31. Paman Erwin

Paman Erwin

Miracle, ibukota Kerajaan Mirror.

Malam di kota itu benar-benar malam yang tenang. Namun, tenang di kota itu bukan berarti aman. Banyak para pencuri, perampok, dan pembunuh di pinggir jalan. Mereka bersembunyi di balik apa saja yang ada di pinggir jalan. Jika ada seseorang yang sedang berjalan di tengah malam, mereka langsung menyambar orang tersebut. Kejadian ini akan terulang kembali di malam itu.

Pada malam itu, seorang pedagang yang tinggal di kota lain sedang pulang menuju rumahnya. Letak kotanya cukup dekat dengan ibukota. Namun, ia harus melewati ibukota jika ingin pulang ke rumahnya. Sebenarnya, ada jalur lain agar bisa pulang ke rumahnya. Akan tetapi, jalur itu tidak aman. Banyak sekali aksi kejahatan di sana, sehingga ia memutuskan untuk tidak melewatinya.

Malam itu benar-benar sepi. Tidak ada orang yang berkeliaran. Ia berpikir jalanan yang ia lewati benar-benar aman. Ia pun mengendarai kudanya dengan tenang. Malangnya, ia tidak mengetahui bahwa banyak pencuri, perampok, dan pembunuh bersembunyi di pinggir jalan. Ia terus mengendarai kudanya. Tiba-tiba, kepalanya tertusuk panah. Lalu, kepalanya tertusuk panah lagi. Akhirnya, ia pun jatuh dari kuda itu dan tewas seketika. Setelah orang itu meninggal, kuda itu pun ikut tertusuk beberapa panah. Kuda itu pun tewas juga. Setelah kedua-duanya tewas, beberapa orang yang bersembunyi di pinggir jalan langsung mengambil perbekalan dan uang yang dimiliki oleh orang yang tewas itu. Kemudian, mereka membawa kedua mayat itu ke suatu tempat. Di tempat itu, mayat-mayat itu dibuang begitu saja. Setelah itu, mereka pergi dari tempat itu.

Pada malam itu juga, terdapat sebuah rumah yang dihuni oleh beberapa penduduk. Sebenarnya, itu bukan rumah biasa. Melainkan, itu adalah aula bagi para tunawisma dan orang miskin. Aula itu dikelola oleh 12 perempuan yang peduli dengan nasib para penduduk. Dengan sukarela, mereka membeli sebuah aula untuk dijadikan sebagai rumah penampungan para tunawisma dan orang miskin. Setiap hari, para tunawisma dan orang miskin makan dan minum dengan biaya dari ke-12 orang itu. Namun, uang ke-12 orang itu semakin sedikit. Gaji dari pekerjaan mereka pun semakin sedikit. Akhirnya, pada malam itu, mereka memutuskan untuk meminta uang kepada raja. Dua orang dari ke-12 orang itu pun pergi ke istana untuk meminta uang.

Sementara itu, Raja Ehud sedang memikirkan cara menghentikan usaha Erza untuk merebut kembali tahtanya. Kebetulan, pagi tadi ia menerima kabar buruk dari tukang sihir yang sekaligus bawahannya. Ia mengabarkan bahwa Erza masih hidup dan sedang mengumpulkan orang-orang terpilih dan 13 berlian khusus. Ia sudah memantau Erza sejak diasingkan. Ia juga mengatakan Erza ditolong oleh seorang mantan penasehat kerajaan, yaitu Pak Acep. Pak Acep pun langsung ditangkap oleh prajurit kerajaan. Sekarang, Pak Acep sedang ditahan di penjara istana yang ada di bawah tanah.

Di pintu istana, terjadi keributan antara penjaga istana dengan dua penduduk. Penjaga istana itu langsung melaporkannya kepada Raja Ehud.

"Tuan! Ada dua orang pengemis!" lapor penjaga istana.

"Biar saya lihat." kata Raja Ehud.

Raja Ehud langsung mendatangi dua orang itu.

"Hei, raja gendut! Berikan kami uang!" kata salah seorang di antara keduanya.

Raja Ehud tidak berkata apa-apa.

"Hei! Raja tengik! Beri kami uang!" kata temannya.

Belum beberapa detik ia selesai bicara, pedang sang raja sudah berada di depan leher mereka berdua.

"Benarkah kalian mau uang?" tanya Raja Ehud.

"Iya..." jawab mereka berdua.

"Benarkah?" tanya Raja Ehud.

"Iya..." jawab mereka berdua.

"Baiklah, akan kuberi uang. Asalkan kalian mau bekerja sama denganku." kata Raja Ehud sambil memasukkan pedangnya.

"Apa yang harus kami lakukan?" tanya mereka berdua.

"Kalian harus... menangkap Pangeran Erza beserta kawan-kawannya!" kata Raja Ehud.

"Apa!?" mereka berdua terkejut.

"Hoo... kalian berpihak pada penasehat tengik itu, 'kan?" tanya Raja Ehud.

"Tentu!" jawab salah seorang dari mereka berdua.

"Hoo... kalau begitu, kalian tak akan kuberi uang." kata Raja Ehud.

"Raja ini mau ngajak berantem aja!" kedua orang itu langsung mencabut pedangnya. Tanpa berbasa-basi, mereka langsung menyerang Raja Ehud. Akan tetapi, ia langsung mencengkeram kedua pedang yang mereka gunakan. Lalu, ia meremukkan kedua pedang itu. Setelah remuk, ia langsung mencabut pedangnya. Mereka berdua menjadi ketakutan.

"Ampun raja, kami akan melakukan apapun demi raja." kata mereka berdua.

"Apakah kalian akan setia kepadaku?" tanya Raja Ehud.

"Ya, kami akan setia." jawab mereka berdua.

"Benarkah?" tanya Raja Ehud.

"Benar." jawab mereka.

"Baiklah, kuberi kalian peta ini." kata Raja Ehud.

"Untuk apa?" tanya mereka.

"Dengan ini, kalian bisa menemukan Erza dan kawan-kawannya. Kalian masih ingat dengan perintah saya yang tadi?" jawab Raja Ehud.]

Mereka berdua mengangguk.

"Nah, sekarang, ikut saya." kata Raja Ehud. Mereka bertiga menuju sebuah ruangan yang cukup besar. Di sana, seorang tukang sihir sedang membuat ramuan rahasia.

"Rachen! Saya minta bantuan kamu!" kata Raja Ehud.

"Baiklah, anda mau apa?" tanya Rachen, tukang sihir itu.

"Kirim dua orang ini ke tempat Erza berada!" kata Raja Ehud.

"Sebentar, agar tidak terlihat, aku kasih mereka jubah dan tudung khusus." kata Rachen.

Ia memberikan jubah dan tudung khusus itu kepada mereka berdua. Ia juga membekali mereka berdua dengan senjata-senjata aneh. Setelah itu, ia menyuruh mereka berdua berdiri di tengah ruangan itu. Lalu, ia membaca mantra aneh yang tidak bisa dimengerti, bahkan Raja Ehud pun tak mengerti.

"Hwaaa... abrakadabra... xyzxyzxyzxzzzzabsxdffeafewfwefwefwefefefsadfsdfe... verdwijnen!"

Tiba-tiba, kabut putih menyelimuti mereka berdua. Kabut itu semakin menebal. Lalu, WUUSH! Mereka menghilang dari tempat itu.

"Hanya tinggal menunggu sebentar, mereka akan langsung tiba di sana." kata Rachen.

"Terima kasih." kata Raja Ehud.

"Sama-sama." kata Rachen.

Pagi pun tiba. Erza dan teman-temannya sudah bersiap-siap di pelabuhan untuk pergi ke pulau tempat istana berdiri, Pulau Miraculeus. Tujuan mereka sekarang adalah ke Pelabuhan Jambalroti. Akhirnya, kapal yang akan mereka naiki sudah siap untuk berlayar. Mereka menaiki kapal itu. Kapal pun berangkat.

Cuaca pada pagi itu cukup mendung. Sepertinya, langit akan bersedih kembali. Sementara itu, mereka semua tertidur lelap. Tak ada gangguan dari bajak laut sampai sekarang. Akan tetapi, langit semakin penuh dengan awan gelap. Titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Angin mulai bertiup kencang. Namun, kapal itu tetap berlayar. Erza dan teman-temannya tetap saja tertidur lelap. Tanpa mereka sadari, dua utusan raja sudah mengikuti mereka sejak di pelabuhan. Mereka berdua menunggu waktu yang tepat untuk menangkap mereka semua. Jika ingin menangkap mereka semua, mereka harus membajak kapal itu. Namun, mereka tidak bisa mengendalikan kapal. Dengan terpaksa, mereka harus menunggu sampai mendarat di pelabuhan.

Akhirnya, kapal itu pun sampai di Pelabuhan Jambalroti. Walaupun sudah sampai, hujan masih tetap turun. Bahkan, hujan semakin deras. Erza dan teman-temannya keluar dari kapal itu dengan memakai ponco. Dua utusan raja itu mengikuti mereka dari belakang.

Baru saja keluar dari kapal itu, mereka semua langsung mencari tempat berteduh. Kebetulan, mereka menemukan sebuah pondok yang kosong. Mereka langsung berteduh di sana.

"Ah, kita duduk lagi deh." kata Uqi.

"Ya, gimana lagi? Sekarang 'kan lagi hujan." kata Adi.

"Oh, tidak bisa. Hujan gak hujan, yang penting hepi." kata Uqi.

"Apa pula maksud Uqi?" kata Alidza.

Sementara itu, Arif dan Ulwan sedang memetik jamur yang ada di dekat pondok itu.

"Woi, kalian lagi ngapain?" tanya Erza.

"Ngambil jamur." jawab Arif.

"Emangnya bisa dimakan?" tanya Erza.

"Ya bisa lah!" jawab Ulwan.

Mereka berdua melanjutkan memetik jamur sedangkan Erza kembali mengobrol dengan teman-temannya.

Ketika mereka sedang mengobrol, mereka didatangi oleh seseorang yang cukup mirip dengan Raja Ehud. Namun, mukanya terlihat seperti orang yang baik. Ia duduk di pondok itu. Mereka semua sempat memerhatikannya. Lalu, mereka kembali mengobrol. Mereka terus mengobrol tanpa memerhatikan orang itu. Orang itu tetap diam sambil memegang secarik kertas kecil. Erza mulai terheran-heran dengan orang itu. Ia pun langsung bertanya kepada orang itu.

"Maaf, bapak ini siapa?" tanya Erza.

"Bapak, bapak cuma tukang besi biasa." jawabnya.

"Sedang apa bapak di sini." tanya Erza.

"Urusan pribadi." jawabnya.

Erza tidak bertanya lagi. Giliran orang itu bertanya kepadanya.

"Kamu Erza 'kan? Pangeran Kerajaan Mirror?" tanya orang itu.

"Iya. Memangnya ada apa?" tanya Erza.

"Pantas. Dari tadi aku merasa seperti mengenalimu." jawab orang itu.

"Bapak itu siapa sih sebenarnya?" tanya Erza.

"Oh, ya, kamu pernah ketemu saya sebelumnya. Kenalkan, saya adalah adik bapakmu dan kakak Ehud. Saya adalah Pangeran Erwin, paman kamu." jawab orang itu.

"Apa benar bapak adalah pamanku?" tanya Erza.

"Benar. Jika kamu belum percaya, om kasih buktinya." jawab Paman Erwin sambil menunjukkan pakaian kerajaannya yang sudah lama tidak dipakai.

"Tapi, kalau om pangeran, kenapa paman ada di sini?" tanya Erza.

"Dijawabnya di rumah paman aja." kata Paman Erwin.

Hujan pun sudah reda. Erza dan teman-temannya serta Paman Erwin pergi ke rumahnya. Rumah Paman Erwin terletak sangat jauh dari pelabuhan itu. Jika ingin ke rumahnya, mereka harus masuk ke dalam hutan Jambujumbajambi. Di dalam hutan itu, terdapat sebuah desa yang cukup terpencil namun terkenal. Nama desa itu adalah Desa Blacksteel. Desa itu terkenal sebagai tempat pembuatan pedang terbaik. Banyak ksatria yang menggunakan pedang hasil buatan masyarakat desa itu. Pedang dari desa itu terkenal tajam dan kuat. Sehingga, banyak yang membeli pedang di sana. Paman Erwin adalah salah satu pandai besi terbaik di desa itu.

Akhirnya, mereka semua sampai di rumah Paman Erwin. Rumah Paman Erwin cukup kecil. Sehingga, semua teman Erza tidak bisa masuk ke sana. Akhirnya, mereka semua duduk di halaman belakang rumahnya. Paman Erwin menceritakan masa lalu dirinya.

Dulu, Paman Erwin tinggal di istana bersama dua saudaranya, Edric dan Ehud. Ia dan kedua saudaranya dididik oleh seorang guru istana. Guru itu mengajarkan banyak hal kepada mereka bertiga, salah satunya adalah hidup sederhana. Ia begitu ingin menjadi orang sederhana setelah diajarkan oleh gurunya. Ketika dewasa, ia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi dari istana itu dan hidup sederhana. Awalnya, sang ayah tidak mengizinkannya. Akan tetapi, ia terus membujuk ayahnya. Akhirnya, ia diizinkan oleh ayahnya. Sekarang, ia menjadi seorang pandai besi yang sangat mahir. Walaupun sudah keluar dari istana, ia tetap berkirim kabar dengan keluarga di kerajaan. Ia pun mengetahui kabar ayah Erza yang meninggal dan Erza yang diasingkan.

Malam pun tiba. Semua teman-teman Erza menginap di rumah-rumah tetangga Paman Erwin. Beberapa teman Erza dan Erza sendiri menginap di rumah Paman Erwin. Sementara itu, dua utusan raja Ehud masih tetap mengikutinya. Sekarang, mereka sedang beristirahat di tenda yang mereka buat. Malam di desa itu tak berbeda dengan desa lainnya. Sepi, tenang, dan damai. Tidak ada satupun orang yang berkeliaran di malam itu. Erza dan teman-temannya tertidur pulas. Hanya kali ini mereka tidak mempunyai masalah. Hanya kali ini saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya