9. Bayangan Kematian
Suasana Kota Harapan malam itu sangat sepi. Toko-toko sudah tutup. Tidak ada kegiatan jual beli di pasar. Jalanan sepi. Orang-orang sudah tertidur lelap. Di kota itu, hanya petugas keamanan yang masih berkeliling kota untuk memastikan kota itu aman. Walaupun ada orang yang masih beraktivitas pada malam hari, itu hanya pedagang yang baru pulang dari luar kota.
Di tengah malam yang sepi itu, terdapat beberapa orang yang bersembunyi di balik bangunan-bangunan. Mereka bersembunyi dari petugas keamanan yang sedang melakukan patroli malam. Mereka membawa barang-barang berbahaya, seperti pisau, pedang, kapak, dan bahan peledak. Siapakah mereka? Mereka adalah buronan penjahat yang telah menaklukkan berbagai tempat di beberapa kota. Berbagai aktivitas kejahatan mereka lakukan, seperti mencuri, merampok, merampas, menjual barang-barang haram, sampai melakukan aksi terorisme. Mereka sangat ahli dalam bersembunyi. Semua walikota yang pernah disinggahi oleh kawanan itu sampai kewalahan untuk menangkap mereka.
Malam ini, mereka akan merampok sebuah gudang uang milik pemerintah Kota Harapan. Gudang tersebut terletak di pinggir kota tersebut. Letaknya sangat jauh dari gedung pemerintahan. Karena jauh, mereka harus cepat-cepat sampai di sana sebelum pagi menjelang. Supaya tidak diketahui oleh petugas keamanan, mereka mengambil jalan kecil yang sepi. Dengan begitu, mereka bisa sampai di gudang tersebut tanpa diketahui oleh petugas keamanan.
Akhirnya, dengan rencana yang telah mereka buat, mereka berhasil sampai di gudang tersebut. Gudang tersebut menyerupai bunker bawah tanah yang dikelilingi tembok. Selain itu, gudang tersebut terdapat di sebuah hutan yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan dan tentara. Walau begitu, tetap saja mereka berhasil sampai di gudang tersebut dengan cara menggali tanah. Mereka membobol bagian bawah gudang dengan hati-hati. Akhirnya, mereka sampai di dalam gudang uang. Mereka mengambil banyak uang yang terdapat di sana sesuai yang mereka sanggup bawa. Mereka kabur dari gudang tersebut melalui lubang yang telah mereka buat dan pergi ke markas mereka.
Suasana sepi tetap menyelimuti rumah penduduk di kota itu. Belum ada yang mengetahui bahwa gudang uang telah dibobol. Para penduduk tetap tidur dengan pulas.
Pagi harinya, Rayhan bangun dari tidurnya. Setelah itu, ia membangunkan Erza yang masih tertidur lelap.
"Woi, Erza, bangun!" kata Rayhan sambil mengetuk pintu.
"Ya, Rayhan." balas Erza sambil membuka pintu.
"Ya, jam segini masih ngantuk. Masa' gitu? Semangat dong!" kata Rayhan menyemangati Erza.
"Kebiasaan." kata Erza.
"Ya, kebiasaan. Jangan gitu, ayo semangat!" kata Rayhan.
"Ya..." kata Erza malas.
Rayhan langsung menuju kamar mandi untuk mandi. Setelah itu, Erza pun disuruh mandi oleh Rayhan.
"Mandi dulu, za. Habis itu, kita jalan." kata Rayhan.
"Hah, jalan? duh! Malas nih!" kata Erza dalam hati.
Erza tidak pernah berolahraga sebelumnya. Tetapi, seharusnya ia sudah terbiasa karena ia pernah menyusuri hutan, berjalan menyusuri jalan besar, dan berlatih dengan Pak Acep. Mungkin ia sedang ingin tidur lebih lama karena ia sangat lelah. Apa ia benar-benar lelah? Ah, Erza sedang malas, kali! Masa' pangeran bermalas-malasan sih? Nggak bener nih pangeran! Semangat dong! Katanya mau merebut kembali tahta kerajaan.
Akhirnya, mereka berjalan menuju tengah kota. Setiap pagi, di tengah kota ada pasar makanan khas kota itu. Rayhan sering pergi ke pasar itu dengan berjalan kaki agar sehat dan bugar. Selain itu, ia sering ke pasar itu supaya ia tidak repot untuk memasak sarapan pagi. Dasar Rayhan.
Mereka berangkat pada saat matahari belum sepenuhnya muncul. Beberapa penduduk sudah ada yang bangun untuk pergi ke pasar di tengah kota. Pasar itu memang selalu ramai dikunjungi penduduk. Banyak penduduk yang senang pergi ke sana karena harganya yang murah dan selalu ada acara di sana.
Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di pasar itu. Di sana, banyak penduduk yang sedang membeli makanan, berolahraga, duduk-duduk, dan menyaksikan suatu pementasan. Rayhan langsung mengajak Erza ke suatu kios jualan makanan.
"Oh, Rayhan, pelanggan setia. Biasa 'kan? Beli satu?" tanya penjual.
"Nggak pak. Beli dua. Satu lagi untuk teman baru saya." kata Rayhan.
"Oh, gitu." kata penjual.
Penjual itu langsung memasak makanan. Sementara itu, mereka menunggu sambil menyaksikan pementasan yang ada di sana. Saat itulah, datang seorang pegawai pemerintahan membawa sebuah gulungan surat dan dibacakan di tengah kerumunan penduduk.
"Saudara-saudara sekalian, harap tenang!" kata pegawai pemerintahan.
Semua penduduk langsung diam. Semuanya memerhatikan pegawai pemerintahan.
"Ada laporan dari tentara penjaga gudang uang pemerintah. Kemarin malam, gudang uang telah dibobol. Kemungkinan pelakunya adalah buronan penjahat yang terkenal di berbagai kota. Mungkin mereka sedang berada di kota ini. Maka, waspadalah dengan orang-orang yang tak dikenal di kota ini. Sekian." kata pegawai itu.
Semua penduduk mengarahkan pandangannya ke arah Erza. Sepertinya mereka mencurigainya.
"Jangan-jangan, kamu termasuk buronan itu, ya?" tuduh seorang penduduk.
"Ya, jangan-jangan dia." tuduh seorang penduduk lainnya.
"Orang ini menubruk saya kemarin!" kata seorang kuli angkut.
Suasana di pasar itu mendadak ramai kembali. Mereka menuduh Erza sebagai salah satu dari buronan penjahat.
"Ayo kita tangkap orang itu!" teriak seorang penduduk.
Semua penduduk di sana langsung mendekati Erza. Tetapi, dicegah oleh Rayhan.
"Sabar, sabar. Jangan langsung menuduh orang sembarangan." cegah Rayhan.
"Kamu jangan langsung percaya sama orang ini. Bisa aja dia penjahat." kata seseorang.
"Ya, betul. Jangan langsung percaya sama orang yang nggak dikenal." timpal seseorang yang lain.
"Dia itu nggak ada niat jahat. Dia cuma berkelana aja. Saya kemarin ketemu sama dia dan dia bilang dia itu pengelana. Dia juga cuma bawa pedang aja. Itu juga cuma untuk melindungi diri kalau ada sesuatu di jalan." kata Rayhan.
"Ah, bohong!" kata seseorang.
"Woi! Masa' penasehat kita dibilang pembohong! Kalau dia pembohong, harusnya dari dulu kita nggak percaya sama dia!" teriak seseorang.
"Siapa kamu? Kamu mau ngebela orang itu?" tanya seseorang.
"Ya! Kenapa?" orang tersebut bertanya balik. Muka orang tersebut ditampar. Orang tersebut langsung naik pitam. Ia langsung mengajaknya berkelahi.
"Mau berantem? Sini!" tantang orang tersebut.
"Ayo!" jawab orang lain.
Suasana di pasar itu menjadi kacau. Rayhan, Erza, pegawai pemerintahan, dan beberapa penduduk mencoba menenangkan mereka. Tetapi, beberapa penduduk lainnya mengejar Erza. Erza dan Rayhan langsung melarikan diri dari tempat itu. Tetapi, belum beberapa jauh dari tempat itu...
"BLAAAAM!" terdengar suara ledakan dari sebuah bangunan kosong. Bangunan pun terbakar. Penduduk yang semula ribut menjadi diam. Beberapa dari mereka langsung mengambil air dari kolam yang ada di pasar itu dengan ember. Lalu, mereka membanjuri bangunan itu. Tetapi, sebelum bangunan itu padam, terjadi ledakan di bangunan lainnya. Disusul dengan beberapa bangunan di sebelahnya. Semua penduduk langsung panik. Mereka langsung kabur dari tempat itu. Tetapi, ledakan terjadi di semua jalan keluar. Sehingga semua jalan pun tertutup. Di tengah kepanikan itu, sebuah panah melesat dan menancap di sebuah dinding bangunan.
"Apa ini?" tanya seseorang yang melihat panah tersebut.
Tiba-tiba, panah melesat satu per satu. Melihat hal ini, Erza dan Rayhan langsung curiga. Apakah yang akan terjadi? tanya mereka dalam hati. Tiba-tiba, mereka dikejutkan dengan sekelompok orang yang memakai syal hitam dan membawa senjata. Salah satu di antara mereka ada yang berbadan sangat besar dan kekar. Dialah pemimpin kelompok itu. Rayhan dan Erza langsung pergi ke kelompok itu.
"Siapa kalian?" tanya Rayhan.
"Kami? Mau tahu siapa kami? Kami adalah buronan penjahat yang selalu berpindah-pindah kota. Kami sudah melakukan hal ini selama 10 tahun. Kami selalu dicari oleh pemerintah kota yang kami singgahi. Kami menjuluki diri kami sebagai 'Bayangan Kematian'! Siapa saja yang mencari ulah dengan kami, maka siap-siap. Kepalanya akan ada di tangan kami, sedangkan tubuhnya kami bakar!" teriak seseorang.
"Erza, kamu bisa memakai pedang?" tanya Rayhan.
"Bisa." jawab Erza.
Rayhan mengambil dua buah tongkat kayu berukuran kecil dari sakunya dan memberikan salah satunya kepada Erza.
"Buka penutup pedang itu, lalu ambil pedang yang ada di dalamnya. Buka lipatan pedang tersebut dan kencangkan dengan logam yang ada di dalam wadah tadi." kata Rayhan.
"Oke!" kata Erza.
Akhirnya, mereka sudah siap dengan pedang mereka. Kawanan tersebut pun sudah siap dengan senjata mereka masing-masing. Ada yang memakai kapak, palu, martil, pedang, bahkan peledak. Beberapa penduduk dan pegawai pemerintahan pun sudah siap melawan mereka. Pertarungan pun dimulai. Erza melawan pemimpin kawanan tersebut, Rayhan melawan wakilnya, sedangkan sisanya melawan anak buah kawanan tersebut.
Erza harus berhadapan dengan pedang besar yang dipakai oleh lawannya. Erza terus meluncurkan serangannya. Namun, serangannya dapat ditangkis dengan mudah. Giliran lawannya menyerang. Ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menahan serangan lawannya. Lawannya memukulnya dengan gagang pedang. Erza pun terpental cukup jauh hingga mengenai tembok. Erza pun berdiri kembali. Dengan sekuat tenaga, ia berlari menuju pemimpin kawanan tersebut. Ia melompat lalu menyerang pemimpin tersebut dari atas. Lagi-lagi, serangannya dapat ditangkis. Ia pun terpental kembali. Ia pun berdiri kembali dan kembali menyerang bagian bawah pemimpin tersebut. Ternyata, serangannya dapat ditangkis kembali. Berkali-kali ia menyerang, serangannya dapat ditangkis. Bahkan ia berkali-kali terpental. Kali ini, ia melihat sekelilingnya. Lalu, pandangannya tertuju pada tumpukan batu yang menutupi jalan tepat di mana pemimpin tersebut berdiri. Ia langsung berlari kembali dan menyongsong pedang pemimpin yang akan menyabetnya. Ia pun meloncat dan berpijak pada pedang itu. Sekarang, ia meloncat dan berpijak pada kepalan tangan pemimpin tersebut yang akan menghajarnya. Terakhir, ia loncat ke pundak pemimpin tersebut. Ia langsung loncat menuju tumpukan batu yang menghalagi jalan tersebut. Ia pun memunguti batu tersebut dan melempari pemimpin tersebut dengan batu. Berkali-kali batu yang ia lempar berhasil ditangkis. Ketika pemimpin tersebut akan menangkis batu yang mungkin sudah ke-100 kalinya ia tangkis, Erza berlari menuju pemimpin tersebut dan memotong sebelah kakinya dengan cepat. Pemimpin tersebut langsung rubuh dan pedangnya terlepas dari tangannya. Erza pun berhasil mengalahkan pemimpin tersebut. Tetapi, pemimpin tersebut tidak ia bunuh. Menurutnya, kasihan jika pemimpin tersebut langsung dibunuh.
Satu per satu, anak buah kawanan tersebut berhasil dikalahkan. Akhirnya, kawanan tersebut berhasil dikalahkan. Penduduk pun bersorak sorai. Namun, di tengah sorak sorai tersebut, Erza langsung terjatuh. Badannya terkulai lemas. Rayhan yang sangat kelelahan mencoba menolong Erza. Tetapi, untuk berdiri saja ia tidak mampu. Akhirnya, ia dibopong oleh beberapa penduduk. Sementara, Erza ditandu oleh beberapa penduduk lainnya. Mereka berdua dibawa ke rumah sakit kota itu. Setelah beberapa hari kemudian, mereka sehat kembali dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Akhirnya, Erza mengajak Rayhan ikut dengannya.
"Rayhan, sebenarnya, saya punya tugas untuk mengumpulkan 69 orang terpilih. Kamu salah satu dari 69 orang tersebut. Jadi, apa kamu mau ikut dengan saya untuk merebut kembali tahta saya? Ini demi negeri ini." kata Erza.
"Kalau itu urusan negeri ini, saya ikut untuk merebut kembali tahtamu. Lagipula, saya bisa menjelajahi negeri ini kalau ikut kamu." kata Rayhan.
Akhirnya, Erza berhasil mendapatkan satu dari 69 orang terpilih, yaitu Rayhan.
"Oh, ya, rumahmu bagaimana?" tanya Erza.
"Rumah saya? Itu cuma rumah sewa. Saya tidak memiliki rumah itu." kata Rayhan.
"Jadi, kamu juga nggak punya rumah?" tanya Erza.
"Ya." jawab Rayhan.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Oh, ya, kapan kita berangkat?" tanya Rayhan.
"Kalau bisa besok pagi." jawab Erza.
"Ya udah, besok saya bayar uang sewa, mengosongkan rumah, dan berpamitan dengan tetangga." kata Rayhan.
Mereka pun sepakat akan pergi besok pagi. Malamnya, Rayhan sudah mengepak barang-barang miliknya. Hanya beberapa yang akan ia bawa. Sisanya, ia sumbangkan ke Rumah Sejahtera, sebuah organisasi yang membantu kaum fakir miskin di kota itu. Mereka pun tidur di ruang tengah dengan beralaskan tikar. Pagi harinya, mereka berpamitan dengan tetangga, menyumbangkan barang-barang, dan membayar uang sewa. Mereka pun berjalan menuju gerbang kota itu. Tetapi, ketika mereka sampai di tengah kota, mereka dicegat oleh walikota Kota Harapan. Di sana, semua penduduk sudah berkumpul.
"Kami, penduduk kota ini mengucapkan terima kasih kepada anda berdua karena telah berani mengalahkan buronan penjahat 'Bayangan Kematian'. Kami pun meminta maaf sebesar-besarnya karena telah mencurigai anda sebagai salah satu buronan penjahat tersebut." kata walikota.
"Kami pun ingin mengucapkan terima kasih kepada semua penduduk yang telah menerima saya dan teman saya di kota ini. Walau kemarin teman saya dicurigai sebagai salah satu buronan penjahat tersebut. Kami meminta maaf jika kami pernah berbuat kesalahan kepada semua penduduk di kota ini. Kami pun memaafkan kesalahan anda semua." kata Rayhan.
"Sebelum anda berdua pergi, kami ingin memberikan anda berdua sebuah gerobak kuda. Kami memberikan gerobak ini karena anda akan berkelana sangat jauh. Semoga dengan gerobak ini perjalanan anda akan cukup termudahkan. Mohon gerobak ini diterima." kata walikota.
Walikota pun memberikan gerobak kuda kepada Rayhan dan Erza. Rayhan dan Erza langsung menaiki gerobak kuda pemberian walikota. Mereka pun mengucapkan salam kepada semua penduduk.
"Selamat tinggal semuanya." kata Rayhan sambil melambaikan tangannya.
Semua penduduk melambaikan tangannya ke Rayhan dan Erza. Mereka berdua pun tak terlihat lagi oleh semua penduduk. Mereka semua pun bubar dan melanjutkan aktivitasnya kembali. Untuk menghargai jasa-jasanya, walikota berencana membuat tugu nasehat di depan gerbang kota.
Sekarang, Erza dan Rayhan sudah meninggalkan kota itu. Kali ini, Erza tidak sendirian lagi. Dia sudah memiliki teman yang akan membantunya dalam perjalanan. Mereka akan melalui perjalanan yang sangat jauh. Namun, dengan berbekal peta yang dimiliki oleh Rayhan, mereka bisa menentukan ke mana mereka akan pergi. Mereka juga sudah memiliki uang walau tidak terlalu banyak.
Sementara itu, di ibukota negeri itu, penduduknya mulai menderita. Ternyata, sang raja mulai bertindak seenaknya. Pajak ditinggikan, penduduk mulai disiksa, ladang miliki petani dirampas, orang-orang fakir miskin dijadikan buruh dan budak, dan lainnya. Mereka mulai menyadari bahwa raja sebelumnya sudah mati dan digantikan dengan raja baru yang kejam. Mereka ingin menurunkan raja itu. Namun, selalu gagal. Prajurit kerajaan yang sekarang lebih kejam dari sebelumnya. Mereka berharap semoga ada yang akan menurunkan tahta raja baru itu. Erza adalah harapan bagi penduduk kota itu. Tetapi, mereka harus bersabar terlebih dahulu. Erza harus mengumpulkan 69 orang terpilih dan 13 berlian.
"Tunggulah, Raja Ehud! Saya akan menggulingkan tahtamu! Lihat saja nanti!" kata Erza dalam hati.
Komentar
Posting Komentar