yang sedang melewati rumahnya dan mendengar percakapan itu.
Rayhan tidak menanggapinya.
"Ah, gitu si Rayhan." kata tetangganya sambil pergi.
"Ah, biarin." kata Rayhan.
Rayhan dan Erza masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Erza mengelilingi seisi rumah Rayhan. Ia berpikir, rumah Rayhan melebihi kamarnya di istana. Rumahnya lebih rapi, indah, dan bersih. Walau cukup kecil dibanding kamarnya.
"Gimana?" tanya Rayhan.
"Bagus. Rapi amat sih." puji Erza.
"Kita harus menjaga kebersihan, kerapihan, dan keindahan. Nanti juga hasilnya untuk kita sendiri." kata Rayhan.
Erza masuk ke kamar Rayhan. Di dalamnya banyak buku berjejer dengan rapi. Ia memandangi buku - buku itu.
"Rajin amat sih Rayhan. Dia bener-bener suka baca?" tanya Erza dalam hati.
"Erza, kalau mau tidur, saya udah siapin ruangan untuk kamu tidur." kata Rayhan.
"Di mana?" tanya Erza sambil menghampiri Rayhan.
"Tuh, di sana." tunjuk Rayhan ke sebuah ruangan yang cukup kecil.
Kali ini, ruangan tempat Erza akan tidur lebih rapi dan bersih daripada tempat ia tidur sebelumnya. Kali ini, ia tidak tidur di gudang yang dibersihkan dan dirapikan. Tetapi, ia tidur di sebuah ruangan kosong yang sengaja Rayhan buat jika ada teman yang ingin menginap di rumahnya.
Malam semakin larut. Mereka pun segera menuju tempat tidur mereka untuk beristirahat. Erza sudah memasuki tempat ia tidur. Ia bersyukur bisa tidur di tempat yang nyaman di rumah orang yang ramah dan baik. Kini, ia bernasib baik karena ia bisa bertemu Rayhan di pasar. Bayangkan, jika ia tidak menabrak kuli angkut itu, mungkin ia tidak bisa tidur di rumah Rayhan. Ia berbaring di atas kasur. Matanya yang masih terbuka akhirnya terpejam dengan perlahan - lahan.
Suasana di kota itu terasa sepi. Toko-toko sudah tutup. Pasar-pasar tidak ada yang buka. Orang - orang sudah tertidur lelap. Tidak ada aktivitas sama sekali di kota itu. Sangat sepi. Sepertinya, suasana sepi itulah yang membuat Erza tertidur lelap. Erza pun teringat dengan nyanyian ibunya ketika menidurkan dirinya sewaktu ia masih kecil. Ingatan itu terngiang-ngiang dalam otaknya. Ingatan itulah yang mengiringi tidurnya yang lelap.
Komentar
Posting Komentar